KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Mengingat Kejadian Di Masa Lalu


__ADS_3

Kini semuanya telah bergabung dengan Darren, Gilang dan Darka di ruang tengah. Termasuk Andra si manusia pucat.


Darren saat ini fokus pada tablet di tangannya. Jari-jari kekarnya bergerak aktif di layar laptop tersebut.


Sementara Erland, Agneta, Carissa, Evan dan kakak-kakaknya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Darren yang fokus pada dunianya.


"Darren sayang," panggil Erland.


"Hm." Darren berdehem sebagai jawaban atas panggilan dari ayahnya itu dengan tatapan matanya masih fokus menatap ke layar tabletnya.


"Kamu nggak capek seharian mantengin gadget terus. Di Kampus kamu fokus sama laptop milik kamu. Sekarang di rumah kamu kembali berkutat sama tablet kamu. Kasih waktu dong buat Papa dan kita semua."


Darren seketika langsung melihat kearah ayahnya yang juga melihat kearah dirinya.


"Sebelum Papa meminta waktuku. Papa lihat tuh putra Papa yang manusia pucat itu. Wajahnya terlihat tak bersemangat dan tampak suram. Ajak dulu putra Papa yang jelek itu bicara. Aku yakin kalau putra Papa yang jelek itu lagi ada masalah. Darren menjawab perkataan dari ayahnya sembari menyindir dan mengejek kakak keduanya itu sembari tatapan matanya yang kadang-kadang membulat kadang-kadang menyipit.


Erland, Agneta, Carissa, Evan dan para kakak-kakaknya tersenyum gemas serta geleng-geleng kepala ketika mendengar ucapan yang memang sengaja ditujukan untuk Andra.


Sementara Andra yang mendengar ucapan demi ucapan dari adik kelincinya itu mendengus kesal sembari memberikan tatapan mematikan kearah adiknya yang menurutnya menyebalkan.


Darren menatap dengan tatapan menantang kearah kakak pucatnya itu seolah-olah dirinya ingin mengajak kakaknya itu untuk adu tinju.


"Kita adu jotos yuk," ucap Darren langsung.


Seketika Andra membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan sekaligus ajakan adik kelincinya itu. Dia tidak menyangka jika adiknya akan mengajak dirinya adu kekuatan. Sedangkan anggota keluarganya kembali tersenyum dan geleng-geleng kepala melihatnya.


"Kenapa? Nggak berani? Takut? Eoohhh... Cemen," ledek Darren dengan tatapan matanya kembali menatap layar tabletnya.


Lagi-lagi Andra membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan serta ledekan dari adiknya. Sementara kakak dan adik-adiknya yang lain serta ketiga sepupunya tertawa nista.


"Hahahahahaha!"


Ketika Darren yang sengaja menjahili kakak pucatnya itu habis-habisan dengan anggota keluarganya sebagai penonton, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara bell rumah berbunyi.


Kemudian terlihat seorang pelayan perempuan berlari menuju pintu utama untuk membukakan pintu.


Beberapa menit kemudian...


"Maaf tuan, nyonya!"


"Siapa yang datang, Bi?" tanya Carissa.


"Tamunya baru pertama kali datang kesini, Nyonya!"


"Mencari siapa?" tanya Agneta.


"Mencari tuan muda Andra."


"Perempuan atau laki-laki?" tanya Darren.


"Perempuan, tuan muda!"


Seketika Andra membelalakkan matanya. Dirinya terkejut. Dirinya tidak menyangka jika wanita tersebut berani mendatangi rumahnya.


Darren menatap intens kakak keduanya itu. Dia berpikir bahwa sikap kakaknya itu ada hubungannya dengan tamu perempuan tersebut. Dari gelagat dan tatapan mata kakaknya mengisyaratkan kekhawatiran serta ketakutan.


"Dimana tamunya sekarang?" tanya Erland.


"Masih diluar tuan."


"Suruh masuk. Saya dan keluarga saya akan menemui di ruang tamu."


"Baik, tuan."


Setelah itu, pelayan perempuan itu langsung pergi menemui tamu tersebut dan mempersilahkan tamu itu untuk masuk ke dalam.


^^^


Semuanya sudah berada di ruang tamu termasuk Andra. Baik Darren maupun anggota keluarganya menatap tak suka dan sedikit curiga terhadap tamu tersebut, terutama terhadap wanita yang saat ini menatap kearah Andra. Bahkan wanita itu tersenyum ketika melihat kearah Andra.


"Ada keperluan apa yang kalian datang kesini mencari putra saya Andra?" tanya Erland


"Baiklah. Saya langsung saja. Kenalkan nama saya Aldiano Malvino. Dan ini istri saya Marinka Altaher. Lalu di sebelah kiri saya ini adalah putri saya yang bernama Sahna Malvino," sahut Aldiano dengan senyuman manisnya.


"Yaelah! Papa saya menanyakan keperluan anda datang kesini bukan meminta anda untuk memperkenalkan istri dan anak perempuan anda." Darren berucap dengan nada cemooh dan dengan tatapan tak sukanya.

__ADS_1


Mendengar ucapan tak menyenangkan dari Darren membuat pria tersebut menatap marah kearah Darren. Begitu juga dengan istri dan anak perempuannya.


"Apa begini cara orang tua kamu mendidik kamu? Kamu tidak ada sopan santunnya terhadap tamu," ucap wanita itu.


"Cih! Kalian datang kesini tanpa diundang. Dan kedatangan kalian kesini di waktu yang tak tepat. Mana ada seorang tamu yang bertamu malam-malam ke rumah orang," jawab Darren.


Ketika wanita itu hendak membalas perkataan Darren. Davin sudah terlebih dulu bersuara. Dia tidak suka melihat ketiga tamu menyerang adiknya.


"Langsung saja. Apa mau kalian?!" tanya Davin dengan tatapan dinginnya.


"Baiklah. Begini, kedatangan saya, istri saya dan anak perempuan saya adalah untuk meminta pertanggung jawaban dari Andra," sahut Aldiano dengan lantangnya.


Deg..


Seketika Erland terkejut ketika mendengar ucapan dari pria di hadapannya. Begitu juga dengan Agneta, Carissa, Evan dan anak-anaknya.


"Apa maksud anda dengan pertanggung jawaban? Dan apa hubungannya dengan Andra, putra saya?" tanya Agneta.


Darren sudah langsung mengerti ketika pria itu mengatakan meminta pertanggung jawaban dari Andra kakak keduanya.


"Jadi anak perempuan anda sekarang ini sedang hamil?" tanya Darren yang langsung pada intinya.


"Iya," jawab pria itu.


"Dan laki-laki yang sudah menghamili anak perempuan anda itu adalah kakak saya?" tanya Darren.


"Iya. Memang saudara Andra yang sudah menghamili anak perempuan saya," jawab pria itu.


Andra seketika langsung menggelengkan kepalanya dengan tatapan matanya menatap kearah anggota keluarganya, terutama kearah ayahnya.


"Tidak, Pa!"


"Andra, kenapa kau tidak mau mengaku di depan keluargamu?" tanya gadis itu.


"Diam kau!" bentak Andra.


Andra menatap lekat wajah ayahnya. Dia berharap ayahnya percaya padanya.


"Papa, aku berani bersumpah. Aku tidak kenal dengan gadis gila itu. Sekali pun aku kenal dengan seorang gadis. Aku tidak akan melakukan hal serendah itu," ucap Andra sembari memohon kepada ayahnya agar ayahnya percaya padanya.


"Kak Davin, kakak percaya padaku kan?"


Davin menatap iba dan sedih kearah Andra. Di dalam hatinya, dirinya menaruh kepercayaan besar terhadap adiknya itu.


Davin ingin mengatakan sesuatu kepada Andra, namun tertahan karena tiba-tiba Darren berbicara.


"Sudahlah kakak Andra. Kakak nggak usah mencari pembelaan. Disini kakak bersalah," ucap Darren.


Deg..


Semuanya terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren. Mereka tidak menyangka jika Darren akan berbicara seperti itu.


"Darren!" seru mereka semua.


"Sayang," ucap Erland dengan suara lirihnya.


"Ini saya ada buktinya. Andra yang sudah menghamili saya," sahut gadis itu sembari memperlihatkan sebuah foto di layar ponselnya.


Baik Erland, Agneta dan yang lainnya secara bergantian melihat foto tersebut. Dan di foto itu memang Andra tidur dengan gadis yang ada di hadapannya itu. Bahkan dari foto itu terlihatnya begitu nyata. Bukan editan.


"Itu tidak benar! Papa, Mama! Percayalah padaku," mohon Andra.


"Sudahlah kak Andra. Mengaku saja pada kami semua bahwa kakak memang tidur dengan gadis itu. Nggak usah berbohong lagi," ucap Darren.


"Ren," lirih Andra sembari menggelengkan kepalanya. Seketika air matanya mengalir membasahi pipinya ketika mendengar ucapan dari adik kesayangannya.


"Ren, bagaimana bisa kamu meragukan kakak kamu sendiri. Kamu lebih mempercayai orang lain," ucap Dzaky.


Darren seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari kakak ketiganya.


"Aku mempercayai gadis itu karena melihat bukti yang dia tunjukkan. Dan kalian bisa lihat sendiri kalau foto itu asli. Bukan editan," pungkas Darren.


"Tapi bisa saja kan kalau kakak Andra dijebak, Ren! Kita kan tidak tahu kejadian yang sebenarnya," ucap Adnan yang tak terima adiknya kekeh menuduh kakaknya itu.


Darren tersenyum di sudut bibirnya dengan tatapan matanya menatap kearah keenam kakaknya secara bergantian. Setelah itu, Darren fokus menatap kakak keduanya.

__ADS_1


"Itulah yang aku rasakan dulu."


Darren berucap dengan mimik wajah yang tak mengenakkan. Tatapan matanya menatap satu persatu wajah anggota keluarganya kecuali Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian.


Seketika semuanya hening. Tak ada satu pun yang bersuara setelah Darren mengatakan itu.


"Apa yang kak Andra alami sekarang sama persis yang aku alami dulu dimana aku dituduh telah melukai Melvin dan kakak Darka."


"Sekarang aku bertanya kepada kalian. Adakah dulu kalian percaya padaku? Adakah kalian mau mendengarkan penjelasan dariku? Tidak! Kalian tidak mempercayaiku. Bahkan kalian tidak mau mendengarkan penjelasanku. Kalian lebih mempercayai video itu dari pada percaya terhadap putra dan adik kalian sendiri."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang terdiam. Tidak ada diantara mereka yang berani menjawab perkataan dari Darren. Bahkan menatap wajah Darren saja, mereka takut. Rasa bersalah tentang kejadian tersebut kembali mencuat.


"Bahkan ketika aku berusaha menyelamatkan nyawa Melvin dan kakak Darka. Kakak Andra dengan teganya menuduhku dan menyebutku telah memanipulasi semuanya agar orang-orang percaya padaku. Bahkan kalian semua dengan kejinya memukuliku dan memakiku."


"Sekarang disaat kakak Andra mengalami hal yang sama. Kalian memintaku untuk mempercayai kakak Andra bahwa kakak Andra tidak melakukan hal rendah itu terhadap seorang gadis. Yang benar saja. Bukankah bukti lebih meyakinkan dari pada ucapan?"


Mereka semua menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darren. Apalagi ketika Darren menyebut bahwa bukti lebih meyakinkan dari pada ucapan.


"Jika Papa, Mama dan kalian semua lebih mempercayai kakak Andra, itu hak kalian. Tapi aku tegaskan sekali lagi. Di dalam foto itu terlihat jelas bahwa itu benar-benar kakak Andra. Dari bentuknya saja sudah bisa dipastikan bahwa itu asli bukan editan," ucap Darren.


Hati mereka semua tersentak ketika mendengar ucapan lantang dari Darren. Mereka tidak menyangka jika Darren akan lebih memilih percaya terhadap foto itu dari pada kakak kandungnya sendiri.


Tanpa diketahui oleh anggota keluarga Smith bahwa sepasang suami istri dan anak perempuannya saat ini tersenyum penuh kebahagiaan. Ditambah lagi ketika melihat perdebatan antara anggota keluarga tersebut.


Jika anggota keluarga Smith tidak menyadari senyuman kebahagiaan tiga tamunya. Sama halnya dengan tamu tersebut.


Tanpa diketahui oleh sepasang suami istri dan anak perempuannya itu, Darren tersenyum jahat menatapnya kearahnya. Bahkan Darren melihat dengan jelas senyuman di bibir ketiganya itu.


Darren seketika berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap ketiga tamu tersebut.


"Kalian lebih baik pulang. Bagaimana pun kami ingin segera istirahat. Tubuh kami benar-benar lelah," ucap Darren.


"Lalu bagaimana dengan anak perempuan saya?" tanya pria itu.


"Biarkan keluargaku berunding dulu akan masalah ini. Kalian bisa datang lagi kesini satu minggu lagi. Kita akan membahas pernikahan keduanya," sahut Darren.


Seketika Andra membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari adiknya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka tidak menyangka jika Darren akan memutuskan hal itu.


"Baiklah kalau begitu. Kamu pulang dulu. Satu minggu lagi kami akan datang."


Setelah mengatakan itu, sepasang suami istri itu dan anak perempuannya langsung pergi meninggalkan kediaman keluarga Smith.


Darren seketika langsung pergi meninggalkan semua anggota keluarganya ketika tidak melihat keberadaan tiga tamu tersebut di rumahnya. Darren memutuskan untuk menuju kamarnya di lantai dua.


Sementara Erland, Agneta, Andra dan anggota keluarga lainnya seketika menangis ketika melihat kepergian Darren.


...****...


...Para Tokoh Yang Memerankan...


...Ketua Mafia...


...ZIGGY...



...FARRAZ...



...CHICO...



...NOE...



...ENZO...



...DEVIAN...


__ADS_1


__ADS_2