
[Di Ruang Rapat]
Darren, ketujuh sahabatnya saat ini berada di ruang rapat. Begitu juga dengan Darka dan Gilang. Mereka sedang menunggu anggota lain yang belum bergabung.
CKLEK!
Terdengar suara pintu dibuka. Dan masuklah beberapa orang ke dalam ruang rapat tersebut.
Kini mereka semua telah berkumpul di ruang rapat. Setelah dipastikan semuanya hadir. Darren sebagai ketua pun memulainya.
"Kalian pasti sudah tahu alasanku mengumpulkan kalian disini!" seru Darren.
"Ya," semua yang ada di dalam ruangan itu menjawab sembari menganggukkan kepalanya.
"Begini. Apa diantara kalian ada menyimpan salinan atau mengingat data-data dan jadwal kegiatan kita untuk dua minggu ini?" tanya Darren dengan menatap satu persatu wajah anggota organisasinya.
Mendengar pertanyaan dari Darren. Mereka kemudian membuka catatan mereka masing-masing untuk melihat apakah ada hal-hal penting yang mereka catat ketika rapat tiga hari yang lalu.
"Ach, Ren!" seorang anggota wanita mengangkat tangannya keatas.
Darren, Gilang, Darka dan ketujuh sahabatnya langsung melihat kearah anggota wanita itu.
"Kebetulan saat rapat tiga hari yang lalu ketika kamu masih koma. Dan yang menggantikan kamu adalah kakak kamu, Darka. Kakak ada mencatat poin-poin pentingnya," ucap anggota wanita yang tak lain adalah timnya Darka dan Gilang.
"Apa boleh aku melihatnya, kak Selena?" tanya Darren.
Nama anggota wanita itu adalah Selena. Selena anggota timnya Gilang dan Darka sekaligus temannya Gilang dan Darka.
"Ach. Tentu. Ini." anggota Selena memberikan buku catatannya kepada Darren.
Darel yang kebetulan duduk dekat dengan Selena mengambil buku catatan itu dan memberikannya kepada Darren.
Darren mengambil buku catatan milik Selena dari tangan Darel. Setelah itu, Darren membuka satu persatu halaman buku itu.
Darren melihat dan membaca secara teliti setiap tulisan yang ada di buku catatan wanita itu.
Dan detik kemudian...
Darren tersenyum ketika melihat dan membaca setiap detail catatan Selena, kakak kelasnya yang begitu rapi.
"Sempurna. Semua yang kita butuhkan ada disini," sahut Darren.
Mendengar perkataan dari Darren. Gilang dan Darka langsung bersuara.
"Ren, coba kak Darka lihat!"
Darren tersenyum melihat kearah kedua kakaknya. "Ini."
Darka menerima buku itu. Dan Darka langsung melihat isinya. Begitu juga dengan Gilang.
Sama seperti Darren. Darka dan Gilang seketika tersenyum. Dan akhirnya mereka berdua bisa bernafas lega.
"Ini isinya sesuai dengan rapat tiga hari yang lalu," sahut Darka.
Darka melihat kearah Selena. "Kerja kamu benar-benar bagus, Selena! Terima kasih ya. Kamu penyelamatku," ucap Darka sembari memuji.
__ADS_1
"Kamu terlalu memuji, Darka. Aku memang seperti itu setiap ada kerja kelompok atau diskusi," jawab Selena merendah.
"Bagaimana dengan kalian? Apa kalian ada salinan yang lainnya?" tanya Darren.
"Darren, untuk masalah kegiatan kita untuk minggu ini. Kamu dan yang lainnya nggak usah khawatir, termasuk untuk Gilang, Darka. Kami sudah menyimpan salinannya," ucap Lala dari tim Darka dan Gilang.
"Kita sama sekali nggak kehilangan data-data itu kok," ujar Andy tim Darka dan Gilang lainnya.
Mereka semua berucap syukur dikarenakan semua data-data kegiatan kampus mereka tersimpan dengan rapi oleh anggota tim dari Darka dan Gilang.
Darren melihat kearah kedua kakaknya. "Bagaimana kak Gilang, kak Darka? Sudah tenangkan sekarang?"
"Iya, Ren! Kakak sudah tenang sekarang," jawab Darka.
"Kakak juga, Ren!" sela Gilang.
"Itu gunanya tim! Kak Darka dan kak Gilang nggak kerja sendirian. Ada mereka di belakang kakak yang sudah mempersiapkan semuanya jika sewaktu-waktu ada masalah. Seperti sekarang ini dimana kak Gilang dan kak Darka harus merelakan semua tugas-tugasnya dirobeki oleh Rico dan kelompoknya." Darren berbicara dengan menatap wajah kedua kakak laki-lakinya itu.
Darren berbicara seperti itu kepada kedua kakaknya itu karena Darren tahu bahwa kedua kakaknya itu terlihat sedih dan terpukul. Kedua kakaknya itu melakukan semua itu demi dirinya agar dirinya tak lelah memikul tanggung jawab sebagai ketua. Kedua kakaknya itu betapa beratnya tugasnya sebagai ketua. Jadi kedua kakaknya itu ingin meringankan pekerjaannya.
"Iya, Ren. Kakak ngerti. Maafkan kami yang melupakan hal itu," ucap Darka dan Gilang bersamaan.
"Ya, udah. Kak Gilang dan kak Darka jangan sedih lagi ya," ucap Darren.
Darren menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya.
"Oh iya. Rencananya aku akan menambah anggota dalam kelompok kita ini. Dan aku juga berencana membagi dari satu kelompok menjadi lima kelompok. Tujuannya agar tugas-tugas kita tidak terlalu berat," usul Darren.
Mendengar usulan dari Darren. Semua anggota yang hadir langsung menyetujui usulan dari Darren. Dengan membagi kelompok. Mereka akan fokus pada tugas masing-masing.
"Kami juga setuju!" seru Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel bersamaan.
"Kita berdua juga setuju," jawab Gilang dan Darka.
"Baiklah. Tiga hari lagi kita akan adakan rapat lagi untuk membagi kelompok dan juga perkenalan anggota baru," sahut Darren.
"Baiklah," jawab mereka semua.
Setelah itu, Darren pun menutup rapatnya.
***
[Kediaman Wilson]
Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa saat ini berada di rumah Brenda. Sesuai mereka kepada Brenda bahwa pulang dari Kampus nanti. Baik Alice, Elsa, Lenny maupun Milly, Vania, Tania, Felisa akan berkunjung ke rumah Brenda.
Saat ini Brenda dan ketujuh sahabatnya berada di ruang tengah. Dan ditemani banyak makanan dan minuman di atas meja.
"Sekarang ceritakan ke gue. Apa yang terjadi setelah lulus SMA?" tanya Brenda.
"Ceritanya panjang," sahut Alice sambil memasukkan potongan nugget ke mulutnya.
"Kalau kita ceritakan akan memakan waktu tujuh hari tujuh malam," sela Elsa yang juga memasukkan kripik kentang ke dalam mulutnya.
Baik Alice maupun Elsa sama-sama memegang makanan yang dimakannya. Alice memegang piring yang berisi nugget. Sementara Elsa memegang toples yang berisi kripik kentang.
__ADS_1
Sedangkan Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa juga tak kalah dengan makanan dan minuman masing-masing. Mereka mengabaikan Brenda yang sedari mengoceh tak jelas.
Melihat kelakuan ketujuh sahabatnya membuat Brenda mendengus kesal.
"Jika kalian tidak mau cerita. Oke, tak masalah! Anggap aja hari ini adalah hari terakhir kita menjadi sahabat," ucap Brenda
Setelah mengatakan itu, Brenda mengambil remot tv yang tergeletak di atas meja, lalu menghidupkan tv itu. Jika ketujuh sahabatnya sibuk dengan urusan masing-masing. Maka Brenda juga akan sibuk dengan acaranya menonton tv.
Mendengar perkataan yang mengandung ancaman dari Brenda. Seketika Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa menghentikan acara makannya.
Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa secara bersamaan mengalihkan perhatiannya menatap wajah Brenda yang saat ini tengah menatap ke layar tv.
"Brenda," panggil Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa.
Namun Brenda pura-pura tidak mendengar panggilan dari ketujuh sahabatnya itu. Brenda sengaja menulikan pendengarannya.
"Brenda Wilson," panggil Lenny.
Masih sama. Brenda masih berpura-pura tidak mendengar panggilan dari Lenny.
Ketika Milly dan Vania ingin membuka mulutnya bermaksud ingin mengumpati Brenda. Namun Brenda sudah terlebih dahulu bersuara.
"Ceritakan apa yang terjadi setelah lulus SMA?" tanya Brenda dengan tatapan matanya masih menatap layar tv.
Mendengar pertanyaan dari Brenda membuat Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa akhirnya pun menurut dan menceritakan kejadian setelah lulus SMA.
"Kita persingkat saja ya?" tanya Felisa.
"Terserah. Mau disingkat. Mau diperpanjang. Pokoknya hari ini ceritakan padaku apa yang terjadi setelah lulus SMA," jawab Brenda.
"Intinya kita semua sedih ketika lo mutusin kuliah di Australia," ucap Lenny.
"Bahkan kita semua juga kecewa sama lo. Lo pernah bilang ke kita bahwa kita akan selalu bersama-sama. Bahkan lo juga bilang kalau kita bakal kuliah di kampus yang sama. Tapi nyatanya lo ingkar janji," sahut Alice.
"Awalnya kita kecewa ama lo karena lo ingkar janji. Tapi setelah kami mengetahui alasan lo mutusin kuliah di Australia. Rasa kecewa kami hilang dan berganti dengan kesedihan berlipat-lipat," ucap Elsa.
"Kami mengetahui bahwa lo selama ini mendam perasaan lo terhadap Darren. Perasaan lo tuh muncul ketika duduk di bangku SMP," kata Tania.
"Cinta lo ke Darren makin kuat ketika kita di SMA. Ditambah lagi hubungan persahabatan lo dengan Darren. Begitu juga dengan kita. Kita juga dekat dengan ketujuh sahabatnya Darren, walau kita selalu perang mulut dengan mereka," ucap Milly.
"Setelah kepergian lo ke Australia. Aku, Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania dan Felisa memutuskan untuk kuliah di negara orang. Kita nggak sanggup kuliah di Hamburg tanpa lo. Kita bakal kangen berat sama lo," ucap Vania.
"Kita dari kecil selalu bersama-sama. Dan tidak pernah berpisah. Dan ini adalah perpisahan pertama kita. Banyak kenangannya disini," ucap Felisa.
Mendengar cerita dari ketujuh sahabatnya membuat hati Brenda sakit. Brenda seketika menangis.
Brenda mengalihkan perhatiannya menatap satu persatu wajah sahabatnya. Dapat Brenda lihat, ketujuh sahabatnya itu tengah menangis.
"Ma-maaf," ucap lirih Brenda lirih.
Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa melihat kearah Brenda. Setelah itu, mereka semua tersenyum.
"Tak apa. Itulah yang namanya persahabatan sejati. Seorang sahabat rela melakukan apa saja demi sahabatnya," ucap Alice.
"Hm." Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa menjawab dengan deheman disertai dengan anggukan kepala.
__ADS_1