
Gilang dan Darka masuk kuliah hari ini. Mereka memutuskan untuk kuliah karena ingin memberikan informasi terkait kejadian yang dialami dirinya, saudara-saudaranya serta para anggota Organisasi lainnya saat melakukan kegiatan Touring.
Dikarenakan adiknya belum kembali, maka dia yang menggantikan semua tugas adiknya itu di kampus dan dibantu oleh Gilang.
Gilang, Darka bersama dengan Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para anggota Organisasi lainnya di ruang Aula.
"Apa kakak Gilang dan kakak Darka belum mendapatkan kabar tentang Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan?" tanya Brenda.
"Belum Brenda. Baik anggota keluarga kakak maupun anggota keluarga dari ketujuh sahabatnya Darren belum mendapatkan kabar apapun," jawab Darka.
"Apa kelima kakak mafianya Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan tidak memberikan kabar kepada keluarga Smith dan keluarga yang lainnya?" tanya Elsa yang seketika meneteskan air mata.
Gilang dan Darka menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Hati mereka ikut sedih ketika melihat Elsa yang menangis.
"Ren," batin Brenda.
***
Di kediaman Radmilo tampak ramai dimana semua anggota keluarga tengah berkumpul di ruang keluarga. Sekarang ini mereka tengah memikirkan kabar Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan yang belum ada kabar sama sekali. Ini adalah hari kelima setelah kepulangan Darka, Gilang dan kelompok Organisasi Kampus lainnya ke kota Hamburg.
"Apa anak buah Papi sudah menghubungi dan memberikan kabar tentang pencarian Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan?" tanya Arkana kepada ayahnya Damian.
"Belum sayang," jawab Damian.
"Bagaimana dengan anak buahnya Papi Atalarik?" tanya Danesh.
Atalarik langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dan jangan lupakan wajah sedihnya.
"Papi bagaimana?" tanya Satya kepada ayahnya.
"Anak buah Papi juga belum menghubungi Papi tentang kebersihannya mencari keberadaan Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan!" Gerald berucap sedih.
Sejak kepulangan Darka, Gilang, Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para anggota Organisasi Kampus. Anggota keluarga Radmilo yaitu Damian, Gerald dan Atalarik serta putra-putra sulungnya memutuskan untuk membantu mencari keberadaan Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan. Menurut mereka, jika makin banyak yang mencari, maka kemungkinan besar akan membuahkan hasil. Bahkan Elzaro diam-diam juga memerintahkan beberapa anggotanya untuk membantu anggota keluarganya untuk mencari keberadaan Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan.
Anggota keluarga Radmilo tidak bisa duduk santai sementara anggota keluarga Smith dan anggota keluarga dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren tengah bersedih. Jadi mereka memutuskan untuk membantu mencari keberadaan Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan.
Ketika mereka sedang memikirkan kondisi Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan yang tidak tahu keberadaan ntah dimana. Tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara ponsel berbunyi.
Drrtt.. Drrtt..
Drrtt..
"Itu ponsel siapa yang bunyi?" tanya Deliana.
"Ini ponselku, Oma!" Elzaro menjawab pertanyaan dari sang nenek.
Setelah menjawab pertanyaan dari sang nenek, Elzaro langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Lio. Bagaimana?" Elzaro langsung bertanya apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Saya berhasil mendapatkan kabar tentang Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan. Bahkan saya juga mendapat lokasi mereka yang sekarang."
Seketika Elzaro berdiri dari duduknya dengan kedua matanya membulat sempurna karena mendengar jawaban dari tangan kanannya itu.
Melihat Elzaro yang tiba-tiba berdiri dengan wajah yang tampak terkejut membuat semua anggota keluarga Radmilo menjadi khawatir terutama Atalarik, Mita, Danesh, Nuel dan Kathleen.
"Sayang," ucap Mita lirih dengan tatapan matanya menatap kearah Elzaro.
"Apa itu benar? Kau sedang tidak membohongiku kan? Kami disini sudah sangat merindukan mereka semua. Kami semua sangat mengkhawatirkan mereka semua."
__ADS_1
"Saya berkata jujur, Bos! Saya sudah mendapatkan tentang Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan."
"Katakan! Buruan!"
"Saat ini Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan berada di rumah sakit Ludwig Maximilian. Mereka dalam keadaan luka-luka. Yang paling parah adala Nandito. Dia mengalami luka di bagian kepala akibat pukulan dan banyak kehabisan darah karena terlambat dibawah ke rumah sakit. Dan untuk kondisi Darren, kabar terakhir yang saya dapatkan bahwa Darren pingsan akibat sakit di bagian dada kirinya."
Elzaro seketika menggelengkan kepalanya ketika tangan kanannya itu mengatakan tentang kondisi Darren. Seketika air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya.
"Lino, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Danesh.
"Baiklah. Terima kasih informasinya."
Setelah mengatakan itu, Elzaro langsung mematikan panggilannya.
"Darren," Elzaro berucap dengan lirih.
"Elzaro, ada apa? Jangan diam saja. Kasih tahu kita," ucap Arkana.
Elzaro menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Begitu juga dengan anggota keluarganya yang menatap dirinya.
"Kita ke kediaman Smith sekarang. Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan saat ini berada di rumah sakit Ludwig Maximilian. Nandito harus dirawat disana karena luka di kepalanya. Sementara Darren dalam kondisi tak baik-baik saja. Dengan kata lain, mereka semua dalam keadaan luka-luka."
Seketika semua anggota keluarga Radmilo terkejut dengan tangannya menutup mulutnya ketika mendengar cerita dari Elzaro.
"Kita pergi sekarang!" seru Robert.
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kediaman Radmilo untuk menuju kediaman keluarga Smith.
***
Di kediaman Smith juga terlihat ramai dimana semua anggota keluarga dari Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan datang ke kediaman keluarga Smith. Tujuan mereka semua datang kesana adalah untuk memberikan semangat untuk keluarga Smith dan juga untuk mengetahui perkembangan informasi tentang putra-putra bungsu mereka.
Alasan kelima ketua mafia tersebut tidak memberikan kabar tentang mereka yang berhasil menemukan keberadaan Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan karena kondisi mereka sedang tak baik-baik saja. Kelima ketua mafia itu ingin mematikan kondisi adik-adiknya terlebih dahulu baru memberikan informasi kepada para anggota keluarga.
Setelah itu, baru mereka kembali ke kota Hamburg. Kelima ketua mafia tersebut tidak ingin membuat semua anggota keluarga dari adik-adiknya makin khawatir dan panik terutama untuk keluarga Smith.
"Apa kalian sudah mendapatkan kabar dari salah satu kelima kakak mafia dari putra-putra bungsu kita?" tanya Erland dengan menatap wajah ketujuh sahabatnya.
Dengan kompak Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric, Hendy dan Dario menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Bagaimana dengan kamu, Erland?" tanya Hendy.
Sama halnya dengan ketujuh sahabat-sahabatnya, Erland menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.
Sama-sama tidak mendapatkan kabar mengenai putra-putra bungsunya dari kelima ketua mafia membuat Erland, Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric, Hendy dan Dario hati mereka semakin sedih.
"Ini sudah hari kelima sejak kembalinya Gilang, Darka, Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda dan teman-teman Kampusnya. Sampai saat ini Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico belum mengabari kita." Eric berucap lirih.
Mereka semua menangis. Menangis karena merindukan kesayangannya. Menangis memikirkan kondisi kesayangannya.
Ketika mereka semua tengah bersedih, tiba-tiba terdengar bunyi bell dari luar rumah.
Ting..
Tong..
Seorang pelayan berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.a
Beberapa detik kemudian..
__ADS_1
"Selamat siang semuanya!" sapa anggota keluarga Radmilo yang melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.
Erland, Agneta serta yang lainnya yang ada di ruang tengah langsung melihat kedatangan keluarga Radmilo.
Kini keluarga Radmilo sudah bergabung dengan anggota keluarga lainnya di ruang tengah.
"Kebetulan semuanya pada disini. Aku ingin memberikan informasi mengenai Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan!" seru Elzaro.
Mendengar ucapan dari Elzaro membuat semuanya langsung melihat kearah Elzaro. Mereka semua menatap penuh harap kearah Elzaro.
"Apa itu benar, nak Lino?" tanya Aldez.
"Benar, Paman!"
"Katakan dimana mereka sayang?" tanya Agneta.
"Sebelum aku kasih tahu kalian semua. Aku minta kepada kalian untuk tidak panik dan tetap tenang, terutama untuk Paman Erland dan Paman Brian!"
Mendengar ucapan dari Elzaro membuat Erland dan Brian langsung menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Paman janji akan tetap tenang," jawab Erland.
"Paman juga," pungkas Brian.
"Baiklah. Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan saat ini berada di rumah sakit Ludwig Maximilian. Kelima kakak mafia mereka berhasil membawa mereka semua ke rumah sakit. Mereka semua mengalami luka-luka sama seperti luka-luka yang dialami Gilang, Darka, Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya dan teman-teman Kampusnya ketika mereka kembali. Hanya saja Nandito mendapatkan luka serius bagian kepala belakangnya dan juga banyak kehilangan darah karena terlambat dibawah ke rumah sakit. Untuk Darren...."
Seketika Elzaro menghentikan ucapannya dengan tatapan matanya menatap kearah Erland dan Agneta.
"Kenapa Lino? Apa yang terjadi dengan Darren?" tanya Erland.
"Tangan kananku mengatakan bahwa Darren jatuh pingsan setelah mengeluarkan semua kekecewaannyan dan kemarahannya atas apa yang menimpa Nandito. Bahkan Darren menyalahkan dirinya sendiri atas musibah yang terjadi. Baik terhadap Nandito maupun kepada anggota-anggota Organisasinya. Akibat Darren yang terlalu emosional sehingga membuat Darren merasakan sakit di dada kirinya."
Deg..
Mereka semua menangis ketika mengetahui kondisi Darren dan Nandito terutama Erland, Agneta, Brian dan Delia.
"Sudah seperti ini, kenapa mereka tidak mengabari kita?" tanya Davin.
"Bukankah mereka berjanji akan mengabari kita semua," sahut Adnan.
"Intinya! Alasan kenapa Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico tidak mengabari kita semua karena mereka tidak ingin membuat kita semua bertambah khawatir. Mereka ingin memastikan kondisi Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan dalam keadaan baik-baik saja. Mereka ingin mematikan kesembuhan adik-adiknya. Mereka kan berjanji kepada kita semua akan membawa Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, dan Rehan pulang dalam keadaan baik-baik saja dan juga dalam keadaan sehat. Maka dari itulah mereka tidak mengabari kita semua."
Damian berusaha mencairkan suasana dan juga pikiran-pikiran burung para anggota keluarga tentang Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico.
Mendengar penuturan dari Damian membuat anggota Erland, Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric, Hendy dan Dario menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Mereka baru ingat akan janji yang diucapkan oleh Ziggy sebelum pergi.
"Bagaimana? Apa kita tetap menunggu disini atau kita menyusul mereka kesana?" tanya Evan dengan menatap semua anggota keluarganya.
"Ada baiknya jangan," cegah Robert.
"Kenapa Paman?" tanya Brian.
"Kita tunggu saja kabar dari mereka. Paman yakin jika hari ini atau besok, salah satu dari mereka akan menghubungi kita. Biarkan mereka melakukan tugasnya sebagai seorang kakak untuk adik-adiknya. Paman yakin jika mereka akan menjaga dan melindungi putra-putra kalian."
"Kita tidak tahu kondisi diluar sana seperti apa. Jika kita memaksa untuk pergi apalagi kondisi kita seperti ini. Yang ada akan mendatangkan masalah baru. Jadi saran Paman. Kita tetap disini dan menunggu kabar. Yang jelas saat ini kita bisa bernafas lega karena putra-putra kita sudah tidak lagi berada di desa itu. Itu hal yang membahagiakan untuk kita. Dan kita seharusnya bersyukur akan hal itu." Robert kembali berucap.
Mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju dan mengerti akan apa yang dikatakan oleh Robert. Dan mereka juga tidak ingin ada masalah baru sementara masalah lama belum selesai.
"Baiklah!" jawab mereka semua dengan kompak menyetujui saran dari Robert.
__ADS_1