
Mendengar suara seseorang membuat gadis yang sudah membentak dan juga menghina Erica terkejut.
Gadis itu langsung melihat kearah orang tersebut. Begitu juga dengan Salsa, Raya dan Erica.
"Papa."
Erica langsung berlari menghampiri ayahnya dan memeluknya erat.
Darren datang bersama ketujuh sahabatnya dan anggota keluarga lainnya.
"Erica nggak kenapa-kenapa, sayang?" tanya Agneta yang menatap khawatir cucunya itu.
Erica tidak menjawab pertanyaan dari sang nenek. Justru Erica makin memeluk erat pinggang Darren. Dan menenggelamkan wajahnya di perut sang ayah.
"Sayang, ada apa? Katakan kepada Papa. Kamu diapakan sama perempuan sialan itu?" tanya Darren.
Namun tetap sama. Erica sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Darren, ayah angkatnya.
Dan detik kemudian...
"Hiks... Papi, Mami... Hiks," isak Erica tiba-tiba.
Mendengar isakan dan ucapan dari Erica membuat Darren dan yang lainnya terkejut.
Mereka berpikir pasti telah terjadi sesuatu yang membuat Erica kembali teringat akan kedua orang tua kandungnya.
Darren menatap kearah ibu dan bibinya. "Mama, Bibi."
"Iya, sayang." Carissa dan Agneta menjawab secara bersamaan.
"Tolong bawa Erica ke ruanganku," ucap Darren.
"Baiklah, sayang!" keduanya menjawab.
"Han, antarkan mereka ke ruanganku."
"Baiklah."
Setelah itu, Rehan membawa Agneta, Carissa dan Erica ke ruangan pribadi milik Darren yang ada di Darren Galery Of Art.
Darren menatap nyalang gadis yang ada di hadapannya itu. Begitu juga dengan yang lainnya. Serta para tamu undangan.
"Apa yang sudah kau lakukan terhadap putriku?" tanya Darren yang nada bicaranya masih terdengar lembut.
Mendengar pertanyaan dari pemuda yang berdiri di depannya membuat gadis itu tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum menyeringai.
"Oh. Jadi anak sialan itu putri anda. Saya pikir dia seorang gembel yang masuk ke tempat ini," ucap gadis itu dengan santainya.
Mendapatkan jawaban yang tak mengenakkan dari gadis di hadapannya. Seketika Darren mengepalkan kuat tangannya.
"Jawab saja pertanyaanku. Aku tidak butuh komentar apapun dari perempuan menjijikkan sepertimu," ucap Darren.
Mendengar hinaan dari pemuda itu membuat gadis tersebut marah.
"Beraninya kau menghinaku. Kau pikir, kau itu siapa?!" bentak gadis itu.
"Jawab saja pertanyaanku, sialan!" Darren tak kalah membentak gadis itu.
"Anak sialan itu telah mengotori gaunku. Kau lihat ini," ucap gadis itu sembari memperlihatkan gaunnya yang kotor akibat tumpahan minuman milik Erica.
__ADS_1
Mereka semua melihat arah tunjuk gadis itu. Dan memang benar ada kotoran di gaunnya. Tapi tidak terlalu.
"Hanya karena gaunmu kotor dan basah akibat ulah putriku. Sampai segitunya kau menghinanya. Apa tidak ada cara lain atau perkataan lembut untuk menegur seorang anak kecil seperti putriku?" ucap dan tanya Darren.
Mendengar perkataan dan pertanyaan dari pemuda itu membuat gadis tersebut tersenyum di sudut bibirnya. Baginya jika ada yang mengusiknya, baik sengaja atau tidak. Maka orang itu akan mendapatkan balasannya.
"Apa kau bilang? Aku harus berbicara baik-baik pada anak sialan itu. Jangan mimpi ya. Hei, kau! Dengar ya, gaunku ini harganya mahal. Anak sialan itu telah merusaknya sehingga membuatku terlihat seperti memakai baju bekas. Jika aku bicara baik-baik padanya, apa kau sebagai ayahnya mampu mengganti rugi gaunku ini!" bentak gadis itu menatap merendahkan kearah Darren.
Mendengar perkataan dan juga hinaan dari gadis tersebut membuat Darren tersenyum menyeringai.
"Kau meremehkanku, hum?" tantang Darren.
"Kalau iya, kau mau apa?" tantang gadis itu balik.
"Sepertinya menarik nih," batin Darren.
Tiba-tiba datang seseorang menghampiri Darren dan yang lainnya. Lebih tepatnya, orang itu menghampiri Darren.
"Bos."
Baik Darren, Brenda, ketujuh sahabatnya maupun anggota keluarganya. Termasuk anggota keluarga Brenda dan para sahabatnya melihat kearah orang itu.
"Ada apa?" tanya Darren.
Orang itu membisikkan sesuatu ke telinga Darren.
"Gadis itu berasal dari keluarga Archey. Dia putri dari tuan Manaf Gustav Archey. Lebih tepatnya, gadis itu hanya anak tiri dikeluarga Archey. Untuk tuan Manaf itu sendiri adalah salah satu rekan bisnis Bos di perusahaan Micro Sinopec."
Mendapatkan informasi dari asistennya. Seketika terukir senyuman di bibirnya.
Melihat senyuman di bibir Darren membuat orang-orang terdekatnya berpikir bahwa Darren mendapatkan kabar bahagia dari asistennya.
"Baiklah. Terima kasih."
"Sama-sama, Bos."
Darren menatap gadis itu dengan senyuman di bibirnya.
"Baiklah, nona! Dikarenakan anda telah menghina putri saya. Anda juga sudah merendahkan saya. Bahkan anda juga tidak mau diajak kerjasama. Maka dengan terpaksa, saya Darrendra Smith akan mengambil tindakan terhadap anda."
Mendengar perkataan dan juga ancaman dari pemuda di depannya. Gadis itu seketika memberikan tatapan tajamnya.
"Kau pikir aku takut, hah! Jawabannya tentu saja tidak. Aku tidak pernah takut padamu dan semua orang yang ada di dunia ini!" teriak gadis itu.
Semua orang yang ada di dalam Galeri itu menatap marah gadis itu. Mereka semua tak habis pikir dengan jalan pikirannya. Bahkan tak sedikit dari mereka menatap jijik dan mengumpati gadis tersebut.
"Baiklah kalau itu yang anda inginkan. Saya akan mengabulkannya. Tapi ingat! Anda jangan sampai menyesal," ucap Darren.
"Hahahaha. Saya tidak akan pernah menyesalinya," jawab gadis itu.
Sedangkan Darren tersenyum mendengar jawaban dari gadis di hadapannya itu.
Darren mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Setelah ponselnya berada di tangannya. Darren mencari kontak Direktur perusahaan Micro Sinopec.
Setelah mendapatkannya, Darren pun langsung meredial nomor tersebut. Darren juga tak lupa meloadspeaker panggilannya itu agar gadis tersebut bisa mendengarnya.
"Hallo, Bos!"
"Hallo, Steven. Ada yang harus kau bereskan hari ini.
__ADS_1
"Apa itu, Bos?"
"Apa kau kenal dengan pria yang bernama Manaf Gustav Archey?"
Mendengar perkataan dari pemuda di depannya, seketika gadis itu terkejut dengan mata yang melotot ketika nama ayahnya disebut.
"Kenapa dia menyebut nama Papi? Apa dia kenal dengan Papi?" batin gadis itu.
Sementara orang-orang yang ada di sekitarnya menatap kearah gadis itu. Dapat mereka simpulkan bahwa gadis itu mulai ketakutan.
"Kenal, Bos. Tuan Manaf adalah salah satu rekan kerja kita."
"Apa? Ja-jadi Papi bekerja sama dengan pemuda itu," batin gadis itu.
"Kira-kira, apa yang akan terjadi jika pemilik perusahaan Micro Sinopec membatalkan kerjasama dengan perusahaan tuan Manaf Gustav Archey?"
"Yang pastinya perusahaan milik tuan Manaf Gustav Archey akan langsung mengalami kerugian besar, Bos! Secara, semua orang tahu bahkan seluruh dunia juga tahu bagaimana pengaruh dari perusahaan Micro Sinopec jika pemilik perusahaan tersebut membatalkan kerjasamanya dengan salah satu perusahaan."
Mendengar jawaban dari Steven membuat Darren tersenyum lebar dengan matanya menatap gadis itu.
Sedangkan untuk para tamu undangan yang sebagian ada yang menjalin kerjasama dengan perusahaan Micro Sinopec seketika merinding. Di dalam hati mereka masing-masing berjanji tidak akan mencari masalah dengan si pemilik perusahaan tersebut.
"Eeemm! Sepertinya menarik. Baiklah! Sekarang dengarkan aku Steven. Aku mau hari ini juga kau batalkan semua perjanjian kerjasama perusahaan Micro Sinopec dengan perusahaan milik tuan Manaf Gustav Archey."
"Baik, Bos. Saya akan langsung laksanakan."
"Terima kasih, Steven!"
"Sama-sama, Bos."
"Berapa lama untuk kau membatalkan kerjasama itu?"
"Hanya butuh waktu dua jam, Bos!"
"Baiklah. Aku tunggu kabar pembatalan kerjasama ini di internet."
"Baik, Bos."
Setelah selesai berbicara dengan Direktur perusahaan miliknya. Darren langsung mematikan panggilan tersebut.
Para tamu undangan semuanya menatap Darren. Mereka semuanya bingung kenapa Darren bisa bertindak seperti itu. Siapa Darren sebenarnya? Apa hubungan Darren dengan perusahaan Micro Sinopec?
Itulah yang saat ini mereka pikirkan tentang Darren.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau menghubungi Direktur perusahaan Micro Sinopec dan memintanya untuk membatalkan kerjasama dengan perusahaan ayahku?!" teriak gadis itu.
"Hei, nona! Sudah seperti ini. Anda masih saja bersikap kasar dan kurang ajar!" teriak Dylan.
"Seharusnya anda itu merubah sikap anda ketika anda mengetahui tentang kerjasama antara perusahaan ayah anda dengan perusahaan Micro Sinopec. Ini malah makin menjadi-jadi," ucap Jerry.
"Diam kau!" bentak gadis itu.
Mereka semua hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan dari gadis itu.
"Udahlah, Ren! Lo kasih tahu aja siapa lo yang sebenarnya sama gadis yang tidak tahu diri ini," sahut Axel.
"Tidak perlu, Xel! Biarkan dia tahu sendiri. Nanti ketika dia tahu. Gue yakin dia bakal beribu kali menyesal," ucap Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka mengangguk setuju.
__ADS_1
"Ya, sudah. Dikarenakan acaranya sudah selesai. Lebih baik kalian pulang dan istirahat," sahut Darren.
"Baiklah," jawab mereka bersamaan.