KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Iblis Pencabut Nyawa


__ADS_3

Bruumm!


Bruumm!


Terdengar suara bunyi motor yang berhenti parkiran kampus.


Mendengar suara motor, para penghuni kampus semuanya melihat kearah asal suara.


Mereka semua menatap dengan mata yang lebar dan mulut yang mengeluarkan kata-kata pujian.


Mereka melihat delapan motor mewah yang sudah terparkir di parkiran. Dan mereka semua bisa yakini bahwa pemilik dari delapan motor itu adalah Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


Setelah memarkirkan motor masing-masing. Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya turun dari motornya. Dan pergi meninggalkan parkiran tersebut untuk menuju kelas.


Para penghuni kampus menatap kedelapan pemuda tampan yang kini tengah melangkahkan kaki menyusuri lapangan hendak menuju kelas dengan tatapan kagum, ada yang menatap iri dan juga tatapan tak suka.


Sedangkan untuk Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel tak mempedulikan tatapan para teman-teman kampusnya itu.


Bagi Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Mau para penghuni kampus yang membenci mereka atau menyukai mereka, itu adalah hak masing-masing. Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tak ambil pusing.


Selama teman-teman kampusnya tidak mengusik mereka, selama teman-teman kampusnya tidak membicarakan hal negatif tentang mereka. Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya akan bersikap biasa saja.


Setelah Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya sudah tidak terlihat lagi, terdengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang tak menyukai Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


Hanya 30% mahasiswa dan mahasiswi yang tak menyukai Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Selebihnya menyukai Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


[Aku sangat yakin jika motor yang mereka gunakan itu hasil dari uang sumbangan kita]


[Iya. Aku juga berpikiran seperti itu. Dan aku juga berpikir uang yang diberikan oleh rektor, setengahnya dipake buat foya-foya]


[Aku awalnya sudah senang sekali waktu rektor mencabut keanggotaan si Darren sialan itu dari posisi ketua. Eh, kok sekarang rektor itu balik nyuruh si Darren balik lagi]


[Iya. Aku juga bahagia saat Darren tidak lagi menjabat jadi ketua organisasi. Tapi ketika mendengar sialan itu balik lagi. Aku makin tidak suka dengan dia dan ketujuh sahabat-sahabatnya]


Itulah perkataan dari beberapa mahasiswa yang tidak menyukai keberadaan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


Sementara mahasiswa dan mahasiswi yang menyukai Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya hanya menatap kasihan terhadap mereka yang tidak menyukai Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Teruslah kalian berbicara seperti itu tentang Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya selama kalian masih diberikan kesempatan," ucap salah satu mahasiswa.


Mendengar itu, mahasiswa yang tak menyukai Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya menatap tajam kearah mahasiswa yang menyukai Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Memangnya kenapa? Berapa kalian dibayar sama para sialan itu, hah?!" bentak mahasiswa yang tak menyukai Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Maaf. Kami tidak menerima bayaran apapun dari Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya."


"Kami seperti ini murni memang menyukai Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya."


"Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya sudah banyak membantu teman-teman disini, salah satu adalah pembullyan. Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya juga sudah banyak berjasa atas kampus ini. Alasan itulah yang membuat kamu hormat dan respect kepada mereka."


"Dan satu lagi. Kalian menyebut Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya telah memakan uang sumbangan dari kalian dan rektor, bukan? Aku sarankan kepada kalian untuk menyelidikinya terlebih dahulu."


"Jika kalian menuduh tanpa bukti. Bisa-bisa nyawa kalian akan dalam bahaya. Kalian tidak tahu siapa Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya itu. Dan kalian juga tidak tahu siapa keluarga mereka."


"Jadi ada baiknya, jika kalian tidak menyukai keberadaan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Lebih baik kalian diam saja. Tidak perlu memberikan komentar yang akan menjadi bumerang buat kalian nantinya."


Setelah mengatakan itu, lima mahasiswa yang kebetulan disana dan mendengar perkataan dari teman-temannya itu langsung pergi untuk menuju kelasnya.


Kelima mahasiswa itu juga berdoa agar perkataan dari teman-temannya itu tidak sampai di telinga Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


Bagaimana pun kelima mahasiswa itu tahu bahwa Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya memiliki banyak telinga di kampus. Dan salah satunya bisa saja mengadukan masalah itu.


^^^


Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya baru tiba di kampus. Baik Brenda maupun ketujuh sahabat-sahabatnya datang dengan diantar oleh kakak laki-laki mereka masing-masing.


Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya minta kepada kakak laki-lakinya untuk diantar ke kampus, karena pulang dari kampus mereka akan pergi berkencan dengan pacar masing-masing dengan menggunakan motor.

__ADS_1


Mendengar ucapan dan penjelasan dari adik perempuannya membuat kedelapan pemuda yang berstatus kakak laki-lakinya langsung mengiyakannya.


"Seperti Rehan dan yang lainnya sudah tiba," ucap Milly yang melihat motor kekasihnya terparkir di parkiran.


Mendengar perkataan dari Milly. Brenda, Alice, Elsa, Lenny, Tania, Felisa dan Vania langsung melihat ke parkiran. Dan benar apa yang dikatakan oleh Milly jika Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya telah tiba di kampus.


"Ya, sudah! Yuk, kita ke kelas!" seru Tania.


"Kalian duluan saja. Aku mau ke kantin dulu mau beli air mineral. Haus." Brenda berucap sambil menunjuk kearah kantin.


"Baiklah," jawab ketujuh sahabat-sahabatnya kompak.


"Jangan lama-lama," ucap Felisa.


"Iya," balas Brenda.


"Awas lo kalau lama," ancam Lenny.


"Ih, ngancam!" Brenda menjawab dengan wajah kesal.


"Kalau nggak pake ancaman. Lo tu bisa lupa diri sehingga lupa balik ke kelas!" teriak Elsa dari kejauhan.


"Iya, iya!" Brenda menjawab dengan wajah yang benar-benar kesal.


Mereka pun pergi kearah yang berbeda. Brenda ke kantin. Sedangkan ketujuh sahabat-sahabatnya ke kelas.


Tak butuh lama, Brenda sudah mendapatkan air mineral. Dan dirinya pun sudah meminumnya.


Brenda melangkahkan kakinya menuju kelasnya buru-buru, karena dirinya tidak ingin diamuk sama ketujuh sahabat-sahabatnya.


Ketika Brenda tengah melangkahkan kakinya menuju kelas, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya dengan keras sehingga terdengar oleh mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sekitarnya.


"Hei, kamu! Berhenti disitu!"


Brenda seketika menghentikan langkah kakinya. Dan setelah itu, Brenda membalikkan badannya.


"Siapa wanita ini?" batin Brenda menatap bingung wanita yang ada di hadapannya.


Wanita itu berjalan mendekati Brenda dengan tatapan marahnya.


Kini wanita itu sudah berdiri di hadapan Brenda dengan matanya tak lepas menatap marah Brenda.


"Nyonya siapa?" tanya Brenda.


Mendengar pertanyaan dari gadis di hadapannya membuat wanita itu semakin menatap marah.


Dan detik kemudian...


Plak!


"Aakkhhh!"


Brenda meringis merasakan panas di pipinya akibat tamparan dari wanita yang berdiri di hadapannya.


Wanita itu tidak menjawab pertanyaan dari Brenda. Namun justru wanita itu memberikan tamparan keras di pipi Brenda.


Brenda menatap nyalang wanita itu. "Kenapa anda menampar saya, hah?!" bentak Brenda.


"Kau itu memang pantas ditampar!" bentak wanita itu.


"Tapi apa kesalahan saya? Saya tidak kenal dengan anda. Dan saya juga tidak pernah punya masalah dengan anda!" bentak Brenda.


"Berani kamu sama saya, hah!" bentak wanita itu.


"Memang anda siapa? Dan kenapa saya harus takut dengan perempuan seperti anda!" Brenda menjawab perkataan dari wanita itu dengan menunjuk kearah wajahnya.


"Dasar anak tidak tahu diri. Dan tidak tahu sopan santun. Apa begini cara orang tuamu mendidikmu, hah?!" bentak wanita itu.

__ADS_1


"Jangan bawa orang tua saya dalam masalah ini. Mereka tidak tahu apa-apa!" bentak Brenda


Brenda mendorong kuat tubuh wanita itu sehingga tubuh wanita itu terhuyung ke belakang.


"Anda bilang saya nggak punya sopan santun. Lalu anda bagaimana, hah?! Anda datang ke kampus saya marah-marah nggak jelas. Setelah itu, anda seenaknya nampar saya. Memangnya anda itu siapa?!" teriak Brenda.


Mendengar perkataan dan teriakan dari gadis yang ada di hadapannya membuat wanita itu marah.


Wanita itu kembali mendekati Brenda dengan mengepal kedua tangannya dan juga tatapan matanya yang menatap marah Brenda.


"Dan kau barusan bilang tidak punya masalah dengan saya. Kau memang tidak punya masalah dengan saya. Tapi kau sudah mencari masalah dengan putriku!" bentak wanita itu.


Brenda seketika terkejut ketika wanita yang ada di hadapannya menyebut 'mencari masalah dengan putriku'.


Mendengar hal itu membuat Brenda benar-benar tidak mengerti.


"Mencari masalah dengan putrimu? Memang aku punya urusan apa dengan putriku itu, hah? Kenal saja tidak. Wajahnya seperti apa saja aku tidak tahu. Bagaimana bisa anda menyebut saya mencari masalah dengan putri anda." Brenda berucap dengan menatap remeh wanita itu.


"Kau sudah merebut kekasih dari putriku. Kau bahkan sudah berani menyakiti putriku dengan menendang perutnya ketika di mini market dua hari yang lalu. Masih tidak mau mengaku juga, hah?"


Mendengar perkataan dari wanita yang ada di hadapannya. Brenda pun mengingat tentang putri dari wanita tersebut.


Setelah Brenda mengingatnya. Seketika Brenda tersenyum menyeringai. Brenda menatap remeh dan juga jijik wanita di hadapannya ini.


"Oh. Jadi anda ibu dari perempuan murahan itu ya. Wah! Pantas saja kelakuannya menjijikkan. Ternyata ajaran dari anda, ibunya!"


Wanita yang marah-marah dan menampar wajah Brenda adalah Isabella Noberto, ibu dari Connie Noberto.


Wanita itu datang untuk membalaskan apa yang telah diperbuat oleh Brenda terhadap putrinya.


"Jaga ucapanmu itu. Jangan pernah kau menyebut putriku sebagai wanita murahan. Putriku itu wanita baik-baik. Yang wanita murahan itu adalah kau!" bentak Isabella dengan menunjuk kearah wajahnya Brenda.


"Hahahaha."


Brenda tertawa ketika mendengar perkataan dari Isabella. Menurut Brenda apa yang dikatakan oleh Isabella itu adalah kata yang sangat lucu.


"Dengar ya nyonya. Aku tidak pernah merebut kekasih dari putrimu itu. Justru putrimu lah yang menjadi pihak ketiga dalam hubunganku dengan kekasihku. Putrimu itu seenaknya mengklaim kekasihku adalah kekasihnya." Brenda berbicara dengan menatap tajam Isabella.


"Jangan mengarang cerita kau. Putriku tidak mungkin merebut kekasihmu. Kaulah wanita perusak dalam hubungan putriku dengan kekasihnya. Jadi aku minta padamu. Menjauhlah dari kekasih putriku. Jangan jadi wanita murahan!" bentak Isabella.


"Jika kau ingin memiliki kekasih. Pergi sana ke tengah jalan. Dan jajakan tubuhmu sepanjang jalan agar ada laki-laki yang menyukaimu."


Mendengar perkataan dari Isabella membuat Brenda mengepalkan kedua tangannya. Tapi Brenda berusaha untuk tidak terpancing.


"Kalau aku tidak mau, nyonya mau apa? Jika aku masih ingin bercinta dengan pria yang disukai oleh putrimu itu, bagaimana? Bukankah cinta tidak pernah salah, nyonya!"


Brenda berbicara dengan memberikan senyuman termanisnya sehingga membuat Isabella makin meradang.


"Jika kau masih berani mendekati kekasih putriku, maka aku akan....." perkataan Isabella terpotong.


"Maka aku akan apa, nyonya? Mau menghancurkanku? Mau menghancurkan keluargaku, begitu? Coba saja kalau bisa. Aku mau melihat sampai dimana nyonya dan keluarga nyonya ingin menghancurkanku dan keluargaku. Apakah usaha nyonya dan keluarga nyonya akan berhasil?" tantang Brenda.


"Kau menantangku, hah?!" bentak Isabella.


"Ya, lebih tepatnya seperti itu." Brenda menjawab perkataan dari Isabella.


"Kau....."


Isabella ingin memberikan tamparan kedua di pipi Brenda. Namun Brenda dengan cepat menahan tangan Isabella.


"Silahkan nyonya ingin melakukan apapun, termasuk putri nyonya yang murahan itu. Satu hal yang harus nyonya tahu tentang saya. Saya Brenda Wilson tidak akan pernah membiarkan siapa pun merebut milikku. Yang sudah menjadi milik seorang Brenda Wilson akan selamanya menjadi miliknya. Jika ada yang berani mengambilnya, maka orang itu akan merasakan neraka dunia."


Setelah mengatakan itu, Brenda menghempaskan tangan Isabella dengan kuat lalu kakinya melangkah pergi meninggalkan Isabella yang kini mematung setelah mendengar perkataan dari Brenda.


Bukan hanya Isabella saja yang ketakutan dan juga merinding akan perkataan dari Brenda. Mahasiswa dan mahasiswi yang sejak tadi menyaksikan dan mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Brenda juga merinding.


Mereka menyimpulkan bahwa Brenda tak jauh beda dengan Darren. Keduanya sama-sama memiliki sifat yang sangat kejam terhadap musuh-musuhnya. Begitu juga dengan para sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


Mahasiswa dan mahasiswi itu memberikan gelar untuk Darren, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya dengan sebutan Iblis Pencabut Nyawa.


__ADS_2