KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Rendra!


__ADS_3

Gilang, Darka, Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya, para anggota Organisasi lainnya serta para kakak tertua dari Smith bersaudara dan kakak-kakak tertua dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren sudah berada di rumah masing-masing. Mereka pulang dalam keadaan selamat.


Sesuai yang disarankan oleh lima ketua mafia, sampai di kota Hamburg langsung memeriksa kondisi masing-masing ke rumah sakit. Dan mereka semua pun langsung melakukan hal tersebut. Alasan mereka melakukan itu untuk membuat anggota keluarganya tidak khawatir.


Di kediaman masing-masing. Di waktu yang sama, Brenda dam ketujuh sahabat-sahabatnya saat ini tengah berkumpul di ruang tengah bersama dengan anggota keluarganya. Baik anggota keluarga dari pihak ibunya maupun anggota keluarga dari pihak Ayahnya.


Untuk Brenda, anggota keluarga dari pihak Ayahnya yang berada di Australia memutuskan pulang mengunjungi dirinya, ibunya, kakak-kakaknya dan adik perempuannya di Jerman. Anggota keluarga ayahnya itu datang ke Jerman karena mendapatkan kabar Barra mengenai hilangnya adik perempuannya yaitu Brenda.


Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya menceritakan awal mula kejadian yang menimpa mereka ketika sedang melakukan tugas mulianya di kota Munich.


Brenda, Alice, Elsa, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania menceritakan semua yang mereka alami selama di kota Munich tanpa mengurangi dan menambahkan hingga berakhir Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan dan Nandito menghilang.


Para anggota keluarganya yang mendengar cerita demi cerita dari anaknya/keponakannya/adik perempuannya/kakak perempuannya/cucunya meneteskan air matanya. Mereka semua menangis. Bahkan beberapa dari anggota keluarga mencurigai jika ada beberapa orang yang sengaja melakukan hal keji itu sehingga acara mulia itu gagal.


Tak jauh beda dengan Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Mehdy dan Monica saat ini tengah berkumpul di ruang tengah bersama keluarga Mensez. Keduanya juga menceritakan apa yang mereka kerjakan, apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka alami selama di kota Munich.


Mehdy dan Monica menceritakan secara rinci setiap kegiatan dan musibah yang mereka lakukan dan mereka alami sampai kejadian hilangnya Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan.


Sama seperti anggota keluarga Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya, anggota keluarga Mendez juga menangis ketika mendengar cerita dari Mehdy dan Monica. Mereka berharap Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan sepupunya Nandito berhasil ditemukan dan dalam keadaan baik-baik saja.


***


Di kediaman keluarga Smith dimana semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Disana juga ada Brian, Delia dan kedua putrinya yaitu Risya dan Mishel.


Sementara Gilang dan Darka berada di dalam kamarnya masing-masing. Mereka tidak berniat untuk bergabung bersama dengan anggota keluarganya. Di pikiran mereka saat ini adalah Darren dan juga Nandito. Dua adiknya itu belum tahu dimana keberadaannya. Bahkan tidak tahu bagaimana keadaannya.


"Apa Gilang dan Darka sudah sarapan, kak Agneta?" tanya Delia kepada kakak iparnya itu.


"Kakak juga tidak tahu Delia. Dzaky dan Adnan mengantarkan sarapan ke kamar Gilang dan Darka. Kita tidak tahu apakah mereka menyentuh sarapan itu," sahut Agneta.


"Dzaky, Adnan!" panggil Brian.


"Ketik aku di kamar Darka. Darka sama sekali tidak memberikan reaksi apapun, Paman! Justru Darka memintaku untuk meninggalkan dia sendiri," jawab Adnan.


"Begitu juga dengan Gilang," sela Dzaky.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Dzaky dan Adnan membuat Brian menghela nafas pasrahnya.


"Disini bukan kalian saja yang bersedih. Aku juga sama seperti kalian. Diluar sana putra bungsuku dan keponakanku dari kakak perempuan kesayanganku kakak Belva sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka berdua. Seharusnya yang kita lakukan sekarang ini adalah banyak berdoa karena dia itu yang dibutuhkan oleh Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan. Begitu juga untuk orang-orang yang saat ini tengah berjuang mencari keberadaan Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan. Bukan isak tangis kalian."


"Apa dengan kalian menangis, melamun dan menyendiri bahkan mengurung diri di dalam kamar, masalah akan selesai dengan sendirinya?! Jawabannya tidak!"


Brian berucap dengan penuh penekanan disetiap kata disertai tatapan matanya menatap anggota keluarganya terutama Erland, Agneta dan empat keponakannya.


Setelah mengatakan itu, Brian berdiri dari duduknya. Kemudian Brian melangkah menuju kamar kedua keponakannya yaitu Gilang dan Darka.


Sementara Erland, Agneta serta yang lainnya hanya diam. Namun di hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Brian. Yang dibutuhkan oleh Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan adalah doa, bukan isak tangis.


***


Ziggy, Chico, Enzo, Noe dan Devian bersama dengan tiga tangan kanannya dan anggotanya menyusuri lokasi dimana Darren, Nandito, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan masuki. Beberapa warga termasuk kepala desa juga ikut dalam pencarian tersebut. Mereka berada di lokasi yang berbeda.


Jika Chico, Enzo dan Devian bersama tangan kanannya, anggotanya dan beberapa warga desa mencari di lokasi bagian timur. Sedangkan Ziggy, Noe, tangan kanannya, anggotanya dan beberapa warga desa menuju lokasi barat.


Mereka sudah masuk sangat jauh ke dalam lokasi tersebut dengan cara berpencar, hanya beberapa meter saja jarak mereka.


^^^


"Aarrgghh! Brengsek!" teriak salah satunya.


"Wil, tenanglah!" tegur Rehan.


"Bagaimana bisa aku tenang, Han! Kamu lihat kondisi Nandito sekarang. Dia harus segera mendapatkan pertolongan. Kalau terjadi sesuatu terhadap Nandito, bagaimana?" ucap dan tanya Willy yang menatap khawatir Nandito.


"A-aku... aku baik-baik saja, Willy! Kamu tidak perlu khawatir," jawab Nandito dan suara pelan.


Saat ini Dylan sedang berusaha untuk menghentikan darah yang terus keluar dari kepala Nandito akibat pukulan keras dari seseorang.


Pemuda-pemuda yang berjam-jam terjebak di lokasi dibagian timur adalah Nandito, Willy, Rehan dan Jerry.


^^^

__ADS_1


Bugh.. Bugh..


Duagh..


"Aakkhh!" teriak dua pemuda desa yang mendapatkan pukulan dan tendangan keras dari dua pemuda kota. Salah satu pemuda kota tersebut terluka di bagian kepalanya.


Dua pemuda desa itu tersungkur di tanah dalam keadaan tak baik-baik saja. Bahkan kedua pemuda desa itu berulang kali memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Bugh.. Bugh..


Bugh.. Bugh..


"Aakkhh!" teriak kesakitan pemuda desa itu akibat injakan demi injakan yang dia dapatkan.


Pemuda kota yang terluka di bagian kepala tersebut memberik injakan demi injakan di perut salah satu pemuda desa itu.


"Siapa yang nyuruh lo, hah?! Dan dimana Nandito?!" teriak pemuda kota itu.


Bugh.. Bugh.. Bugh..


Bugh.. Bugh..


"Aakkhh!" teriak pemuda desa itu kesakitan.


Grep..


"Ren, sudah!" Axel seketika memeluk tubuh Darren dari belakang. Dia tidak ingin Darren sampai kelepasan sehingga membuat pemuda itu tewas.


"Lepaskan aku!" Darren seketika memberontak sehingga pelukan Axel terlepas dan mengakibatkan tubuh Axel terhuyung ke belakang.


"Menjauhlah kalian. Jangan campuri urusanku!"


Deg..


Axel, Qenan, Darel dan Dylan seketika terkejut. Apalagi ketika mendengar suara tersebut.

__ADS_1


"Rendra!"


__ADS_2