KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Keberhasilan Charlie Dan Soraya


__ADS_3

Mendengar ucapan dari Liana. Charlie tersenyum di sudut bibirnya. Begitu juga dengan Soraya.


"Memang aku yang telah membunuh suamimu itu. Terus kau mau apa sekarang, hah?! Kau bisa apa, Liana? Kau itu hanya perempuan bodoh dan tidak tahu apa-apa!"


Brak!


"Tutup mulutmu, brengsek! Jangan pernah kau menghina ibuku!" bentak Rangga.


"Hahahaha. Oh, Rangga! Kau sudah besar sekarang ya. Sudah berani kau membentak Pamanmu ini, hum!" ucap Charlie meremehkan.


"Cuih! Aku tidak sudi memiliki Paman sepertimu. Kau itu bukan manusia. Kau itu seekor hewan!" bentak Rangga.


"Jaga ucapanmu itu, sialan! Bagaimana pun dia adalah Pamanmu!" bentak Soraya.


"Siapa kau beraninya kau membentak kakakku? Kau bukan siapa-siapa. Jadi tutup mulutmu. Dan jangan ikut campur!" bentak Barra.


Brak!


Charlie memukul kuat meja sehingga membuat semua terkejut.


"Sudah cukup berdebatnya. Sudah waktunya kita akhiri saja perdebatan ini," ucap Charlie.


"Liana. Dengan sangat terpaksa aku mengatakan padamu bahwa rumah mewah ini beserta isinya sudah menjadi milikku. Bukan rumah ini saja, melainkan perusahaan yang kau kelola selama ini juga sudah menjadi milikku. Jadi mulai sekarang kau sudah tidak memiliki hak apapun lagi atas rumah dan perusahaanmu."


Mendengar penuturan dari Charlie membuat Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya terkejut. Mereka tidak menyangka jika Charlie berhasil merebut rumah dan perusahaan milik mereka.


"Jangan bercanda kau, Charlie. Sampai kapan pun rumah ini dan juga perusahaan. Semua itu milikku. Dan kelak suatu saat nanti akan aku wariskan kepada anak-anakku!" bentak Liana.


Charlie tertawa keras. Begitu juga dengan Soraya. Keduanya menatap meremehkan wajah Liana.


"Ini. Kau lihatlah sendiri. Di berkas itu sudah tertulis bahwa semua milikmu sudah menjadi milikku." Charlie berbicara sambil melemparkan sebuah map di atas meja.


Liana mengambil berkas itu. Kemudian Liana membuka map itu, lalu membaca isinya. Seketika Liana terkejut dan juga menangis.


"Tidak. Ini tidak mungkin. Kau benar-benar brengsek, Charlie!" teriak Liana.


Rangga merebut map yang ada di tangan ibunya, lalu membacanya. Begitu juga dengan Barra yang kebetulan duduk di samping Rangga.


Seketika keduanya marah atas apa yang dibacanya. Mereka tidak menyangka jika Pamannya tega melakukan hal keji itu kepada keluarganya.


Brenda yang duduk di samping ibunya berusaha menenang emosi ibunya. Brenda kemudian membisikkan sesuatu di telinga ibunya sehingga membuat ibunya terkejut dan tersenyum.

__ADS_1


"Mama, tenanglah. Kita tidak akan kehilangan rumah ini. Apalagi perusahaan. Berkas yang Mama lihat itu kemungkinan hanya salinan. Yang aslinya ada sama Darren. Bajingan itu sengaja membuat salinannya agar rencananya tidak gagal ketika berhadapan dengan Mama."


Mendengar perkataan dari putrinya. Liana langsung menatap wajah putrinya.


Brenda yang melihat tatapan mata ibunya tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


"Kau sekarang sudah lihatkan isinya, Liana? Jadi mulai sekarang rumah ini sudah resmi menjadi milikku," ucap Charlie.


Charlie melihat kearah tiga anak-anaknya. "Hai, sayang. Kalian pasti sudah mengantukkan? Sekarang silahkan kalian pilih kamar mana yang ingin kalian tempati. Kalian bebas memilihnya."


Ketiga anak-anaknya Charlie melihat kearah Charlie. "Benarkah, Papi?"


"Iya, sayang. Silahkan kalian pilih kamar yang mana," jawab Charlie kepada putri bungsunya.


Setelah itu, ketiga anak-anaknya pun langsung menuju kamar yang ada di lantai dua.


Ketika ketiga anak-anaknya Charlie hendak berjalan menuju anak tangga. Raya langsung berdiri dari duduknya dan langsung menghalangi jalan ketiga anak-anaknya Charlie.


"Di atas itu kamar kedua kakak perempuanku dan juga kamarku. Jika kalian ingin tidur. Tidur di kamar pembantu. Semua kamar disini sudah penuh!" bentak Raya dan langsung mendorong kuat tubuh ketiga anak-anaknya Charlie.


Melihat Raya yang bersikap kasar kepada ketiga anak-anaknya. Soraya tak terima. Soraya langsung berdiri dan menghampiri ketiga anak-anaknya dan Raya.


Brenda juga ikut berdiri ketika melihat Soraya berdiri. Brenda sangat yakin jika Soraya akan menyakiti adik perempuannya.


"Yang tidak tahu diri itu adalah kalian. Kalian datang ke rumah ini dan mengklaim rumah ini milik kalian. Dasar menjijikkan."


Soraya menatap marah wajah Raya. Dirinya tidak terima ucapan dari Raya yang ditujukan untuknya dan keluarganya.


Soraya kemudian melayangkan tangannya hendak menampar wajah Raya. Namun dengan gesitnya Brenda langsung menahan tangan Soraya dari samping.


Soraya melihat ke samping dimana Brenda yang menatap wajahnya. Soraya hendak menarik tangannya. Namun Brenda memegang kuat tangannya.


"Jangan pernah tangan kotormu ini menyentuh wajah adik perempuanku," ucap Brenda.


Setelah itu, Brenda melepaskan tangan Soraya dengan menghentakkannya kuat.


"Dan untuk kalian. Enyahlah dari sini. Jangan coba-coba untuk menyentuh milik kami," ucap Brenda dengan menatap tajam ketiga anak-anaknya Charlie dan Soraya.


"Rumah ini sudah menjadi milik kami. Kau dan keluargamu sudah tidak memiliki hak apapun lagi di rumah ini!" bentak anak pertama Charlie dan Soraya.


Setelah mengatakan itu, anak pertama Charlie dan Soraya mendorong tubuh Brenda, lalu berjalan menaiki anak tangga. Melihat kakak perempuannya berjalan menaiki anak tangga. Keduanya pun melangkah mengikuti kakak perempuannya.

__ADS_1


"Kak Brenda, mereka... Hiks," isak Raya.


Brenda langsung memeluk tubuh adik perempuannya. "Kamu tenang, oke! Mereka hanya sebentar di kamar kita. Setelah itu, kita akan mengambilnya lagi. Sekarang kita hanya mengikuti permainan mereka saja."


Setelah melihat ketiga anak-anaknya pergi menuju kamar masing-masing. Soraya pun kembali menuju ruang tengah.


"Bagaimana Liana? Kamu sudah tidak memiliki apa-apa lagi sekarang. Rumah dan perusahaan milik kamu sudah menjadi milik kami," ucap Soraya.


Liana tersenyum menyeringai menatap wajah Soraya. Begitu juga dengan Maura, Rangga, Barra dan Riana.


"Nyonya... Nyonya! Apa anda tidak memiliki keahlian lain ya selain menjadi pencuri," ejek Maura.


Mendengar ejekan dari Maura membuat Rangga, Barra dan Riana tertawa keras.


"Hahahaha."


"Biasalah, kak Maura. Keahlian mereka kan hanya satu itu saja yaitu mencuri. Bahkan mereka berani mengklaim milik orang lain adalah milik mereka. Jika mereka berpindah profesi. Nah, itu patut kita waspadai," sindir Riana.


Rangga, Barra dan Maura tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar perkataan dari Riana.


Sementara Charlie dan Soraya menatap marah wajah Maura, Rangga, Barra dan Riana. Mereka tak terima akan perkataan Maura dan Riana.


"Liana, apa begini caramu mendidik anak-anakmu. Mereka sama sekali tak menghargaiku dan Charlie. Bagaimana pun kami adalah Paman dan Bibinya," ucap Soraya.


"Kau tidak perlu menanyakan bagaimana caraku mendidik anak-anakku. Tanpa aku ajari yang buruk. Mereka sudah tahu mana yang buruk. Tanpa aku menyuruh mereka bersikap kasar kepada orang yang lebih tua dari mereka. Mereka sudah pasti tahu bagaimana cara bersikap terhadap orang yang lebih tua dari mereka."


"Jika sikap anak-anakku buruk kepadamu dan laki-laki itu. Itu juga karena kalian yang tidak memperlihatkan attitude yang baik di hadapan anak-anakku. Jadi jangan salahkan anak-anakku dan caraku mendidik anak-anakku."


Mendengar jawaban dari Liana membuat Soraya menatap marah Liana. Dari dulu dirinya selalu kalah jika berdebat dengannya. Baik dulu masih menjalin hubungan persahabatan sampai sekarang sudah menjadi musuh. Dirinya tidak pernah bisa mengalahkan Liana dalam soal adu mulut.


"Sudah cukup bermain-mainnya, Liana! Kedatanganku dan Charlie kesini adalah untuk mengusirmu dan anak-anakmu dari rumah ini. Rumah ini sudah menjadi milikku dan suamiku. Kau dan anak-anakmu sudah tidak punya hak apapun lagi disini. Aku melakukan semua ini padamu karena ingin membalaskan rasa sakitku terhadapmu dan juga suamimu itu."


Soraya menatap marah Liana. "Kau telah merebut Lionel dari. Dan kau juga yang sudah membuat Lionel lebih memilihmu dari pada aku. Aku mencintai Lionel. Tapi Lionel menolakku karena lebih memilihmu. Dan sekarang aku sudah berhasil membalaskan rasa sakitku padamu dengan merebut semua milikmu!"


"Jadi sekarang, pergilah dari sini. Bawa anak-anakmu. Rumah ini bukan lagi milikmu!" teriak Soraya.


Prok!


Prok!


Prok!

__ADS_1


"Waw... Waw!"


Terdengar suara tepukan tangan dan juga suara seseorang yang melangkah memasuki ruang tengah.


__ADS_2