KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Ketakutan Darka


__ADS_3

Darka datang bertepatan dengan Gilang yang juga keluar dari kamarnya. Mereka melangkah menuju ruang tengah.


"Seharusnya kau sadar akan kesalahanmu saat pertama kali Darren kembali pulang ke rumah ini. Seharusnya kau berterima kasih pada Bibi Carissa yang sudah berhasil membujuk Darren untuk pulang ke rumah ini. Seharusnya kau belajar dari awal untuk mengambil hatinya Darren. Seharusnya kau lebih sabar lagi untuk menghadapi keras kepalanya Darren. Darren menjadi seperti ini itu semua karena kesalahan kalian," sahut Darka.


"Darka," lirih Davin.


"Darka, benar. Rubahlah sikap kalian jika ingin mendapatkan maaf dari Darren. Jangan menambah masalah. Jika aku ada diposisi Darren mungkin aku juga tidak akan mau memaafkan kalian. Kuakui dulu aku juga salah dan ikut serta menyakiti Darren. Tapi kesalahanku tidak terlalu besar dibandingkan kesalahan kalian. Bahkan saat pertemuan pertamaku dengan Darren di kampus setelah enam bulan lebih berpisah, aku bersikap kasar padanya hanya karena Darren tidak menghargai Papa dan tidak menganggap Papa. Dari situlah aku sadar. Perubahan sikap Darren itu semua bermula dari kita. Kita yang sudah membuat Darren menjadi jahat."


Gilang berbicara sembari menatap satu persatu wajah kedua orang tuanya, keempat kakaknya dan kelima adiknya.


"Sudahlah, Gil. Tidak perlu berbicara panjang lebar dengan mereka. Percuma! Omongan kita tidak akan didengar. Apalagi dengan dua manusia egois ini," sela Darka sembari menatap wajah Davin dan Andra.


Davin dan Andra hanya bisa menunduk. Keduanya tampak sedih dan juga menyesal akan sikap mereka kepada ketiga adiknya, terutama terhadap Darren.


Setelah mengatakan hal itu, Gilang dan Darka langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju pintu utama. Gilang dan Darka memutuskan untuk langsung berangkat ke kampus.


"Gilang, Darka. Tunggu, sayang!" Erland memanggil kedua putranya.


Seketika Gilang dan Darka menghentikan langkahnya. Lalu kemudian membalikkan badannya untuk melihat wajah ayahnya.


"Ada apa?" tanya Gilang dan Darka bersamaan.


Erland melangkah mendekati kedua putranya itu.


"Kalian belum sarapan. Sarapan dulu, ya."


"Aku dan Gilang akan sarapan di kantin Kampus saja. Lagian kami ke Kampus hanya sampai pukul 9 pagi. Setelah dari Kampus, aku dan Gilang akan balik ke rumah ini untuk mengambil beberapa baju dan perlengkapan kuliah," jawab Darka.


Mendengar penuturan dari Darka membuat Erland terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Gilang, Darka. Kenapa? Kenapa kalian juga harus pergi dari rumah ini? Apa kalian berdua sudah tidak nyaman lagi tinggal di rumah ini?" tanya Erland disertai air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.


Gilang dan Darka sebenarnya tidak ingin melakukan semua ini. Apalagi sampai melihat ayahnya menangis. Tapi bagi mereka hanya inilah salah satu cara untuk menjaga adik kecil mereka.


"Gilang, Darka!" Davin dan Andra berucap lirih.


Mereka semua berdiri dan menghampiri Erland, Gilang dan Darka.


"Gilang, Darka. Kakak Davin mohon. Jangan pergi. Tetaplah di rumah ini," lirih Davin.


"Seperti yang sudah aku katakan padamu dan pada kalian semua. Jika terjadi sesuatu terhadap Darren. Jika Darren kembali tersakiti, maka akan ada satu orang lagi yang akan pergi dari rumah ini. Orang itu adalah aku," jawab Darka.


"Dan aku," sela Gilang.


"Coba kemarin-kemarin kalian tidak egois. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kalian sendiri yang telah membuang kesempatan yang telah diberikan oleh Bibi Carissa," sahut Darka.


"Gilang, Darka. Kakak Andra mohon. Jangan pergi. Kita bisa bujuk Darren sama-sama. Kalau perlu kakak Andra akan berlutut di kaki Darren agar Darren mau memaafkan kakak Andra dan mau kembali pulang ke rumah," ucap Andra bersungguh-sungguh.


"Dan kembali membuat Darren bersedih dan tersakiti lagi. Begitu?" ucap dan tanya Gilang dingin.


Davin dan Andra langsung menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.


Darka menatap sendu wajah Ayahnya. Darka menyentuh dan menggenggam kedua tangan Ayahnya itu.


"Papa, aku mohon. Jangan paksa aku untuk tetap di rumah ini. Aku sudah janji sama Darren untuk selalu bersamanya. Aku sudah janji sama Darren untuk selalu menjaganya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu sama Darren. Aku ingin menjaga dan membahagiakan Darren. Aku ingin menggantikan kesedihan Darren yang sudah kita rampas enam bulan yang lalu. Papa! Aku sdah kehilangan Mama. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Darren sedang sakit, Papa! Sakitnya bukan sakit biasa. Jadi aku mohon dengan Papa. Tolong Papa mengerti!" Darka berbicara dengan menatap wajah ayahnya dengan disertai air matanya. Darka menangis.


GREP!


Erland langsung menarik tubuh putranya itu ke dalam pelukannya dan memeluk tubuh putranya itu erat.


"Papa.. maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti Papa. Aku melakukan ini demi adik bungsuku. Hanya cara seperti ini aku bisa menjaga kesehatan jantungnya Darren. Aku tidak ingin jantungnya Darren kembali kambuh. Aku takut, Papa! Aku benar-benar takut." Darka berbicara disertai isak tangisnya.


Erland makin mengeratkan pelukannya saat mendengar rentetan kesedihan dan ketakutan Darka akan adik bungsunya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua menangis.


Erland melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah tampan putranya itu. Kemudian Erland menciumi kening putranya.

__ADS_1


"Baiklah. Papa izinkan kamu untuk tinggal dengan Darren. Tapi apa Papa boleh meminta satu hal dari kamu?"


"Apa? Papa mau minta apa?" tanya Darka.


"Tolong selalu kabari Papa tentang kondisi kesehatan adikmu itu. Jangan ada rahasia apapun dari Papa. Papa ingin mengetahui semuanya mengenai adikmu. Sebenarnya Papa ingin sekali ikut menjaga dan merawat Darren. Dikarenakan Darren belum memaafkan kesalahan Papa, maka Papa tidak berani berbuat apa-apa. Papa tidak ingin melihat Darren kesakitan lagi."


"Jika kalian sayang dengan Darren dan peduli akan kesehatan jantungnya. Biarkan untuk sementara ini kita tinggal terpisah. Anggap saja kita memberikan waktu untuk Darren. Aku yakin lambat laun Darren pasti akan memaafkan kesalahan Papa, Mama, kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky dan kakak Adnan. Dan kesalahan kalian juga." Gilang berbicara dengan menatap wajah kedua orang tuanya, keempat kakak laki-lakinya dan kelima adik laki-lakinya.


"Aku setuju apa yang dikatakan Gilang. Biarkan seperti ini untuk sementara. Kita semua harus memberikan waktu untuk Darren agar bisa menyembuhkan luka di hatinya. Tidak gampang bagi seseorang yang hatinya telah terluka akan semudah itu untuk melupakan semua yang telah dialaminya. Seseorang itu butuh proses untuk menata hatinya kembali!" Tristan.


"Percayalah! Darren akan kembali lagi pada kita. Kita hanya butuh kesabaran saja untuk menunggunya pulang," ucap Evan menambahkan.


"Kita sebagai anggota keluarganya hanya bisa menjaganya dengan cara mengawasi dari jauh," kata Davian.


"Baiklah," jawab mereka, kecuali Gilang dan Darka.


"Ya, sudah! Kalau begitu aku dan Darka berangkat ke Kampus dulu!" seru Darka.


Erland memeluk Gilang. Setelah puas memeluk Gilang. Erland pun melepaskan pelukannya. Erland juga tidak lupa mencium kening Gilang.


"Ingat! Jangan sampai tidak sarapan ketika tiba di Kampus."


"Pasti, Papa!" Gilang dan Darka menjawab dengan kompak.


Setelah itu, Gilang dan Darka pun pergi meninggalkan kediaman keluarganya.


***


[SHOOWROOM BMWX]


Darren sudah berada di Shoowroom miliknya. Disana juga ada Rehan, Darel, Willy dan Qenan. Mereka juga ikut dalam uji coba mobil-mobil tersebut.


Kini mereka saat berada di aula. Semua mobil rakitan mereka sudah berjejer disana. Darren dan ketujuh sahabatnya memilih satu mobil untuk diuji coba.


Untuk hari pertama ada tujuh mobil akan diuji. Uji coba akan dilanjutkan dihari kedua dengan tujuh mobil lagi. Jadi total semuanya ada 14 mobil.


***


[SIRKUIT INTERNASIONAL JERMAN]


Darren dan tim sudah tiba di Arena Sirkuit. Dan para karyawan langsung menurunkan satu persatu mobil-mobil tersebut dari truk secara hati-hati.


"Ren. Kau yakin akan tetap ikut?" tanya Willy.


"Yak, Wil! Jika aku tidak yakin. Kenapa aku berada disini sekarang?" ucap dan tanya Darren kesal.


"Tapi, Ren."


"Sudahlah, Wil. Semuanya akan baik-baik saja, oke! Aku pastikan aku akan baik-baik saja. Apalagi jantungku," jawab Darren.


Semua mobil telah berada di tengah-tengah lapangan sirkuit. Darren, Willy, Qenan, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel melangkahkan kakinya menuju ke tengah-tengah lapangan sirkuit. Disaat mereka hendak masuk ke mobil masing-masing, tiba-tiba saja Darren bersuara.


"Tunggu!"


Sontak ketujuh sahabat-sahabatnya menoleh.


"Ada apa, Ren?" tanya Axel.


"Jerry. Kita tukaran mobil. Aku pakai mobilmu. Dan kau pakai mobilku," ucap Darren.


"Kenapa, Ren?" tanya Jerry bingung sembari mentautkan keningnya.


"Sudahlah. Ayo, tukaran!" ucap Darren lagi.


"Ach, baiklah!" jawab Jerry.

__ADS_1


Setelah itu Darren langsung masuk ke dalam mobilnya. Sementara ketujuh sahabatnya menatap Darren heran dan saling lirik.


"Semoga tidak terjadi sesuatu," batin mereka.


Semua mobil sudah berada digaris start. Mesin mobil sudah terdengar memenuhi lapangan sirkuit.


BRUUUMMM


BRUUUMMM


BRUUUMMM


BRUUUMMM


Disaat bendera dinaikkan keatas, ketujuh mobil-mobil tersebut melaju dengan sangat cepat.


Disaat putaran keempat, tiba-tiba mobil yang dikendarai Darren oleng. Bahkan Darren tidak bisa menginjak rem mobilnya.


"Sial. Kenapa dengan mobilnya? Dan ke-kenapa remnya jadi begini?" tanya Darren pada dirinya sendiri.


Disisi lain dibagian komputer dimana tiga karyawan Darren sedang melihat ke layar komputer.


"Hei, lihatlah. Ada masalah dengan mobilnya, Bos!" seru karyawan pertama yang melihat ada yang tidak beres dengan mobil Bos mereka.


"Bos.. Bos," panggil karyawan yang kedua dengan menggunakan earphonenya.


"Ada apa?" jawab Darren.


"Ada masalah dengan mobil anda, Bos."


"Ya, saya tahu." Darren menjawab perkataan dari karyawannya itu.


"Bos. Lebih baik anda menggunakan kecepatan penuh. Setelah itu ada banting stri ke kiri pas tikungan. Tapi sebelum itu, anda sudah terlebih dahulu melepaskan sabuk pengaman yang melekat di tubuh anda. Lalu melompatlah keluar, Bos! Jika tidak anda akan mati. Sebentar lagi mobil itu akan meledak, karena mesinnya terlalu panas."


"Bregs*k! Baiklah."


Ketiga karyawan itu masih terus memantau layar komputernya, terutama memantau mobil Darren.


"Apa Bos sudah melompat?" tanya karyawan yang ketiga.


"Semoga saja," jawab karyawan yang berbicara dengan Darren.


"Tapi di layar komputer tidak ada tanda-tanda Bos akan melompat," ucap karyawan yang kedua.


Di lapangan sirkuit mobil-mobil yang dibawa Jerry, Axel, Dylan, Qenan, Willy, Rehan dan Darel telah melakukan enam putaran. Begitu juga dengan mobil yang dipakai oleh Darren.


Beberapa detik kemudian......


DUUAAAARRRR!


Mobil yang dibawah oleh Darren hancur dan meledak seketika. Sontak hal itu sukses membuat ketujuh mobil yang dibawah oleh sahabat-sahabatnya bersamaan menginjak rem.


SREEETTTT!


Mereka langsung keluar dari dalam mobil.


"DARREN!" teriak ketujuh sahabatnya histeris.


Mereka semua menangis saat melihat mobil yang dikendarai Darren terbakar.


Axel seketika berlari menuju mobil Darren.


"Tidak... Darren!" teriak Axel.


"Axel, jangan." Qenan, Willy, Rehan dan Darel menahan tubuh Axel.

__ADS_1


Sementara Jerry dan Dylan, keduanya menangis dan tubuh mereka merosot ke aspal.


"Ren," isak Jerry dan Dylan.


__ADS_2