KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
23. Mengetahui Dalang Sebenarnya


__ADS_3

Darren dan para sahabatnya sudah berada di Kampus. Begitu juga dengan Darka dan Gilang. Mereka saat ini berada di ruang rapat untuk membahas masalah kegiatan sosial Kampus mereka.


"Jadi benar kalau kegiatan Baksos kita diganti tempat acaranya?" tanya Lisa.


"Iya, Lis." Qenan menjawab pertanyaan dari Lisa.


"Tapi kenapa?" tanya Rosa.


"Ada masalah sedikit," kata Willy.


"Hufffhh." Darren menghembuskan nafasnya. Dan hal itu dapat didengar oleh orang-orang yang ada di ruang tersebut.


Mereka semua melihat wajah Darren. Mereka tampak khawatir dengan wajah Darren saat ini. Wajahnya sedikit pucat. Ditambah lagi beban yang ditanggung Darren sebagai ketua.


"Maafkan aku. Aku akan jujur pada kalian semua. Bagaimana pun kalian berhak tahu," ucap Darren. "Ada yang berusaha ingin mencelakaiku, Willy, Qenan, Jerry, Rehan, Darel, Axel dan Dylan. Mereka mengincar kami. Bahkan dua hari yang lalu keluarga Axel habis diserang oleh orang itu. Kemungkinan keluarga kami juga akan bernasib sama seperti keluarga Axel." Darren menjelaskan yang sebenarnya alasan dibatalkannya tour keliling acara BAKSOS kampusnya.


Semua yang ada di ruangan itu terkejut, kecuali sahabatnya, Darka dan Gilang.


"Lalu bagaimana keadaan keluarga kamu, Axel?" tanya Jennie.


"Mereka baik-baik saja. Kami berhasil mengatasinya," jawab Axel.


"Aku membatalkan kegiatan Baksos kita keluar kota, dikarenakan orang itu mengetahui acara kita dan dia juga sudah mempersiapkan rencana baru untuk mencelakai kami. Dan hal itu juga akan berdampak pada kalian semua. Jadi dengan kata lain...." Darren menghentikan ucapannya sembari memejamkan matanya.


"Kalian semua akan celaka bersama kami." itu Axel yang menjawabnya. Dan seketika Darren membuka matanya.


"Sejujurnya kami katakan pada kalian, orang itu tidak akan bisa dan tidak akan berani menyentuh kami secara langsung. Makanya orang itu dan dibantu beberapa kelompok menggunakan titik kelemahan kami," ujar Jerry.


"Titik kelemahan," ulang Jessy.


"Iya. Titik kelemahan kami," ulang Darel.


"Kelemahan kami terletak pada keluarga kami. Dengan orang itu menyakiti anggota keluarga kami. Orang itu dan kelompoknya bisa mendapatkan apa yang diinginkannya selama ini," kata Dylan.


"Rencana pertama orang itu berhasil. Orang itu berhasil mencelakai kedua saudara dari Darren," kata Rehan.


"Haaaa!" mereka yang ada di ruangan itu terkejut.


"Siapa, Ren?" tanya Lisa.


Darren tidak berniat untuk menjawabnya. Darren hanya melirik sekilas kearah Darka, lalu kembali menatap Lisa. Lisa yang mengerti keterdiaman dan lirikan matanya yang tertuju pada seniornya yaitu Darka Smith. Lisa pun langsung mengerti.


Darka yang merasa ditatap oleh Lisa, dirinya pun melihat ke arah Lisa dan yang lainnya.

__ADS_1


"Aku dan adikku Melvin menjadi korban penusukan orang itu. Saat kejadian itu, anggota keluargaku justru menuduh dan memfitnah adik manisku yang telah melakukannya," sahut Darka dengan menahan kesedihannya sembari melihat ke arah adiknya. "Mendapatkan perlakuan buruk dari anggota keluarganya sehingga membuat adik manisku pergi meninggalkan rumah dan memutuskan hubungan kekeluargaan dan persaudaraannya pada kami," ujar Darka.


Dan pada akhirnya air mata Darka pun lolos membasahi wajah tampannya. Gilang yang duduk di sampingnya mengusap-usap lembut punggungnya.


Mereka semua ikut bersedih saat mendengar penuturan dari Darka. Dan akhirnya mereka semua tahu, kecuali sahabat-sahabatnya Darren apa penyebab dari sikap dingin dan ketus Darren selama ini setiap berhadapan dengan Darka dan Gilang. Mereka semua mendoakan semoga hubungan persaudaraan ketiga nya membaik.


"Lalu dimana kita akan melakukan kegiatan ini, Ren?" tanya Jennie.


"Di Kampus saja. Tepatnya di depan Kampus. Aku dan sahabat-sahabatku yang akan membagikan brosur-brosur itu pada warga yang tidak mampu. Tugas kalian tetap fokus di Kampus saja," kata Darren.


"Baiklah," jawab mereka.


Darren melihat kearah Gilang dan Darka. "Aku menyerahkan tugas ini pada kalian berdua selama aku dan sahabat-sahabatku berada diluar Kampus," ucap Darren.


Darka dan Gilang tersenyum sembari mengangguk. "Baiklah, Ren." Gilang dan Darka menjawab bersamaan.


Darren langsung memalingkan wajahnya saat melihat kedua kakaknya itu tersenyum tulus padanya.


"Kalian persiapkan semuanya. Kita akan adakan kegiatannya dua hari lagi," tutur Darren.


"Baik," jawab mereka semua.


Lalu tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ponsel. Mereka semua pun memeriksa ponsel masing-masing.


Darren yang mendengar bunyi tersebut langsung mengambil ponselnya. Namun seketika keningnya mengerut saat melihat nomor yang tidak dikenalinya tertera di layar ponselnya. Mereka semua yang melihatnya pun menjadi bingung.


"Darren. Kenapa tidak diangkat?" tanya Darka.


Darren melirik sekilas ke arah Darka, lalu kembali menatap layar ponselnya. "Nomornya tidak dikenal," jawab Darren.


Darka yang mendengar jawaban dari adiknya itu tersenyum bahagia. Darka bahagia karena Darren mau menjawab pertanyaan darinya.


"Ren. Angkat saja. Siapa tahu penting," pungkas Willy.


Saat Darren ingin menjawabnya, panggilan tersebut terputus.


Lalu 5 detik kemudian, ponsel Darren kembali berbunyi.


Darren menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya itu. "Nomor itu lagi."


"Angkat saja, Ren!" seru Darel.


"Loundspeaker panggilannya," kata Rehan.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Darren.


Darren pun menjawab panggilan tersebut dan tak lupa meloundspeaker panggilan tersebut.


"Jangan ada yang bersuara," kata Qenan memperingati.


"Hallo."


"Hallo, Darren. Akhirnya kau mau menjawab panggilan dariku. Aku salut padamu."


"Siapa kau? Mau apa kau sebenarnya, hah?!"


"Hei. Tenang, Bung. Kita bisa bicara baik-baikkan."


"Orang sepertimu itu tidak bisa diajak bicara baik-baik. Kau itu sampah dan juga pecundang. Kau sudah berani menyerangku dari belakang dengan cara menyakiti orang-orang terdekatku. Bahkan juga sahabat-sahabatku. Kalau kau berani, tunjukkan wajahmu didepanku. Jangan hanya berani menyerang dititik kelemahanku dan sahabat-sahabatku."


"Wah! Ternyata kau pintar sekali dalam mencurigaiku. Yaah!! Kau memang benar, Darren. Akulah yang sudah menusuk kedua saudaramu itu dan membuat video yang seakan-akan kaulah pelakunya. Aku sangat bahagia saat kau dituduh dan difitnah oleh anggota keluargamu sendiri. Dan berakhir kau pergi meninggalkan mereka semua. Dan aku juga yang sudah menyerang keluarga sahabatmu Axel serta menyerangmu dijalanan saat kau hendak pergi ke rumah Axel."


"Brengsek!" teriak Darren dan hal itu sukses membuat mereka semua terkejut. "Apa maumu, hah?!" bentak Darren.


"Simple. Berikan semua apa yang kau miliki sekarang. Dan katakan juga kepada sahabat-sahabatmu itu untuk melakukan hal yang sama sepertimu. Lalu kau dan sahabat-sahabatmu itu harus mengakui kekalahan kalian didepanku."


Darren terdiam sejenak saat mendengar penuturan dari seseorang di seberang telepon. Darren berusaha untuk mengingat suara orang tersebut.


"Aku tidak akan membiarkanmu mengalahkanku, Darren! Sudah cukup selama ini kau dan ketujuh sahabatmu itu selalu berada diatasku. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkanmu. Bahkan sahabat-sahabatmu itu berada diatasku. Aku akan merebut milikmu atau bahkan menghancurkannya."


Seketika Darren tersenyum saat setelah mengetahui siapa orang yang telah mengusiknya dan ketujuh sahabatnya selama ini. Bahkan berani menyentuh anggota keluarganya dan juga anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya. Mereka yang melihat senyuman Darren berpikir bahwa Darren sudah mengetahui sesuatu.


"Akhirnya aku menemukanmu, Samuel Frederick!" Darren berucap dengan lantangnya


DEG!


Orang yang di seberang telepon tersebut terkejut saat Darren menyebut namanya dengan sangat benar. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya. Mereka tidak menyadari dengan suara yang mereka dengar.


"Da-dari mana kau bisa tahu bahwa aku...." ucapan Samuel terpotong.


"Siapa yang tidak mengenal dirimu, hah? Kau itu selalu kalah setiap melawanku dan ketujuh sahabatku. Kau selalu iri setiap melihat kehebatan dan kesuksesanku dan ketujuh sahabatku. Bahkan kau pernah secara terang-terangan menyerangku. Lalu kau mengatakan satu hal padaku. 'Aku tidak akan membiarkanmu mengalahkanku, Darren. Sudah cukup selama ini kau dan ketujuh sahabatmu itu selalu berada diatasku. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkanmu. Bahkan sahabat-sahabatmu itu berada diatasku. Aku akan merebut milikmu atau bahkan menghancurkannya'."


"Kau...!" bentak Samuel.


"Jika kau ingin bersaing denganku. Bersainglah dengan sehat. Jika kau ingin membalas kekalahanmu kepadaku dan juga kepada sahabat-sahabatku, maka datanglah menemui kami. Jangan menjadi laki-laki yang pengecut dengan menyerang titik kelemahan lawan. Ingat, Samuel! Aku juga tahu titik kelemahanmu. Aku juga tahu identitas keluargamu. Bahkan aku juga tahu apa pekerjaan dari anggota keluargamu. Jika kau tidak ingin aku menyentuh mereka. Jadi berhentilah untuk mengusik keluargaku dan keluarga sahabat-sahabatku."


Setelah mengatakan hal itu, Darren langsung mematikan panggilannya itu. Paling tidak Darren bisa sedikit bernafas lega, dikarenakan dirinya sudah mengetahui dalang dibalik penyerangan kedua saudaranya dan keluarga Axel.

__ADS_1


__ADS_2