KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Resmi Menjadi Kekasih


__ADS_3

Brenda terkejut ketika Darren mengetahui dirinya salah satu tangan kanannya Ziggy. Sementara Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel terkejut akan status Brenda yang menjadi tangan kanannya salah satu kakak-kakak mafianya.


"Brenda Wilson. Aku bertanya padamu!" Darren tanpa sadar meninggikan suaranya.


Mendengar nada suara Darren sontak membuat Brenda terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Ren," tegur Willy.


"Jangan ikut campur, Wil!" sahut Darren.


Mendengar perkataan dan juga nada bicara Darren membuat Willy pun sadar bahwa saat ini Darren benar-benar dalam mood yang tak baik. Dan Willy pun memilih diam. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Aku... Aku bergabung dengan kelompok mafianya kakak Ziggy setelah lulus SMA. Saat itu aku belum aktif. Tapi aku sudah resmi menjadi anggotanya kakak Ziggy."


"Lalu?" tanya Darren.


"Empat bulan aku kuliah di Australia. Aku mendengar berita tentang kecelakaan yang menimpa Papa enam tahun yang lalu. Berita itu mengatakan bahwa Papa meninggal bukan karena kecelakaan. Ketika aku telusuri beritanya, berita itu hilang gitu aja. Sampai sekarang."


"Terus apa yang kamu lakukan? Aku sangat yakin kamu nggak akan diam saja setelah mendengar berita itu?" tanya Darren yang memang tahu sifat Brenda.


"Aku menghubungi kakak Ziggy. Aku meminta kakak Ziggy untuk memberikan aku beberapa anggota untuk dijadikan orang-orangku. Dan kakak Ziggy pun mengabulkan permintaan dan langsung menyuruh beberapa anggotanya untuk langsung pergi ke Australia."


"Setiba mereka di Australia. Aku meminta mereka untuk mencari informasi mengenai orang-orang yang pernah menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan Papa yang di Australia. Hasilnya...."


"Apa hasilnya?" tanya Darren.


"Semuanya bersih. Orang-orang yang pernah menjalin kerja sama dengan perusahaan Papa tidak memiliki riwayat kejahatan sama sekali."


Brenda menatap wajah Darren. Dan seketika air mata Brenda jatuh membasahi wajahnya.


"Alasan utamaku gabung dengan kelompok mafia kakak Ziggy adalah untuk melindungi keluargaku. Aku sudah kehilangan Papa. Dan aku nggak mau kehilangan lagi. Dan ketika aku mendengar berita tentang kecelakaan Papa yang kembali muncul kepermukaan membuatku kembali teringat dengan Papa. Aku selalu memikirkan tentang kecelakaan yang menimpa Papa. Aku berpikir bahwa kecelakaan Papa itu disengaja. Dan pada akhirnya, aku pun memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum kecelakaan itu terjadi."


"Ketika aku putus asa dan ingin menyerah karena tidak menemukan petunjuk apa-apa. Begitu juga dengan orang-orangku. Tanpa aku sadari, ternyata Tuhan telah menyiapkan sesuatu untukku. Keesokkan harinya ketika aku kuliah. Kebetulan memang besok aku ada jadwal kuliah. Aku bertemu dengan seorang pemuda. Pemuda itu langsung memberikan sebuah benda kecil berwarna hitam padaku."


"Benda apa yang diberikan oleh pemuda itu?"


"Flashdisk," jawab Brenda.


"Flashdisk," ulang mereka semua, termasuk Darren.


"Iya. Bahkan pemuda itu mengatakan bahwa flashdisk ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Papa."


"Apa kau sudah melihatnya?"


"Sudah, Ren! Bahkan kak Maura, kakak Rangga, kakak Barra, kak Riana dan Raya juga sudah melihat isi flashdisk itu," ucap Brenda.


"Jadi apa kesimpulannya?" tanya Axel.


"Papa benar-benar dibunuh. Kecelakaan itu disengaja," jawab Brenda.


"Lalu bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka juga tahu bahwa kamu salah satu anggotanya kakak Ziggy?" tanya Darren.


"Sudah, Ren! Aku sudah mengatakan tentang aku yang bergabung dengan kelompok mafia kakak Ziggy."


"Apa reaksi mereka?"

__ADS_1


"Terkejut."


"Apa mereka marah padamu?"


"Marah sih tidak. Kecewa pasti iya. Melihat kekecewaan di wajah mereka. Aku pun menjelaskan alasanku bergabung dengan kelompok mafia kakak Ziggy. Aku mengatakan pada mereka alasanku bergabung dengan kelompok mafia kakak Ziggy demi membalaskan kematian Papa."


Darren menatap lekat wajah Brenda yang sudah basah karena air mata, lalu tangannya terangkat untuk menghapus air mata tersebut.


"Satu pertanyaan lagi. Sudah berapa lama kamu memendam perasaanmu kepadaku? Dan kenapa kamu tidak pernah jujur tentang perasaanmu itu? Kamu tahu siapa aku bukan? Aku paling tidak suka ada rahasia dalam sebuah hubungan, walaupun waktu itu status kita hanya sebatas sahabat."


"Ma-maafkan aku, Ren! Aku tidak bermaksud untuk membohongimu. Aku... Aku hanya ta... Hiks..." Brenda berbicara disela isakannya.


"Takut kalau aku akan membencimu? Takut kalau aku akan pergi meninggalkanmu? Takut kalau persahabatan kita bakal hancur? Begitu?" tanya Darren dengan suara lembutnya.


Brenda menatap wajah Darren yang juga menatap wajahnya. Dirinya tidak menyangka jika Darren mengetahui dan bisa langsung menebak akan ketakutannya.


"Ren," lirih Brenda.


GREP!


Darren langsung memeluk tubuh Brenda. Dirinya benar-benar bahagia bahwa selama ini Brenda mencintainya.


"Sejak kapan?" tanya Darren.


"Sejak duduk di bangku SMP sampai sekarang," jawab Brenda.


"Aku juga mencintaimu, Brenda Wilson! Maafkan aku jika aku baru menyadari perasaanku ke kamu," ucap Darren.


"Sejak kapan?" tanya Brenda.


"Sejak kamu kembali ke Jerman dan memutuskan kuliah di sini. Sejak wanita murahan itu memintamu untuk berpura-pura menjadi kekasihku. Dan sejak pertemuan pertama kita setelah lima tahun berpisah," jawab Darren.


"Mumpung disini ada keluargaku dan ketujuh sahabat-sahabatku. Maukah kamu menjadi kekasihku, menjadi tunanganku, menjadi istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku?"


Mendengar ucapan demi ucapan yang begitu indah membuat hati Brenda menghangat. Dirinya benar-benar bahagia saat ini. Cintanya terbalaskan.


Bagaimana dengan Erland dan Agneta? Sudah tentu mereka berdua sebagai orang tua Darren sangat bahagia melihat putranya sudah meresmikan hubungannya dengan gadis yang selama ini mencintainya.


Apa yang dirasakan Erland dan Agneta. Itu juga yang dirasakan oleh Carissa dan Evan, keenam kakak laki-lakinya yaitu Davin, Andra, Adnan, Gilang dan Darka, kelima adik laki-lakinya yaitu Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin, ketiga kakak sepupu laki-lakinya yaitu Daffa, Tristan dan Davian. Serta ketujuh sahabat-sahabatnya. Mereka semua tampak bahagia melihat dan mendengar Darren yang mengucapkan bahwa dirinya juga mencintai Brenda. Bahkan Darren langsung meresmikan hubungannya didepan mereka semua.


"Aku mau menjadi istri kamu," jawab Brenda.


Mendengar jawaban dari Brenda membuat anggota keluarga Darren dan ketujuh sahabat-sahabat Darren cengo.


"Woi, Brenda! Pilihannya ada tiga tuh. Pilih yang pertama dulu kek. Jadi kekasihnya Darren. Ini malah milih jadi istrinya Darren. Udah pengen lo ya!" seru Dylan.


"Diem lo. Lo nggak usah ikut campur. Lo tuh masih dibawah umur," jawab Brenda.


"Hahahaha." Qenan, Willy, Jerry, Axel, Rehan dan Darel tertawa keras.


"Sialan lo," umpat Dylan kesal.


***


Keesokkan harinya di rumah milik Darren dimana semua anggota keluarga tampak bahagia. Setelah koma dua hari, dirawat tiga hari plus satu hari dikarenakan luka di pinggangnya kembali harus dijahit telah diperbolehkan pulang. Dan kini sudah berada di rumah.

__ADS_1


Darren membawa anggota keluarganya, para pelayan dan security pulang ke rumah miliknya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel. Mereka membawa anggota keluarganya, para pelayan dan security pulang ke rumah pribadi mereka.


Sejak kejadian penyerangan yang dilakukan oleh kelompok Samuel dan kelompok Gustavo terhadap keluarga Darren dan keluarga dari ketujuh sahabat-sahabat Darren membuat bentuk rumah mereka hancur. Mulai dari kaca, pintu dan semua barang-barang yang ada di dalam rumah. Bahkan di luar rumah sekali pun.


Dan saat ini rumah milik keluarga Darren maupun rumah milik keluarga dari sahabat sahabat-sahabat Darren dalam proses renovasi atau perbaikan.


Kini mereka semua berkumpul di ruang tengah. Lengkap dengan Brenda dan ketujuh sahabat-sahabat Darren.


"Papa benar-benar bahagia melihat kamu pulang, sayang!" seru Erland.


"Apalagi Mama. Mama sangat bahagia sekali mendengar kalau kamu sudah diperbolehkan pulang oleh Celsea ibunya Axel," sahut Agneta.


"Kakak Darren," panggil Melvin dan Ivan bersamaan.


Darren langsung melihat kearah kedua adik laki-lakinya itu.


"Ada apa?" tanya Darren.


"Eemm itu.... Kita semua kan bakal tinggal di sini sementara waktu sampai rumah kita selesai dibenarin," ucap Melvin.


"Iya, terus?" tanya Darren.


"Nanti kita tidur dimana? Secarakan kita baru pertama kali kesini. Dan kita nggak tahu letak kamarnya," kata Ivan.


"Rumah kakak Darren gede banget," sela Nathan.


Mendengar ucapan dari Ivan, Melvin dan Nathan. Darren tersenyum.


"Kalian mau kamar sendiri apa satu kamar berdua?" tanya Darren dengan menatap wajah kelima adik laki-lakinya.


"Memangnya di rumah kakak Darren ada berapa kamar?" tanya Mathew.


"Ada dua puluh kamar. Sepuluh di lantai dua dan sepuluh di lantai bawah," jawab Darren.


"Waah!" seru Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan dengan bibir yang membentuk bulat.


Melihat wajah terkejut dan juga wajah takjub dari Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin membuat mereka semua tersenyum.


"Kita mau satu kamar satu orang, boleh?" tanya Melvin.


"Hm." Darren berdehem sembari menganggukkan kepalanya.


"Hanya ada tiga kamar yang tidak boleh kalian masuki. Dengan kata lain. Tiga kamar itu sudah ada pemiliknya," ucap Darren.


"Yang mana kamarnya, kakak Darren?" tanya Adrian.


"Di semua pintu kamar sudah ada nomor yang tergantung, kecuali tiga kamar tersebut. Tiga kamar itu menggunakan nama bukan nomor. Selain tiga kamar itu, silahkan pilih mau pake kamar yang mana?" Darren menjelaskan tentang dua puluh kamar yang ada di rumahnya.


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin tersenyum mendengar penjelasan dari Darren.


"Baik, kakak Darren. Kalau begitu kami langsung ke kamar ya!"


Setelah itu, Adrian dan keempat adik laki-lakinya langsung berlari menuju lantai dua untuk memilih kamar yang akan mereka tempati.


Melihat betapa bahagianya dan juga semangat dari Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin membuat Darren ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Bahkan matanya tak lepas menatap punggung kelima adik laki-lakinya yang berlari menaiki anak tangga.

__ADS_1


Sedangkan anggota keluarganya, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya merasakan kehangatan di hati masing-masing ketika melihat senyuman lepas Darren ketika menatap kelima adik laki-lakinya.


Baik Erland, Agneta, keenam kakak laki-lakinya yaitu Davin, Andra, Adnan, Gilang, Darka maupun Paman dan Bibinya yaitu Carissa dan Evan, ketiga kakak sepupu laki-lakinya yaitu Daffa, Tristan, Davian. Serta ketujuh sahabat-sahabatnya yaitu Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel sangat tahu bagaimana cara Darren untuk membuat kelima adik laki-lakinya bahagia. Begitu juga dengan kelima adik laki-lakinya terhadap Darren. Kelimanya juga punya cara tersendiri untuk membuat Darren bahagia.


__ADS_2