KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kabar Bahagia Dari Chico


__ADS_3

Darren dan anggota keluarganya saat ini tengah menikmati sarapan paginya. Seperti biasa ada lelucon dan candaan dari Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Dan yang menjadi sasarannya adalah Darren.


"Kak Darren," panggil Melvin.


"Apa?" Darren menjawab dengan nada ketusnya.


Melvin yang mendengar nada ketus dari kakak kesayangannya hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Dia tahu bagaimana sifat sang kakak sebenarnya.


"Ketus amat sih. Padahal aku manggilnya lemah lembut," gumam Melvin lalu memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.


Tanpa Melvin sadari bahwa gumamannya itu didengar oleh anggota keluarganya. Mereka tersenyum. Begitu juga dengan Darren.


"Siapa yang ketus?" tanya Darren berpura-pura marah sembari memperlihatkan wajah garangnya di hadapan Melvin.


Melvin yang tadi sedang memakan makanannya seketika terhenti ketika mendengar ucapan dari kakak kesayangannya.


Melvin kemudian mengangkat wajahnya untuk melihat wajah sang kakak. Dan detik kemudian, Melvin menelan kasar ludahnya ketika melihat wajah sangar kakak kesayangannya.


Erland, Agneta dan yang lainnya tersenyum melihat wajah takut Melvin. Padahal mereka semua tahu bahwa Darren hanya bercanda.


"Ka-kakak Darren," gugup Melvin.


Darren yang mendengar suara gugup Melvin sudah tertawa di dalam hatinya. Darren begitu menikmati wajah takut adiknya itu.


"Kau lucu sekali Melvin," batin Darren.


Ketika suasana yang saat ini tengah menatap wajah takut Melvin, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara ponsel milik Darren.


Darren yang mendengar suara ponselnya langsung mengambilnya dan melihat nama salah satu kakak mafianya yaitu Chico di layar ponselnya. Kebetulan ponselnya itu ada di atas meja makan di hadapannya.


Darren tersenyum sembari menjawab panggilan tersebut. Sementara anggota keluarganya melanjutkan sarapannya sembari memasang telinga mendengar pembicaraan Darren bersama seseorang di telepon.


"Hallo kak Chico."


"Hallo, Ren! Kau ada dimana sekarang?"


"Aku di rumah keluargaku. Kenapa kak Chico?"


"Kakak ada kabar untukmu."


"Apa itu kak? Katakan padaku."


"Semua musuh-musuh kamu termasuk musuh dari Dzaky dan Adnan sudah dibasmi. Hanya tersisa satu pelaku lagi. Dan itu akan menjadi urusannya Ziggy."


Mendengar informasi yang disampaikan oleh Chico membuat Darren tersenyum bahagia. Dan pada akhirnya musuh-musuhnya dan juga musuh-musuh dari kedua kakak laki-lakinya sudah mendapatkan hukumannya.


"Benarkah?"


"Iya, Ren. Kemarin kami melakukannya."

__ADS_1


"Terus untuk satu pelaku lagi yang kata kakak Chico kalau itu akan menjadi urusannya kakak Ziggy. Sebenarnya pelaku itu sudah melakukan apa?"


"Kau tidak melupakan tentang kejadian pembantaian keluarga Mondella, bukan?"


Mendengar perkataan dari Chico membuat Darren langsung teringat tentang keluarga dari putri angkatnya.


"Jangan bilang kalau pelaku itu adalah dalang pembantaian keluarga Erica?"


"Ya. Memang dia pelakunya. Hanya saja anggota-anggota kakak belum sepenuhnya yakin. Lebih tepatnya, semua bukti belum menuju kearah bajingan itu. Makanya kenapa Ziggy yang mengambil alih tugas ini. Secara ayah dan kakak laki-lakinya seorang polisi berjabatan tinggi, jadi kemungkinan untuk menangkap bajingan itu lebih besar."


Mendengar penjelasan dari Chico membuat Darren langsung paham.


"Aku mengerti. Jika semua bukti sudah mengarah padanya. Jika seandainya dia tidak mati di tanganku atau di tangan kakak Chico dan yang lainnya. Aku harap bajingan itu mati ditangan hukum."


"Kau tidak perlu khawatir masalah itu. Ziggy pasti akan melakukan hal yang terbaik untuk semua ini."


"Iya, kakak Chico."


"Oh iya! Bagaimana urusan kamu dengan anak-anak Vagos untuk melawan anak-anak geng motor Eagle yang diketuai oleh Nirvan Sheehan?"


"Semuanya sudah beres. Kami menyelesaikannya dengan baik."


"Ach, syukurlah. Kakak senang mendengarnya. Bagaimana kabar Erica? Sudah lama sekali kakak tidak melihatnya."


"Ach, iya. Maafkan aku. Aku lupa memberitahu kakak Chico dan yang lainnya soal Erica. Erica saat ini di Amerika bersama Bibi Carissa, Paman Evan, kakak Daffa, kakak Tristan dan kakak Davian."


"Mereka semua di Amerika?"


"Terus bagaimana perusahaan Paman Evan yang ada disini. Ditambah lagi perusahaan milik Tristan. Bukannya dia punya perusahaan disini?"


"Masalah perusahaan milik Paman Evan dan milik kakak Tristan itu sudah dititpkan kepada kakak Darka dan kakak Gilang. Selama mereka di Amerika. Kakak Gilang dan kakak Darka yang bertanggung jawab akan perusahaan itu."


"Oh, begitu. Nanti kakak akan menyuruh beberapa anggota mafioso untuk mengawasi dan menjaga perusahaan milik Paman Evan dan Tristan."


"Terima kasih kakak Chico."


"Sama-sama, Ren! Oh iya, kakak hampir lupa!"


"Apa itu kakak Chico?"


"Saat penyerangan para musuh-musuh kamu dan juga musuh kedua kakak laki-laki kamu. Kakak dan yang lainnya membawa orang yang sudah menjadi dalang penyerangan kamu dan kedua kakak laki-laki kamu. Saat ini mereka ada di markas milik Noe."


Mendengar perkataan dari Chico membuat Darren tersenyum di sudut bibirnya.


"Benarkah?"


"Iya. Apa kau tidak merindukan mereka hanya untuk sekedar bermain-main, hum?"


"Tentu. Bagaimana pun tanganku sudah sangat gatal untuk membuat ukiran-ukiran yang indah di tubuh mereka. Secara aku sudah lama tidak melakukan itu."

__ADS_1


Mendengar perkataan dari Darren membuat anggota keluarganya sedikit merinding. Bagaimana pun mereka tahu maksud dari perkataan Darren barusan.


"Baguslah kalau begitu. Kakak senang mendengarnya. Ternyata sisi kejam kamu masih ada."


"Tentu. Selamanya sisi kejam seorang Darrendra Smith tidak akan pernah hilang. Sisi kejam itu akan dua kali lipat keluar dari diriku jika sudah berhubungan dengan orang-orang terdekatku. Apalagi kalau ada yang berani menyentuh milikku."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Chico di seberang sana tersenyum bangga. Dia juga berharap jika sisi kejam Darren tidak akan hilang.


Baik Chico, Noe, Enzo maupun Ziggy dan Devian juga mengetahui bahwa Darren memilik Altar Ego.


Altar Ego yang dimiliki oleh Darren dua kali lipat kejamnya dari pada sifat asli Darren.


Jika sifat asli Darren kejamnya hanya setengahnya, maka sifa kejam dari Altar Ego dalam diri Darren keluar sepenuhnya.


"Baiklah. Kakak tunggu kamu dan juga ketujuh sahabat kamu di markasnya Noe."


"Siap."


Setelah itu, baik Darren maupun Chico sama-sama mematikan panggilannya.


Selesai berbicara dengan Chico, Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya dan berakhir menatap wajah kedua kakak laki-lakinya yaitu Dzaky dan Adnan.


"Kakak Dzaky, kakak Adnan."


"Iya, Ren!" Dazky dan Adnan menjawab bersamaan.


"Apa kakak Dzaky dan kakak Adnan mau ikut denganku ke markas kakak Noe?"


"Untuk apa, Ren?" tanya Adnan.


"Untuk bertemu dengan musuh-musuh kalian berdua," jawab Darren.


"Dalang dari penyerangan kakak Dzaky dan kakak Adnan saat ini berada di markas kakak Noe. Mereka dalam keadaan tak baik-baik saja setelah mengalami insiden penyerangan dua hari lalu."


"Maksud kamu..." perkataan Dzaky terpotong.


"Iya. Para kakak-kakak mafiaku, kecuali kakak Ziggy telah memberikan hukuman untuk orang yang sudah menyerang kakak Dzaky dan kakak Adnan. Begitu juga denganku dan Brenda saat itu."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Dzaky dan Adnan terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarganya yang lain.


"Apa kakak Dzaky dan kakak Adnan tidak ingin reunian dengan orang-orang yang sudah membuat kalian terluka. Bahkan mereka juga mengancam kalian."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Dzaky dan Adnan saling memberikan tatapan.


Setelah itu, keduanya kembali menatap wajah adik laki-lakinya itu.


"Baiklah. Kita ikut!" seru Dzaky dan Adnan.


Darren seketika tersenyum lebar ketika mendengar jawaban dari kedua kakak laki-lakinya itu.

__ADS_1


"Pilihan yang terbaik," ucap Darren.


Setelah itu, mereka semua pun kembali melanjutkan sarapannya.


__ADS_2