KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kekhawatiran Darren Terhadap Brenda


__ADS_3

Darren, ketujuh sahabatnya serta anak-anak Bruiser saat ini berada di rumah sakit. Mereka tengah menunggu di depan pintu ruang rawat darurat. Semua tampak khawatir akan keadaan Brenda yang masih berada di ruang unit gawat darurat, terutama Darren.


Darren sedari tadi mondar-mandir di depan pintu ruang unit gawat darurat. Dirinya benar-benar khawatir dan takut terhadap Brenda.


"Semoga kau tidak kenapa-kenapa, sayang!" batin Darren.


Axel dan Jerry yang sedari memperhatikan Darren yang mondar-mandir di depan ruang unit gawat darurat menjadi tidak tega.


"Ren, duduklah. Percayalah! Brenda pasti baik-baik saja," ucap Axel.


Mendengar perkataan dari Axel, mereka semua melihat kearah Darren. Dapat mereka lihat tersirat kekhawatiran di tatapan mata Darren.


Cklek!


Pintu ruang unit gawat darurat dibuka. Dan setelah itu, keluarlah seorang Dokter dari dalam sana.


"Bagaimana keadaannya, Dokter? " tanya Darren.


"Apa anda keluarga pasien?" tanya sang Dokter.


"Iya. Saya adalah kekasih pasien," jawab Darren.


"Keadaan pasien saat ini tidak apa-apa.  Pasien hanya syok saja. Tapi kondisi perutnya yang sedikit mungkin mengkhawatirkan. Sebelumnya pasien juga memiliki sakit lambung. Jadi saya sarankan untuk menjaga pola makannya. Serta jangan terlalu sering makan makanan yang pedas agar lambungnya tidak kumat. Selebihnya pasien dalam keadaan baik-baik saja." Dokter itu berbicara sembari menjelaskan kondisi pasiennya.


Mendengar penjelasan dari Dokter yang menangani Brenda membuat Darren terkejut. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya dan anak-anak Bruiser.


Selama ini mereka berpikir bahwa Brenda tidak seperti orang sakit. Bahkan Brenda selama ini terlihat baik-baik saja.


"Terima kasih, Dokter!" Darren berucap lembut kepada Dokter yang menangani Brenda.


"Sama-sama."


Dokter itu pun pergi meninggalkan Darren dan yang lainnya untuk menuju ruang kerjanya.


Setelah kepergian dokter tersebut, Darren dan ketujuh sahabatnya segera masuk ke dalam ruang rawat Brenda. Sementara untuk anak-anak Bruiser pergi meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke markas.


^^^


Kini Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berada di ruang rawat Brenda. Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya menatap khawatir Brenda.


"Kenapa kamu nggak cerita jika punya penyakit lambung?" tanya Darren dalam hatinya dengan tatapan matanya menatap khawatir Brenda.


Darren membelai lembut kepala Brenda sehingga terlihat keningnya. Dan detik kemudian, Darren mengecup keningnya itu.


"Eugh!"


Terdengar lenguhan dari bibir Brenda.


Mendengar lenguhan dari Brenda. Darren dan ketujuh sahabatnya langsung melihat kearah Brenda.


Brenda berlahan membuka kedua matanya. Setelah kedua matanya terbuka. Brenda melihat di sekitarnya.


Brenda melihat Darren, kekasihnya bersama dengan ketujuh sahabatnya yang kini tengah menatap dirinya khawatir.

__ADS_1


Berlahan Brenda bangun dari tidurnya dan dibantu oleh Darren.


"Bagaimana? Apa ada yang sakit?" tanya Darren.


Mendengar pertanyaan dari Darren. Brenda langsung menatap wajah Darren.


"Aku baik-baik saja, Ren!" Brenda menjawab pertanyaan dari Darren.


Darren menatap lekat wajah Brenda. Tatapan Darren kali ini adalah tatapan menyelidik.


Brenda yang melihat tatapan Darren yang mengisyaratkan banyak pertanyaan membuat dirinya sedikit ketakutan.


Bukan hanya Brenda saja yang sedikit takut menatap wajah Darren. Ketujuh sahabatnya juga menatap Darren dengan penuh tanda tanya dan juga penasaran.


"Kenapa Darren menatap Brenda seperti itu?" batin ketujuhnya kompak.


"Sekarang jawab pertanyaanku, Brenda Wilson!"


Deg!


Brenda terkejut ketika mendengar suara dingin Darren. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.


"Kenapa kau ada di tempat kejadian dimana kami semua sedang bertarung dengan anak-anak MifTa?" tanya Darren.


Mendengar pertanyaan dari Darren seketika membuat Brenda terkejut. Dirinya tidak menyangka jika Darren akan menanyakan hal itu.


Tidak mendapatkan jawaban dari Brenda membuat Darren menggeram kesal.


Mendengar suara dingin dan nada bentakkan dari Darren membuat Brenda seketika terkejut. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.


"Maafkan aku," jawab Brenda dengan suara bergetarnya.


Mendengar permintaan maaf dan suara lirih Brenda. Seketika Darren tersadar atas apa yang barusan dilakukan olehnya.


Grep!


Darren menarik pelan tubuh Brenda dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku yang sudah membentakmu," ucap Darren.


"Hiks... Maafkan aku," ucap Brenda.


"Sekarang jawab pertanyaanku barusan?" tanya Darren.


"Aku... Aku khawatir sama kamu dan ketujuh sahabat kamu. Saat kamu dan ketujuh sahabat kamu pergi ninggalin kantin. Aku lihatnya pasti ada sesuatu yang terjadi. Apalagi ketika melihat wajah kamu. Jadi aku terpaksa ngikutin kamu diam-diam."


"Dan setelah aku sampai disana. Aku melihat kamu dan yang lainnya sedang bertarung dengan beberapa kelompok."


"Awalnya aku ingin pergi karena takut bakal ketahuan sama kamu atau sama ketujuh sahabat kamu. Tapi nggak jadi."


"Kenapa nggak jadi?" tanya Darren.


"Aku berpikir kamu, ketujuh sahabat kamu dan anggota kamu butuh bantuan. Siapa tahu para kelompok jahat itu main curang terhadap kalian. Jadi dengan begitu aku bisa membantu kalian dengan cara licikku. Tapi sebelum rencana licikku berjalan. Aku....,"

__ADS_1


"Sudah terlebih dahulu ketahuan!" seru Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Axle dan Dylan bersamaan.


Mendengar ucapan kompak dari ketujuh sahabatnya Darren membuat Brenda merengut kesal.


Darren melepaskan pelukannya. Dan setelah itu, Darren menatap wajah cantik kekasihnya.


"Kali ini aku maafkan atas apa yang kamu lakukan. Tapi jika nekad seperti itu lagi. Aku tidak akan memaafkan kamu. Mengerti!" Darren berbicara dengan penuh penekanan dan juga ancaman.


"Baiklah. Aku janji," jawab Brenda.


"Aku melakukan ini bukan aku tidak mau menerima bantuan dari kamu. Hanya saja aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Aku tidak ingin kamu terluka."


"Sekali maafkan aku," lirih Brenda.


"Sudah, lupakan! Jangan diulangi lagi. Cukup satu kali ini kau disakiti atau ditampar oleh laki-laki manapun. Jika ada yang berani menyakiti atau menampar kamu lagi. Maka bisa dipastikan orang itu akan mati ditanganku."


"Aku janji," jawab Brenda.


***


Jika ditanya apa yang paling dekat dengan kita. Pasti rata-rata orang akan menjawab sesuatu hal yang mereka suka ataupun yang mereka lihat. Tanpa mereka sadar. Padahal sesuatu yang paling dekat dengan kita itu adalah kematian, karena kita tidak akan pernah tahu kapan kematian itu akan datang menjemput kita.


Bau harum bunga kemboja menyambut ke datangan Lino saat pertama kali menginjakkan kaki di pemakaman kota. Dengan masih mengenakan seragam kampusnya. Lino berjalan seorang diri.


Lino menggenggam sebuket bunga mawar putih di tangannya. Setelah pulang dari kampusnya, Lino memutuskan untuk mengunjungi orang terkasih.


Area makam itu terlihat sepi dan sunyi. Lino berjongkok di salah satu makam bertuliskan 'Dinda'. Dengan telaten Lino mencabuti rumput ilalang yang ada di sekitar makam.


Setelah itu, Lino meletakkan bunga yang dia bawa di depan nisan. Lino menatap lama nisan tersebut.


"Mama, apa kabar? Maaf Lino baru datang."


Lino memejamkan matanya saat semilir angin menerpa mukanya. Senyum terbit di bibirnya itu.


"Lino kangen Mama. Mama baik-baik ya di sana. Lino sayang mama."


Lino mencium nisan ibunya berusaha menyalurkan rasa rindu yang selama ini dia pendam seorang diri.


Lino mulai berceloteh menceritakan semua yang dia lalui seharian ini. Terkadang wajah itu tersenyum lebar, kadang juga mengeras dengan alis yang menyatu. Tanpa Lino sadari ada sosok lain yang memandanginya dari kejauhan.


Lino menghembuskan napasnya. Setelah selesai bercerita di depan makam ibunya. Meskipun sudah tiga tahun berlalu. Namun tetap saja, Lino belum terbiasa tanpa sosok Dinda di sampingnya. Rasa-rasanya baru kemarin Dinda mengantarnya sekolah. Baru kemarin Dinda membangunkannya dengan spatula di tangannya.


Lino kembali tersenyum saat mengingat masa-masa itu. Dan sekarang tidak terasa sudah tiga tahun Dinda meninggalkannya sendiri.


"Gue jadi selalu overthinking kalau sendirian gini," gumam Lino.


"Mama, Lino pulang dulu ya. Laper soalnya. Hehehehehe."


Lino pun beranjak dari posisi jongkoknya sebelumnya Lino kembali mencium batu nisan ibunya.


Lino kembali memandangi batu nisan ibunya, lalu melambaikan tangannya.


Dan setelah itu, Lino pun benar-benar pergi meninggalkan makam tersebut.

__ADS_1


__ADS_2