
Darren masih memeluk tubuh Brenda. Sesekali tangannya mengusap-ngusap lembut punggung Brenda yang bergetar.
Dirasakan Brenda sudah sedikit tenang. Darren pun melepaskan pelukannya. Setelah pelukannya terlepas, Darren menatap wajah Brenda yang basah dengan air matanya.
Darren menghapus air mata Brenda dengan lembut. Setelah itu, Darren membelai lembut kepala belakang Brenda.
Tangan Darren berpindah pada tengkuk Brenda. Dan detik kemudian, Darren langsung mencium bibir merah Brenda. Darren menghisap dan ******* bibir atas dan bibir bawah Brenda. Darren bahkan menekan tengkuk Brenda agar ciumannya makin dalam.
Melihat tindakan tiba-tiba Darren kepada Brenda membuat semua penghuni yang ada di dalam ruang rawat Darren membelalakkan matanya, termasuk Brenda. Bahkan Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersorak bahagia melihat kakak kesayangannya yang mencium seorang gadis untuk pertama kalinya.
"Waahh!" seru Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
Mendengar seruan dari Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka sontak melihat kearah kelima adiknya. Mereka semua terkejut ketika melihat kelima adiknya dengan sangat antusias menyaksikan adegan dewasa yang dilakukan oleh adiknya yang lain.
Dan detik kemudian...
Davin, Andra, Dzaky, Darka dan Gilang secara bersamaan langsung menutup kedua mata kelima adiknya itu.
"Kalian belum cukup umur," ucap Dzaky.
"Ini berbahaya bagi kalian," ucap Andra.
"Aish! Mata kelima adikku telah ternodai akibat ulah dari adikku yang lain," ucap Gilang.
"Penglihatan kelima adikku sudah tidak suci lagi," sahut Davin.
"Ih, kakak Darka. Kenapa mata Ivan ditutup?" tanya Ivan dengan polosnya.
"Kalau mata kamu nggak ditutup akan terjadi hal yang tidak diinginkan," jawab Darka asal.
"Memangnya apa yang terjadi? Kami kan hanya melihat kakak Darren yang sedang mencium kakak Brenda," sahut Melvin yang tak kalah polosnya dari Ivan.
Sementara yang lainnya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat dan mendengar ucapan demi ucapan dari Davin, Andra, Dzaky, Darka, Ivan dan Melvin.
Sedangkan sipelaku pembuat onar masih asyik dengan kegiatannya. Darren masih bermain-main dengan bibir Brenda.
"Woi! Disini banyak orang. Kalau melakukan itu. Jangan disini. Cari tempat lain!" teriak Rehan.
"Hargai kami yang tidak memiliki kekasih!" teriak Dylan.
Mendengar teriakan dan perkataan dari Dylan dan Rehan. Darren pun menyudahi kegiatannya menciumi bibir Brenda.
Darren menggeram kesal sembari menatap tajam kedua sahabatnya itu.
"Mengganggu saja," sahut Darren.
Davin, Andra, Dzaky, Gilang dan Darka bersamaan menjauhkan tangannya dari mata Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Yah. Udah selesai!" seru Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
Baik Adrian, Mathew, Nathan maupun Ivan dan Melvin memperlihatkan wajah cemberutnya.
Melihat Darren yang berpelukan dengan Brenda. Bahkan Darren yang mencium bibir Brenda membuat Helena menatap penuh luka.
Helena akhirnya menyadari satu hal tentang perasaannya. Helena sudah mulai mencintai Darren. Namun sayangnya, dirinya telah terlambat untuk menyadari semua itu.
Helena menyadari akan perasaannya terhadap Darren disaat semua orang sudah sangat membenci dirinya, termasuk Darren sendiri.
Riana yang menyadari putrinya yang tengah menatap kearah Darren dan Brenda membuat hatinya sakit. Riana tahu bahwa saat ini putrinya tengah terluka melihat bagaimana Darren yang menghibur dan memeluk gadis lain di hadapannya.
__ADS_1
Melihat putrinya yang masih terus menatap kearah Darren dan Brenda membuat Riana marah. Riana mendekati Brenda. Dirinya ingin sekali memberikan pelajaran pada Brenda.
"Dasar wanita murahan!" teriak Riana.
PLAAKK!
Riana melayangkan satu tamparan ke wajah Brenda sehingga menimbulkan bekas merah dan bekas jari Riana di wajah putihnya.
Melihat apa yang dilakukan oleh Riana kepada Brenda. Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan anggota keluarganya, termasuk Brenda menatap nyalang Riana.
"Kau berani menamparku, sialan?" bentak Brenda.
"Iya, kenapa?" bentak Riana.
"Ini adalah tamparan kedua yang aku terima darimu hari ini," ucap Brenda dengan nada penuh amarah.
"Jangankan dua tamparan. Bahkan kau akan mendapatkan seribu tamparan dariku hari ini juga!" bentak Riana dengan tak kalah menatap Brenda.
"Benarkah?" tanya Brenda dengan menatap nyalang Riana.
"Iya," jawab Riana menantang.
"Kau wanita tak tahu diri. Wanita rendahan. Wanita tak punya harga diri. Kau berciuman dengan laki-laki brengsek ini di depan kami semua. Apa begini caranya kedua orang tuamu mendidikmu!" bentak Brenda.
"Jangan bawa-bawa mereka dalam masalah ini!" bentak Brenda yang tak terima Riana yang membawa kedua orang tuanya. Dan menyebut kedua orang tuanya tak becus mendidiknya.
"Kenapa? Aku bicara benarkan? Kedua orang tuamu itu tak becus mendidikmu. Kemungkinan besar kelakuan jijikmu ini hasil dari ajaran kedua orang tuamu."
Riana menatap jijik Brenda. "Apa jangan-jangan...." Riana tersenyum di sudut bibirnya.
"Jangan-jangan apa?!" bentak Brenda.
Mendengar perkataan kejam dari Riana untuk kedua orang tua Brenda membuat Darren, anggota keluarganya dan ketujuh sahabat-sahabatnya menatap penuh amarah, terutama Brenda sendiri.
Brenda menatap amarah dengan matanya yang memerah. Dirinya tak terima jika kedua orang tuanya dihina.
Brenda tak masalah jika dirinya dikatakan wanita murahan dan wanita rendahan. Tapi jangan bawa-bawa kedua orang tuanya. Brenda jelas tak terima jika kedua orang tuanya dihina.
"Beraninya kau menghina kedua orang tuaku! Sekarang, tarik kata-katamu barusan. Minta maaf sekarang juga!" teriak Brenda.
"Hahahaha. Kau pikir kau itu siapa. Jangan seenaknya kau menyuruhku meminta maaf padamu. Aku tidak akan pernah sudi melakukannya!" bentak Riana.
"Aku katakan sekali lagi. Minta maaf sekarang juga. Dan tarik kata-katamu itu," ucap Brenda.
"Jangan harap," jawab Riana.
SREEKK!
Brenda langsung mencekik leher Riana dengan kuat sehingga membuat Riana terkejut dan juga kesakitan di bagian lehernya.
"Mama!" teriak Helena.
"Riana!" teriak kedua pamannya Helena.
"Brengsek kau Brenda. Lepaskan ibuku!" teriak Helena.
Brenda tidak menghiraukan teriakan dari Helena. Justru Brenda makin menguatkan cekikannya di leher Riana sehingga membuat Riana kesulitan bernafas.
"Minta maaf sekarang. Tarik kata-katamu tentang kedua orang tuaku!" bentak Brenda dengan tatapan amarahnya.
__ADS_1
Melihat ibunya yang kesulitan bernafas membuat Helena ingin memukul Brenda.
Helena berpikir, kakinya memang lumpuh. Tapi tangannya tidak. Dengan posisinya yang duduk di kursi roda. Sementara Brenda yang sedang menyakiti ibunya. Helena bisa menyakiti Brenda dengan cara memukul salah satu bagian anggota tubuh Brenda.
Melihat Helena yang ingin menyerang Brenda. Dengan gerakan cepat Darren langsung menahan kursi roda Helena.
"Mau coba-coba melukai gadisku, hum?" Darren berucap dengan nada ketus dan wajah dinginnya.
"Jangan ikut campur. Biarkan Brenda menyelesaikan pekerjaannya," ucap Darren.
"Brengsek kau, Darren! Wanita sialan itu menyakiti ibuku. Apa kau berniat membiarkan wanita sialan itu membunuh ibuku, hah?!" teriak Helena.
"Jangan salahkan gadisku. Salahkan ibumu yang sudah menghina kedua orang tuanya. Anak mana yang akan diam saja jika kedua orang tuanya dihina oleh orang lain. Kau juga akan melakukan hal yang sama jika ibumu atau ayahmu dihina di depanmu," sahut Darren.
"Tapi ibuku bisa mati Darren jika Brenda tidak melepaskan cekikannya," ucap Helena dengan matanya menatap kearah ibunya.
"Tergantung ibumu. Jika ibumu memenuhi permintaan dari gadisku. Maka ibumu selamat," jawab Darren.
Melihat adik iparnya tak bernafas akibat cekikan yang diberikan oleh Brenda membuat kakak laki-laki tertua dari Ramoz ayahnya Helena menjadi marah.
"Brengsek. Lepaskan adik iparku!"
Bukannya melepaskan. Justru Brenda makin menguatkan cekikan di leher Riana sehingga membuat Riana berteriak dengan suara putus-putus.
"Aa-aakk-hh... Aa-aakk-hh."
"Mama!"
"Riana!"
Kedua kakak laki-laki dari Ramos Orlando langsung menyerang Darren dan Brenda.
Melihat kedua Pamannya Helena ingin menyerang Darren dan Brenda. Dylan dan Rehan langsung memberikan serangan kuat tepat di perut keduanya sehingga tubuh kedua membentur dinding dan jatuh tergeletak di lantai dengan sangat keras. Keduanya tak sadarkan diri.
DUUAAGGHH!
BRUUKK!
"Game Over!" seru Dylan dan Rehan bersamaan.
"Paman!" teriak Helena ketika melihat kedua Pamannya yang tak sadarkan diri.
"Brengsek kalian semua!" teriak Helena menatap marah terhadap orang-orang yang ada di dalam ruang rawat Darren.
"Hahahaha."
Dylan, Jerry, Axel, Rehan, Darel, Qenan dan Willy tertawa keras ketika mendengar perkataan dan teriakan dari Helena.
"Hey, nona. Apa anda tidak salah dengan menyebut kami semua ini brengsek?" ucap dan tanya Qenan.
"Kalau kami semua brengsek. Terus kau, ibumu, ayahmu dan kedua pamanmu itu apa? Bahkan kau, ibumu, ayahmu dan kedua pamanmu itu lebih brengsek dari kami," ucap Jerry.
"Jangan memperlihatkan keadaan seakan-akan kau, ibumu, ayahmu dan kedua pamanmu itu korban disini. Dan kami adalah tersangkanya," ujar Willy.
"Jika kau, ibumu, dan kedua pamanmu tidak merencanakan untuk membunuh Darren. Maka bisa dipastikan hidupmu, hidup ibumu dan hidup kedua pamanmu itu akan akan baik-baik saja," sahut Darel.
"Walaupun sebenarnya Darren dan Brenda memang berniat untuk memberikan hukuman kepadamu. Tapi hukuman yang akan mereka berikan bukanlah untuk menyakiti kalian. Mereka hanya ingin membuatmu untuk tidak mengusik mereka lagi, terutama Darren!" seru Axel.
Darren menatap tajam kearah Helena. Dan detik kemudian, tangannya menarik kuat rambut Helena sehingga menimbulkan teriakan yang begitu memilukan.
__ADS_1