
Darren berusaha untuk tidak menangis. Dirinya berusaha tenang dan kembali fokus pada pembicaraan yang sempat terhenti.
"Lalu?" tanya Darren yang menatap wajah Erland datar.
"Saat itu Perusahaan Papa sedang ada masalah. Papa ditipu oleh rekan kerja Papa. Rekan kerja Papa itu membawa kabur uang Papa sebesar 500M. Dan hal itu membuat Perusahaan Papa yang sudah Papa bangun dari nol terancam bangkrut. Makanya saat itu Papa berusaha mati-matian untuk membuat Perusahaan Papa tetap berdiri. Papa tidak mau Perusahaan itu jatuh bangkrut. Itulah alasan Papa kenapa Papa jarang ada dirumah." Erland berucap lirih. Matanya memerah menahan tangis. Darren melihat hal itu.
"Darren, Papa.. papa benar-benar menyayangimu. Papa tidak pernah mengabaikanmu. Papa tidak pernah acuh atau pun melupakanmu, Nak! Kalau kamu selama ini beranggapan Papa pilih kasih antara kamu dan kelima adik-adikmu, itu salah sayang. Saat kegiatan atau acara kamu di sekolah dan Papa tidak bisa datang, itu Papa sedang sibuk fokus dengan masalah Perusahaan. Dan kenapa Papa ada waktu untuk adik-adikmu dan bahkan Papa hadir disetiap acara sekolah mereka? Karena saat itu masalah Perusahaan Papa sudah selesai. Bahkan Papa sudah berniat. Jika masalah Perusahaan selesai. Papa akan memberikan waktu Papa untuk semua putra-putra Papa, termasuk kamu sayang. Dan kebetulan adik-adikmu lah yang terlebih dahulu mendapatkan perhatian dari Papa karena ada acara di sekolah mereka." Erland menangis kala menceritakan kejadian itu. Dirinya tidak kuat menahan kesedihannya. Akhirnya, air mata yang sedari ditahan jatuh juga.
Darren terkejut dan juga syok mendengar pengakuan dari Ayahnya. Hatinya merasakan sesak saat mendengar semua pengakuan dari Ayahnya itu. Jujur di dalam hati kecilnya, dirinya tidak tega melihat Ayahnya yang menangis seperti saat ini. Ingin sekali dirinya memeluk sang Ayah, lalu menghiburnya. Namun karena keegoisannya Darren hanya bersikap biasa saja. Seakan-akan tidak ada yang terjadi.
"Apa tujuan anda mengatakan semua itu padaku? Apa dengan anda mengatakan hal itu padaku, aku akan bersikap baik pada anda dan putra-putra anda? Jangan berharap. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah kembali menjadi Darren yang dulu. Darren yang dulu sudah mati," ucap Darren dengan ekspresi wajah dinginnya.
"Darren, jaga ucapanmu. Bagaimana pun orang yang kau sebut anda itu adalah Papamu. Papa kandungmu, Darren!" bentak Andra.
"Aku tidak bicara denganmu, Diandra Smith. Aku hanya ingin mengingatkan pada Papamu ini saja dan juga kalian semua. Darren yang ada di hadapan kalian ini bukanlah Darren yang bisa kalian tindas, yang bisa kalian bentak dan kalian hina kapan pun kalian mau. Darren yang sekarang tidak akan segan-segan untuk menyakiti orang-orang yang berusaha mengganggu kehidupannya. Jadi aku minta padamu saudara Diandra Smith. Lupakan kalau kita pernah berhubungan saudara. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan kalian lagi. Aku berada disini karena terpaksa. Dan kemungkinan tiga hari lagi aku akan angkat kaki dari sini!" Darren berbicara dengan menatap tajam kearah Andra dan saudara-saudaranya yang lain.
Setelah berbicara dengan Andra. Darren menatap wajah ayahnya. "Teruntuk anda tuan Erland. Andai saja anda membelaku dan lebih mempercayaiku saat kejadian dimana aku yang dituduh telah melukai kedua putramu. Maka detik ini aku masih menghormatimu dan masih menganggap anda sebagai ayahku. Jika saat itu anda bersikap bijak dan berdiri ditengah-tengah tanpa memihak siapa pun dimana anda melihat putra-putra tertua anda menyerang putra bungsu anda. Maka detik ini aku aku akan memeluk anda. Tapi anda tidak melakukannya. Justru anda ikut menyalahkan saya dan juga ikut menyakiti saya. Apakah anda masih pantas disebut seorang ayah, hum? Jawabanku adalah..."
Darren menatap tajam Erland. Dirinya tidak peduli jika dianggap anak durhaka. Peduli setan semua itu. Itulah yang ada dipikiran Darren saat ini.
"Anda sudah gagal menjadi ayah untukku. Dan kesempatan anda untuk menjadi ayah yang baik untuk seorang anak sepertiku sudah tidak ada lagi. Kesempatan anda sudah habis."
Mendengar perkataan dari Darren membuat Erland seketika menangis. Dirinya tidak menyangka jika putranya benar-benar tidak menginginkannya lagi.
"Tidak, sayang. Tidak! Jangan lakukan itu, Nak! Papa mohon," ucap Erland dengan berlinang air mata.
Darren membuang wajahnya ke arah lain. Dirinya tidak ingin berlama-lama menatap wajah mantan ayahnya itu.
"Darren, kami mohon. Jangan hukum kami seperti ini. Berikan kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kami tahu kami salah. Setidaknya maafkan kesalahan Papa jika kau tidak ingin memaafkan kami kakak-kakakmu," lirih Adnan.
"Tuhan saja maha pemaaf," kata Dzaky
"Sayangnya aku bukan Tuhan. Aku hanya manusia biasa. Manusia yang punya hati jika disakiti akan menangis," jawab Darren dingin.
Saat Agneta ingin bersuara, Darren sudah terlebih dahulu memotongnya. "Aku disini ingin membahas masalah kegiatan Kampusku bersama saudara Gilang dan saudara Darka bukan membahas masalah yang tidak penting ini."
Mereka semua diam saat mendengar ucapan dingin Darren. Mereka menangis dalam diam.
__ADS_1
Darren menatap wajah Gilang dan Darka. "Untuk acara Bakti Sosial Kampus kita. Acaranya akan diadakan di Kampus. Kita tidak akan jadi berangkat keluar kota. Karena itu akan memakan banyak nyawa orang yang tidak bersalah," kata Darren.
Gilang dan Darka terkejut saat mendengar ucapan dari Darren.
"Seperti yang aku katakan dari awal pembicaraan. Pelaku itu memang sangat membenciku dan sahabat-sahabatku. Dia memang ingin sekali menghancurkan orang-orang terdekatku dan juga sahabat-sahabatku. Terbukti.. Orang itu berhasil melakukannya. Berhasil melukai dua diantara kalian, melakukan penyerangan di keluarga Axel sehingga berhasil melukai bahu kiriku," kata Darren.
DEG!!
Mereka terkejut saat mendengar Darren mengatakan bahwa bahu kirinya terluka akibat menolong Axel sahabatnya.
"Ja-jadi luka dibahu kamu itu akibat dari orang-orang itu?" tanya Darka.
"Iya." Darren menjawabnya.
"Lalu bagaimana lukanya sekarang, sayang?" tanya Agneta. Agneta benar-benar khawatir akan putranya itu.
Tanpa melihat wajah Agneta. Darren terpaksa menjawabnya. "Aku baik-baik saja. Sekali pun aku kesakitan. Aku tidak akan sudi mengatakannya pada anda. Karena anda bukan...." tiba-tiba Darren menghentikan ucapannya. Bagaimana pun di dalam hati kecil Darren masih menaruh hormat pada Agneta, wanita yang sudah merawatnya dari kecil. Wanita yang sudah memberikan perhatian dan kasih sayang kepadanya. Agneta melakukan semua itu tulus padanya.
Agneta menangis saat mendengar penuturan dari Darren. Dirinya benar-benar tidak menyangka. Efek dari tamparannya dan perkataannya enam bulan lalu berakibat kebencian putranya terhadap dirinya.
Mereka yang mendengar ucapan dan perkataan dari Darren langsung mengangguk.
Darren menatap Nathan dan Ivan dengan sangat tajam. Yang ditatap langsung menunduk karena takut.
"Nathan, Ivan. Jangan kalian pikir aku tidak tahu apa yang sudah kalian katakan pada Salsa kemarin. Sekalipun Salsa bungkam dan tidak mengatakan apapun padaku. Bukan berarti aku tidak mengetahuinya. Ini peringatan terakhir untuk kalian. Jangan campuri urusan pribadiku. Aku mau bergaul dengan siapapun, aku mau dekat dengan siapa pun. Itu bukan hak kalian mau pun saudara-saudara kalian yang lainnya, termasuk hubunganku dengan Salsa. Mengerti!" bentak Darren.
"Tapi kak Darren. Kau adalah kakak kami. Kami adalah adikmu. Seharusnya kamilah yang bermanja-manja denganmu. Bukan Salsa yang hanya berstatus orang luar " jawab Ivan.
"Kau..." ucap Darren dengan wajah emosinya dengan tangan yang sudah terangkat keatas ingin menampar Ivan.
Melihat hal itu membuat Ivan dan yang lainnya terkejut dan juga takut.
Saat tangan Darren ingin menampar wajah Ivan, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi. Darren menurunkan kembali tangannya dan mengambil ponselnya di saku celananya.
Setelah ponselnya sudah ada di tangannya, Darren melihat nama 'Rehan' di layar ponselnya. Tanpa membuang-buang waktu, Darren langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Han. Ada apa?"
__ADS_1
"Hallo, Ren. Kau ada dimana? Apa kau sudah di Kampus?"
"Belum. Aku masih di rumah. Ini aku mau berangkat ke Kampus. Memangnya kenapa?"
"Ach. Begini, Ren! Apa kau ingat akan ada Pameran Lukisan dua hari lagi?"
"Pameran Lukisan?" Darrenberpikir sejenak. Lalu.... "Astaga, Han. Aku benar-benar lupa!" seru Darren sembari menepuk jidatnya.
"Hah!" Rehan hanya bisa menghela nafasnya saat mendengar jawaban dari Darren. Tidak jauh beda dengan dirinya. Ternyata Darren juga lupa akan Pameran tersebut.
"Apa kau memiliki dua lukisan yang benar-benar bagus selain lukisan-lukisan yang ada di galeri?"
"Eemm! Sepertinya aku ada dua lukisan yang menarik dan bagus. Lukisan itu ada di rumahku."
"Syukurlah! Oh iya, lukisan itu ada di rumahmu atau di rumah..." ucapan Rehan terpotong.
"Jangan mulai, Azel Rehan Zordy Lukisan itu ada di rumahku.. di-ru-mah-ku.. mengerti!" ucap Darren kesal.
"Hehehehe! Iya iya. Aku tahu. Dasar sikelinci baper."
"Kau..." kesal Darren.
Rehan yang mendengar ucapan kekesalan dari Darren langsung mematikan panggilannya.
TUTT!
TUTT!
"Aish. Dasar kurus sialan," umpat Darren. Darren memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya kembali.
Darren menatap satu persatu manusia-manusia yang duduk di sofa.
"Ya, sudah! Sepertinya pembicaraan ini harus diakhiri sampai disini. Aku akan ke Kampus. Dan untuk kalian berdua," ucap Darren sembari melihat ke arah Gilang dan Darka. "Kita akan adakan rapat bersama Dosen pembimbing untuk membahas kegiatan Bakti Sosial ini. Jadi kalian jangan telat nyampe di Kampus," tutur Darren.
"Baik, Ren." Gilang dan Darka menjawab bersamaan.
Setelah mengatakan hal itu, Darren pun langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya.
__ADS_1