
Elzaro, kelima sahabatnya dan Kathleen sudah berada di rumah sakit. Kini mereka semua menunggu di depanĀ ruang operasi.
Perasaan cemas, panik, khawatir dan juga takut melanda pikiran mereka semua. Terutama Kathleen.
Tes!
Setetes air mata jatuh membasahi wajah cantiknya sembari matanya menatap pintu ruang Operasi.
Elzaro yang sedari tadi memperhatikan Kathleen merasakan sesak di dadanya ketika melihat Kathleen yang menangis.
Seketika Elzaro berdiri dari duduknya dan berpindah duduk di samping Kathleen.
"Alin," panggil Elzaro.
Seketika Kathleen terkejut ketika pemuda yang telah menolong kekasihnya memanggil nama kecilnya.
Kathleen langsung melihat ke samping dimana pemuda itu menatap wajahnya. Kathleen menatap lekat seluruh wajah pemuda yang ada di hadapannya kini.
Ketika Elzaro ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba terdengar pintu ruang Operasi terbuka. Dari ruang itu, keluarlah seorang Dokter.
Kathleen, Elzaro dan kelima sahabatnya langsung berdiri. Mereka menghampiri Dokter tersebut.
"Bagaimana keadaannya Dokter?" tanya Kathleen.
"Apa kalian keluarga pasien?" tanya Dokter itu.
"Saya kekasihnya, Dokter!" jawab Kathleen.
"Kami temannya," jawab Elzaro.
"Bisa hubungi keluarga pasien. Keadaan pasien saat ini kritis. Pasien banyak kehilangan darah. Dan luka tusuk di perutnya juga dalam. Pasien harus segera mendapatkan darah."
Deg!
Mendengar penuturan dari Dokter tersebut membuat Kathleen, Elzaro dan kelima sahabatnya terkejut.
"Apa golongan darahnya, Dokter?" tanya Elzaro.
"Golongan darah pasien adalah A+."
Mendengar jawaban dari sang Dokter membuat mereka menunduk lesu. Mereka sedih karena golongan darah mereka tidak sama dengan golong darah Darka.
"Lino, cepat hubungi Darren!" seru Allan.
Mendengar seruan dari Allan. Elzaro pun menganggukkan kepalanya, lalu tangannya mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
***
Darren saat ini masih berkutat dengan laptopnya. Ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan olehnya.
Beberapa menit kemudian, Darren pun selesai dengan tugas-tugasnya.
"Semuanya beres. Dari mulai pekerjaan kantor, lukisan, pembuatan mobil dan motor mewah dan tugas-tugas kuliah. Senang rasanya. Tiga hari lagi ulang tahun perusahaan Accenture."
Darren berbicara dengan ekspresi wajah yang bahagia. Terlihat jelas tercetak di wajah dan bibirnya.
Namun seketika ekspresi kebahagiaannya itu seketika sirna dan berganti dengan seringai di sudut bibirnya.
Darren seketika mengingat beberapa teman kampusnya yang sudah memfitnah dirinya dan ketujuh sahabatnya.
Teman-teman kampusnya itu mengatakan bahwa dirinya dan ketujuh sahabatnya telah memakan uang sumbangan untuk membeli mobil dan motor mewah.
"Sebentar lagi kalian akan tahu siapa aku dan siapa ketujuh sahabat-sahabatku. Dan tunggu kejutan dariku dan dari ketujuh sahabat-sahabatku." Darren berbicara sambil membayangkan wajah-wajah takut teman-teman kampusnya itu.
Ketika Darren tengah membayangkan wajah-wajah takut teman-teman kampusnya itu, terdengar bunyi ponselnya.
Darren yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambilnya yang berada di meja dekat sofa.
Ketika ponsel itu sudah ada di tangannya. Darren melihat nama 'Elzaro' di layar ponselnya.
__ADS_1
"Kenapa Elzaro menghubungiku malam-malam begini?" batin Darren.
Setelah itu, Darren pun menjawab panggilan dari Elzaro.
"Hallo, Lino. Ada apa?"
"Ren, buruan ke rumah sakit PLADYS, sekarang!"
"Lah, kenapa?"
"Darka, kakak laki-laki lo masuk rumah sakit. Sekarang dia berada di ruang Operasi. Darka butuh donor darah!"
Deg!
Darren terkejut ketika mendengar perkataan dari Elzaro yang mengatakan bahwa kakak laki-lakinya masuk rumah sakit dan butuh donor darah.
"Kakak Darka," lirih Darren pelan.
"Bagaimana keadaan kakak gue, sekarang?"
"Keadaannya kritis. Dokter bilang Darka butuh darah. Golongan darahku dan kelima sahabatku tidak ada yang cocok dengan golongan darah Darka."
"Baiklah."
Setelah mengatakan itu, Darren mematikan panggilannya secara sepihak, lalu Darren langsung buru-buru keluar dari kamarnya sembari berteriak memanggil kedua orang tua dan kelima kakak laki-lakinya.
"Papa! Mama! Kakak Davin! Kakak Andra! Kakak Dzaky! Kakak Adnan! Kakak Gilang!" Darren memanggil kedua orang tua dan kelima kakak laki-lakinya dengan suara yang keras.
Cklek!
Terdengar suara pintu kamar dibuka secara bersamaan. Dan keluarlah kedua orang tua dan kelima kakak laki-lakinya.
"Sayang, ada apa?" tanya Erland.
"Kenapa teriak-teriak, Ren?" tanya Davin.
"Kakak Darka masuk rumah sakit. Dan kakak Darka butuh donor darah saat ini!"
Deg!
"Ren. Bukannya Darka pergi bersama Kathleen," ucap Andra.
"Aku tidak tahu kronologinya seperti apa. Aku tahu karena temanku Elzaro barusan menghubungiku dan mengatakan bahwa kakak Darka masuk rumah sakit dan butuh darah segera."
Mendengar penjelasan dari Darren membuat Erland, Agneta dan yang lainnya syok.
Melihat keterdiaman anggota keluarganya membuat Darren menggeram. Darren tahu bahwa anggota keluarganya saat ini syok akan kabar yang mereka dengar.
"Buruan! Apa kalian ingin kakak Darka mati karena terlambat mendapatkan darah!" teriak Darren.
Mendengar teriakan dan perkataan Darren. Seketika mereka terkejut dan tersadar. Dan mereka semua pun berlari menuruni anak tangga.
Sementara Darren sudah terlebih dahulu berlari keluar. Dia saat ini benar-benar sangat mengkhawatirkan kakak laki-laki kesayangannya itu.
"Kakak Darka. Aku mohon bertahanlah. Jangan pergi dan jangan tinggalkan aku," batin Darren. Air matanya jatuh begitu saja membasahi wajah tampannya.
***
"Bagaimana?" tanya Dokter yang menangani Darka.
"Saya sudah menghubungi salah satu anggota keluarganya. Kebetulan dia teman saya. Kemungkinan mereka sudah di jalan," jawab Elzaro.
"Baiklah. Jika anggota keluarga dari pasien telah datang. Beritahu saya."
"Baik Dokter!"
Dokter itu kembali masuk ke dalam ruang Operasi.
Beberapa detik kemudian setelah Dokter itu masuk ke dalam ruang Operasi, terdengar derap langkah beberapa orang. Dan disertai teriakan dari salah satunya.
__ADS_1
"Elzaro!" panggil Darren.
Mendengar panggilan dari seseorang. Elzaro dan kelima sahabatnya langsung melihat kearah Darren. Dapat mereka lihat ketakutan di wajah Darren dan anggota keluarganya.
Sementara Kathleen masih menangis dan memikirkan kondisi Darka. Kathleen duduk di salah satu bangku dengan kepala menunduk.
"Bagaimana kakak Darka?" tanya Darren.
"Darka berada di dalam ruang Operasi," jawab Elzaro.
Melky langsung beranjak dari posisinya menuju ruang Operasi. Setelah berdiri di depan pintu ruang Operasi. Melky sedikit mengetuknya.
Tak butuh lama, keluarlah seorang Dokter.
"Dok, keluarga pasien sudah datang!"
Dokter tersebut berjalan menghampiri anggota keluarga Darka dan diikuti Melky di belakang. Melky kembali pada posisinya semula.
"Apa kalian keluarga pasien?"
"Iya. Saya ayahnya. Bagaimana keadaan putra saya?" tanya Erland dengan suara lirihnya.
"Pasien mengalami luka tusuk di perutnya. Dan lukanya cukup dalam. Bahkan pasien banyak kehilangan darah."
"Ambil darahku, Dokter!" seru Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat Erland, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang terkejut. Dengan kompak mereka menatap kearah Darren.
"Tidak! Papa tidak mengizinkanmu untuk ikut mendonorkan darah untuk Darka!"
"Tapi kenapa, Papa?! Di dalam sana kakak Darka butuh darah. Dan biarkan aku mendonorkan darahku untuk kakak Darka."
"Papa bilang tidak ya tidak, Darrendra Smith! Mengertilah!" bentak Erland.
Seketika Darren terkejut ketika mendengar perkataan dan bentakkan dari ayahnya. Dan tanpa diminta, air matanya jatuh membasahi wajahnya.
Melihat Darren yang menangis membuat Erland merasakan penyesalan. Dia tidak bermaksud membentak putranya itu. Tujuannya melakukan itu karena dia tidak ingin putranya itu kenapa-kenapa. Apalagi putranya itu memiliki masalah di jantungnya.
Erland menatap kelima putranya. "Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang. Kalian ikutlah bersama Dokter ini. Berikan darah kalian untuk Darka."
"Baik, Papa!"
Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang pun pergi menuju ruangan mengambilkan darah bersama dua orang perawat.
Erland menatap sendu putra bungsunya dari istri pertamanya. Tangannya menyentuh kedua bahunya.
"Maafkan Papa, Nak!"
"Papa jahat. Kenapa Papa melarangku mendonorkan darah untuk kakak Darka. Dia kakakku, Papa!"
"Papa tahu sayang. Papa mengerti perasaan kamu. Tapi Papa tidak bisa membiarkan kamu mendonorkan darah kamu untuk Darka."
"Tapi kenapa, Papa?!"
Erland memeluk tubuh putranya itu. Erland menangis disaat memeluk tubuh putranya.
"Karena kamu memiliki masalah di jantung kamu, Nak? Jantung kamu tidak kuat dan sedikit lemah! Kamu beda dengan keenam kakak laki-laki kamu."
Seketika air mata Darren kembali mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar perkataan dari ayahnya. Darren melupakan fakta itu.
"Papa melarang kamu untuk tidak ikut mendonorkan darah untuk Darka karena Papa tidak ingin kamu drop. Jika kamu tetap memaksa mendonorkan darah kamu untuk Darka, bisa-bisa kamu juga ikut terbaring di tempat tidur bersama Darka. Apa kamu tega melihat Papa yang menangis melihat kedua putranya terbaring di tempat tidur, hum?!"
Darren seketika terisak kencang di pelukan ayahnya ketika mendengar perkataan ayahnya.
"Maafkan aku," ucap Darren disela isakannya.
"Kamu tidak salah, sayang! Papa mengerti! Kamu melakukan itu untuk menolong kakak laki-laki kesayangan kamu."
Elzaro dan kelima sahabatnya terkejut ketika mendengar ayah dari Darren mengatakan bahwa Darren memiliki masalah di jantungnya. Bahkan mereka dapat melihat wajah Darren yang sedikit pucat.
__ADS_1
Sementara Agneta saat ini sudah duduk di samping Kathleen. Dia memberikan ketenangan dan mengatakan kepada Kathleen bahwa semuanya akan baik-baik saja.