KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Sifat Lupa Darka Dan Kata Bijak Darren


__ADS_3

Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda terlihat tiga pria tengah marah besar terhadap istrinya.


Tiga pria itu adalah Tuan Visser, Tuan Taylor dan Tuan Hendriks.


Ketiga pria itu marah terhadap istrinya karena mereka mendapatkan laporan dari tangan kanannya atas apa yang diperbuat oleh istrinya itu.


Baik Tuan Visser maupun Tuan Hendriks dan Tuan Taylor marah akan sikap istrinya yang tidak serius dan tidak benar-benar meminta maaf kepada kedelapan ayah dari Erica, anak yang sudah mereka hina dan mereka bentak.


Plak..


Tuan Visser, Tuan Taylor dan Tuan Hendriks memberikan tamparan keras ke wajah istrinya. Ketiganya tampak murka akan kelakuan istrinya.


"Kalian benar-benar menjijikan!"


"Mau sampai kapan kalian seperti ini?!"


"Apa kalian tidak malu akan sikap kalian itu?!"


"Aku meminta kalian meminta maaf kepada para ayah dari anak yang sudah kau hina dan kau bentak itu semata-mata untuk membuat kau sadar akan kesalahanmu!"


"Sekarang, tinggalkan rumah ini! Jangan pernah kembali sebelum kau benar-benar menyadari kesalahanmu!"


"Sayang, maaf...."


"Pergi!"


"Satpam! Usir perempuan ini!"


***


[Kediaman Brian Evano Garcia]


Saat ini Brian, istrinya Delia Aulia Garcia dan ketiga anaknya yaitu Risya Sisilia Garcia, Mishel Runia Garcia dan Nandito Zelo Garcia tengah menikmati sarapan pagi bersama. Mereka tampak bahagia.


"Apa kamu sudah siap untuk masuk kuliah hari ini setelah satu bulan melaksanakan tugas Organisasi kamu di Amerika?" tanya Brian pada putra bungsunya.


"Sangat siap, Pa!" Nandito langsung menjawab pertanyaan dari ayahnya itu dengan semangat.


Nandito selama satu bulan ini berada di Amerika. Dia berada disana karena diberi tugas oleh Darren untuk mengerjakan tugas sosial yaitu memberikan bantuan kepada empat panti asuhan disana yang mana empat panti asuhan tersebut mayoritas anak-anak yang kekurangan gizi. Di tambah lagi, pemerintah disana tidak peduli akan nasib empat panti asuhan itu karena menurut mereka itu bukan urusan mereka. Bahkan para masyarakat disana kurang akan empatinya terhadap orang-orang yang berada dibawah.


Mendapatkan kabar tersebut membuat Darren yang sebagai ketua ORGANISASI sekaligus REKTOR Kampus memutuskan untuk memberikan bantuan kepada empat panti asuhan tersebut. Dari ide dan masalah tersebut, Darren mengutus Nandito kesana.


Bukan hanya Nandito saja yang diutus ke Amerika oleh Darren. Mehdy, Monica dan sahabat-sahabatnya juga pergi ke Amerika. Di tambah sekitar 30 anggota Organisasinya.


"Apa kamu sudah menyiapkan semua laporannya?" tanya Mishel.

__ADS_1


"Sudah, kak!"


"Apa kamu sudah kasih tahu Darren kalau kamu sudah balik?" tanya Risya.


"Darren sudah tahu kalau aku sudah balik," jawab Nandito.


"Jadi kamu sudah ngabari Darren, hum?" tanya Delia pada putranya.


"Bukan aku yang ngabari Darren. Justru Darren yang menghubungi aku. Darren sudah tahu jadwal kepulangan aku dan yang lainnya ke Hamburg, jadi dia langsung menghubungi aku."


"Darren ngomong apa aja ketika menghubungi kamu?" tanya Mishel.


"Tidak banyak. Tapi cukup buat aku bangga padanya," jawab Nandito.


"Apa, Sayang. Katakan pada Papi."


"Darren nanya tentang kondisi dan keadaan aku selama satu bulan di Amerika. Darren juga nanya, apakah tugasnya berat, apakah aku sanggup melakukannya, apakah ada kendala atau ada yang menyakiti aku selama disana. Lalu aku jawab, semuanya baik-baik saja."


"Selama aku di Amerika. Darren selalu menghubungi aku. Darren selalu menanyakan kabar aku, Mehdy dan Monica."


"Bahkan Darren memintaku untuk tidak masuk kuliah dulu karena baru kembali dari tugasku di Amerika. Darren tidak ingin aku jatuh sakit."


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Nandito membuat Brian, Delia, Risya dan Mishel tersenyum. Mereka benar-benar bahagia ketika Nandito bercerita tentang Darren.


Seketika Brian menangis ketika mendengar ucapan dan jawaban dari putra bungsunya. Dan detik kemudian, dia teringat akan perlakuan kejam kakak, kakak iparnya dan keponakan-keponakannya dulu terhadap keponakan manisnya itu.


Delia, Mishel dan Nandito langsung melihat kearah suaminya/ayahnya.


"Sayang."


"Papi."


"Ach, Papi tidak apa-apa. Papi hanya teringat akan apa yang dilakukan oleh Paman, Bibi dan sepupu-sepupu kalian dulu kepada Darren. Papi tidak habis pikir kenapa mereka bisa sekeji itu terhadap Darren."


Delia seketika mengusap lembut punggung suaminya. Dia mengerti perasaan suaminya jika sudah menyangkut Darren.


"Jangan diingat lagi kejadian itu, Sayang. Itu sudah berlalu. Sekarang Darren sudah menjadi putra, adik dan keponakan teristimewa di dalam keluarganya. Mereka semua sudah menebus kesalahannya dengan memberikan segalanya untuk Darren."


"Iya, Pi! Mami benar. Masalah itu sudah lama berlalu. Jangan diingat-ingat lagi. Sekarang Darren sudah bahagia. Dia sudah mendapatkan semuanya," ucap Risya.


***


[Kediaman Smith]


Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, termasuk Darren. Mereka saat ini tengah menikmati sarapan paginya sembari berceloteh kecil.

__ADS_1


"Oh iya, Ren! Bukankah hari ini Nandito dan tim nya kembali dari tugasnya di Amerika?" tanya Darka.


"Bukan hari ini, tapi kemarin!"


"Jadi..."


"Nandito sudah di rumah sekarang."


"Oh. Jadi kemarin Nandito dan Tim nya kembali?" tanya Darka yang benar-benar lupa akan jadwal kepulangan adik sepupunya itu.


"Hm." Darren berdehem sebagai jawabannya.


"Kok kakak bisa lupa ya. Kakak pikir hari ini," ucap Darka.


"Tidak apa-apa, kak! Jangan dipikirkan masalah itu. Lagian beberapa hari kakak juga tengah sibuk mempersiapkan skripsi akhir kakak. Hal itulah yang membuat kakak lupa akan jadwal kepulangan Nandito dan Tim nya. Begitu juga dengan kakak Gilang." Darren berucap sembari menenangkan kakaknya itu. Darren tahu bahwa kakaknya itu merasa bersalah karena lupa akan jadwal kepulangan Nandito dan Tim nya karena itu memang tugasnya yaitu menjemput Nandito dan Tim nya di Bandara.


"Lagian bagi aku, skripsi nya kakak itu lebih penting dari segalanya. Dan masalah kakak lupa menjemput Nandito dan Tim nya, kan masih ada anggota lain yang akan menggantikan tugas kakak. Kakak tidak sendirian."


Mendengar kata-kata penghibur dari Darren membuat Darka seketika tersenyum. Dia benar-benar bahagia dan bangga akan adiknya itu.


"Terima kasih ya. Kamu selalu bisa membuat orang-orang di sekitar kamu menjadi tenang."


"Karena aku menyayangi semua orang-orang yang ada di sekitar aku, kak! Aku tidak ingin mereka sedih dan juga merasa bersalah."


"Papa bangga sama kamu, Nak!"


"Terima kasih, Pa!"


"Ren," panggil Agneta.


"Iya, Ma!"


"Apa hari ini Nandito akan kuliah?"


"Sepertinya tidak, Ma! Aku melarang Nandito untuk kuliah hari ini. Aku memintanya untuk istirahat selama dua hari."


"Jika misalnya kamu bertemu dengan Nandito di Kampus, bagaimana?" tanya Andra.


"Itu tidak mungkin," jawab Darren langsung.


"Kan itu misalnya," ucap Andra.


"Jika aku bertemu dengannya di Kampus, maka aku akan suruh dia pulang. Begitu juga dengan Mehdy, Monica, sahabat-sahabatnya dan Tim nya."


Mendengar jawaban dari Darren membuat Andra langsung diam. Dia sudah tahu tabiat adiknya itu. Jika adiknya mengatakan A, maka selamanya akan tetap A. Tidak akan pernah berubah menjadi B.

__ADS_1


Andra juga membayangkan akan terjadi perdebatan antara kedua adiknya itu jika seandainya adik sepupunya itu benar-benar masuk kuliah hari ini.


__ADS_2