KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kekhawatiran Darka


__ADS_3

[KAMPUS]


Darka dan Gilang berada di kelas. Hanya mereka berdua yang ada di kelas itu. Sementara mahasiswa dan mahasiswi lainnya sibuk dengan urusan masing-masing.


Darka saat ini tengah melamun. Dirinya tengah memikirkan sesuatu. Perasaannya sedari tadi tidak enak.


"Darka," panggil Gilang.


Hening..


PUK!


Gilang menepuk pelan bahu Darka sehingga membuat Darka tersadar dari lamunannya dan langsung melihat ke arah Gilang.


"Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan?"


"Darren. Aku sedang memikirkan Darren, Gil!"


"Apa yang kau rasakan sekarang?"


"Aku merasakan jika Darren tidak baik-baik saja saat ini."


"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, Darka? Semoga Darren baik-baik saja."


"Aku juga berharap seperti itu, Gil. Tapi masalahnya Darren itukan baru sembuh kemarin. Tapi kakak Davin malah memancing keributan dengan Darren sehingga terjadilah perkelahian antara keduanya dan berakhir Darren yang jadi korbannya."


Darka menatap wajah Gilang.


"Gil, kau lihat sendirikan kondisi kesehatan Darren akhir-akhir ini. Apa kau masih ingat yang dikatakan oleh Dokter dan juga Mama Agneta tentang kondisi Darren saat di rumah sakit?"


Gilang seketika teringat akan perkataan Dokter dan Ibunya tentang kondisi kesehatan adiknya.


Flasback On


CKLEK!!


Pintu UGD dibuka. Dan keluarlah seorang dokter bersama seorang perawat. Lalu mereka menghampiri dokter tersebut


"Bagaimana keadaan putra saya, Dokter?" tanya Erland.


"Sebelum saya menjawab pertanyaan anda. Saya ingin bertanya terlebih dahulu. Apa boleh?"


"Silahkan, Dok! Anda mau bertanya apa pada saya?"


"Begini. Ini tentang putra anda. Apakah putra anda memiliki masalah di jantungnya?"


DEG!!


Baik Erland maupun yang lainnya terkejut saat mendengar pertanyaan dari Dokter tersebut.


"Ma-maaf Dokter. Kenapa anda bertanya seperti itu?" tanya Erland.


"Saat pasien dibawah kemari. Kondisi tidak bisa dikatakan dengan kata baik. Wajahnya yang pucat pasi. Padahal yang saya lihat pasien hanya mengalami luka ringan di bagian pelipisnya dan kakinya yang terkilir akibat terhimpit sepeda motornya. Saat saya melakukan pemeriksaan terhadap pasien. Pasien sudah kehilangan detak jantungnya selama setengah jam. Selama waktu lima belas menit, saya berhasil mengembalikan detak jantungnya kembali." sang Dokter menjawab pertanyaan dari Erland.


Mendengar perkataan Dokter. Sontak hal itu membuat Agneta menggeleng-gelengkan kepalanya dan air matanya berlomba-lomba keluar.


"Tidak... Tidak!" ucap Agneta dan berlahan melangkah mundur.


"Kak Belva... Kak Belva...," ucap Agneta menyebut nama kakak perempuannya yang sudah meninggal sembari terisak.

__ADS_1


"Mama." Davin dan yang lainnya panik saat melihat Agneta yang tiba-tiba saja menangis histeris.


"Sayang, kau kenapa?" Erland benar-benar khawatir melihat istrinya yang tiba-tiba menangis histeris.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Kalian semua boleh melihat pasien saat pasien sudah dipindahkan ke ruangannya," kata Dokter itu.


"Terima kasih, Dokter." Evan membalas perkataan sang Dokter.


"Bawa duduk dulu kak Agneta nya, kak Erland!" ucap Evan.


Lalu Erland dan Davin membantu Agneta untuk duduk.


"Sayang, ada apa? Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau tiba-tiba menyebut Belva, ibu dari ketujuh putraku?" tanya Erland.


"Ayolah, Mama! Katakan pada kami. Kenapa Mama menyebut nama Mama kami?" tanya Davin.


"Maafkan aku... Maafkan aku! Aku benar-benar tidak menyadari hal ini. Aku benar-benar tidak menyadarinya," ucap Agneta.


"Apanya, sayang? Jangan buat aku bingung," kata Erland yang masih bingung.


"Darren," lirih Agneta.


"Darren," ulang mereka kembali secara bersamaan.


"Soal pertanyaan Dokter mengenai apakah Darren memiliki masalah di jantungnya," lirih Agneta.


"Jangan bilang...." perkataan Erland terpotong, karena Agneta sudah mengangguk terlebih dahulu.


"Iya. Jantung Darren bermasalah," jawab Agneta lirih.


DEG!!


Erland langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Keenam putra-putranya dari Belva yang tak lain adalah keenam kakak laki-lakinya Darren menangis sejadi-jadinya. Mereka telah gagal menjadi Ayah dan juga Kakak untuk Darren.


Darka mendekati Agneta. Dan menatap lekat matanya. "Katakan padaku kalau semua ini hanya kebohongan Mama semata. Adikku baik-baik sajakan, Ma? Jantung adikku baik-baik sajakan?"


Agneta menatap sendu putra sekaligus keponakannya. "Mama tidak berani bermain-main dengan nyawa, sayang. Apalagi nyawa adik kesayanganmu. Putra Mama, keponakan Mama, adikmu benar-benar sakit selama ini."


"Mama tahu dari mana kalau Darren memiliki masalah di jantungnya?" tanya Andra.


"Dari Mama kandung kalian. Kakak perempuan Mama," jawab Agneta.


Flasback Off


Gilang tiba-tiba menangis saat teringat akan perkataan sang Dokter dan Ibunya. Darka yang melihat Gilang menangis menjadi tidak tega.


"Gil. Aku takut terjadi sesuatu terhadap Darren. Aku tidak mau kehilangan Darren. Kita sudah kehilangan Mama. Aku tidak mau kehilangan lagi. Darren sakit, Gil! Adik kita sedang sakit. Dia butuh kita. Semenjak Bibi Carissa membawa Darren pulang ke rumah, tidak ada raut kebahagiaan sama sekali yang terpancar dari tatapan matanya Darren."


"Darren pulang ke rumah karena menghargai keinginan Bibi Carissa bukan keinginannya. Beberapa hari bersama kita. Aku sangat yakin Darren pasti sangat tertekan. Darren berusaha tersenyum, itupun hanya di depan Bibi Carissa, Paman Evan, kakak Daffa, Tristan dan Davian. Tapi jika bersama kita, Darren sama sekali tidak memperlihatkan senyuman itu. Tapi sebaliknya, justru kebencian yang diperlihatkan oleh Darren pada kita."


"Ya. Kau benar, Darka. Aku juga tidak ingin kehilangan Darren. Aku juga tidak sanggup harus kehilangan untuk yang kedua kalinya."


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Gil! Kita tidak mungkin membiarkan Darren tertekan selama di rumah."


"Cukup kita membiarkan Darren melakukan apa yang dia mau. Jika Darren ingin pulang ke rumahnya, kita biarkan saja."


"Tapi, Gil...."


"Darka. Itu satu-satunya cara untuk Darren bisa hidup bahagia. Kitakan masih bisa bertemu dengan Darren saat di kampus. Nah! Saat Darren di kampus, kita akan memberikan perhatian padanya. Dan kita juga bisa mengawasinya dari jauh. Walau kenyataannya Darren memiliki sahabat-sahabatnya yang selalu menjaganya, tapi kita tetap akan melakukannya karena kita kakaknya."

__ADS_1


"Baiklah."


"Kalau begitu jangan sedih lagi. Selama Darren di rumah, kita yang akan menjaga Darren. Kita akan menuruti semua keinginannya. Apapun itu, asal Darren bahagia."


"Hm." Darka mengangguk.


"Ya, sudah. Lebih baik kita pulang."


"Pulang?"


"Kita masih ada satu materi kuliah lagi, Gil!"


"Sekali-kali bolos gak apakan?" Gilang menaik-naikkan alisnya.


"Baiklah. Ayo, pulang!"


Darka langsung mengambil tasnya dan pergi begitu saja meninggalkan Gilang.


"Darka! Sialan aku malah ditinggalin." Gilang mengoceh sambil meraih tasnya dan langsung mengejar Darka.


***


[KEDIAMAN DARREN]


Darren berada di rumahnya bersama Willy. Mereka berada di ruang tengah.


Willy saat ini menatap Darren khawatir. Bagaimana tidak khawatir, wajah Darren yang begitu pucat.


"Ren, kita ke rumah sakit ya. Aku benar-benar khawatir padamu. Kau seperti mayat hidup."


"Aku tidak mau ke rumah sakit, Wil. Aku istirahat di rumah saja. Kau tidak perlu khawatir."


"Ren, aku serius! Wajahmu benar-benar pucat. Ayolah, Ren! Aku mohon."


"Wil. Aku baik-baik saja. Aku hanya kelelahan. Dibawa istirahat juga fit lagi nih badan."


"Dasar keras kepala. Ya, sudah! Kau tunggu disini. Aku akan memasak sesuatu untukmu. Kau belum makan dari tadi siang."


"Memangnya kau bisa masak?" tanya Darren sembari mengejek Willy.


"Kau pikir aku ini laki-laki yang manja, hah?! Bagaimana pun aku selalu melihat Mama dan pelayanku ketika lagi memasak di dapur. Bahkan aku juga pernah belajar memasak. Dan rasanya juga tidak terlalu buruk."


"Iya, ya! Asalkan makanan yang kau masak itu tidak sia-sia," ledek Darren.


"Aish, kau ini! Dalam keadaan seperti ini kau masih bisa mencari masalah denganku," kesal Willy.


Darren hanya tersenyum mendengar ucapan Willy.


"Dasar baperan. Ya, sudah sana. Kapan mau masaknya? Keburu kelaparan nih!"


"Dasar siluman kelinci sialan."


Willy pun beranjak pergi menuju dapur.


"Masak yang enak, Wil! Kalau tidak, gajimu aku potong!" teriak Darren.


"Terserah kau kelinci sialan!" teriak Willy balik.


"Hahahahaha." Darren tertawa.

__ADS_1


__ADS_2