KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kebaikan Hati Darren


__ADS_3

Darren masih berada di dalam kamarnya bersama dengan ketujuh sahabatnya dan para kekasihnya. Mereka bercerita banyak hal. Mereka bercerita tentang apa saja yang mereka lalui tanpa ada salah orang yang mereka sayangi di dekatnya.


Sementara untuk anggota keluarganya seperti kedua orang tuanya, keenam kakak laki-lakinya, kelima adik laki-lakinya, ketiga saudara sepupunya, Paman dan Bibinya berada di ruang tengah. Sama halnya dengan Darren yang tengah bercerita banyak di dalam kamarnya. Hal itu juga yang dilakukan oleh anggota keluarganya di ruang tengah.


Untuk Erica saat berada di kediaman Aldebaran, keluarga dari Devian. Keluarga itu begitu menyayangi Erica dan meminta Erica tinggal bersama dengan mereka beberapa minggu.


"Aku sungguh bahagia melihat  kondisi Darren mulai berangsur membaik," ucap Carissa.


Mendengar ucapan dari Carissa membuat Erland dan yang lainnya juga merasakan apa yang dirasakan oleh Carissa.


"Kakak Erland juga bahagia atas kondisi Darren saat ini Carissa. Bahkan kakak berharap ini yang terakhir Darren sakit dan tidak kembali masuk ke rumah sakit lagi," ucap Erland berharap.


Mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju atas apa yang dikatakan oleh kakak laki-lakinya/suaminya/ayahnya/pamannya itu. Mereka juga berharap seperti ini.


Ketika Erland dan anggota keluarganya tengah membahas kondisi Darren, tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi menandakan ada tamu yang datang.


Dan tak berapa lama terlihat seorang pelayan perempuan berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.


Tak butuh waktu lama, pelayan perempuan itu datang menghampiri anggota keluarga Smith di ruang tengah.


"Ada apa Mira?" tanya Agneta.


"Ada beberapa orang yang ingin bertemu dengan tuan muda Darren, nyonya!"


"Siapa mereka?" tanya Davin.


"Salah satu dari mereka mengatakan bahwa mereka dari keluarga Mendez."


Mendengar ucapan dari pelayan wanita itu yang menyebut nama keluarga Mendez. Seketika Dzaky dan Adnan mengingat nama itu.


"Bukankah keluarga Mendez itu keluarga yang diceritakan oleh Darren ketika Darren masih dirawat di rumah sakit," ucap Adnan.


Mendengar ucapan dari Adnan membuat mereka semua langsung mengingat nama keluarga tersebut.


Erland langsung meminta pelayan wanita itu untuk menyuruh tamu itu ke ruang tengah.


"Bawa mereka kemari, Mira!"


"Baik, tuan!"


Setelah itu, pelayan wanita itu pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju ruang tamu.


^^^


Kini beberapa anggota keluarga Mendez sudah berada di ruang tengah bersama dengan anggota keluarga Smith.


Ini adalah pertama kalinya bagi keluarga Mendez bertemu dengan keluarga yang terkenal dermawan, baik hati, berpengaruh dalam dunia bisnis dan terkenal di dunia dan di Jerman.


"Ada keperluan apa ya sehingga membuat tuan dan anggota keluarga tuan datang kemari untuk bertemu dengan Darren putra saya?" tanya Erland lembut.


"Jadi pria ini ayah kandungnya Askara," batin Reymond, Baren, Yufal, Livia, Lidia dan anggota keluarga Mendez lainnya.


"Maafkan jika kedatangan kami mengganggu waktu santai anda dan sekeluarga," ucap Baren selaku putra tertua.


"Ach, tidak apa-apa!  Tidak perlu merasa bersalah," sahut Erland yang mengerti perasaan para tamunya.


"Terima kasih atas pengertian, tuan!"


"Sama-sama."


"Bolehkah kami bertemu dengan Askara... Ach, maaf. Maksud saya Darren?" tanya Lidia.


Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya tersenyum ketika mendengar wanita yang di hadapannya itu menyebut nama Darren dengan nama Askara.


"Jangan merasa bersalah seperti itu, nyonya! Kami tidak mempermasalahkan jika nyonya dan keluarga memanggil Darren dengan nama Askara," ucap Agneta tersenyum.


Lidia tersenyum mendengar perkataan dari Agneta. Dia benar-benar bersyukur dan bahagia dipertemukan dengan keluarga Smith. Begitu juga dengan Reymond, Baren, Yufal, Livia dan yang lainnya.


"Saya selaku ayah dari Darren mengucapkan banyak terima atas bantuan tuan Reymond. Berkat tuan Reymond, putra saya tidak merasakan sakit di kepalanya. Pembekuan darah di kepala putra saya sudah sembuh."


"Seharusnya saya yang berterima kasih terhadap Darren. Kalau bukan berkat pertolongan dari Darren, mungkin saya tidak akan pernah bertemu dengan putri saya Lidia dan cucu saya Renata. Dan apa yang saya lakukan terhadap Darren itu tidak ada apa-apanya dibandingkan pertolongan Darren terhadap putri dan cucu saya."


"Ya, saya sudah tahu hal itu. Tapi bagaimana pun saya tetap berterima kasih terhadap tuan. Jika bukan karena tuan, mungkin putra saya akan terus merasakan sakit di kepalanya. Dan jika bukan berkat tuan, putra saya pasti akan tetap melakukan operasi itu yang berefek pada ingatannya akan hilang secara permanen."


"Jadi intinya disini adalah siapa yang berbuat baik akan mendapatkan imbalan dari kebaikannya itu," sahut Evan.


"Aku akan ke kamarnya Darren dan mengatakan padanya bahwa keluarga Mendez datang menemuinya!" seru Gilang.

__ADS_1


Gilang langsung berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar Darren yang berada di lantai dua.


^^^


"Apa rencana kamu selanjutnya, Ren?" tanya Jerry.


"Aku belum tahu, Jer! Tapi aku benar-benar mengkhawatirkan keluarga Mendez. Keluarga itu dalam bahaya," jawab Darren.


"Oh iya! Ketika di rumah sakit kamu bilang kalau melihat wajah pelaku yang ingin ingin menghabisi Kakek Reymond. Tapi kamu lihat orang itu samar-samar. Terus bagaimana caranya kamu mengenali pelaku itu?" tanya Darel.


"Dari suaranya," jawab Darren.


"Suaranya?!" tanya Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


"Iya. Ketika aku dirawat di rumah sakit setelah berhasil menyelamatkan kakek Reymond. Ada seorang datang ke ruang rawatku. Dan orang itu mengatakan semuanya. Kemungkinan orang itu berpikir bahwa aku masih belum sadar. Padahal saat itu aku sudah sadar, tapi aku kembali memejamkan mataku ketika mendengar knop pintu yang diputar seseorang."


"Apa yang dikatakan oleh orang itu, Ren? tanya Brenda.


"Aku tidak ingat. Tapi hanya satu yang aku ingat."


"Apa?" tanya Brenda dan yang lainnya.


"Dia ingin membunuhku."


Mendengar jawaban dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Brenda, Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania, dan Felisa terkejut.


Disaat mereka tengah membahas pelaku yang ingin membunuh kakek Reymond dan Darren. Seketika mereka semua terkejut ketika mendengar suara pintu kamar dibuka oleh seseorang.


Baik Darren, Brenda maupun para sahabatnya langsung melihat kearah pintu yang dibuka itu.


"Kakak Gilang," sapa Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Brenda, Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa.


"Ada apa, kakak Gilang?"


"Dibawah ada keluarga Mendez."


"Keluarga Mendez datang kesini?"


"Iya."


"Mereka tahu dari mana alamat rumah ini?"


Mendengar ucapan dari Axel membuat Darren menganggukkan kepalanya tanda setuju kalau dia saat ini adalah Askara Eleon Mendez. Keluarga Mendez belum tahu bahwa dia sudah ingat kembali.


"Ya, sudah yuk! Kasihan keluarga Mendez terlalu lama menunggu kamu," ucap Gilang.


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kamar Darren untuk menuju lantai bawah.


***


Di markas Black Guerilla, Noe dan keempat sahabatnya tengah berkumpul di ruang kerja milik Noe. Mereka saat ini tengah membahas masalah yang menimpa salah satu adik laki-lakinya yaitu Darren.


Setelah mendengar cerita dari Enzo yang mengatakan bahwa nyawa Darren dalam bahaya. Ada lima kelompok mafia yang mengincarnya atas suruhan salah satu orang yang berasal dari keluarga Mendez namun mereka belum mengetahui siapa orang itu.


Untuk saat ini hanya wajah dan identitas orang itu saja yang belum diketahui oleh Noe, Enzo, Devian, Chico dan Ziggy. Sementara untuk yang lain seperti tentang semua kejahatannya, kecurangannya dalam dunia bisnis sudah didapatkan oleh Noe, Enzo, Devian, Chico dan Ziggy.


"Sial. Kenapa susah sekali mengetahui wajah bajingan itu!" Ziggy berucap dengan kesalnya.


"Aku tidak menyangka jika bajingan itu begitu lihai dan hebat menyembunyikan identitas dan wajahnya sehingga tidak ada satu pun yang tahu bahwa dia seorang penjahat besar," ucap Devian.


"Oh iya. Bagaimana persiapan untuk kita menyerang lima kelompok mafia abal-abal itu? Kapan kita mulai?" tanya Enzo.


"Persiapan untuk penyerangan tersebut sudah 100 persen dipersiapkan. Salah satunya adalah beberapa anggota mafiaku dan anggota mafianya Devian sudah berjaga-jaga di sekitar markas milik lima kelompok mafia itu," jawab Chico.


"Setidaknya para anggota mafia kita berdua bisa berangsur-angsur menghabisi satu persatu anggota mafia abal-abal itu sehingga anggota mafia abal-abal itu berkurang," ucap Devian.


"Baguslah," sahut Enzo.


Disaat Ziggy, Noe, Enzo, Devian, dan Chico sedang membahas mengenai wajah dan identitas asli dari pelaku yang menyerang Darren, tiba-tiba salah satu tangan kanannya Noe yaitu Zoya datang memberikan informasi terbaru.


"Maaf King!"


Noe langsung melihat kearah Zoya. Begitu juga dengan Enzo, Devian, Chico dan Ziggy.


"Iya, ada apa?" tanya Noe.


"Saya mendapatkan informasi bahwa keluarga Mendez saat ini berada di kediaman keluarga Smith."

__ADS_1


"Untuk apa mereka kesana?" tanya Chico.


"Saya kurang tahu, King! Tapi sedikit informasi yang saya dapatkan dari anggota saya kalau keluarga itu juga dalam bahaya, terutama seorang laki-laki tua yang disebut kakek oleh Darren. Dan laki-laki tua itu sudah sadar dari koma dan dia juga ada di kediaman keluarga Smith."


"Baiklah. Terima kasih informasinya. Oh iya! Tambahkan lagi beberapa anggota mafia kita untuk berjaga-jaga di sekitaran kediaman keluarga Smith dan juga di kediaman milik Darren."


"Baik King!"


Setelah itu, Zoya pun pergi meninggalkan ruang milik Noe yang sedang bersama keempat sahabatnya.


Noe menatap kearah Devian, Enzo, Chico dan Ziggy. Begitu juga dengan keempatnya. Mereka saling memberikan tatapan matanya. Beberapa detik kemudian, mereka menganggukkan kepalanya.


"Kita ke rumah keluarga Smith, sekarang!" seru Noe.


"Sebelum kita pergi, aku akan menghubungi Darren dan memberitahu dia kalau kita akan datang," ucap Chico.


Ziggy, Noe, Enzo dan Devian langsung menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari Chico.


***


Kini Darren, Brenda, ketujuh sahabatnya Darren dan ketujuh sahabatnya Brendan sudah berada di ruang tengah berkumpul bersama anggota keluarganya dan keluarga Mendez.


Reymond yang bisa bertemu kembali dengan Darren begitu tampak bahagia. Begitu juga dengan anggota keluarga Mendez lainnya. Mereka semua sudah terlanjur sayang dengan Darren. Terutama untuk Nuria dan Soraya.


Nuria dan Soraya tersenyum bahagia ketika melihat wajah Darren. Kedua wanita yang berstatus ibu dari putranya yang bernama Askara dan Eleon sudah sangat menyayangi Darren seperti putra kandungnya sendiri. Sifat, watak dan karakter Darren sama seperti sifat, watak dan karakter putranya.


"Kakek senang bisa bertemu dengan kamu lagi, Darren!"


Darren tersenyum ketika mendengar perkataan dari Reymond. Di dalam hatinya juga merasakan kebahagiaan ketika melihat laki-laki tua yang duduk tak jauh dari pandangannya.


"Aku juga senang bisa bertemu dengan kakek Reymond lagi. Dan kebahagiaanku bertambah karena kakek Reymond sudah sadar dari koma."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Reymond tersenyum. Dia benar-benar bersyukur Tuhan telah mempertemukan dirinya dengan pemuda tampan dan baik seperti Darren.


"Oh iya! Kalau aku boleh tahu. Ada hal apa sampai kakek, Daddy Baren, Daddy Yufal dan kalian semua datang kesini? Dan maaf, kalian tahu dari mana alamat rumah keluargaku?" tanya Darren.


Reymond tersenyum menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh Darren. Begitu juga dengan Baren, Nuria, Emily, Yufal, Soraya, Renata, Livia, Rafif, Daisy, Lidia, Khary, Monica dan Mehdy.


"Kita tahu dari tangan kanannya kakek dan Daddy Baren, Askara... Eh, maksud gue Darren." Mehdy menjawab pertanyaan dari Darren sembari salah menyebut nama Darren.


Kini Darren yang tersenyum mendengar perkataan dari Mehdy. Di dalam hati Darren, dia tidak mempermasalahkan jika Mehdy dan anggota keluarganya masih memanggil dengan sebutan Askara. Bahkan jika keluarga itu ingin terus memanggilnya dengan sebutan Askara. Darren tidak keberatan.


"Tidak perlu merasa tak enak. Jika kalian sudah nyaman memanggilku dengan sebutan Askara. Jangan dirubah. Aku nggak keberatan kalian terus memanggilku dengan sebutan Askara."


"Kalian juga boleh memanggilku dengan sebutan Eleon."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat hati anggota keluarga Mendez tersentuh. Mereka benar-benar bahagia mendengar perkataan dan persetujuan Darren jika mereka tetap diizinkan untuk memanggil Askara atau Eleon kepadanya.


Dan detik kemudian, Nuria dan Soraya menangis. Mereka menatap wajah tampan Darren seolah-olah menatap wajah putra mereka.


"Boleh Mommy memeluk kamu, Ren?!" tanya Nuria dan Soraya bersamaan.


Darren langsung berdiri dari duduknya dan langsung merentangkan kedua tangannya.


Melihat Darren yang berdiri dan merentangkan kedua tangannya membuat tangis Nuria dan Soraya makin pecah. Kemudian keduanya berlari ke dalam pelukan Darren.


Darren memeluk erat tubuh kedua Mommy barunya. Dia juga senang memberikan kebahagiaan kepada orang yang benar-benar membutuhkannya. Darren paham atas apa yang dirasakan oleh kedua wanita yang dipeluknya itu, karena Darren sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang.


Erland dan anggota keluarganya tersenyum bahagia dan juga bangga melihat kebaikan dan perlakuan lembut Darren kepada orang-orang yang dikenalnya. Begitu juga dengan Reymond dan anggota keluarganya. Mereka semua benar-benar bahagia saat ini.


"Jika Mommy Nuria dan Mommy Soraya tengah merindukan Askara dan Eleon. Mommy bisa datang menemuiku. Dan aku juga akan sering-sering datang mengunjungi kalian."


"Terima kasih, nak!" Nuria dan Soraya menjawab bersamaan.


Setelah puas memeluk Darren, kini ketiganya suduh duduk kembali. Dan kembali fokus pada masalah.


"Sekarang katakan padaku. Ada apa?" tanya Darren dengan menatap satu persatu wajah anggota keluarga Mendez.


"Dua hari kakek pulang ke rumah. Kakek mendapatkan teror dari seseorang," jawab Rafif.


Mendengar jawaban dari Rafif, putra pertama dari Livia membuat Darren terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarganya, ketujuh sahabatnya, Brenda dan ketujuh sahabatnya Brenda.


"Apa? Teror?" tanya Darren.


Semua anggota keluarga Mendez langsung menganggukkan kepalanya.


Darren menatap wajah Reymond meminta penjelasan lebih lengkap kepada laki-laki tua itu.

__ADS_1


"Kakek Reymond."


Reymond pun mulai menceritakan semuanya kepada Darren tentang apa yang dia terima sejak sadar dari koma.


__ADS_2