
Keesokkan paginya di kediaman keluarga Smith semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan termasuk Darren.
Semua anggota keluarga sudah dalam keadaan rapi dan akan bersiap-siap untuk melakukan tugasnya masing-masing mereka di luar rumah.
"Apa kamu akan langsung ke kantor atau ke kampus dulu, Ren?" tanya Gilang.
"Aku akan langsung ke kantor kak Gilang! Kebetulan jam masuk kuliahku pukul 12 siang. Jadi aku bisa mengerjakan pekerjaanku yang sedikit menumpuk di kantor," jawab Darren.
"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Davin.
"Apa kamu butuh bantuan untuk menyelesaikan pekerjaan kamu di kantor?" tanya dan tawar Andra.
Darren menatap wajah kakak laki-laki keduanya itu. Begitu juga dengan Andra.
"Katakan," ucap Andra.
"Sebenarnya sih aku butuh bantuan salah satu dari kalian," sahut Darren.
Mendengar perkataan dari Darren. Agneta, Davin, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin melihat wajah Darren.
Darren melirik kearah kelima adik laki-lakinya yang juga ikutan menatap kearahnya.
"Fokus saja pada sarapan kalian. Lagian aku tidak membutuhkan bantuan dari kalian karena kalian itu masih dibawah umur," ucap Darren.
Mendengar perkataan kejam dari Darren membuat Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin merengut kesal.
Sementara Agneta dan yang lainnya tersenyum ketika mendengar perkataan dan melihat wajah kesal Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Dzaky.
"Aku ingin kalian membuatkan proposal dengan tema Gathering dan Outing Kantor. Sebenarnya sih aku bisa membuatnya. Hanya saja aku tidak memiliki waktu banyak. Pekerjaan di kantor sudah menumpuk dan harus diselesaikan. Paling lambat besok semuanya sudah harus selesai." Darren berbicara sambil menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.
Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua menjadi tidak tega.
"Maaf sebelumnya kalau kamu beranggapan perkataan Bibi menyinggung kamu," ucap Carissa.
Darren tersenyum. "Bibi mau mengatakan apa padaku?"
"Bukankah selama ini kamu dibantu sama Qenan dan Willy? Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot begini," ucap Carissa.
"Oh, masalah itu. Sebenarnya Qenan dan Willy sudah tidak lagi bekerja di perusahaan Accenture. Sejak terbongkarnya status mereka ketika acara ulang tahun perusahaanku saat itu. Aku meminta Qenan dan Willy untuk fokus mengurus perusahaan mereka."
Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Darren yang mengatakan bahwa Qenan dan Willy sudah tidak lagi bekerja di perusahaan Accenture.
"Apa hanya....." perkataan Adnan terhenti karena Darren sudah terlebih dulu bersuara.
"Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan juga. Mereka tidak lagi di galeri dan perusahaan DR'LKm. Tapi untuk perakitan dan pembuatan mobil dan motor. Jerry, Dylan dan Axel masih disana. Bagaimana pun mereka sudah ahlinya. Di tambah lagi aku belum berani mencari pengganti mereka untuk aku pekerjakan di bagian perakitan dan pembuatan mobil dan motor baru."
Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua paham. Menurut mereka semua, pekerjaan sebagai perancang dan perakit mobil itu harus ekstra hati-hati dan teliti. Jika ada satu kesalahan, maka akan berakibat fatal.
"Baik aku, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel sama-sama sibuk untuk beberapa hari ini. Maka aku bingung sekarang. Mau ngerjain sendiri, tapi nggak ada waktu. Mau minta tolong, tapi nggak tahu mau minta tolong sama siapa. Biasanya ada mereka yang siap membantuku."
Terdengar suara lirih Darren ketika mengatakan hal itu sehingga membuat Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian menjadi tidak tega. Bahkan mereka merutuki kebodohannya yang tidak peka akan kondisi sekitarnya.
"Kamu butuh kapan proposal itu, hum?" tanya Davin.
Darren menatap wajah kakak tertuanya itu yang juga menatap dirinya.
"Kalau tidak merepotkan kakak Davin dan juga yang lainnya. Aku butuh proposal itu lusa," jawab Darren.
"Kami akan mengerjakannya!" seru Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Daffa, Tristan dan Davian bersamaan.
"Kita akan membuatkannya untukmu. Kalau proposalnya sudah jadi. Kami akan serahkan kepada kamu. Nanti kamu tinggal pilih salah satunya. Mau pakai proposal yang mana," ucap Adnan dan diangguki oleh Davin, Andra, Dzaky, Gilang, Darka, Evan, Daffa, Tristan dan Davian.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren ketika mendengar perkataan dari Adnan. Dan ditambah lagi anggukkan kepala dari Paman dan saudara-saudaranya yang lain.
__ADS_1
Ketika Darren dan anggota keluarganya tengah membahas masalah proposal, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.
Darren mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponsel itu sudah berada di tangannya. Darren melihat nama 'Dito' di layar ponselnya itu.
Tanpa membuang waktu lagi, Darren pun menjawab panggilan dari Dito.
"Hallo, Dito."
"Hallo, Bos. Maafkan saya mengganggu. Apa Bos masih lama datang ke perusahaan Accenture?
"Tidak apa-apa, Dito. Mungkin sepuluh menit lagi saya akan ke kantor. Ada apa?"
"Ini Bos ada kiriman dari Bos Willy."
"Kiriman dari Willy? Kiriman apa?"
"Saya tidak tahu Bos. Masih utuh terbungkus dalam map."
"Coba kamu buka dan lihat."
"Tidak apa-apa nih Bos?"
"Tidak apa-apa. Buka sekarang!"
"Baik, Bos!"
Setelah itu, Dito langsung membuka map itu dengan merobek bagian kepalanya tanpa mematikan panggilannya.
"Bos."
"Iya. Apa yang dikirimkan oleh Willy."
"Disini tertulis proposal dengan tema Gathering dan Outing Kantor, Bos!"
Dito berada di perusahaan Accenture karena Darren yang meminta Dito untuk menjadi tangan kanannya khusus di perusahaan Accenture. Selama ini Dito bekerja di lapangan dan melakukan penyelidikan dan pengawasan terhadap orang-orang yang ingin berbuat jahat terhadap Darren, ketujuh sahabatnya dan orang-orang disekitarnya.
"Willy mengirimkan proposal dengan tema Gathering dan Outing Kantor? Dari mana Willy tahu hal ini? Aku bahkan belum memberitahu dia dan yang lainnya?" batin Darren.
"Dito, kamu yakin itu dari Willy?"
"Yakin, Bos. Bahkan Bos Willy sendiri yang memberikannya padaku."
"Jadi Willy datang ke kantor?"
"Ya, Bos! Bos Willy datang ke kantor hanya untuk memberikan map ini kepada saya."
"Ya, sudah. Kamu langsung bawa map itu ke ruang kerjaku."
"Baik, Bos."
Setelah mengatakan itu, Darren langsung mematikan panggilan dari Dito.
"Ada apa, Ren?" tanya Davin.
"Apa ada masalah?" tanya Andra.
"Tidak ada apa-apa kakak Davin, kakak Andra."
"Kamu serius? Kamu nggak bohongkan?" tanya Davin yang menatap khawatir Darren.
"Iya, kakak Davin. Itu tadi Dito ngasih tahu aku. Katanya Willy ngirim proposal yang tema Gathering dan Outing Kantor. Jelas aku kaget lah!"
"Yang benar? tanya Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Daffa, Tristan, dan Davian bersamaan.
"Tuh kan! Kalian saja kaget dengarnya. Apalagi aku," ucap Darren.
__ADS_1
"Wah! Hebat juga tuh si tiang listrik bisa tahu bahwa si kelinci gembulnya saat ini membutuhkan proposal itu," ucap Gilang dengan kejamnya.
Mendengar perkataan dari Gilang membuat mereka semua tersenyum. Sementara Darren mengumpat kesal akan perkataan kakak laki-lakinya itu.
Darren mencari nomor ponsel Willy bermaksud untuk menanyakan masalah proposal yang dikirimkan olehnya ke kantor.
Setelah mendapatkan nomor Willy. Darren langsung meredial nomor tersebut.
Beberapa detik kemudian...
"Hallo, Ren!"
"Lo dimana?"
"Sudah di kantor. Kenapa? Lo kangen sama gue?"
"Jijik gue."
"Hahahaha." Willy tertawa keras di seberang telepon seketika mendengar jawaban dari Darren.
Sementara anggota keluarganya hanya tersenyum mendengar perkataan dan melihat wajah kesal Darren. Mereka berpikir bahwa Willy sudah mengatakan sesuatu kepada Darren sehingga membuat wajah Darren berubah jadi kesal.
"Ada apa?"
"Lo tadi ke kantor gue?"
"Eemm... Iya! Kenapa? Nggak boleh?"
"Dari mana lo tahu bahwa gue sedang butuh proposal untuk tiga hari ke depannya. Bahkan temanya lo juga tahu?"
"Eeemm... Itu....!"
"Apaan... Buruan! Jangan kayak anak cewek deh."
"Eemm... Rahasia!"
"Sialan lo, Wil!"
"Hahahaha." Willy kembali tertawa. Dirinya berhasil membuat Darren kesal.
"Apa yang lainnya juga tahu masalah proposal ini, hah?!" teriak Darren.
Seketika Willy yang ada di seberang telepon langsung menjauhi ponselnya dari telinganya karena mendengung akibat suara teriakan Darren.
"Sialan lo, Ren! Sakit pendengaran gue."
"Rasain. Emang enak."
"Tega benar melihat penderitaan gue. Apa lo udah nggak cinta lagi sama gue."
Willy menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh Darren bahwa dirinya sedang tertawa.
"Kalau gue ada disana. Lo udah tuli benaran gue buat, Wil!"
"Dan untungnya, lo nggak ada disini. Jadi, pendengaran gue masih aman."
"Lo benar-benar ya, Wil! Masih pagi lo udah buat mood gue hancur. Awas lo kalau sampai gue lihat muka lo. Gue bikin perkedel muka lo biar Alice ninggalin lo."
"Nggak takut... Nggak takut... Hahahaha."
Setelah mengatakan itu, Willy langsung mematikan panggilannya. Dirinya sudah tidak kuat mendengar perkataan dari Darren. Bahkan membayangkan wajah kesal Darren akan ulahnya.
Sementara Darren sudah mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Willy. Semua yang ada di kebun binatang keluar dari mulut Darren.
Sedangkan anggota keluarganya hanya tersenyum dan juga geleng-geleng kepala ketika mendengar pembicaraan Darren dengan Willy dan juga wajah kesal Darren.
__ADS_1