KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Perkataan Kejam Bianca


__ADS_3

Sesuai apa yang diucapkan ketika di kampus bahwa dia akan mengadakan bakti sosial dan memberikan sumbangan kepada anak-anak panti asuhan. Darren pun langsung melaksanakannya.


Darren saat ini berada di ruang tengah. Dirinya tengah sibuk dengan beberapa amplop dan uang yang lumayan banyak di atas meja.


Sudah sekitar 100 amplop yang sudah terisi uang pecahan $20 sebanyak lima lembar.


Sementara untuk sembako, Darren sudah meminta kepada beberapa anggotanya untuk menyiapkan semuanya.


Ketika Darren tengah sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ibunya, keenam kakaknya, kelima adiknya, Paman dan Bibinya serta ketiga saudara sepupunya datang menghampirinya.


"Kamu sedang apa, sayang!" Agneta langsung menyapa putranya setelah duduk di sofa.


"Itu uang semuanya mau diapakan, Ren?" tanya Andra.


"Itu yang di dalam amplop itu isinya uang semua ya, kakak Darren?" tanya Nathan.


Mendengar pertanyaan dari ibu, kakak keduanya dan adiknya, Darren seketika langsung menghentikan kegiatannya.


"Semua uang ini mau aku sumbangkan ketiga panti asuhan. Dan untuk membayar semua bahan-bahan sembako untuk bakti sosial besok," jawab Darren.


"Yang dalam amplop itu isinya daun semua," jawab Darren dengan menatap wajah Nathan.


Mendengar jawaban dari kakaknya membuat Nathan mendengus kesal.


"Loh, Ren! Memangnya ada kegiatan bakti sosial di kampus. Kok kakak Darka nggak tahu?" tanya Darka.


"Kakak Gilang juga," sela Gilang.


"Bakti sosial ini bukan atas nama kampus. Tapi atas namaku. Aku yang berinisiatif untuk melakukannya. Uangnya juga bukan uang sumbangan dari para mahasiswa dan mahasiswi. Ini murni dari uang aku sendiri."


Mendengar jawaban dari Darren membuat Agneta dan yang lainnya tersenyum bangga. Mereka semua benar-benar bangga atas apa yang dilakukan oleh Darren. Walaupun Darren sudah memiliki segalanya. Darren tidak pernah bersikap sombong terhadap siapa pun.


"Biasanya kan setiap mengadakan bakti sosial pasti ada tema dan tujuannya. Kamu mengadakan bakti sosial ini dalam rangka apa?" tanya Evan.


"Papa," jawab Darren.


"Papa?" ucap mereka mengulangi perkataan dari Darren.


"Iya. Aku mengadakan bakti sosial ini untuk mendoakan Papa. Makin banyak yang mendoakan Papa. Makin besar peluang Papa selamat dari kecelakaan pesawat itu."


Mendengar jawaban dari Darren seketika membuat mereka terdiam. Tatapan mata mereka semua menatap wajah Darren yang terlihat sendu. Tanpa diminta air mata mereka jatuh membasahi wajahnya.


"Aku sangat yakin Papa selamat dalam kecelakaan pesawat itu. Dan kemungkinan Papa ada di suatu tempat," ucap Darren.

__ADS_1


Seketika air mata Darren jatuh membasahi pipinya. Darren menangis setiap membahas masalah ayahnya.


Grep!


Agneta menarik tubuh putra dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Mama." seketika terdengar isak tangis Darren di pelukan ibunya.


"Mama. Aku merindukan Papa. Mama percayakan kalau Papa berhasil menyelamatkan diri? Mama percayakan kalau Papa ada di suatu tempat?" tanya Darren disela isakannya.


Agneta makin mengeratkan pelukannya. Hatinya benar-benar sakit ketika mendengar perkataan dan isakan Darren.


"Iya, sayang! Mama percaya sekali akan hal itu. Papa kamu itu kuat. Dan Papa kamu itu tidak akan menyerah begitu saja," ucap Agneta.


Agneta melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah putranya. Setelah itu, tangannya menghapus air mata yang membasahi wajah putranya itu.


"Kamu harus kuat dan kamu nggak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Diluar sana Papa sedang berjuang bertahan hidup demi untuk bisa kembali pulang ke rumah. Kita disini juga harus seperti Papa yang berjuang dalam menjalani kehidupan sehari-hari." Agneta berbicara sembari tangannya masih bermain-main di kepala dan pipi Darren.


"Aku janji sama Mama untuk berusaha kuat sekali pun tanpa Papa. Mama juga harus kuat demi kami semua. Mama tidak lemah dan jangan sampai jatuh sakit. Saat ini hanya Mama orang tua kami."


Agneta tersenyum mendengar perkataan dari Darren. "Mama janji akan selalu kuat demi kamu dan demi kesebelas saudara-saudara kamu. Kalian semua adalah penyemangat hidup Mama."


Darren tersenyum mendengar ucapan janji dari ibunya. Dirinya berharap semua akan baik-baik saja selama tidak ada ayahnya. Dan dirinya juga berharap, ayahnya segera kembali.


Mendengar namanya dipanggil. Darren langsung melihat kearah keenam kakak laki-lakinya.


"Iya."


"Kami juga ikut dalam bakti sosial itu," ucap Davin dan diangguki oleh Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.


"Baiklah."


"Ya, sudah. Kakak Davin akan ambil uangnya dulu," ucap Davin lalu beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamarnya.


"Kami juga akan untuk mengambil uangnya," ucap Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka bersamaan.


"Kita juga ikut, Ren! Demi Paman Erland!" seru Daffa dan diangguki oleh Tristan dan Davian.


"Paman dan Bibi juga ikut!" seru Carissa dan Evan.


Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamar masing-masing.


"Kalau begitu, Mama juga ikut. Masa Mama sebagai seorang istri tidak melakukan apa-apa. Malu dong!"

__ADS_1


Darren seketika tertawa ketika mendengar perkataan dari ibunya.


Setelah itu, Agneta pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya untuk mengambil uang.


***


"Sekarang katakan padaku, apa yang ingin kalian bicarakan? Jika tidak ada yang penting. Aku akan pergi. Pekerjaanku banyak. Jadi, jangan buang-buang waktuku."


Mendengar perkataan kejam dari gadis di hadapannya membuat sepasang suami istri itu merasakan sesak di dadanya.


"Bianca, putriku!"


Wanita paruh baya itu menangis ketika menyebut kata 'putriku' di hadapannya gadis tersebut.


Gadis yang berbicara dengan nada kejam itu adalah Bianca. Sementara sepasang suami istri itu adalah kedua orang tua dari Bianca yaitu Anthony dan Emily.


Saat ini ketiganya berada di sebuah cafe terkenal di negara Jerman. Mereka berada di private room.


Mendengar wanita di hadapannya itu menyebutnya 'putriku' membuat Bianca menatap tajam wanita tersebut.


"Siapa yang kau panggil dengan sebutan 'putriku', hah?!" bentak Bianca. "Aku bukan putrimu. Ingat itu!"


"Bianca, maafkan Mami. Maafkan kesalahan Mami selama ini."


"Bianca! Papi mohon sama kamu, sayang! Jangan benci Papi. Maafkan kesalahan Papi yang sudah membuat kamu menderita selama ini."


Anthony dan Emily menangis terisak ketika berbicara dengan putri bungsunya. Mereka benar-benar hancur saat ini ketika putrinya menolak untuk mengakuinya.


"Apa dengan aku memaafkan kesalahan kalian? Hidupku bisa berubah baik-baik saja?" tanya Bianca dengan menatap tajam mantan kedua orang tuanya.


"Mami tahu, sayang! Kesalahan Mami begitu besar. Dan Mami sadar kalau Mami melakukan kesalahan itu sejak kamu kecil. Mami tidak pernah peduli padamu, Mami tidak melakukan tugas Mami sebagai ibu yang baik untuk kamu, Mami selalu membanding-bandingkan kamu dengan kakak perempuan kamu. Bahkan Mami tidak pernah ada untuk kamu ketika kamu membutuhkan Mami."


Emily menangis terisak ketika mengatakan semua itu di hadapan putrinya.


"Bianca. Papi mohon padamu, sayang! Jangan hukum Papi sama Mami seperti ini. Hukumlah kami dengan hukuman yang lain. Papi benar-benar tidak sanggup dan tidak kuat terlalu lama dibenci olehmu. Kasih kesempatan Papi dan Mami untuk menebus semuanya."


Sama halnya dengan Emily. Anthony juga sudah menangis terisak. Hatinya benar-benar hancur akan penolakan putrinya.


Bianca melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Setelah itu, Bianca menatap wajah kedua mantan orang tuanya.


"Maaf, sudah waktunya aku kembali ke kantor. Pekerjaanku lebih penting dari pada mengobrol bersama kalian. Permisi!"


Setelah itu, Bianca langsung pergi meninggalkan mantan kedua orang tuanya itu dalam keadaan menangis terisak.

__ADS_1


__ADS_2