
"Lepaskan teman kami!" teriak Rehan dan Dylan bersamaan kearah kesepuluh pria yang membawa Alice.
Saat ini Rehan dan Darel bersama dengan kekasihnya berada di tengah-tengah keramaian. Apa yang terjadi disana, disaksikan oleh para pengunjung mall.
Kenapa ada Rehan dan Darel di mall? Rehan dan Darel baru beberapa menit yang lalu bertemu dengan lima pelanggan untuk membeli beberapa lukisan. Pertemuan mereka di mall terkenal di Jerman.
Dikarenakan keduanya akan bertemu dengan pelanggannya di restoran mall. Baik Rehan maupun Darel memutuskan untuk mengajak kekasihnya masing-masing.
Jadi setelah selesai urusannya dengan lima pelanggan tersebut. Rehan dan Darel akan mengajak kekasihnya jalan-jalan dan shopping.
Ketika mereka memasuki mall, Milly tak sengaja melihat keberadaan Alice sahabatnya. Seketika itu, Milly langsung berteriak.
"Siapa kalian?! Jangan ikut campur urusan keluarga kami?!" bentak pria pertama.
Mendengar bentakkan dan perkataan pria itu membuat Rehan, Darel, Milly dan Felisa terkejut.
"Jangan ngarang lo. Sahabat gue nggak punya keluarga yang tampangnya pas-pasan kayak kalian!" teriak Felisa.
"Lihat saja wajah-wajah kalian pada dekil, kucel, hitam dan jelek. Sementara sahabat kami cantik, putih, kulitnya bersih. Tidak seperti kalian!" teriak Milly.
Mendengar ucapan dan hinaan dari Milly dan Felisa membuat kesepuluh pria-pria itu menggeram marah. Sementara Rehan dan Darel tersenyum. Begitu juga pengunjung mall. Mereka juga ikut tersenyum.
"Alice. Apa kau akan diam dan pasrah saja diperlakukan seperti itu sama mereka?!" tanya Milly berteriak.
"Mana Alice yang gue kenal. Lawan mereka Alice!" teriak Felisa.
"Setidaknya, buat diri lo lepas dari mereka!" teriak Felisa lagi.
^^^
Willy berniat untuk pergi menyusul Alice setelah selesai dengan urusannya membeli kalung berlian untuk Alice kekasihnya.
Namun ketika Willy melangkah meninggalkan toko perhiasan, tiba-tiba Kathy dengan beraninya memeluk tubuh Willy dari belakang.
Mendapatkan pelukan dari Kathy membuat Willy marah. Dia benar-benar muak dan jijik melihat kelakuan tak tahu malu dari Kathy.
Sementara pelayan toko yang melihat gadis yang mengaku sebagai kekasih dari pelanggannya hanya bisa diam dan menatap sedikit tak suka. Apalagi pelayan toko itu melihat wajah dari pelanggannya itu terlihat tak menyukainya.
"Lepaskan," ucap Willy.
Willy berusaha berbicara lembut. Bagaimana pun Kathy adalah seorang perempuan. Dan pantang bagi Willy untuk menyakiti perempuan.
"Aku mencintaimu Willy. Kenapa kau selalu saja mengacuhkan aku? Apa aku kurang cantik?" ucap dan tanya Kathy.
"Aku bilang, lepaskan aku Kathy."
"Aku tidak akan melepaskanmu, Wil! Ini adalah kesempatanku untuk mendapatkanmu. Aku benar-benar mencintaimu."
"Sekali lagi aku katakan. Lepaskan aku, Kathy Raimund!" bentak Willy dengan kerasnya sehingga terdengar oleh para pengunjung mall.
"Aku akan melepaskan pelukan ini, asal kau berjanji akan menerimaku menjadi kekasihku. Dan meninggalkan Alice," ucap Kathy.
Mendengar ucapan dari Kathy membuat emosi Willy sudah di ubun-ubun. Willy tidak bisa lagi menahan kesabarannya.
Dengan kuat dan juga kasar, Willy memegang kedua tangan Kathy yang memeluknya. Setelah itu, Willy menariknya hingga pelukan itu terlepas.
Willy menarik kasar tangan Kathy, lalu mendorong tubuh Kathy dengan kuat sehingga tersungkur di lantai.
__ADS_1
Melihat apa yang dilakukan oleh Willy membuat Kathy terkejut. Begitu juga dengan para pengunjung mall.
"Dengarkan gue baik-baik Kathy. Gue udah cukup sabar menghadapi kelakuan lo selama ini. Gue berusaha menghormati lo sebagai perempuan. Tapi sikap lo makin hari makin keterlaluan dan juga menjijikkan. Lo itu perempuan Kathy! Lo seharusnya bisa menjaga diri lo dari laki-laki. Tidak seperti saat ini yang memeluk gue seenaknya dan mengancam gue buat ninggalin Alice!" bentak Willy berapi-api.
Mendengar ucapan dan bentakkan dari Willy membuat Kathy terkejut. Begitu juga dengan para pengunjung mall.
"Tapi gue cinta sama lo Willy," sahut Kathy.
"Tapi gue nggak cinta sama lo. Gue udah bilang dari awal sama lo kalau gue nggak cinta sama lo. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabat gue terhadap teman-teman lo!" bentak Willy.
"Gue nggak setuju lo sama Alice! Gue nggak suka lihat lo berduaan dengan Alice!" bentak Kathy.
"Apa hak lo ngatur-ngatur gue, hah?! Lo bukan siapa-siapa gue. Mau gue dekat sama Alice, mau gue berantem sama Alice atau gue ciuman bahkan tidur sekali pun sama Alice. Itu bukan urusan lo. Hubungan gue sama Alice sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua gue, kedua kakak laki-laki gue dan juga keluarga besar gue. Bahkan gue juga sudah mendapatkan restu dari keluarga besar Alice. Jadi lo nggak punya hak ngelarang gue dan Alice berpacaran!" bentak Willy dengan menatap tajam Kathy.
Setelah mengatakan itu, Willy pergi meninggalkan Kathy untuk menyusul Alice ke toilet. Dia benar-benar khawatir terhadap Alice yang belum kembali.
Namun ketika baru beberapa langkah, Willy kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan dan teriakan dari Kathy.
"Gue akan hancurkan hubungan lo dan Alice. Bagaimana pun caranya, gue nggak akan membiarkan perempuan murahan itu bahagia bersama lo. Jika gua nggak bisa memiliki lo, maka perempuan sialan itu juga nggak akan bisa memiliki lo!"
Mendengar ucapan dari Kathy membuat Willy semakin marah. Kedua tangannya mengepal kuat. Sorot matanya yang merah dan tajam.
Bukan hanya Willy yang marah akan perkataan Kathy. Justru pelayan toko perhiasan dan para pengunjung mall juga marah terhadap Kathy. Bahkan mereka menatap jijik kearah Kathy.
Willy membalikkan badannya untuk menatap wajah Kathy. Ketika Willy sudah membalikkan badannya, seketika tubuh Kathy bergetar dan merinding. Begitu juga dengan para pengunjung mall.
Bagaimana tidak bergetar dan merinding. Kathy dan para pengunjung mall melihat aura yang begitu menakutkan dari tatapan mata Willy.
Willy melangkah mendekati Kathy dengan tatapan mata yang menurut Kathy dan para pengunjung mall begitu menakutkan.
"Apa yang barusan kau katakan, hah?!" bentak Willy.
"Apa yang barusan lo katakan, hah?!" teriak Willy.
Srek!
"Aakkhhh!"
Kathy berteriak kesakitan ketika Willy mencekik kuat lehernya.
"Aakkhhh!"
Para pengunjung mall seketika berteriak histeris ketika melihat Willy yang tiba-tiba mencekik leher Kathy. Mereka semua tidak menyangka jika Willy akan melakukan hal itu.
"Lo salah mencari masalah dengan gue, Kathy! Gue sudah berusaha untuk sabar dan selalu berusaha menghormati lo sebagai perempuan. Tapi lo sama sekali nggak menghargai gue!"
"Dan hari ini lo mancing dia keluar. Lo dengan kejinya menyebut cewek gue sebagai perempuan murahan. Dan bahkan lo berani-beraninya ngancam gue bakal hancurin hubungan gue sama Alice."
Willy makin menguatkan cekikannya di leher Kathy sehingga membuat Kathy berteriak. Air matanya mengalir membasahi wajahnya.
"Le-lepaskan gu-gue," ucap Kathy terbata-bata.
"Kenapa? Tadi saja lo berani nantangin gue. Bahkan tidak ada rasa takut sama sekali dari mata lo. Kenapa sekarang lo minta gue untuk lepasin lo? Apa lo takut sekarang, hum?"
"Tuan... Tuan! Tolong lepaskan nona itu. Saya tahu nona itu salah. Tapi setidaknya, jangan lakukan itu tuan!" seru pemilik toko perhiasan tempat Willy membeli kalung berlian itu.
"Iya, tuan. Lepaskan nona itu. Coba lihatlah. Nona itu sudah tidak bisa bernafas akibat tuan mencekiknya terlalu kuat," sela seorang pengunjung mall.
__ADS_1
"Tuan, pikirkan kekasih dan juga keluarga tuan. Bagaimana jika nona ini mati hari ini. Tuan pasti akan masuk penjara. Sekali pun yang bersalah itu adalah nona itu," ucap seorang ibu-ibu.
Mendengar ucapan demi ucapan dari para pengunjung mall dan pemilik toko perhiasan membuat Willy sama sekali tak mempedulikan hal itu. Saat ini yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya melenyapkan perempuan yang ada di hadapannya ini.
Willy menguatkan cekikan di leher Kathy sehingga membuat Kathy berteriak. Mendengar teriakan dari Kathy membuat para pengunjung mall juga ikut berteriak. Mereka benar-benar takut melihat Willy.
"Willy," panggil beberapa orang.
Mendengar suara beberapa orang yang memanggil pemuda yang masih mencekik seorang gadis, mereka semua melihat ke asal suara.
Mereka semua melihat tiga gadis cantik dan dua pemuda tampan berlari menghampiri Willy.
Grep!
Salah satu dari tiga gadis itu langsung memeluk tubuh Willy dari belakang.
"Wil, ini aku Alice. Aku mohon lepasin Kathy."
"Wil, lepasin Kathy. Kathy itu perempuan. Bukannya lo paling pantang nyakitin perempuan," ucap Darel.
"Wil, pikirin Paman dan Bibi. Mereka bakal sedih lihat lo seperti ini," ucap Rehan.
"Wil, lepasin Kathy!" seru Milly dan Felisa bersamaan.
Alice melepaskan pelukannya, lalu berjalan dan berdiri di hadapan Willy.
"Sayang," ucap Alice sembari tangannya menyentuh lembut pipi Willy.
Willy yang merasakan sentuhan lembut di pipinya menatap wajah cantik Alice.
Alice kemudian menyentuh tangan Willy yang masih berada di leher Kathy. "Lepasin ya," ucap Alice lembut.
Dan berlahan cekikan di leher Kathy melonggar. Melihat hal itu, Alice langsung menarik tangan Willy dan membawa jauh tubuh Willy dari hadapan Kathy.
Melihat Willy yang telah melepaskan cekikan di leher Kathy membuat semua yang melihat kejadian itu tersenyum lega.
"Maaf," lirih Willy. Dan seketika air matanya jatuh membasahi wajahnya.
Alice tersenyum. "Tidak, sayang! Kamu tidak salah. Kamu ngelakuin itu semua karena membela orang yang kamu sayang.
Darel dan Rehan berjalan mendekati Willy. Keduanya tampak terpukul dan sedih melihat konditi Willy saat ini.
Rehan dan Darel secara bersamaan memeluk tubuh Willy. Dapat mereka rasakan tubuh Willy yang sedikit bergetar.
"Semuanya akan baik-baik saja, oke! Lo nggak salah. Apa yang lo lakuin sudah benar," hibur Rehan.
"Sekarang kita pulang ya," ucap Darel.
Milly dan Felisa menghampiri Kathy yang saat ini masih memegang lehernya. Dan juga masih ketakutan akan apa yang barusan terjadi padanya.
"Gue harap sama lo. Setelah kejadian ini. Jangan mencari masalah lagi. Jadilah perempuan baik-baik," ucap Milly.
"Lo cantik Kathy. Gue yakin lo bisa mendapatkan yang lebih baik dari Willy. Jangan ganggu Willy lagi. Willy sudah bahagia bersama Alice, sahabat gue!" ucap Felisa.
Setelah mengatakan itu, Milly dan Felisa menghampiri Rehan dan Darel.
"Lebih baik kita pulang sekarang!" seru Milly.
__ADS_1
Mereka pun pergi meninggalkan mall untuk pulang ke rumah.