
Gilang dan Darka sudah berada di Kampus. Mereka saat ini ada di kelas. Keduanya tampak sibuk menyelesaikan tugas kuliahnya yang belum selesai ketika di rumah.
Sementara teman-teman kampus dan beberapa anggota Organisasinya sudah berada di luar. Lebih tepatnya di kantin.
Yah! Sesi materi kuliah pertama dan kedua telah selesai. Tersisa dua materi kuliah lagi yang tersisa. Hari ini Gilang dan Darka sampai pukul 2 siang. Sementara sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.
Beberapa menit kemudian..
Gilang dan Darka akhirnya selesai mengerjakan semua tugas-tugasnya itu. Tugas kuliah yang dikerjakan oleh Gilang dan Darka adalah tugas kuliah yang akan diserahkan kepada Dosen saat materi kuliah terakhir.
"Darka, kamu sudah selesai?" tanya Gilang sembari membereskan buku-buku kuliahnya.
"Sudah!" Darka langsung menjawab pertanyaan dari Gilang.
"Ke kantin atau ke perpustakaan dulu untuk mengembalikan dua buku ini?" tanya Gilang.
"Ke kantin. Aku sudah lapar. Masalah buku itu nanti saja kita kembalikan. Sekalian sama buku-buku yang lainnya." Darka menjawabnya.
"Ach, baiklah!"
Selesai keduanya membereskan buku-bukunya, keduanya pun memutuskan untuk langsung ke kantin.
^^^
Kini Gilang dan Darka sudah berada diluar. Keduanya melangkahkan kakinya menyusuri setiap koridor kampus untuk menuju kantin.
Ketika Gilang dan Darka tengah fokus melangkahkan kakinya menuju kantin. Darka dan Gilang tak sengaja mendengar seseorang berbicara. Keduanya awalnya hanya bersikap acuh dan tak peduli.
Namun detik kemudian, baik Darka maupun Gilang seketika menghentikan langkahnya ketika orang itu menyebut nama kedua adiknya yaitu Darren dan Nandito.
Gilang dan Darka saling memberikan tatapan matanya, lalu kemudian Gilang dan Darka membalikkan badannya untuk melihat keasal suara seseorang yang berbicara.
Gilang dan Darka melihat seorang mahasiswa junior dari fakultas kedokteran sedang berbicara dengan seseorang sembari kakinya melangkah memasukinya sebuah ruangan yang mana ruangan tersebut adalah kelas dari orang itu.
Gilang dan Darka seketika mengintip lewat jendela sembari memasang telinganya masing-masing agar bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh adik kelasnya itu. Bahkan di kelas itu bukan hanya adik kelasnya itu saja, melainkan ada sekitar enam orang.
Seketika Gilang mengeluarkan ponselnya. Dia ingin merekam apa yang dibicarakan oleh adik kelasnya itu bersama kelima adik kelasnya yang lain. Gilang meyakini bahwa mereka satu kelompok.
"Bagaimana?" tanya teman pertama.
"Apa yang dikatakan orang itu sama lo?" tanya teman kedua.
Mahasiswa itu melihat kearah kedua teman dengan wajah tegangnya.
"Rencana kita untuk menyakiti Darren dan Nandito di kota Munich gagal total. Sepuluh orang yang kita bayar untuk menjebak Darren dan Nandito agar mereka berpencar dan pergi ke lokasi yang sudah ditentukan berhasil ditemukan oleh Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan. Bahkan ada beberapa kelompok yang membantu mereka."
Mendengar jawaban dari temannya itu membuat kelima mahasiswa itu terkejut. Mereka tidak menyangka jika Nandito dan Darren ada yang membantunya. Bahkan mereka penasaran kelompok yang sudah membantu Darren dan Nandito ketika mereka berhasil membawa masuk Darren dan Nandito ke lokasi yang sudah mereka tentukan.
"Terus apa yang terjadi?" tanya teman ketiga.
"Mereka berhasil menghancurkan kegiatan di hari keempat Darren dan kelompok Organisasinya dengan menukar sebagian obat-obatan dengan bahan kimia sehingga ketika mereka ingin memperlihatkan khasiat obat-obatan itu seketika ledakan terjadi. Semua obat-obatan itu hancur dan rusak parah. Mereka juga berhasil menyakiti Darren dan Nandito. Disini yang lebih parah adalah Nandito. Dia mengalami luka di kepala belakangnya."
"Darren sudah mengetahui semuanya karena dia sudah curiga sejak gagalnya kegiatan keempat itu. Bahkan yang lebih parahnya lagi adalah Darren berhasil menangkap tiga pemuda desa yang kita bayar itu. Satu mati dengan sangat mengenaskan di tangan Darren, satunya hampir mati dan yang satunya lagi berhasil kabur. Jika bukan karena berkat salah satu kelompok itu menahan tangan Darren, maka pemuda kedua yang hampir mati itu pasti akan benar-benar mati ditangan Darren."
Deg..
Gilang dan Darka seketika terkejut ketika mendengar adik kelasnya itu mengatakan bahwa satu orang mati ditangan Darren. Bagaimana pun baik Gilang dan Darka belum mengetahui masalah itu. Begitu juga dengan anggota keluarganya dan anggota keluarga lainnya. Darren tidak membahas masalah tersebut.
__ADS_1
"Apa pemuda desa yang selamat dari kematiannya itu sempat mengaku?" tanya teman keempat.
"Iya. Pemuda desa itu mengaku di hadapan Darren ketika dia hendak dibunuh saat itu juga. Darren sampai membunuh satu pemuda desa yang kita bayar itu karena mereka tidak mau memberitahukan keberadaan Nandito. Sementara Darren sudah sangat mengkhawatirkan Nandito. Ketika Darren hendak membunuh pemuda itu. Pada akhirnya pemuda desa itu mau mengaku alasan dibalik semuanya."
"Pemuda desa itu mengatakan apa?" tanya teman kelima.
"Pemuda itu menceritakan dari awal sampai akhir di hadapan Darren. Bahkan pemuda itu mengatakan bahwa dalangnya kuliah di kampus yang sama dengan Darren."
Seketika mata kelima teman-temannya itu membelalakkan ketika mendengar jawaban dari temannya itu.
"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang, Irfan?" tanya teman pertama dengan menatap wajah Irfan.
"Kalian tenang saja. Pemuda desa itu tidak menyebutkan nama kita. Bahkan saat kita membayar mereka, kitakan tidak menunjukkan wajah asli kita. Dan kita juga tidak menyebutkan nama kita," jawab Irfan.
"Iya, itu memang benar. Tapi pemuda itu tahu kalau kita kuliah di kampus yang sama dengan Darren dan Nandito. Cepat atau lambat kita bakal ketahuan," sahut teman kedua.
"Apalagi Darren memiliki kekuasaan di kampus ini. Pemilik kampus ini memberikan wewenang penuh terhadap Darren. Bahkan petinggi-petinggi di kampus ini mengikuti cara kerja Darren," pungkas teman ketiga.
"Asal kalian tenang dan tidak ketakutan. Semuanya pasti akan aman. Semua itu tergantung kalian," jawab Irfan.
Mendengar jawaban dari Irfan membuat kelima mahasiswa itu langsung diam. Mereka tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Irfan. Jika mereka bersikap tenang dan tidak ketakutan, maka semuanya akan aman.
Sementara di luar kelas, Gilang dan Darka seketika tersenyum menyeringai ketika mendapatkan banyak informasi dari mulut keenam adik kelasnya itu. Ditambah lagi Gilang yang sudah merekamnya.
Gilang memiliki satu rencana untuk membujuk keenam adik kelasnya itu ketakutan selama di kampus, terutama untuk kelima temannya Irfan. Gilang sangat yakin jika kelima temannya Irfan tersebut memiliki ketakutan yang luar biasa.
"Permainan segera dimulai, adik-adik kelasku!"
Setelah puas mendengarkan semua percakapan Irfan dengan kelima temannya, Gilang dan Darka memutuskan untuk pergi. Tujuan awalnya adalah kantin.
***
Bugh.. Bugh..
Duagh.. Duagh..
Gedebug..
Bruukkk..
"Aakkhhh!"
Terdengar suara pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan dan juga suara teriakan kesakitan dari ruang tahanan sekaligus ruang penyiksaan.
Suara-suara yang berteriak kesakitan tersebut adalah teriakan dari kesembilan pemuda desa yang sudah mengacaukan kegiatan Touring Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan kelompok Organisasinya.
"Apa lo semua masih ingin tutup mulut, hah?! Apa lo semua tidak sayang dengan nyawa kalian!" bentak Darren yang menatap tajam kearah kesembilan pemuda desa itu.
Pemuda yang hampir mati di tangan Darren dan juga pemuda yang sudah menceritakan semuanya di hadapan Darren saat itu memberanikan menatap wajah Darren yang saat ini dalam keadaaan marah besar.
"Tuan, saya mewakili teman-teman saya meminta maaf. Tapi sumpah tuan. Saya dan teman-teman saya benar-benar tidak tahu tentang orang itu. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Begitu juga dengan teman-tenan saya. Saya dan teman-teman saya hanya mengetahui bahwa orang itu adalah seorang mahasiswa. Dan orang itu kuliah di kampus yang sama dengan tuan. Pada saat bertemu dengan orang itu. Orang itu menggunakan topi dan masker. Saya tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya."
"Seperti apa ciri-ciri orang itu?" tanya Qenan.
"Orang itu tinggi. Kemungkinan kurang lebih dengan bentuk tubuh tuan itu," jawab pemuda desa itu sembari mengarahkan dagunya kearah Willy.
Darren, Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan langsung melihat kearah pandangan pemuda desa itu. Pemuda desa itu melihat kearah Willy. Begitu juga dengan Ziggy, Enzo, Devian, Noe dan Chico serta tangan kanan Ziggy dan anggotanya yang ada di ruang itu juga.
__ADS_1
"Orang itu sedikit lebih pendek beberapa senti dari tuan itu," ucap pemuda desa itu lagi.
Mendengar jawaban demi jawaban dari pemuda desa itu membuat Darren seketika berpikir tentang ciri-ciri yang disebutkan oleh pemuda desa itu.
Detik kemudian....
Seketika terukir senyuman di sudut bibirnya ketika dia sudah mendapatkan orang yang ciri-cirinya disebutkan oleh pemuda desa itu.
"Jika benar ini adalah ulahmu, maka tunggu apa yang akan menantimu." Darren berucap di dalam hatinya.
Darren melihat kearah Ziggy. Dia ingin meminta sesuatu pada kakak mafianya itu.
"Kakak Ziggy!"
"Iya, Ren! Ada apa?"
"Lepaskan dia!" Darren langsung menunjuk kearah pemuda desa yang saat itu hampir mati ditangan Rendra.
"Kau yakin?" tanya Ziggy.
"Iya," jawab Darren.
"Baiklah."
Setelah itu, Ziggy memerintahkan tiga anggota mafianya untuk melepaskan semua ikatan yang mengingat tubuh pemuda desa itu.
"Pergilah. Aku memaafkanmu."
Seketika pemuda desa itu menangis ketika mendengar ucapan dari Darren.
"Tu-tuan...," lirih pemuda itu menatap wajah Darren.
"Aku sudah tahu semuanya. Salah satunya adalah bahwa kau terpaksa mengikuti ajakan teman-temanmu yang brengsek itu."
"Terima kasih tuan."
"Tapi ingat! Jika kau melakukan kejahatan lagi, maka tidak akan ada lagi kata maaf. Hanya ada dua pilihan, mati atau masuk penjara!"
"Saya mengerti tuan. Saya tidak akan melakukan hal itu lagi. Saya tidak akan berbuat hal buruk lagi. Apa yang saya lakukan ini itu karena terpaksa."
"Saya percaya."
Setelah itu, pemuda desa itu langsung pergi meninggalkan ruang penyiksaan tersebut.
Namun baru beberapa langkah, Darren kembali memanggilnya.
"Tunggu!"
Mendengar panggilan dari Darren membuat pemuda desa itu berhenti dan kemudian pemuda desa itu langsung membalikkan badannya.
Darren melangkahkan kakinya menghampiri pemuda itu. Setelah tiba di hadapan pemuda itu, Darren memberikan sesuatu yaitu secarik kertas kepada pemuda itu.
"Ini."
"Apa ini tuan?"
"Kau baca nanti setelah menjauh dari tempat ini. Lakukan apa yang tertulis di dalamnya."
__ADS_1
"Baik, tuan!"
Dan setelah itu, pemuda itu pun benar-benar pergi meninggalkan ruang penyiksaan Markas The Crips.