
Qenan sedang di kamarnya saat ini. Setelah selesai makan malam, Qenan memutuskan untuk langsung ke kamar. Sementara kedua orang tua dan kedua kakak laki-lakinya memilih bersantai di ruang tengah.
Alasan Qenan langsung menuju kamarnya adalah agar bisa berbicara dengan Elsa di telepon.
Qenan saat ini tengah bersandar di punggung tempat tidur dengan ponsel di tangannya.
Qenan membuka Aplikasi Whatsapp. Setelah itu, Qenan mencari nama kekasihnya yaitu Elsa.
Setelah mendapatkan nama kekasihnya, Qenan mulai menulis sesuatu di sana.
Selesai menulis beberapa kata di Whatsapp milik Elsa. Qenan menunggu dengan sabar balasan dari Elsa. Qenan masih melihat status chat nya masih centang dua abu-abu.
Setelah menunggu beberapa menit, status chat nya berubah menjadi centang biru dua. Dengan kata lain, sang kekasih telah membaca chat nya tersebut.
Terukir senyuman manis di bibir Qenan. Dia tidak sabaran untuk menunggu balasan dari kekasihnya itu.
Setelah beberapa menit menunggu, sang kekasih sama sekali tidak membalas chat tersebut.
"Kenapa Elsa tidak membalas chat dariku? Ada apa dengan dia? Tidak biasanya dia seperti ini?" tanya Qenan pada dirinya sendiri sembari tatapan matanya menatap ke layar ponselnya.
Qenan kembali mengetik sesuatu disana. Dan kali ini kata-katanya penuh dengan cinta. Qenan mengirim lebih dari sepuluh chat ke WhatSapp Elsa.
Setelah mengirim chat itu kepada Elsa. Qenan meletakkan ponsel di atas meja, lalu Qenan turun dari tempat tidurnya hendak ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Qenan pun keluar dari kamar mandi lalu mengambil ponselnya dan membawanya menuju sofa.
Qenan menatap memeriksa chat nya yang dikirimnya kepada Elsa. Seketika mata Qenan membesar ketika melihat status chat nya.
Lagi-lagi Elsa hanya membaca semua chat dari Qenan. Melihat apa yang dilakukan oleh Elsa membuat Qenan benar-benar marah.
"Argh!"
Seketika Qenan berteriak karena chat yang dikirimnya tidak dibalas oleh Elsa.
"Ada apa denganmu, Elsa? Tidak biasanya kamu seperti ini. Biasanya kalau aku terlambat mengirim chat atau tidak menghubungi kamu barang sejam. Kamu langsung menerorku. Tapi kali ini kamu....!"
Qenan tetap berusaha untuk terus menghubungi Elsa. Dan kali ini Qenan langsung menelpon Elsa dan berbicara dengannya.
Terdengar nada dering di seberang telepon. Qenan berharap Elsa menjawab panggilan darinya.
Dan detik kemudian, panggilannya tiba-tiba dimatikan secara sepihak oleh Elsa sehingga membuat Qenan benar-benar marah akan sikap Elsa malam ini.
"Argh!"
Qenan kembali berteriak mengeluarkan amarahnya akan kelakuan Elsa.
Cklek!
__ADS_1
Pintu dibuka oleh seseorang. Setelah pintu terbuka masuklah empat manusia ke dalam kamar Qenan. Mereka adalah kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya.
Mereka kemudian melangkah menghampiri Qenan yang saat ini tengah duduk bersandar di punggung sofa sembari memejamkan matanya.
Emma langsung duduk di samping putra bungsunya itu dan diikuti oleh Aldez duduk di samping kanan Qenan.
"Ada apa, hum?" tanya Emma lembut sambil tangannya mengelus kepala putranya.
Qenan membuka matanya dan melihat bahwa kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya sudah berada di kamarnya.
"Mama, Papa, kakak Aaron, kakak Raka. Kapan kalian masuk?" tanya Qenan.
Mereka tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Qenan.
"Dari 1000 tahun yang lalu," jawab Aaron asal.
Qenan seketika membelalakkan matanya mendengar jawaban dari kakak laki-laki tertuanya itu.
Emma mengusap lembut pipi putra bungsunya itu. "Jangan dengarkan jawaban aneh dari kakak laki-laki kamu yang aneh itu. Kita baru saja disini," ucap Emma.
"Sekarang katakan pada Papa. Ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak tadi?" tanya Aldez.
"Kedengaran ya teriakanku?" tanya Qenan balik dengan menatap wajah tampan ayahnya.
Emma, Aldez, Aaron dan Raka tersenyum mendengar pertanyaan dari Qenan.
"Iya, sayang! Ada apa?" tanya Emma.
"Elsa!" seru Emma, Aldez, Aaron dan Raka bersamaan.
"Kenapa dengan Elsa? Apa kamu sama Elsa bertengkar, hum?" tanya Aldez.
"Tidak, Papa! Malam ini sikap Elsa aneh sekali. Tidak seperti biasanya," jawab Qenan.
"Contohnya?" tanya Raka.
"Aku berulang kali mengirim pesan WhatsApp, tapi hanya dibaca saja oleh Elsa. Elsa sama sekali tidak membalasnya."
"Apa kamu sudah hubungi dia?" tanya Aaron.
"Sudah kakak Aaron. Tapi panggilanku langsung dimatikan."
Mendengar perkataan dari Qenan dan melihat wajah sedihnya membuat mereka menjadi tidak tega.
Aldez membelai lembut kepala putra bungsunya sehingga terlihat kening putih putranya itu. Setelah itu, Aldez memberikan kecupan disana.
"Besok kamu kuliahkan?"
__ADS_1
"Kuliah, Papa!"
"Saran Papa. Besok di kampus ajak Elsa bicara baik-baik. Tanyakan ada apa dan kenapa dia tidak membalas chat kamu dan juga tidak menjawab panggilan dari kamu, namun justru langsung mematikannya."
"Dan pesan Mama. Jangan emosi. Bicaranya harus menggunakan kepala dingin."
"Baiklah Papa, Mama!"
Mereka tersenyum mendengar jawaban dari Qenan.
"Ya, sudah. Kalau begitu kamu istirahatlah. Jangan tidur malam-malam. Mama tidak mau kamu jatuh sakit."
"Baik, Mama."
Setelah itu, kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya pergi meninggalkan kamarnya.
***
Di kediaman Wechsler terlihat sepasang suami istri dan satu anak perempuannya sedang berada di ruang tengah.
Ketiganya tampak diam. Tidak ada yang membuka suara. Sesekali sepasang suami istri saling melirik. Keduanya saling memberikan kode.
Sementara anak perempuannya menatap dengan penuh intimidasi kedua orang tuanya itu.
"Papa, Mama. Katakan padaku, kenapa Bianca pergi dari rumah? Apa yang sudah terjadi? Apa kalian melakukan sesuatu terhadap Bianca selama aku di luar negeri?" tanya Zora dengan menatap wajah kedua orang tuanya.
Mendengar pertanyaan dari putri sulungnya membuat Anthony dan Emily hanya diam. Keduanya tidak tahu harus mengatakan apa kepada putri mereka.
Sedangkan Zora yang melihat kedua orang tuanya hanya diam menjadi makin marah.
Zora ketika berdiri dari duduknya dengan menatap wajah kedua orang tuanya.
"Baiklah, jika Papa dan Mama tidak mau menjawab pertanyaanku barusan. Aku akan cari tahu sendiri. Tapi ingat! Jika aku sampai mengetahui kepergian Bianca dari rumah ini karena ulah Papa dan Mama. Aku Zora Wechsler akan pergi dari rumah ini juga. Aku akan kembali jika Bianca kembali lagi ke rumah ini."
Setelah mengatakan itu, Zora langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya untuk menuju kamarnya di lantai dua.
Sementara Anthony dan Emily seketika terkejut mendengar ucapan dari Zora. Mereka tidak menyangka jika Zora akan berbicara seperti itu kepada mereka.
"Sayang, bagaimana ini? Aku tidak mau Zora pergi dari rumah ini. Dan aku juga ingin Bianca kembali pulang ke rumah ini lagi. Aku benar-benar menyesal telah menyakiti putri bungsuku. Aku ibu yang sangat berdosa terhadap Bianca."
"Bukan kamu saja yang sudah melakukan kesalahan terhadap putri bungsu kita, Emily! Aku juga banyak melakukan kesalahan terhadap Bianca. Dan akulah yang sudah mengusirnya dari rumah ini ketika dia baru pulang. Seharusnya aku percaya padanya yang mengatakan bahwa dia baru pulang kerja."
Anthony dan Emily menangis ketika mengingat perlakuan buruk mereka terhadap Bianca. Mereka selalu bersikap tak adil terhadap kedua anak perempuannya. Mereka selalu membeda-bedakan dan membanding-bandingkan kedua anak perempuannya.
Jika Zora selalu diistimewakan. Sedangkan Bianca selalu diperlakukan seperti orang asing. Jika mereka selalu memuji Zora, maka mereka akan memaki Bianca
Niat awalnya Anthony dan Emily ingin menceritakan semuanya kepada putri sulungnya.
__ADS_1
Namun ketika melihat wajah tak mengenakkan dari Zora membuat mereka mengurungkan niatnya.
Belum cerita saja, putri sulungnya sudah memberikan tatapan intimidasi. Apalagi kalau sampai mereka berkata jujur. Bisa-bisa mereka dimakan hidup-hidup oleh putrinya itu. Itulah yang ada di pikiran Anthony dan Emily