KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Niat Jahat Valen


__ADS_3

Di sebuah ruangan terlihat seorang pemuda tengah berbicara dengan seseorang di telepon.


"Apa yang akan dilakukan oleh sepasang suami istri itu?"


"(. . .)"


"Mereka ingin melakukan hal itu padaku?"


"(. . .)"


"Baiklah jika itu yang mereka inginkan. Kita akan ikuti permainan mereka. Kau atur semuanya. Kau cari tiga laki-laki untuk melakukan pekerjaan tersebut. Rekam semua kejadian itu tanpa ada satu pun yang tinggal."


"(. . .)"


"Setelah pekerjaan itu selesai. Barulah aku yang akan menyelesaikan terakhirnya. Kumpulkan semua bukti. Dan bukti itu akan kita pertontonkan di depan semua orang ketika menghadiri hari pernikahanku."


"(. . .)"


Setelah selesai berbicara dengan seseorang di telepon. Pemuda itu mematikan panggilannya.


"Aku akan membuatmu dan seluruh keluargamu hancur. Kita lihat saja nanti," batin pemuda itu.


^^^


Masih di suasana kampus. Darren saat ini berada di lobi bersama dengan ketujuh sahabatnya.


Setelah selesai mengikuti materi kuliah ketiganya. Darren dan ketujuh sahabatnya memutuskan untuk bersantai di lobi.


Di lobi tersebut dibuatkan khusus untuk para mahasiswa dan mahasiswi agar bisa beristirahat dan bersantai disana. Bahkan di lobi itu sudah tersedia kedai kecil menjual makanan dan minuman seperti cemilan, roti, air mineral, minuman soda. Baik dingin maupun tidak.


"Ren," panggil Darel yang melihat Darren yang sedari hanya diam.


Mendengar Darel yang memanggil dirinya. Darren pun langsung melihat kearah Darel.


Darren menjawab dengan memberikan kode dengan menggerakkan pelan kepalanya keatas.


"Kamu kenapa? Dari tadi aku perhatiin. Kamu banyak diam. Biasanya kamu yang paling bawel," ucap dan tanya Darel.


Mereka semua menatap tepat di wajah Darren. Mereka meyakini bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Darren.


"Ren. Kita udah bersahabat belasan tahun. Kenapa kamu masih saja main rahasia-rahasiaan dari kita semua!" sahut Qenan.


"Apa kamu nggak pernah anggap kita sebagai sahabat kamu?" tanya Jerry.


Darren seketika langsung menatap wajah Jerry ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Jerry.


"Jer," lirih Darren.


Jerry yang melihat wajah sedih Darren dan juga suara lirihnya menjadi tidak tega. Begitu juga dengan sahabatnya yang lain.


Ketika mereka tengah menatap khawatir Darren. Dan Darren tengah memikirkan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara seorang gadis tengah berbicara di telepon.

__ADS_1


Gadis itu berbicara sedikit keras sehingga beberapa orang yang ada disana bisa mendengarnya, termasuk Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


Gadis itu berbicara sambil menyebut nama Gilang, salah satu kakak laki-laki kesayangan Darren.


Darren langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri gadis tersebut.


Melihat Darren yang tiba-tiba berdiri dan menghampiri gadis tersebut membuat Qenan dan yang lainnya juga ikut berdiri. Mereka menyusul Darren.


Kini Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berdiri di hadapan gadis itu. Darren menatap jijik wajah gadis yang ada di hadapannya ini.


"Mau apa kau kemari?"


Mendengar pertanyaan ketus dari calon adik iparnya membuat gadis itu tersenyum penuh arti menatap Darren.


"Eh, calon adik ipar. Senang bertemu kamu," ucap gadis itu sembari tangannya hendak membelai kepala Darren.


Darren yang melihat gadis itu ingin menyentuhnya langsung menepis tangan gadis itu.


"Nggak usah sentuh-sentuh gue dengan tangan kotor lo itu," ucap Darren.


"Dan tadi apa yang lo bilang? Calon adik ipar?" tanya Darren dengan menatap jijik gadis itu.


"Cuih!" Darren membuang ludahnya. "Najis gue punya kakak ipar kayak lo. Lo memang udah pacaran sama kakak gue. Tapi gue dan keluarga gue belum menerima lo. Jadi lo jangan kepedean."


Mendengar perkataan kejam dari Darren. Gadis itu hanya tersenyum. Justru gadis itu menatap Darren dengan wajah menantangnya.


"Emangnya aku peduli dengan semua itu. Disini yang aku butuhkan hanya Gilang. Bukan kamu atau pun keluarga kamu yang brengsek itu. Aku nikahnya sama Gilang. Jika kamu dan keluarga kamu tidak setuju dan tidak mau nerimaku. Aku tidak peduli."


Mendengar perkataan dari gadis yang berdiri di hadapannya membuat ketujuh sahabatnya Darren terkejut.


Sedangkan Darren yang mendengar itu sama sekali tidak terkejut. Justru sebaliknya, Darren bersikap biasa saja.


"Ada beberapa hal yang harus anda ketahui, nona Valencia Carloz. Pertama, untuk saat ini saudara Gilang tinggal di rumahku. Dan hanya atas seizinku yang boleh datang ke rumahku. Dan tidak ada satu pun yang berani menentangku. Kedua, semua fasilitas yang dimiliki oleh saudara Gilang Aditya Smith sudah ditarik oleh tuan Erland Faith Smith dan juga keempat kakak laki-lakinya. Saudara Gilang hanya memiliki satu kartu kredit. Itu pun hanya tersisa sedikit jumlah uang di dalamnya. Kemungkinan besar uang itu nggak akan cukup untuk mempersiapkan pesta pernikahan kalian."


Darren berbicara sembari menatap remeh kearah Valen.


Mendengar perkataan dari Darren. Valen hanya tersenyum menanggapinya.


"Dengarkan aku, Darrendra Smith. Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku tidak peduli semua itu. Aku hanya butuh Gilang. Setelah aku menikah dengan Gilang. Aku akan ikut kemana Gilang tinggal. Jika Gilang masih tinggal di rumahmu. Berarti aku juga ikut tinggal disana. Mau tidak mau kau harus menerimaku."


Darren tersenyum menyeringai ketika mendengar perkataan dari Valen.


"Apa kau yakin jika kakak Gilang akan membawamu tinggal di rumahku? Aku tidak yakin jika kakak Gilang bakal membawamu ke rumahku," sahut Darren.


"Aku sangat yakin jika Gilang bakal membawaku tinggal di rumahmu," jawab Valen.


"Bagaimana jika kakak Gilang sudah terlebih dahulu pergi dari rumahku sebelum menikah denganmu, hum?" tanya Darren dengan menatap remeh Valen.


Ketika Valen ingin menjawab perkataan dari Darren, tiba-tiba Gilang datang.


"Valen," panggil Gilang.

__ADS_1


Baik Valen, Darren maupun ketujuh sahabatnya Darren melihat kearah Gilang.


Valen menatap kearah Darren, lalu detik kemudian.


"Gilang," lirih Valen sembari berjalan menghampiri Gilang. Dan jangan lupa air matanya yang sudah mengalir.


"Valen, kamu kenapa?" tanya Gilang.


"Maafkan aku, Gilang! Aku tadi sudah membocorkan rencana pernikahan kita ke adik kamu. Padahalkan kita sudah sepakat buat ngasih tahu keluarga kamu."


Mendengar perkataan dari Valen. Gilang melihat kearah Darren. Dan dapat dilihat oleh Gilang bahwa adiknya itu menatap tak suka kearah dirinya.


Disini Darren tidak mengetahui tentang rencana Gilang yang akan menikahi Valen. Gilang tidak membahas masalah itu kepada Darren.


Bukan Gilang sengaja. Rencananya Gilang akan memberitahu yang sebenarnya tentang hubungannya dengan Valen kepada seluruh keluarganya. Bahkan sampai rencana Gilang ingin menikahi Valen.


Tapi karena ulah dari Valen, niat Gilang untuk memberitahu keluarganya batal. Bahkan Valen sudah membocorkannya  terlebih dahulu kepada adik laki-laki kesayangannya.


Gilang kembali menatap wajah Valen, lalu membelai lembut kepala kekasihnya itu.


"Tidak apa-apa, sayang. Kamu nggak salah. Sudah seharusnya adikku itu tahu tentang rencana pernikahan kita ini," ucap Gilang.


Darren menatap marah Gilang. Sementara ketujuh sahabatnya berusaha membuat Darren dalam keadaan tenang dengan bergantian mengusap lembut punggung dan bahunya.


Gilang berjalan menghampiri Darren dan ketujuh sahabatnya dengan Valen yang menggandeng tangan Gilang.


"Ren," ucap Gilang dengan tangannya ingin menyentuh kepalanya.


Namun Darren dengan gesit langsung melangkah mundur.


Melihat penolakan dari kesayangannya membuat hati Gilang sakit. Bukan ini yang Gilang inginkan.


"Sial," umpat Gilang.


"Ren, kakak...." perkataan Gilang terpotong.


"Kakak Gilang mau kemana? Bukannya hari ini jadwal kuliah kakak Gilang sampai sore. Dan ini masih pukul 1 siang." Darren berbicara dengan nada dingin dan tatapan amarahnya menatap Gilang dan Valen.


"Iya. Tapi kakak...." lagi-lagi perkataannya dipotong oleh adiknya.


"Demi perempuan nggak tahu diri ini, kakak Gilang rela ninggalin tiga materi kuliahnya. Padahal kakak Gilang nggak pernah seperti ini."


"Ren," lirih Gilang.


"Setelah selesai kuliah nanti. Kita akan pergi ke toko buku. Kakak Gilang udah janji sama aku."


"Kakak Gilang janji sama aku, tapi kakak Gilang perginya sama dia!" teriak Darren sembari menunjuk kearah Valen.


Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan Gilang dan Valen. Diikuti oleh ketujuh sahabatnya.


Melihat kepergian Darren membuat Valen tersenyum puas. Dirinya sangat bahagia melihat kemarahan dan kekecewaan dari Darren terhadap Gilang.

__ADS_1


"Ini baru langkah awal, Darrendra Smith! Aku akan buat kamu kehilangan kakak kesayanganmu ini. Dan aku juga akan buat kakak kesayanganmu ini tunduk padaku," batin Valen


__ADS_2