KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Tendangan Gratis Dari Brenda


__ADS_3

Setelah berperang dengan dengan berbagai tugas-tugas organisasi di rumah bersama dengan kedua kakaknya selama dua jam. Darren kini sudah berada di kampus.


Ketiga Smith bersaudara ini pergi ke kampus dengan menggunakan kendaraan masing-masing. Jika Darren menggunakan motor sport miliknya. Sementara Gilang dan Darka menggunakan mobil mewah mereka.


Darren melangkahkan kakinya menyusuri setiap koridor kampus. Dan tak sedikit para mahasiswa dan mahasiswi menatapnya kagum.


Ketika dirinya sudah berada di depan kelasnya, Darren memasuki kelasnya dengan tampang cool. Sebuah earphone tersumpal di kedua telinganya. Jaket almater berwarna biru melekat di tubuhnya dengan tas ransel hitam tergantung di bahu kanannya.


Seperti biasanya, ketika Darren masuk kelas. Teman-teman sekelasnya, terutama para gadis selalu menahan napas sambil memandang Darren, walau Darren tak pernah memperlihatkan senyumannya. Kalau pun Darren tersenyum, itupun hanya tersenyum kecil. Beda jika dirinya bersama ketujuh sahabat-sahabatnya, kekasihnya dan orang-orang yang dekat dengannya.


Bahkan ada beberapa gadis yang mengucapkan selamat pagi kepada Darren yang hanya dibalas oleh Darren dengan tersenyum kecil. Hal itu memang sudah biasa bagi Darren.


Semenjak dirinya kembali menjadi ketua ORGANISASI. Darren kembali menjadi pusat perhatian. Jadi lebih terpandang, apalagi dirinya memiliki wajah yang begitu tampan membuat semua gadis di kampusnya rela menyerahkan segalanya kepada Darren.


"Lirikan matamu, menarik hati. Oh senyumanmu, manis sekali... Jreng... Jreng...," itu Axel yang bernyanyi sembari menggoda Darren.


"Sehingga membuat, aku tergoda...," sambung Jerry.


Darren menatap malas kedua sahabatnya yang saat ini tengah mengadakan konser dangdut dadakan di dalam kelas. Sementara sahabatnya yang lain sibuk dengan ponselnya masing-masing.


Darren tahu bahwa kedua sahabatnya itu tengah meledeknya.


Dikarenakan Jerry dan Axel masih terus bernyanyi sehingga membuat Darren menggeram marah.


Namun detik kemudian...


"Jerry, Axel. Awas ada ular di kaki kalian!" teriak Darren.


Seketika Jerry dan Axel langsung melompat ke atas meja ketika mendengar teriakan dari Darren.


Setelah berteriak menakut-nakuti kedua sahabatnya itu, Darren langsung menduduki pantatnya di kursi.


"Xel, lo bunuh tuh ular."


"Kok gue? Lo aja kali. Secara badan lo lebih tinggi dari gue. Dan kemungkinan nyali lo juga lebih besar," sahut Axel.


"Lah, kok bawa-bawa fisik sih. Gue nyuruh lo bunuh tu ular, Axel!" seru Jerry.


"Kalau lo nyuruh gue buat bunuh orang, gue baru mau. Tapi kalau lo nyuruh gue buat bunuh tu ular. Jawabannya adalah no," jawab Axel.


"Jadi lo takut?" tanya Jerry.


"Iya. Gue lebih takut jika berhadapan dengan hewan buas dari pada manusia," jawab Axel.


Melihat Jerry dan Axel yang ketakutan dengan melompat ke atas meja dan mendengar perdebatan antara Axel dan Jerry membuat seisi kelas tertawa, termasuk Darren.


"Hahahaha."


Mendengar tawa keras teman-teman sekelasnya. Jerry dan Axel seketika menghentikan aksi debatnya. Keduanya langsung melihat sekitarnya. Dan terakhir tatapan mata keduanya menatap wajah keenam sahabatnya yang tengah tersenyum.


"Kalian ngapain di atas meja?" tanya Darren.


Jerry dan Axel secara bersamaan melihat ke bawah untuk melihat ular yang dimaksud oleh Darren.

__ADS_1


Setelah beberapa detik keduanya melihat, ular yang mereka cari tidak ditemukan.


Jerry dan Axel kemudian turun dari atas meja dengan menatap kesal sahabat kelincinya. Begitu juga dengan sahabatnya yang lain.


"Dasar siluman kelinci sialan," ucap Jerry kesal.


"Dasar kelinci setan," umpat Axel.


Mendengar umpatan kejam dari kedua sahabatnya itu membuat Darren membelalakkan kedua matanya.


Ketika Darren hendak membalas umpatan kedua sahabatnya itu, tiba-tiba terdengar suara dosen laki-laki memasuki kelas.


"Selamat siang anak-anak!"


"Selamat siang, Pak!"


***


Brenda saat ini dalam perjalanan menuju kampusnya.


Brenda menggunakan mobil baru yang baru dibelikan oleh kakak perempuannya yaitu Riana.


Bukan hanya dirinya saja, melainkan Raya adik perempuannya juga dibelikan mobil baru oleh kakak perempuannya itu.


Ketika dipertengahan jalan. Hanya butuh beberapa menit lagi sampai di kampusnya. Brenda menghentikan mobilnya tepat di depan mini market. Brenda ingin membelikan beberapa cemilan dan minuman untuk dirinya, sahabat-sahabatnya, kekasihnya, para sahabat dari kekasihnya dan juga untuk anggota organisasi kampus.


Setelah memarkirkan mobilnya, Brenda keluar dari dalam mobilnya. Setiba diluar, Brenda pun melangkahkan kakinya memasuki mini market tersebut.


^^^


Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Brenda pun langsung membawanya ke kasir.


Ketika Brenda melangkahkan kakinya menuju kasir, tiba-tiba ada yang menabraknya sehingga membuat barang belanjaannya terjatuh dan berserakan.


"Hahahaha."


Tawa keras dari orang yang sudah menabraknya.


Brenda yang mendengar suara tawa dari orang itu langsung melihat wajahnya.


Seketika Brenda terkejut dan juga geleng-geleng kepala. Ternyata orang yang telah menabraknya adalah mahasiswi baru di kampusnya.


"Dia lagi, dia lagi. Maunya apa sih dia?" batin Brenda.


Orang itu adalah Connie Noberto, perempuan yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya Darren.


"Lo ngapain, hah?!" teriak Connie.


Mendengar teriakan dari Connie membuat pengunjung mini market lainnya langsung melihat kearahnya dan Brenda.


Brenda tidak mempedulikan Connie. Yang dipedulikan oleh Brenda saat ini adalah barang-barang belanjaannya yang berserakan.


Setelah selesai membereskan barang-barang belanjaannya, Brenda pergi menuju kasir.

__ADS_1


Namun langkah terhenti karena Connie berhasil menarik keranjang belanjaannya.


"Connie. Apa-apaan kau, hah! Lepaskan!" bentak Brenda dengan menarik keranjang belanjaannya.


"Kalau aku nggak mau. Kau mau apa, hum?" tantang Connie.


"Aku katakan sekali lagi. Lepaskan!" teriak Brenda.


"Tidak akan," jawab Connie dengan tersenyum remeh di hadapan Brenda.


Melihat Connie yang tak kunjung melepaskan keranjang belanjaannya membuat Brenda akhirnya bertindak.


Brenda memegang kuat pergelangan tangan Connie yang kini memegang keranjang belanjaannya sehingga membuat Connie meringis.


Setelah itu, Brenda menarik kuat tangan Connie dan menghempaskannya.


"Aku tidak punya masalah denganmu. Jadi enyahlah dari kehidupanku," ucap Brenda.


Setelah mengatakan itu, Brenda pun pergi meninggalkan Connie untuk menuju kasir.


Tanpa Brenda sadari, Connie menyerang dirinya dari belakang.


Namun tanpa disangka, salah satu pengunjung mini market yang tak lain adalah seorang gadis kecil yang cantik melihat kejadian itu. Seketika gadis kecil itu berteriak.


"Kakak cantik! Awas, di belakang kakak!"


Brenda melirik sekilas, lalu memberikan tendangan kuat tepat di perut Connie.


Duagh!


"Aakkhh!"


Tubuh Connie terhuyung ke belakang akibat tendangan tak main-main dari Brenda. Connie merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.


Brenda kembali melirik ke belakang dengan tersenyum menyeringai.


Setelah itu, Brenda melanjutkan langkahnya menuju kasir.


Brenda melihat kearah seorang gadis kecil yang tadi berteriak. Brenda tersenyum menatap gadis kecil itu. Begitu juga dengan gadis kecil itu.


"Terima kasih, cantik."


"Sama-sama, kakak cantik."


Gadis kecil itu begitu senang ketika melihat Brenda yang memberikan tendangan kepada musuhnya.


"Mami."


"Iya, sayang."


"Kakak cantik itu hebat ya."


"Iya, sayang. Kakak cantik itu memang hebat."

__ADS_1


Brenda yang mendengar pujian dari gadis kecil itu tersenyum.


Setelah selesai membayar semua belanjaannya, Brenda pun pergi meninggalkan mini market tersebut. Dirinya ingin segera tiba di kampus agar barang-barang yang dibelinya bisa dimakan bersama dengan anggota organisasi kampusnya.


__ADS_2