KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

"Eh, ini gue dapat telepon dari kakak Noe!" seru Rehan.


"Lah. Gue juga. Kakak Chico nelpon gue," ucap Axel.


Mendengar seruan dari Rehan dan Axel. Darren, Qenan, Willy, Jerry, Dylan dan Darel secara bersamaan langsung mengecek ponsel masing-masing.


Ketika Darren, Qenan, Willy, Jerry, Dylan dan Darel telah membuka membuka ponselnya. Sama seperti Rehan dan Axel. Mereka juga terkejut ketika melihat panggilan tak terjawab dari salah satu kakak mafianya.


"Ada apa ya?" tanya Qenan.


"Kenapa kakak-kakak mafia kita menghubungi kita?" tanya Willy.


"Aku akan menghubungi kakak Devian," sahut Darren.


Setelah itu, Darren pun langsung menekan nomor Devian.


Beberapa detik kemudian..


"Hallo, Darren."


"Hallo, kakak Devian. Beberapa jam yang lalu kakak Devian menghubungiku. Maaf, kakak. Saat kakak Devian menghubungiku, aku masih ada kelas. Ada apa kakak Devian menghubungiku?"


"Kakak menghubungi kamu ingin memberitahu sesuatu padamu."


"Apa itu kakak Devian?"


"Kakak dan kakak-kakak kamu yang lain sudah mengetahui siapa saja musuh-musuh kamu dan ketujuh sahabat kamu."


Mendengar jawaban dari Devian. Seketika terukir senyuman di bibir Darren.


Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan yang melihat senyuman di bibir Darren mengartikan bahwa salah satu kakak mafianya itu memberikan kabar gembira kepada Darren.


"Benarkah itu kakak Devian?"


"Iya, Ren. Apa kau ingin tahu siapa saja mereka?"


"Iya, kakak. Katakan padaku. Siapa saja mereka?"


"orang-orang yang menyerang kamu ketika bersama Brenda. Dan juga yang menyerang kedua kakak laki-laki kamu Dzaky dan Adnan adalah kelompok BLACK COBRA."


"Dalang yang memberikan perintah kepada kelompok mafia BLACK COBRA adalah Brendan Armando dan Bruno Emmerick."


Mendengar penuturan dari Devian tentang nama kelompok yang sudah menyerangnya ketika bersama Brenda dan juga yang sudah menyerang kedua kakak-kakak laki-laki seketika wajahnya berubah menjadi marah. Apalagi Darren mengingat permintaan kelompok itu ketika menyerang dirinya.


"Menjijikkan," gumam Darren.


Gumamannya itu terdengar oleh Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan. Begitu juga dengan Devian di seberang telepon.


"Yang menyerang keluarga Mondella sehingga menewaskan semua penghuni termasuk kedua orang tua Erica adalah dari kelompok BLOODY LION."


"Yang menjadi dalang pembunuhan kedua orang tua Erica adalah Pamannya sendiri, Nicko Dilbara. Tapi itu masih dalan penyelidikan karena anggota dari Chico masih belum mendapatkan bukti kuat jika pria itu menjadi dalangnya. Tapi kecurigaan memang mengarah kesana."


Darren benar-benar tampak marah saat ini. Saat ini hatinya sangat tak baik.


"Bagaimana keadaan Erica, Ren?"


"Keadaannya baik-baik saja, kakak Devian. Erica masih di Amerika bersama Paman Evan, Bibi Carissa, kakak Daffa, kakak Tristan dan kakak Davian."


"Untuk dalang tentang orang yang sudah menghasut ketua geng motor Vagos adalah Nirvan Sheehan. Sementara orang yang selama ini menemui ketua geng motor Vagos adalah tangan kanannya."


"Dan untuk kelompok yang menyerang Rehan. Kau sudah tahukan?"


"Sudah, kakak Devian. Aku sudah tahu. Mereka dari kelompok geng motor Eagle."


"Baguslah kalau begitu."


"Ren."


"Iya, kak."


"Dengarkan kakak. Untuk masalah musuh-musuh kamu dan juga musuh-musuh dari Dzaky dan Adnan. Itu semua biar menjadi urusan kami. Kami yang akan menyelesaikan semuanya. Kamu dan ketujuh sahabat kamu itu cukup fokus kepada Nirvan Sheehan dan geng motornya.


"Kakak dan kakak-kakak kamu yang lainnya tahu kalau kamu dan ketujuh sahabat kamu itu tengah merencanakan sesuatu untuk kelompok itu. Bahkan kakak juga tahu geng motor Bruiser dan geng motor Vagos bekerja sama untuk menjebak geng motor Eagle."


"Baiklah, kakak Devian. Tapi ada satu permintaanku."


"Apa itu? Katakanlah!"


"Biarkan aku ikut dalam membalaskan kematian kedua orang tua Erica. Bagaimana pun tuan Fransisko telah menyelamatkanku ketika aku kecelakaan. Dan mereka berdua telah merawatku saat itu."

__ADS_1


"Baiklah, jika itu keputusanmu. Tapi ingat satu hal. Kau tidak boleh terluka. Mengerti!"


"Aku mengerti."


"Baiklah. Kalau begitu kakak tutup teleponnya."


"Baiklah."


Setelah itu, baik Devian maupun Darren sama-sama mematikan panggilannya.


Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan langsung menatap Darren ingin meminta penjelasan dari obrolan tersebut.


Darren menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya yang kini tengah menatapnya.


"Apa?"


"Apa saja yang dibicarakan oleh kakak Devian sama kamu?" tanya Darel.


"Kepo," jawab Darren dan langsung memasukkan sepotong kentang goreng ke dalam mulutnya.


Darren dan ketujuh sahabatnya yaitu Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan saat ini berada di kantin. Mereka tengah mengisi perut masing-masing setelah dua jam setengah berperang dengan materi di kelas.


"Sialan lo," umpat Darel.


"Kelinci kurap," ejek Rehan.


"Jelmaan siluman kelinci oncom, lo!" ejek Jerry.


"Manusia paling... Paling... Paling Gila," ejek Dylan.


"Manusia yang nggak ada akhlak," ejek Axel.


"Manusia kampret," umpat Qenan.


"Dan manusia tak memiliki hati," ejek Willy.


Mendengar ejekan dan umpatan dari ketujuh sahabatnya membuat Darren hanya acuh sembari terus menikmati kentang gorengnya.


Sementara Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan melihat kelakuan Darren hanya bisa mendengus kesal.


Setelah itu, mereka pun kembali menikmati makanan yang ada di atas meja.


***


Kelima mafia yang dikenal kejam dan tanpa ampun kini tengah berkumpul di markas milik Ziggy Chaim yaitu markas The Crips.


Untuk kelompok mafia yang dipimpin oleh Noe akan menyerang markas kelompok mafia BLACK COBRA.


Kelompok mafia yang dipimpin oleh Chico akan menyerang BLOODY LION.


Kelompok mafia yang dipimpin oleh Devian akan menyerang kediaman Brendan Armando.


Sementara untuk kelompok mafia yang dipimpin oleh Enzo akan menyerang kediaman Bruno Emmerick.


Setelah semua dipersiapkan, keempat ketua mafia pun langsung pergi meninggalkan markas The Crips untuk menuju lokasi masing-masing.


Baik Noe dan Enzo maupun Chico dan Devian. Mereka sama-sama tidak sabar untuk menghabisi musuh-musuh kedelapan adik laki-lakinya.


Mereka bertekad akan menghabisi semuanya tanpa ada kata ampun yang akan mereka berikan.


Jika bukan mereka yang mati. Bisa saja kedelapan adik laki-lakinya dan juga keluarganya yang mati akan sifat iri mereka.


Setelah kepergian keempat sahabatnya, Ziggy pun memutuskan untuk menyusun rencana untuk membalas kematian kedua orang tua Erica.


Ziggy tidak ingin gegabah untuk langsung menyerang kediaman Nicko Dilbara. Ziggy harus bermain cantik sehingga musuhnya tak lepas dari genggamannya.


"Nicko Dilbara. Tunggu pembalasan atas perbuatanmu," batin Ziggy.


***


Brenda dan ketujuh sahabatnya saat ini berada di kelas. Setelah selesai dengan materi kuliah ketiga, mereka memutuskan untuk bersantai sejenak sembari bermain ponsel.


Baik Brenda maupun ketujuh sahabatnya sesekali tertawa ketika asyik melihat, menonton dan membaca apa yang ada di ponsel mereka. Kadang-kadang Alice, Elsa dan Milly tanpa sadar berteriak kesal. Bahkan mengumpat sehingga membuat teman-teman sekelasnya terkejut.


"Elsa, Alice, Milly. Bisa tidak dipelankan suaranya. Kita nggak konsen nih," sahut salah satu teman sekelasnya.


Mendengar sahutan dari salah satu teman sekelasnya membuat Elsa, Alice dan Milly langsung mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel untuk melihat temannya itu.


Detik kemudian...

__ADS_1


Baik Elsa maupun Alice dan Milly hanya memperlihatkan cengiran khas mereka.


Setelah itu, ketiganya kembali menatap layar ponselnya masing-masing.


Sementara teman sekelasnya yang menegurnya barusan hanya bisa menghela nafas pasrahnya.


Namun beberapa detik kemudian, tiba-tiba Pamela, Janet dan Lori datang dengan wajah marahnya.


Setibanya mereka di kelas Brenda dan ketujuh sahabatnya. Pamela, Janet dan Lori menghampiri meja Milly, Felisa dan Vania.


Kini Pamela, Janet dan Lori sudah berdiri masing-masing di hadapan Milly, Felisa dan Vania. Mereka menatap tajam ketiganya.


Sementara Milly, Felisa dan Vania masih asyik dengan apa yang mereka lihat di ponselnya.


Melihat Felisa, Milly dan Vania yang asyik dengan dunia masing-masing membuat Pamela, Janet dan Lori semakin menatap marah ketiganya.


Dan detik kemudian..


Pamela, Janet dan Lori dengan kasar merampas ponsel milik Milly, Felisa dan Vania.


Setelah itu, ketiganya langsung membanting kuat ponsel tersebut ke lantai sehingga membuat ponsel-ponsel itu hancur seketika.


Milly, Felisa dan Vania langsung berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan Brenda, Alice, Elsa, Tania dan Lenny.


Milly, Felisa dan Vania menatap kearah ponsel kesayangannya yang telah hancur dengan tatapan penuh amarah.


Brenda mendorong keras tubuh Janet. Begitu juga Alice dan Tania. Keduanya mendorong tubuh Pamela dan Lori.


"Apa-apaan kalian, hah?!" bentak Brenda yang tak terima atas apa yang diperbuat oleh Pamela, Janet dan Lori.


"Jangan ikut campur lo. Ini urusan kami dengan tiga perempuan murahan itu!" bentak Janet.


"Bagaimana kami tidak ikut campur. Mereka itu sahabat kami!" bentak Lenny.


"Kami tidak akan membiarkan siapa pun mengusik salah satu dari kami!" bentak Tania.


"Sekali pun kami semua," sela Elsa.


"Banyak omong kalian. Minggir!" bentak Lori dengan mendorong kuat tubuh Alice.


Melihat Lori yang mendorong tubuh Alice membuat Vania langsung menatap tajam kearah Lori.


"Mau apa lo!" bentak Vania.


Mendengar pertanyaan dari Vania. Seketika terukir senyuman di bibir Lori. Lebih tepatnya senyuman menyeringai.


"Mau gue, lo pergi menjauh dari kehidupan Dylan." Lori berbicara dengan menatap sinis Vania.


Vania tersenyum tak kalah menyeringai menatap wajah somboh dan percaya dirinya seorang Lori.


"Lo pikir gue bakal patuh gitu aja akan perintah lo. Jawabannya tentu saja tidak. Memangnya lo siapanya Dylan? Kekasih bukan, sahabat bukan. Bahkan keluarga juga bukan."


Mendengar perkataan dari Vania membuat Lori mengepalkan kuat tangannya.


Detik kemudian..


Lori mengangkat tangan kanannya hendak menampar wajah Vania. Namun bukan Vania namanya jika dia akan diam saja wajah ditampar.


Dengan gerakan gesit, Vania memberikan pukulan telak tepat di tengah-tengah dadanya Lori sehingga membuat Lori merasakan sesak dan terbatuk.


"Uhuuk."


Tak jauh beda dengan Vania. Felisa dan Milly juga melakukan hal yang sama terhadap Pamela dan Janet. Pamela dan Janet hendak memukul Milly dan Felisa.


Ketika Pamela dan Janet hendak memukul Felisa dan Milly. Keduanya dengan gerakan cepat membungkukkan tubuhnya dan kemudian mendorong kuat tubuh Pamela dan Janet sehingga punggung keduanya menghantam kuat meja yang ada di belakang keduanya.


Baik Pamela maupun Janet dan Lori saat ini dalam keadaan kesakitan.


Brenda, ketujuh sahabatnya beserta teman-teman sekelasnya menatap remeh kearah Pamela, Lori dan Janet.


"Kalian salah mencari masalah dengan kami," ucap Vania.


"Kami bukanlah mahasiswi yang gampang ditindas," ucap Felisa.


"Dan kami akan berubah menjadi iblis jika ada yang berani mencari masalah dengan kami," ucap Milly.


Setelah mengatakan itu. Milly, Felisa, Vania dan sahabatnya yang lain pergi meninggalkan kelas.


Namun baru beberapa langkah, Milly menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan sahabatnya.

__ADS_1


"Gue kasih lo waktu sampai besok buat kalian bertiga mengganti ponsel kami. Jika besok kalian tidak mengganti ponsel kami. Maka kami akan berurusan dengan keluarga kalian. Kami akan meminta pertanggung jawaban dari keluarga kalian masing-masing."


Setelah itu, mereka pun benar-benar pergi meninggalkan kelas.


__ADS_2