
Suasana di ALPADIA High School tampak ramai dimana siswa dan siswi sudah berada di lapangan, termasuk Ivan dan Melvin.
Para siswa dan siswi berkumpul di lapangan tersebut lengkap dengan para kakak perempuannya dan kakak laki-lakinya. Mereka saling mengobrol dan bercanda.
Melihat bagaimana akrabnya teman-teman sekolahnya dengan kakak perempuannya dan kakak laki-lakinya membuat Ivan dan Melvin menjadi sedih.
Yang membuat Ivan dan Melvin menjadi sedih karena keduanya melihat bagaimana bahagianya teman-teman sekolahnya bersama dengan para kakak perempuan dan kakak laki-lakinya.
Sedangkan mereka berdua, kakak kesayangannya belum datang. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 09:30.
"Kenapa kakak Darren lama sekali? Ini udah pukul setengah sepuluh," ucap dan tanya Melvin.
Mendengar pertanyaan dari Melvin. Ivan melihat wajah Melvin.
"Mungkin sebentar lagi," jawab Ivan.
Ivan berusaha menghibur Melvin, walau hatinya juga sama seperti Melvin. Takut jika Darren, kakak kesayangannya itu membatalkan janji.
^^^
Di tempat lain dan di lokasi yang sama dimana salah satu ruangan dari tiga ruangan yang tak terpakai dekat parkiran terdengar suara teriakan bersamaan dengan suara tawa jahat yang diyakini berasal dari seorang perempuan. Dan disusul dengan suara permohonan ampun yang juga berasal dari manusia berjenis kelamin yang sama.
Ketiga gadis yang saat ini tengah tertawa bersama saat melihat korban gadisnya tengah terisak penuh pilu dengan seluruh permukaan rambutnya telah dipenuhi dengan tepung dan telur busuk membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan langsung menutup hidung.
Masih dengan tawanya yang menyeramkan. Gadis yang berada di depan diantara ketiga gasis cantik nan sexy itu, perlahan maju menghampiri korbannya.
Dengan hentakan yang keras, tangannya menarik rambut korbannya membuat gadis malang itu meringis dengan air mata yang terus mengalir.
Rebeca menatap gadis malang tersebut dengan pandangan meremehkan. Tangan satunya terjulur untuk mencengkram dagu gadis itu yang sudah terdapat memar merah kebiruan. Kemudian mendekatkan bibir merahnya ke telinga gadis malang itu.
"Biar gue perjelas lagi," ucap Rebeca penuh penekanan. "Lo, bukan siapa-siapanya Melvin. Dan lo nggak berhak buat nyari perhatiannya. Kalau sekali lagi gue lihat lo ngedeketin Melvin. Gue dan teman-teman gue bakalan ngelakuin yang lebih parah dari ini. Ngerti lo?!" Rebeca menghempaskan kepala gadis itu dengan keras membuat kepalanya terhantuk ke dinding dan menyebabkan gadis malang pingsan seketika.
Rebeca bangkit, lalu menatap gadis malang yang tidak sadarkan diri itu dengan seringai liciknya.
Sedangkan ketiga temannya yang sedari tadi berada di balik punggung Rebeca tertawa mengejek saat melihat ketua mereka telah melakukan aksi pembulian lagi.
"Kita tinggalin dia di sini dan semoga aja nggak ada yang nemuin dia," ucap Rebeca sinis kepada kedua temannya.
Rebeca lalu melangkah pergi untuk menuju pintu keluar dan diikuti ketiga temannya di belakang.
Namun seketika langkah kaki Rebeca terhenti ketika mendengar suara seseorang yang sudah sedari tadi berada di dalam menyaksikan apa yang telah dilakukan olehnya dan ketiga temannya.
"Mau kabur, hum!"
Mendengar suara yang ada di dalam ruangan itu membuat Rebeca dan ketiga temannya terkejut dan juga takut.
Baik Rebeca maupun ketiga temannya langsung melihat ke asal suara tersebut. Dan lagi-lagi mereka terkejut ketika melihat seorang laki-laki tengah duduk santai di salah satu kursi dengan menatap kearahnya dengan tatapan mengerikan.
"Setelah apa yang kalian lakukan kepada gadis itu. Kalian pergi begitu saja. Dan kalian berharap tidak akan ada satu pun orang menemukannya."
__ADS_1
Darren berbicara dengan tatapan matanya yang benar-benar menatap penuh amarah kearah Rebeca dan ketiga temannya, terutama terhadap Rebeca.
Rebeca tidak menghiraukan perkataan dari orang itu. Kakinya kembali melangkah menuju pintu keluar.
Ketika Rebeca sudah berada di depan pintu, tangannya langsung membuka pintu tersebut.
Namun sayangnya, pintu itu tidak bisa dibuka sama sekali.
Mengetahui pintu tersebut tidak bisa dibuka membuat Rebeca dan ketiga temannya ketakutan.
"Kalian bertiga tidak akan bisa pergi kemana-mana sebelum aku memberikan hukuman kepada kalian, terutama kau gadis murahan!" bentak laki-laki itu.
Rebeca membalikkan badannya dan menatap wajah laki-laki itu. Begitu juga ketiga temannya.
"Siapa kau? Kenapa kau ikut campur, hah?!" bentak Rebeca.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas saat ini kau dan ketiga teman murahanmu itu harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan kepada gadis itu," jawab laki-laki itu.
"Aku tidak peduli. Kau jangan ikut campur urusanku dan juga teman-temanku," jawab Rebeca menantang perkataan laki-laki tersebut.
Mendengar jawaban kasar dari Rebeca membuat laki-laki itu menggeram marah.
"Oh, aku tahu. Jangan-jangan gadis tak tahu diri itu adalah simpananmu. Sudah berapa kali gadis sialan itu tidur denganmu, hah?!" Rebeca berbicara dengan tatapan menantangnya.
Mendengar perkataan dari Rebeca membuat laki-laki itu naik pitam. Laki-laki itu menatap nyalang Rebeca.
Laki-laki itu berdiri dari duduknya, lalu melangkah menghampiri Rebeca dan ketiga temannya.
"Mau apa kau?!" bentak Rebeca sambil berjalan mundur.
Laki-laki itu tidak mempedulikan bentakkan dari Rebeca. Kakinya terus berjalan menghampiri Rebeca dan ketiga temannya.
"Menjauhlah dari teman kami!" bentakĀ teman Rebeca yang bernama Viola.
Viola ingin mendorong tubuh laki-laki itu. Namun sebelum tangannya menyentuh tubuh laki-laki itu. Dengan gerakan cepat, laki-laki itu menangkap tangannya, lalu memelintirnya.
Krett!
"Aakkhh!"
Terdengar suara retakkan tulang pada tangan dan juga jeritan kesakitan Viola dalam ruangan itu.
Setelah itu, laki-laki itu mendorong kuat tubuh Viola sehingga tubuhnya terbentur dinding yang tak jauh dari mereka saat ini.
Bugh!
Brukk!
Viola tak sadarkan diri seketika akibat dorongan kuat atas ulah laki-laki itu.
__ADS_1
Melihat apa yang dilakukan oleh laki-laki yang ada di hadapannya membuat Rebeca dan dua temannya yang tersisa seketika ketakutan setengah mati. Tubuh mereka bergetar hebat.
Melihat laki-laki itu hampir mendekati Rebeca, kedua temannya yang tersisa seketika memohon ampun kepada laki-laki itu.
Sayangnya, laki-laki itu tidak menerima kata ampun dari temannya Rebeca itu. Justru laki-laki itu menarik kuat rambut kedua teman gadis itu dengan sangat kuat.
Setelah menarik rambutnya, laki-laki itu menarik keduanya menjauh dari Rebeca sehingga menimbulkan teriakan keras dari kedua mulut gadis itu.
"Aakkhh!"
Dan detik kemudian...
Laki-laki itu mendorong kuat tubuh kedua temannya Rebeca tepat kearah dinding sehingga membuat tubuh keduanya seketika tak sadarkan diri.
Setelah melenyapkan penghalang. Laki-laki itu kembali menghampiri Rebeca yang kini tengah ketakutan.
Srekk!
Kini laki-laki itu telah berdiri di hadapan gadis itu, karena gadis itu sudah mentok di depan pintu yang terkunci. Saat ini, gadis itu sudah tidak bisa berkutik sedikit pun.
Laki-laki itu langsung menyakiti leher Rebeca sehingga membuat gadis tersebut kesulitan bernafas. Dan jangan lupa tatapan matanya yang menatap korbannya dengan penuh amarah.
"Lo tadi bertanya siapa gue kan? Sekarang gue kasih tahu lo siapa gue dan apa hubungan gue sama gadis yang lo bully itu."
Laki-laki itu berbicara dengan tatapan amarahnya dan juga perkataannya yang penuh penekanan.
"Kenalkan gue adalah Darrendra Smith. Gue adalah kakak laki-laki dari siswa yang bernama Ivan Jerolyn Smith dan Melvin Satya Smith."
Mendengar perkataan dari laki-laki yang ada di hadapannya membuat Rebeca terkejut. Dirinya tidak menyangka jika hari ini dirinya dipertemukan dengan salah satu kakak laki-laki dari orang yang disukainya selama ini.
"Dan gadis yang udah lo bully hingga pingsan itu adalah adik perempuan dari sahabat gue yang bernama Yonantan Axel Immanuel. Yang artinya dia juga adik perempuan gue."
"Lo tahukan nama dari gadis yang lo bully itukan? Namanya adalah Alie Salsa Immanuel."
Darren makin menguatkan tangannya di leher Rebeca sehingga membuat gadis itu merasakan sakit di lehernya.
Bukan hanya sakit. Bahkan gadis itu benar-benar kesulitan untuk bernafas.
"Untung gue yang menyaksikan apa yang lo dan ketiga teman lo lakuin terhadap Salsa. Jika seandainya kakak laki-laki dari gadis itu yang langsung menyaksikan apa yang telah lo lakuin terhadap adik perempuannya, maka bisa dipastikan hidup lo antara dua pilihan. Mati atau koma berbulan-bulan di rumah sakit."
"Gue peringatkan sama lo. Jika lo dan keluarga lo ingin aman. Menjauhlah dari keluarga gue dan juga orang-orang terdekat gue. Jangan lagi lo mengusik mereka. Satu lagi, siswi yang bernama Raya Wilson. Jangan coba-coba lo membully dia. Dia adalah adik perempuan dari kekasih gue. Berani lo macam-macam. Habis lo ditangan gue. Bukan lo aja, keluarga lo juga bakalan gue hancurin."
Setelah mengatakan itu, Darren mendorong dengan kasar tubuh Rebeca ke dinding sehingga membuat tubuh Rebeca terhempas diantara barang-barang yang ada di dalam ruangan itu.
Akibat dari tubuhnya didorong oleh Darren dengan sangat keras sehingga membuat Rebeca tak sadarkan diri.
"Semoga lo tidak cepat mampus," batin Darren.
Darren melangkah kearah pintu, lalu membuka pintu tersebut. Setelah itu, Darren menghampiri Salsa yang saat ini dalam keadaan pingsan.
__ADS_1
Darren langsung menggendong tubuh Salsa dan membawanya keluar meninggalkan ruangan tersebut.