KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kabar Bahagia


__ADS_3

Di ruangan BK terdengar suara gebrakan meja yang begitu keras. Dosen yang bernama Lista menatap marah kearah mahasiswanya yang duduk di hadapannya.


Sementara mahasiswa yang bernama Rogert Artavea duduk dengan menopang kaki kanannya pada kaki kirinya dengan wajah biasa seolah-olah tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Kamu tahu kesalahan kamu apa, Rogert?" tanya Dosen Lista.


Rogert melirik sekilas pemuda yang duduk di sampingnya, lalu kembali menatap Dosen Lista.


"Iya. Si cupu ini kan?"


Rogert menjawab pertanyaan Dosen Lista dengan santainya. Sementara Dosen Lista menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban singkat dari Rogert.


"Kamu ini niat kuliah apa bagaimana? Belum ada satu bulan kamu kuliah disini, tapi kamu sudah mencetak rekor dengan membully teman kampus kamu hingga babak belur," ucap Dosen Lista dengan menatap marah kearah Rogert.


Sementara Rogert hanya bersikap acuh dan tak peduli atas ucapan dari Dosennya. Malah sebaliknya, saat ini Rogert sibuk dengan ponselnya.


Brak!


Tiba-tiba Dosen Lista menggebrak meja dengan kerasnya untuk yang kedua kalinya. Dia benar-benar marah akan sikap mahasiswa barunya itu.


"Rogert Artavea!" bentak Dosen Lista di hadapan Rogert


Rogert yang terkejut mendengar gebrakan meja yang cukup keras dan juga bentakkan dari Dosen Lista seketika berdiri dari duduknya. Tatapan matanya menatap tajam kearah Dosen Lista.


"Lo nggak usah bentak-bentak gue. Lo tuh hanya dosen disini. Tidak lebih. Jadi jangan sok ngatur gue. Apalagi menasehati gue!" bentak Rogert.


Seketika tubuh Dosen Lista tersentak ketika mendengar bentakan dari mahasiswa. Dia tidak menyangka jika mahasiswa baru itu berani padanya.


Setelah bersikap kasar kepada Dosen Lista. Rogert pergi begitu saja meninggalkan ruang BK.


Rogert membuka pintu ruang BK lalu menutupnya dengan kasar sehingga membuat Dosen Lista dan mahasiswa yang dibully itu terkejut.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membahas masalah ini dengan Darren dan wakil rektor," ucap Dosen Lista.


Dosen Lista menatap kearah mahasiswa yang dibully oleh Rogert. Dia meminta mahasiswa itu pergi ke ruangan kesehatan untuk mengobati luka memarnya.


"Kamu pergilah ke ruangan kesehatan. Obati luka kamu itu."


"Baik, Bu."


^^^


Darren dan ketujuh sahabatnya saat ini berada di ruang komputer. Mereka tengah mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen pembimbingnya. Dan tugas itu dikumpulkan selama satu minggu.


Namun Darren dan ketujuh sahabatnya langsung mengerjakan tugas-tugasnya itu hari ini juga agar tidak berdempetan dengan tugas-tugas yang lainnya.


Ketika Darren dan ketujuh sahabatnya tengah fokus mengerjakan tugas-tugasnya, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.


Darren yang mendengarnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Kini ponselnya sudah berada di tangannya. Darren melihat nama 'Dosen Lista' di layar ponselnya itu.


"Siapa, Ren?" tanya Rehan ketika melihat Darren yang menatap layar ponselnya.


"Dosen Lista," jawab Darren tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya.


"Angkat saja. Siapa tahu penting," ucap Jerry.


Setelah itu, Darren pun menjawab panggilan dari Dosen Lista tersebut.


"Hallo, Dosen Lista. Ada apa?"


"Hallo, Darren. Apa saya mengganggu?"


"Oh, tidak!"


"Kebetulan sekali. Bisakah kamu dan ketujuh sahabat kamu ke ruangan wakil rektor, sekarang! Saya saat ini berada di ruangan wakil rektor."


"Apa ada masalah?"


"Ini masalah mahasiswa baru itu."


"Rogert?"


"Iya."


"Baiklah. Aku dan ketujuh sahabatku kesana sekarang."


Setelah mengatakan itu, Darren mematikan ponselnya, lalu menatap kearah ketujuh sahabatnya itu.


"Dosen Lista meminta kita ke ruangan wakil rektor, sekarang!" seru Darren.


"Ada apa?" tanya Qenan.


"Sepertinya ada masalah. Masalahnya terletak pada bajingan itu," ucap Darren.


"Rogert Artavea!" seru Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


"Hm." Darren menggumam sembari menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, Darren dan ketujuh sahabatnya langsung bergegas menuju ke ruangan wakil rektor.


***


Di sebuah markas terdapat beberapa orang. Empat laki-laki dan dua perempuan. Mereka saat ini tengah menunggu kedatangan sang ketua.


Beberapa menit kemudian, orang yang mereka tunggu pun datang bersama dengan tangan kanannya.


"Apa yang harus kami lakukan, Bos!" tanya laki-laki pertama.

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan dari laki-laki di hadapannya, pria itu memberikan sebuah foto kepada laki-laki itu.


Laki-laki itu mengambil foto dari tangan pria itu, lalu melihat kearah foto tersebut. Begitu juga dengan empat rekannya.


"Siapa anak kecil ini, Bos?" tanya laki-laki kedua


"Dia Erica, putri angkatnya Darrendra Smith."


"Apa yang harus kami lakukan, Bos?" tanya seorang perempuan.


"Kalian singkirkan pengasuhnya lalu salah satu dari kalian harus bisa menjadi dewi penyelamat untuk anak itu sehingga bisa menggantikan posisi pengasuh tersebut. Terserah bagaimana cara kalian melakukannya."


"Baik, Bos. Kami mengerti!" seru ketiga laki-laki dan kedua perempuan itu.


"Lakukan ketika anak itu pulang sekolah."


"Baik, Bos!"


"Ya, sudah! Kalian boleh pergi."


Setelah itu, kelima anak buahnya itu pun langsung pergi meninggalkan markas untuk menjalankan apa yang sudah diperintahkan.


"Darren. Tunggu kejutan kedua dariku," batin Rolando Santa.


***


"Ada apa? Apa yang telah dilakukan mahasiswa baru itu?" tanya Darren kepada Dosen Lista.


Darren dan ketujuh sahabatnya kini sudah berada di ruangan wakil rektor. Di ruangan itu juga ada Dosen Lista dan Dosen-dosen yang lainnya.


"Saya sebagai Dosen bagian konseling angkat tangan mengurus mahasiswa baru itu. Bukan hanya dia saja, melainkan ketujuh sahabatnya juga susah diatur," sahut Dosen Lista.


"Apalagi saya yang sebagai pembimbing di kelasnya. Dia dan ketujuh sahabatnya melakukan sesuka hatinya," sela Dosen Galuh bagian informatika.


"Mereka belum ada satu bulan kuliah disini, tapi kelakuan mereka sudah sangat buruk." Dosen Lucky bagian sejarah.


"Kalau kami pikir-pikir. Mereka lah mahasiswa yang sulit diatur dibandingkan mahasiswa yang dikeluarkan itu. Seburuk apapun mereka. Mereka tidak pernah bersikap kasar kepada kami." Dosen Bimma berucap.


Mendengar keluhan dari beberapa Dosen membuat Darren menatap satu persatu wajah para Dosen itu.


"Sekarang kalian merasakan apa yang dirasakan oleh mahasiswa dan mahasiswi akan sikap kalian selama ini. Kalian tidak lupakan sikap kalian, perlakuan beda kalian, sikap acuh kalian setiap ada mahasiswa dan mahasiswi mengeluh kepada kalian. Kalian mengutamakan mahasiswa dan mahasiswi yang orang tuanya memiliki kekuasaan di kampus ini. Sementara mahasiswa dan mahasiswi yang orang tuanya tidak memiliki kekuasaan apapun, kalian bersikap biasa saja."


Darren berbicara sembari menatap satu persatu wajah para Dosen dan wakil rektor.


Seketika wakil rektor dan para Dosen-dosen itu terdiam ketika mendengar perkataan dari Darren.


"Ketika kalian mendapatkan mahasiswa dan mahasiswi terbaik, patuh dan disiplin. Kalian menyia-nyiakannya. Sekarang kalian mendapatkan mahasiswa kurang ajar. Kalian justru lepas tangan. Dengan dalih kalian tidak sanggup menghadapi mereka."


"Disaat kalian tidak bisa mengatasinya. Kalian mencari kami," sahut Axel.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menatap satu persatu wajah wakil rektor dan para Dosen-dosen itu.


Wakil rektor menatap kearah Darren. "Apa tindakan kita untuk mahasiswa baru itu?"


"Masalah Rogert dan ketujuh sahabatnya serahkan padaku dan ketujuh sahabatku. Sementara kalian fokus pada mahasiswa dan mahasiswi lainnya," sahut Darren.


"Baiklah," jawab wakil rektor dan para Dosen-dosen itu.


"Oh iya! Bukankah ada delapan mahasiswi yang juga baru kuliah disini? Dan sepertinya mereka dulu yang kuliah disini sebelum Rogert dan ketujuh sahabatnya," ucap Axel.


Mendengar ucapan dari Axel. Wakil rektor dan Dosen-dosen itu berpikir sejenak.


Beberapa detik kemudian...


"Maksud kamu mahasiswi yang bernama Chintia Benjamin, Chloe Hasiel, Ella Dagmar, Grace Jordan, Kiara Cristopher, Moona Solomon, Virly Zein dan Aayla Timothy?" tanya Dosen Lana jurusan marketing.


"Iya, mereka!" Axel menjawab sembari menganggukkan kepalanya.


"Maafkan saya. Saya lupa memberitahu kalian. Chintia dan ketujuh sahabatnya itu bukan mahasiswi baru di kampus ini. Mereka berada di tingkat yang sama dengan kalian. Selama enam bulan ini mereka berada di negara Malaysia untuk kegiatan Studi Tour. Khusus jurusan mereka."


Mendengar penjelasan dari wakil rektor, Darren dan ketujuh sahabatnya pun langsung mengerti.


"Oh iya. Bukankah Brenda dan ketujuh sahabatnya akan kembali dari kegiatan mereka tiga hari lagi?" tanya Darren.


"Benar," jawab wakil rektor itu.


"Siapa yang akan menjemput mereka?"


"Saya dan Dosen Bimma yang akan menjemput rombongan Brenda dan ketujuh sahabatnya dengan menggunakan bus," jawab Dosen Lana.


"Untuk Bus nya, kami sudah mempersiapkannya." Dosen Bimma menambahkan.


"Baiklah kalau begitu."


"Dikarenakan sudah tidak ada lagi yang dibicarakan. Kami pamit ke ruang komputer. Kami harus menyelesaikan tugas-tugas kami," ucap Willy.


"Baiklah."


Setelah itu, Darren dan ketujuh sahabatnya pergi meninggalkan ruang wakil rektor itu untuk menuju ruang komputer.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berada di rumah masing-masing.


Darren tengah berada di kamarnya. Dirinya sedang mengistirahatkan sejenak tubuhnya di atas kasur kesayangan. Dirinya benar-benar lelah saat ini. Seharian ini, dirinya telah mengeluarkan banyak tenaga.


Mulai dari kuliah, mengurus masalah keanggotaan organisasi dan struktur organisasi kampus, tugas-tugas kuliah dan tugas-tugas kantor sehingga berakhir pulang ke rumah pukul 3 sore.


Sementara Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian dan Mathew berada di ruang tengah.

__ADS_1


Mereka saat ini tengah mengerjakan sesuatu. Dzaky mengecek laporan lewat laptop miliknya. Adnan menginput data melakukan tablet miliknya. Gilang dan Darka tengah mengecek satu persatu data kegiatan sosial kampusnya. Sedangkan Adrian dan Mathew tengah mengerjakan tugas sekolahnya.


"Oh iya! Darren mana? Sejak kakak pulang dari kantor. Kakak tidak lihat Darren," ucap dan tanya Dzaky setelah selesai mengecek laporan perusahaannya.


"Darren sedang istirahat di kamarnya, kakak Dzaky. Darren juga baru pulang," jawab Gilang.


Mendengar jawaban dari Gilang membuat Dzaky terkejut.


"Apa Darren sudah makan ketika pulang tadi?" tanya Dzaky.


"Sudah. Kami langsung menyuruh Darren makan saat Darren baru tiba di ruang tengah. Selesai makan baru Darren masuk ke kamarnya dan istirahat," jawab Darka.


Mendengar jawaban dari Darka. Seketika terukir senyuman di bibir Dzaky. Dia menjadi lega bahwa adiknya itu sudah makan sebelum masuk ke kamarnya.


"Gilang, Darka!" Adnan memanggil kedua adik laki-lakinya itu.


"Iya, kakak Adnan!"


"Apa bajingan itu melakukan hal buruk terhadap Darren selama di kampus?" tanya Adnan.


"Seperti yang sudah kakak Adnan ketahui dari Darren dua hari yang lalu," jawab Gilang.


"Apa bajingan itu sudah mulai melakukan tindakan diluar nalar?" tanya Adnan.


"Emm... Sepertinya tidak. Tapi aku dan Gilang juga tidak tahu," jawab Darka.


"Di tambah lagi aku dan Darka tidak melihat secara langsung. Tapi informasi yang aku dan Gilang dapatkan bahwa bajingan itu sudah mulai bertindak. Dan tindakannya masih dibilang ringan," ucap Gilang.


"Salah satunya apa?" tanya Dzaky penasaran.


"Intinya adalah bajingan itu akan selalu mencari masalah dengan Darren dan ketujuh sahabatnya. Beberapa menit yang lalu aku mendapatkan pesan. Isi pesan itu bahwa bajingan itu dan ketujuh sahabatnya makin melakukan sesuka hatinya di kampus. Bahkan mereka tidak menaruh hormat sama sekali kepada Dosen," ucap Darka.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Gilang dan Darka membuat Dzaky dan Adnan makin mengkhawatirkan kondisi Darren. Jika setiap hari Darren berhadapan dengan Rogert dan ketujuh sahabatnya. Jika Darren setiap hari meluapkan kemarahannya. Semua itu akan berdampak pada kesehatan jantungnya.


Melihat raut khawatir dari tatapan mata kedua kakaknya membuat Gilang dan Darka menjadi tidak tega.


"Kakak Dzaky, kakak Adnan. Kalian berdua tidak perlu khawatir. Kita berdoa saja agar Darren selalu baik-baik saja," hibur Darka.


"Iya, kalian benar. Doa dari kita keluargannya yang dibutuhkan Darren," ucap Dzaky.


***


Di kediaman keluarga Smith, Erland saat ini berada di ruang kerjanya. Dia tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya. Terlihat begitu banyak berkas-berkas di atas meja kerjanya.


Erland tampak sibuk dengan pekerjaannya. Sesekali dia menatap kearah layar laptopnya dan sesekali dia mengecek satu persatu berkas-berkas yang ada di hadapannya.


Di saat Erland tengah sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Erland melihat ke samping dan tatapan matanya menatap ke layar ponselnya. Tertera di layar ponselnya nama seseorang.


Tanpa buang waktu lagi, Erland langsung mengangkat panggilan itu dari orang itu.


"Hallo."


"...."


"Katakan."


"...."


"Baiklah. Kau atur semuanya. Lakukan sebaik mungkin. Jangan sampai dia terluka. Apapun yang terjadi. Dia harus selamat dan dalam keadaan baik-baik saja."


"...."


"Sebisa mungkin dia dan orang yang melindunginya selamat."


"...."


Setelah selesai berbicara dengan orang itu, Erland langsung mematikan panggilannya.


Erland seketika menggeram marah. Dia tidak menyangka jika orang itu tega melakukan hal keji itu.


"Sayang, semoga kamu dalam keadaan baik-baik saja. Tuhan, lindungi dia, jaga dia dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Selamatkan mereka," batin Erland berdoa.


Erland menghubungi seseorang dan meminta orang itu melakukan sesuatu.


Ketika Erland ingin mengetik sebuah nomor, tiba-tiba ponselnya berbunyi, menandakan sebuah panggilan masuk.


Seketika Erland tersenyum. Orang yang menghubungiku dia adalah orang yang akan dia hubungi.


"Panjang umur," ucap Erland pelan.


Setelah itu, Erland langsung mengangkat dan menjawab panggilan dari orang itu.


"Hallo."


"...."


"Benarkah? Kau tidak bohong?"


"...."


"Baik. Kirim semua bukti-bukti yang kau dapatkan itu padaku, sekarang!"


"...."


Setelah itu, Erland mematikan panggilannya. Dia tidak sabar untuk melihat semua bukti-bukti itu di kirim ke ponsel miliknya.


"Sebentar lagi. Sebentar lagi masalah ini selesai. Sayang, sebentar lagi kita akan berkumpul bersama." Erland berucap dengan raut kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2