KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kecelakaan Pesawat


__ADS_3

Kini Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berada di ruang tahanan markas Latin King. Di sana juga ada Carly dan Leo. Dan beberapa anggota mafioso.


Baik Darren, ketujuh sahabatnya menatap tajam kearah Sashi dan Desta yang saat ini terlihat pucat di dalam tahanan.


"Hallo, nyonya Sashi."


Darren menyapa perempuan tersebut dengan tersenyum menyeringai.


Mendengar namanya dipanggil, Sashi langsung melihat kearah Darren. Begitu juga dengan Desta, putrinya.


"Siapa kau?"


Darren tersenyum di sudut bibirnya mendengar pertanyaan dari perempuan yang kini menatap marah padanya.


"Sudah mau mati saja, masih berani melawan." Darel berucap dengan menatap tajam kearah Sashi.


"Setelah membayar kelompok mafia untuk menyerang kediaman sahabat kami. Sekarang anda berakting lupa ingatan. Wah! Akting yang benar-benar luar biasa," ucap Willy.


Mendengar perkataan dari Willy. Seketika membuat perempuan itu terkejut, lalu tatapan matanya menatap kearah Darren.


Darren seketika tersenyum lebar ketika melihat tatapan mata perempuan itu.


"Apa sudah ingat, hum?" tanya Darren.


"Ternyata hanya seorang anak ingusan," ucap Sashi.


Mendengar perkataan dari perempuan tersebut membuat Darren hanya tersenyum. Dirinya hanya tersenyum sembari menatap wajah perempuan itu.


"Lepaskan aku dan putriku. Biarkan kami pergi dari sini!" teriak Sashi.


"Hahahaha."


Seketika Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tertawa keras ketik mendengar permintaan dari perempuan itu.


"Hei, nyonya! Tidak segampang itu kami akan melepaskanmu," ucap Dylan.


"Kalau kami melepaskanmu dan membiarkanmu dan putrimu pergi dari sini. Sia-sia dong kedua kakak laki-laki kami membawamu dan putrimu kesini," ucap Jerry.


"Anda dan putri anda akan menerima hukuman terlebih dahulu. Setelah itu, barulah anda dan putri anda pergi meninggalkan tempat ini. Maka dari itu, anda dan putri anda harus bisa bertahan setiap menerima hukuman tersebut," ucap Qenan.


"Tidak. Kalian tidak bisa melakukan itu padaku dan putriku!" teriak Sashi.


"Kenapa? Apa kau takut, hum?" tanya Darren dengan menatap tajam kearah perempuan itu. "Kau saja melakukan kehendak hatimu kepada orang lain. Kenapa sekarang kau mengatakan bahwa kami tidak boleh melakukan apa yang kami inginkan padamu?"


"Dengarkan aku baik-baik. Kau telah salah mencari masalah denganku. Kau sudah berani membayar kelompok mafia untuk menyerang kediamanku sehingga membuat beberapa orang-orangku terluka. Jadi, apa yang dialami oleh mereka. Kau juga harus merasakan hal itu juga. Kau akan tetap berada disini sampai aku merasa puas. Setidaknya kau renungkan akan kejahatanmu selama ini. Kau sudah terlalu banyak melakukan kejahatan, terutama terhadap keluarga Madhavi."


Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan ruang tahanan itu dan diikuti oleh ketujuh sahabatnya dan kedua tangan kanannya Devian.


***


Di kediaman keluarga Smith semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang tengah kecuali Erland dan Darren.


"Apa yang harus kita sampaikan kepada Darren tentang Papa yang sudah berangkat ke Singapura pukul satu siang tadi?" tanya Adnan.


Mendengar pertanyaan dari Adnan seketika membuat mereka semua langsung terdiam. Mereka mulai berpikir untuk mencari satu jawaban untuk pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Darren.


"Kakak Darren pasti akan marah besar jika mengetahui Papa sudah pergi. Bahkan Papa pergi tidak berpamitan sama kakak Darren," ucap Mathew.


Ketika mereka semua tengah memikirkan tentang reaksi Darren jika tahu bahwa ayahnya telah berangkat ke Singapura, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara Darren.


"Kenapa tidak ada satu pun yang memberitahuku bahwa Papa sudah berangkat ke Singapura?!"


Mereka semua melihat kearah Darren yang kini tengah melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.


^^^

__ADS_1


Kini Darren sudah berada di ruang tengah. Tatapan matanya menatap tajam semua anggota keluarganya.


Sedangkan anggota keluarganya sedikit takut ketika melihat tatapan mata Darren.


"Kenapa Diam? Sudah nggak bisa ngomong lagi?"


Mendengar pertanyaan serta sindiran membuat mereka saling memberikan tatapan.


Davin berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekati adik laki-lakinya itu.


"Ren, bukan kita nggak ngasih tahu kamu. Bukan kita merahasiakan hal ini sama kamu. Kita semua memang ingin memberitahu kamu ketika kamu sudah pulang dari kampus," ucap Davin sambil tangannya mengusap lembut kepala belakangnya.


"Iya, Ren! Itu benar," sela Adnan.


"Bukan kamu saja yang terlambat mengetahui hal ini. Kita semua sama seperti kamu. Disini yang tahu keberangkatan Papa dimajukan hanya kakak Davin, kakak Andra, Mama, Bibi dan Papa!" seru Gilang.


"Itupun mereka juga terkejut ketika mendengar Papa yang mengatakan bahwa keberangkatannya dimajukan," ucap Dzaky.


"Hanya terkejut, tapi mereka tidak berusaha untuk mencegah Papa pergi kan? Buktinya Papa tetap pergi."


Darren berbicara dengan menatap tajam Davin dan Andra. Dirinya benar-benar kecewa terhadap kedua kakak laki-lakinya itu.


Drtt! Drtt!


Ponsel Darren tiba-tiba berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk.


Darren yang mendengar bunyi ponselnya langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya itu.


Setelah ponselnya berada di tangannya, tertera nama 'Paman David' di layar ponselnya.


"Paman David," gumam Darren.


Setelah itu, Darren langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Paman. Ada apa?"


"Boleh Paman. Paman mau nanya apa?"


"Begini, Nak! Apa kamu tahu Papa kamu naik pesawat apa ke Singapura?"


"Papa menggunakan pesawat Air Berlin Boeing 737-800, Paman!"


"Apa kamu yakin jika pesawat itu yang dinaiki oleh ayahmu."


"Iya, Paman. Papa sendiri yang bilang begitu. Tunggu sebentar, Paman! Aku akan bertanya kepada kakak Davin."


Darren melihat menatap wajah kakak laki-laki tertuanya lalu berkata, "Papa naik pesawat apa?" tanya Darren.


"Papa naik pesawat Air Berlin Boeing 737-780, Ren!"


"Paman, kata kakak Davin kalau Papa naik pesawat Air Berlin Boeing 737-780!"


Deg!


Mendengar jawaban dari Darren seketika air mata David jatuh membasahi wajahnya.


"Ren."


Darren terkejut mendengar suara lirih dari ayahnya Willy.


"Pa-paman. Ada apa? Kenapa dengan suara Paman?"


"Darren, sekarang kamu lihat di televisi. Ada berita tentang kecelakaan pesawat. Awalnya Paman berpikir itu...."


PIP!

__ADS_1


Darren langsung mematikan panggilannya secara sepihak. Setelah itu, Darren berlari kecil kearah televisi.


Setelah berada disana, Darren langsung menghidupkan televisi tersebut.


[Pemirsa, telah terjadilah kecelakaan dimana pesawat Air Berlin Boeing 737-780 mengalami kegagalan dalam melakukan lepas landas sehingga mengakibatkan pesawat itu jatuh di laut Westerland]


Seketika tubuh Darren menegang ketika mendengar informasi berita tersebut.


Bukan hanya Darren saja. Melainkan anggota keluarganya juga sama. Mereka menangis histeris.


"Papa!"


"Tidak!"


"Sayang!"


"Paman!"


"Kakak Erland!"


Bruk!


Tubuh Darren seketika terjatuh di lantai. Air matanya berlomba-lomba keluar membasahi wajahnya.


"Tidak... Ini tidak mungkin."


Grep!"


Gilang dan Darka menghampiri adik laki-lakinya lalu langsung memeluk tubuhnya.


"Ren," isak Gilang dan Darka.


"Kenapa Papa tidak mau mendengarkanku? Kenapa Papa tidak izin padaku sebelum pergi? Kenapa Papa tiba-tiba saja merubah keberangkatan Papa. Dan kenapa... Kenapa Papa bertindak gegabah seperti ini?"


Mendengar rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Darren membuat Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka tak kuasa menahan tangisannya. Begitu juga dengan Carissa, Evan, Daffa, Tristan, Davian dan kelima adik laki-lakinya.


Darren seketika berdiri dari jatuhnya dan melepaskan secara kasar pelukan dari Gilang dan Darka.


Darren menatap tajam wajah Davin dan Andra. Darren benar-benar marah terhadap keduanya.


"Ini semuanya salah kalian?" teriak Darren menunjuk kearah Davin dan Andra.


"Ren," ucap Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.


"Kalian sudah tahu sebelumnya kalau Papa akan pergi besok. Dan pesawat yang akan Papa tumpangi adalah pesawat Air Berlin Boeing 737-800. Tapi kenapa kalian tetap membiarkan Papa pergi. Dan lebih parahnya lagi, Papa tidak naik pesawat yang sesuai dengan tiketnya. Justru Papa naik pesawat lainnya!" bentak Darren.


Mendengar perkataan dari Darren seketika membuat Davin dan Andra terkejut dan juga tersadar. Begitu juga dengan Agneta, Carissa dan Evan. Mereka tidak menyadari hal itu.


"Kalian tahu tidak, hah?!" teriak Darren dengan menatap semua anggota keluarganya.


"Alasanku kenapa ketika di meja makan saat Papa mengatakan akan pergi ke Singapura, aku langsung melarang Papa? Aku menyuruh Papa untuk membatalkan keberangkatannya. Aku bahkan meminta Papa agar asisten atau tangan kanannya saja yang pergi?"


Mendengar pertanyaan dan teriakan dari Darren membuat mereka semua hanya diam.


"Karena.... Karena aku memiliki perasaan tak enak terhadap Papa. Perasaan itu muncul ketika aku di rumah sakit saat itu. Kalian masih ingat ketika aku sadar dari koma pasca tertembak itu? Saat aku sadar, aku langsung mencari keberadaan Papa. Bahkan saat itu aku meminta Papa untuk selalu berada di sampingku dan jangan pernah meninggalkanku."


"Ketika aku tidak sadar. Di alam bawah sadarku aku melihat Papa mengalami kecelakaan yang begitu mengerikan. Kecelakaannya yang Papa alami sekarang sama persis dengan kecelakaan yang ada di alam bawah sadarku. Maka dari itulah kenapa aku sempat melarang Papa untuk membatalkan keberangkatannya."


"Jika Papa tidak mempercepat keberangkatannya. Jika Papa memilih berangkatnya sesuai jadwalnya. Kemungkinan besar Papa akan baik-baik saja, walau tidak bisa dipungkiri hatiku tetap khawatir terhadap Papa."


Darren menangis terisak dengan tatapan matanya menatap tajam Davin dan Andra.


"Jika saja kakak Davin dan kakak Andra mengecek semuanya, termasuk tiket dan pesawat yang akan Papa naiki. Kemungkinan besar Papa akan baik-baik saja."


Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk menuju kamarnya di lantai dua.

__ADS_1


"Papa," lirih Davin dan Andra.


__ADS_2