KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kejahilan Gilang


__ADS_3

Setelah mengikuti empat kelas. Darren dan ketujuh sahabatnya kini berada di lapangan basket yang diluar. Sedangkan Brenda dan ketujuh sahabatnya sudah pulang karena mereka hanya ada dua kelas saja.


"Ren," panggil Jerry.


Darren langsung melihat kearah Jerry. "Iya. Ada apa, Jer?"


"Ini." Jerry memberikan sebuah map kepada Darren.


"Apa ini?" tanya Darren setelah map itu ada di tangannya.


"Buka saja," jawab Jerry sembari melirik Axel dan Dylan. Keduanya tersenyum.


Darren langsung membuka map tersebut. Dan melihat serta membaca isi dari kertas putih yang ada di dalamnya.


Detik kemudian...


"Jer, ini?!" seru Darren.


Darren langsung melihat kearah Jerry. Begitu juga dengan Jerry, Axel dan Dylan.


Secara bersamaan Jerry, Axel dan Dylan menganggukkan kepalanya.


"Dari perusahaan mana yang membeli sepuluh mobil BMW seri terbaru yang kita buat itu?" tanya Darren.


"Yang membeli sepuluh mobil BMW itu dari perusahaan luar negeri, Ren!" Axel menjawab pertanyaan dari Darren.


"Ada delapan perusahaan. Satu perusahaan membeli langsung dua mobil BMW dengan warna berbeda," ucap Dylan.


"Dan dua perusahaan dari delapan perusahaan itu adalah rekan bisnis perusahaan Accenture dan pelanggan lukisan di DARREN GALERY OF ART," pungkas Jerry.


Mendengar perkataan dari Jerry membuat Darren membulatkan matanya tak percaya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Rehan dan Darel.


Sementara Axel, Jerry dan Dylan tersenyum melihat wajah terkejut lima sahabatnya. Yang paling terkejut tentu saja Darren.


"Siapa?" tanya Darren, Qenan, Willy, Rehan dan Darel bersamaan.


Axel, Jerry dan Dylan tersenyum melihat wajah penasaran dan mendengar kekompakkan dari kelima sahabatnya itu.


"Perusahaan ACES dan perusahaan ASTRA," jawab Jerry.


"Perusahaan ACES itukan pemiliknya adalah Andrez Augusto," sahut Qenan.


"Dan perusahaan ASTRA itu adalah milik Daza Carlitoz," sela Willy.


Darren, Qenan dan Willy menatap wajah Axel, Jerry dan Dylan. Dan dengan kompaknya ketiganya menganggukkan kepalanya.


Seketika terukir senyuman di bibir Darren. "Axel, Jerry, Dylan. Ini benar?"


"Iya, Ren!" jawab Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.


"Mereka memborong mobil-mobil itu?" tanya Darren lagi.


"Iya, Darrendra Smith!" seru Axel, Jerry dan Dylan.


"Mobil itu hanya stok 10. Mereka membeli semuanya tanpa menyisakan satu atau dua mobil?" ucap dan tanya Darren tak percaya.


"Sepertilah itu kenyataannya," jawab Dylan.


"Mereka tertarik dan sangat suka dengan desain mobilnya. Mereka tanpa berpikir dua kali langsung memborong mobil-mobil itu," ucap Jerry.


"Perusahaan ASTRA yaitu Daza Calitoz sekaligus pelanggan setia DARREN GALERY OF ART langsung membeli dua mobil!" seru Dylan.


"Bulan ini keuntungan Showroom BMWX kita meningkat!" Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.


Showroom BMWX milik Darren yang pertama sekarang sudah berdiri tegak dan kokoh. Sudah satu bulan SHOWROOM itu berdiri dari pasca kebakaran yang disebabkan oleh Samuel dulu. Dan sejak berdirinya SHOWROOM itu, banyak pelanggan yang datang. Baik pelanggan lama maupun pelanggan baru.

__ADS_1


Bukan itu saja, untuk SHOWROOM kedua milik Darren dimana Showroom itu hanya khusus menyediakan mobil mereka lain selain merek BMW. Dan juga menyediakan berbagai macam merek motor sport terbaru.


Gedung Showroom itu milik Dylan. Jadi pemilik Showroom itu bukan hanya milik Darren melainkan milik Dylan.


Dikarenakan Darren orangnya peka, perasa dan pengertian. Darren pun memutuskan untuk menyewa gedung itu secara diam-diam. Jika Darren blak-blakan, maka Dylan secara langsung akan menolaknya.


Bagi Dylan gedung itu tidak ada artinya dengan persahabatannya dengan Darren dan sahabat-sahabatnya yang lain. Jika Dylan bisa membantu Darren dengan menjadikan gedungnya sebagai Showroom kedua Darren, kenapa tidak!


Sebuah hubungan persahabatan tidak harus di patokan dengan uang jika ingin membantu kesulitannya. Dengan cara lain juga bisa membantu kesulitan dan masalah yang dihadapinya.


Contohnya seperti tenaga, perhatian, kepedulian, selalu ada di sampingnya, menyediakan tempat jika memiliki tempat yang tidak dipakai atau jarang digunakan untuk modal dan tempat tinggalnya.


Dylan melakukan karena dia benar-benar tulus menyayangi Darren. Apapun akan dilakukan olehnya untuk membantu sahabatnya itu. Begitu juga untuk sahabat-sahabatnya yang lain.


Tak jauh beda dengan SHOWROOM BMWX. Showroom kedua milik Darren ini juga sudah terkenal sejak berdiri dua bulan lalu. Sekarang sudah lima bulan usia SHOWROOM itu.


Setelah Darren sadar dari koma dan dinyatakan sembuh. Dan sudah kembali beraktivitas kembali. Ketujuh sahabat-sahabatnya itu menceritakan kepada Darren tentang Showroom baru kepada Darren. Bukan hanya Showroom baru, melainkan bengkel baru dan toko onderdil untuk perlengkapan merakit mobil dan motornya. Ada tiga gedung sekaligus.


Mendengar cerita dari ketujuh sahabat-sahabat itu membuat Darren terharu dan menangis. Dia tidak menyangka jika ketujuh sahabat-sahabatnya akan melakukan hal itu.


Melihat pengorbanan ketujuh sahabat-sahabat itu terhadap dirinya. Darren pun memutuskan untuk berbagi modal dan juga berbagi keuntungan dengan cara ketujuh sahabat-sahabat itu harus menanam saham di tiga gedung yang sudah dibangun oleh Jerry, Axel dan Dylan.


Awalnya Axel, Jerry dan Dylan tidak mau. Karena paksaan dan ancaman dari Darren, pada akhirnya membuat ketiganya menuruti keinginan Darren dengan menanam saham di Showroom itu.


"Bulan kemarin pendapatan Showroom DJDA juga meningkat. Dylan, tolong kirim laporan keuangan bulan kemarin sama bulan ini."


"Baiklah," jawab Dylan.


Dylan langsung membuka laptopnya dan mencari data laporan keuangan bulan kemarin dan bulan ini yang sudah dikirim oleh bendaharanya.


Ting!


Ting!


Ting!


Mendengar bunyi notifikasi itu, ketiganya langsung melihat dan membukanya.


Seketika mata ketiga membelalak sempurna ketika membaca isi pesan yang tertera di layar ponsel mereka.


"Ren!" seru Axel, Jerry dan Dylan bersamaan dengan tatapan matanya menatap wajah Darren.


"Itu gaji dan bonus kalian bulan ini," ucap Darren.


"Ini...," ucapan Jerry terpotong.


Aku tidak menerima protes dari kalian," jawab Darren yang kembali menatap layar ponselnya.


"Baiklah, Bos Darren!" seru Axel, Jerry dan Dylan.


Qenan, Willy, Rehan dan Darel tersenyum melihat wajah pasrah Axel, Jerry dan Dylan. Begitu juga dengan Darren.


Ketika Darren tengah bersama dengan ketujuh sahabat-sahabatnya, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya begitu lembut.


"Darren."


Baik Darren maupun ketujuh sahabat-sahabatnya langsung melihat ke asal suara itu.


"Kakak Gilang," ucap Darren.


Gilang tersenyum lalu melangkah mendekati adik laki-lakinya. Setelah itu, Gilang menduduki pantatnya di samping kanan adiknya itu.


"Kalian apa kabar?" tanya Gilang kepada ketujuh sahabat-sahabat adiknya.


"Baik kakak Gilang," jawab ketujuh sahabat-sahabat Darren bersamaan.

__ADS_1


"Kemana saja? Kok jarang main ke rumah?" tanya Gilang.


"Biasalah kakak Gilang. Tugas-tugas kita pada numpuk," jawab Darel.


"Bukan hanya tugas-tugas kampus. Tugas-tugas diluar kampus mengantri nunggu kita," ucap Willy.


Mendengar jawaban dari Darel dan Willy membuat Gilang tersenyum.


"Apa Bos kalian itu tidak memberikan waktu untuk istirahat. Atau Bos kalian itu memiliki sifat diktator terhadap kalian?" tanya Gilang yang sengaja menjahili adiknya itu.


"Aakkhhh!"


Gilang seketika berteriak ketika merasakan perih di pinggang kirinya.


Darren memberikan cubitan tak main-main di pinggang Gilang akibat kesal mendengar ucapan Gilang.


Gilang menatap wajah adiknya itu dengan kesal. Begitu juga dengan Darren. Dia tak kalah kesal menatap wajah kakaknya itu.


"Apa? Mau lagi?" tanya Darren dengan wajah cemberutnya.


Setelah itu, Darren membuang wajahnya ke depan. Sedangkan Gilang tersenyum melihat wajah kesal adik laki-lakinya.


"Kamu pulang sama kakak nanti ya," ucap Gilang.


"Terus mobil aku mau dikemanain?" tanya Darren.


"Buang aja. Atau kalau perlu dibakar sekalian. Kan masih banyak mobil yang baru di Showroom kamu," jawab Gilang seenaknya.


Darren langsung memberikan tatapan tajam kearah Gilang. Sementara ketujuh sahabat-sahabatnya tersenyum melihat wajah super kesal Darren.


"Kakak Gilang pikir mobil aku itu belinya pake daun bukan pake uang? Dan kakak Gilang pikir buat mobil itu gampang. Butuh tenaga ekstra tahu," sungut Darren.


Gilang tersenyum melihat wajah kesal adik laki-lakinya. "Baiklah... Baiklah! Kakak minta maaf."


"Apa alasan kakak Gilang ajak aku pulang bersama?"


"Apa harus ada alasan dulu untuk ajak adek sendiri pulang bersama?" Gilang balik bertanya kepada Darren.


"Nggak sih," jawab Darren.


"Terus?" tanya Gilang.


"Iya. Aku mau pulang bersama kakak Gilang."


"Oke. Nanti siapa yang duluan keluar kelas. Kita saling tunggu, oke!"


"Baiklah," jawab Darren.


"Ya, sudah! Kalau begitu kakak kembali ke kelas."


"Cuma itu?" tanya Darren dengan menatap wajah Gilang.


"Iya, kenapa?"


"Kakak Gilang kesini hanya untuk ngajak aku pulang bersama? Tidak ada hal lainnya?"


"Tidak. Memang kenapa?"


Darren seketika mencebik kesal melihat kelakuan dan mendengar jawaban-jawaban dari kakaknya.


"Nggak ada. Ya, sudah sana pergi! Tadi katanya mau ke kelas."


Gilang kembali tersenyum melihat wajah super kesal adiknya itu. Kemudian tangannya mengacak-acak rambutnya itu.


"Kakak sayang kamu."

__ADS_1


"Aku nggak."


Setelah itu, Gilang pun pergi meninggalkan adik kesayangan itu untuk menuju kelasnya.


__ADS_2