KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kesedihan Gadis Kecil


__ADS_3

Qenan melihat kearah Darren. Dirinya bermaksud ingin bertanya tentang hubungannya dengan gadis kecil yang ada di hadapannya itu.


"Ren," panggil Qenan.


Darren melihat kearah Qenan. "Iya, Qenan!"


"Apa aku dan Willy kenal dengan rekan kerja itu?" tanya Qenan.


"Iya. Kalian kenal. Nama rekan kerja itu adalah tuan Fransisko dari perusahaan Fran'MD Corp," jawab Darren.


"Apa?"


Qenan dan Willy terkejut ketika mendengar nama perusahaan yang disebut oleh Darren.


"Bukankah perusahaan Fran'MD Corp itu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Accenture dalam proyek besar satu tahun yang lalu?" tanya Willy.


"Hm." Darren berdehem sembari menganggukkan kepalanya.


Qenan dan Willy kembali menatap kearah gadis kecil yang saat ini tengah berbicara dengan pengasuhnya.


Wanita itu menatap sedih wajah majikan kecilnya. Tangannya mengusap lembut kedua pipi cubby gadis kecil itu.


Dan setelah itu, wanita itu memberikan kecupan sayang di kening majikan kecilnya yang sudah diasuh olehnya sejak lahir.


"Sayang, dengarkan suster ya. Mulai sekarang ikutlah dengan Paman itu," wanita itu berbicara sambil menunjuk kearah Darren. "Paman itu akan menjaga nona. Nona akan aman bersama Paman itu. Jika nona bersama suster. Maka nona akan disakiti oleh orang-orang itu."


Gadis kecil itu menatap wajah susternya. Walau gadis kecil itu tidak memahami keadaan sekitarnya. Namun gadis kecil itu paham akan apa yang dibicarakan oleh susternya tersebut.


"Tapi Anin mau sama suster. Anin tidak mau pisah sama suster. Kalau Anin ikut sama Paman itu. Papi sama Mami, bagaimana?"


Deg!


Wanita itu terkejut. Hatinya benar sakit ketika majikan kecilnya menyebut kedua orang tuanya yang sudah tiada.


"Nanti Papi sama Mami nggak bisa menemukan Anin, suster! Kasihan Papi sama Mami nanti."


Wanita itu makin terisak ketika mendengar ucapan demi ucapan dari majikan kecilnya. Di dalam hatinya, wanita itu juga tidak ingin berpisah dengan majikan kecilnya. Wanita itu sudah menganggap majikan kecilnya itu sebagai putrinya sendiri.


Darren, Brenda, para sahabat-sahabatnya dan juga mahasiswa dan mahasiswi yang ada di lobi tersebut ikut menangis ketika mendengar cerita dari wanita itu. Bahkan mereka lebih menangis lagi ketika mendengar ucapan demi ucapan dari gadis kecil tersebut.


"Nona sayang tidak sama Suster?"


"Sayang. Anin sayang banyak-banyak sama Suster," jawab Anin.


"Apa nona juga sayang sama Papi dan Mami?"


"Sayang, Suster. Anin sayang sama Papi dan Mami."


"Kalau nona sayang sama suster, sayang sama Mami dan sayang sama Papi. Maka nona harus nurut apa yang suster katakan tadi."


"Anin mau dengerin Suster?"


Seketika air mata gadis kecil itu mengalir membasahi wajahnya.


Dan pada akhirnya, gadis kecil itu pun mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh wanita itu.


"Ikutlah bersama Paman itu. Nona akan aman bersama Paman itu, sayang!"


Wanita itu berdiri dari duduknya. Begitu juga Darren.


Wanita itu menuntun majikan kecilnya untuk berjalan mendekati Darren.


"Paman," ucap Anin.


Darren menyamakan tinggi badannya dengan gadis kecil di hadapannya. Tangannya mengusap lembut kepala gadis kecil itu. Dan tak lupa, Darren menghapus air mata yang membasahi wajah gadis kecil itu.


"Mau ikut dengan Paman?" tanya Darren.


"Apa nggak apa-apa kalau Anin ikut dengan Paman?"

__ADS_1


Darren tersenyum mendengar pertanyaan dari gadis kecil itu. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tersenyum gemas melihat wajah polos gadis kecil tersebut.


"Tidak apa-apa. Nggak akan ada yang marah jika Anin ikut dengan Paman. Paman akan bawa Anin ke rumah Paman. Mau?"


"Apa rumahnya Paman sama besar dengan rumah Anin?"


"Iya. Rumah Paman sama besar dengan rumah Anin. Mungkin lebih besar rumah Anin."


"Kok Paman bisa berpikir seperti itu?"


"Karena Paman sudah pernah melihat rumahnya Anin. Itu semua karena kebaikan Papinya Anin."


"Jadi Paman kenal sama Papi?"


"Hm!" Darren berdehem sembari menganggukkan kepalanya.


Darren membelai pipi cubby Anin. "Bagaimana? Mau ikut dengan Paman dan tinggal bersama Paman?"


Anin melihat kearah susternya. Dirinya masih belum yakin ingin berpisah dengan suster yang sudah menjaganya dari lahir.


Wanita itu langsung mengangguk kearah majikan kecilnya itu.


Anin kembali menatap wajah Darren. "Paman. Apa nggak bisa suster diajak juga?"


Mendapatkan pertanyaan dari gadis kecil di hadapannya membuat Darren menatap wanita itu.


"Tuan, saya tidak bisa ikut. Nyonya sudah mengatur semuanya dengan membakar semua foto-foto nona Anin. Nyonya melakukan itu untuk menghapus jejak nona Anin dari orang-orang itu agar tidak bisa dilacak. Jika saya tetap ikut dengan nona Anin, maka nyawa nona Anin tidak akan aman. Jadi percuma saja Nyonya membakar semua foto-foto nona Anin."


"Terus nyonya mau kemana setelah ini?" tanya Axel.


Wanita itu melihat kearah Axel. "Saya akan pulang ke kampung saya, tuan! Kebetulan letak kampung saya itu sangat jauh dari negara ini. Ditambah lagi, kondisi kampung saya itu kurang memadai. Salah satunya tidak akan mudah dilacak oleh alat apapun. Dan juga tidak ada alat komunikasi sama sekali. Jadi saya aman disana. Mereka tidak akan bisa menemukan saya. Besar kemungkinan orang-orang itu mengira saya sudah mati saat kejadian itu."


Wanita itu berjalan mendekati Anin, lalu kemudian wanita itu memeluk tubuh kecil Anin. Dan seketika tangisnya pun pecah.


"Maafkan suster ya. Suster melakukan ini karena Suster sayang sama nona. Suster tidak mau terjadi sesuatu sama nona. Dengan nona ikut bersama Paman ini, hidup nona akan baik-baik saja. Percayalah sama Suster!"


"Tapi kita akan bertemu lagikan, Suster? Anin nggak mau pisah lama-lama."


"Anin janji."


Wanita itu kemudian melepaskan pelukannya. Dan setelah itu, wanita itu memberikan kecupan sayang di kening majikan kecilnya itu.


"Kita berpisah disini ya. Suster akan pulang kampung. Sementara nona akan ikut dengan Paman itu."


"Baiklah, Suster. Suster hati-hati ya. Kalau sudah sampai di kampung. Suster jangan lupa hubungi Anin."


"Ya, sayang."


Setelah mengatakan itu, wanita itu pun pergi meninggalkan majikan kecilnya. Dirinya juga tidak tahu kapan akan bertemu lagi dengan majikan kecilnya.


Namun wanita itu berharap jika umurnya panjang, wanita itu ingin bertemu kembali dengan majikan kecilnya itu.


"Paman," panggil Anin kepada Darren.


"Kapan kita akan ke rumah Paman?" tanya Anin.


Mendengar pertanyaan dari Anin membuat Darren tersenyum. Begitu semua yang ada di sekitarnya.


"Kenapa? Apa Anin penasaran dengan rumahnya Paman, hum?"


Anin seketika langsung menganggukkan kepalanya. Dan jangan lupa senyuman manis di bibirnya.


"Bagaimana kalau kita pulang sekarang? Mau?"


"Mau Paman. Ayo, kita pulang ke rumahnya Paman!"


Mereka semua tertawa melihat teriakan semangat dari gadis kecil yang ada di hadapan mereka itu.


"Ayo!" seru Darren.

__ADS_1


Darren langsung membimbing tangan Anin. Dan Anin seketika juga menarik tangan Brenda yang kebetulan berdiri tak jauh darinya.


Kemudian mereka melangkah pergi meninggalkan lobi dan diikuti para sahabat-sahabatnya di belakang.


Darren, Anin dan Brenda berpegangan tangan layaknya sebuah keluarga kecil.


"Izinkan kami kepada Dosen!" seru Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Dylan dan Jerry bersamaan.


"Baiklah," jawab kompak para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di lobi tersebut yang sekelas dengan mereka.


***


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam. Darren, Brenda dan para sahabatnya telah sampai di depan rumah Darren.


Sesampainya di halaman rumah, mereka disambut dengan dua security dan satu orang kepercayaan Darren yaitu Fito.


Darren, Brenda dan para sahabatnya keluar dari dalam mobil dengan Darren menggendong seorang gadis kecil yang saat ini tengah tertidur.


Mereka semua melangkah menuju pintu utama kediaman Darren.


Setelah berada di depan pintu, Fito membantu membukakan pintu utama untuk para majikannya.


"Silahkan tuan, nona!"


"Terima kasih Fito," jawab Darren dan ketujuh sahabatnya


"Sama-sama, tuan!"


Darren, Brenda dan para sahabatnya melangkah masuk ke dalam rumah.


^^^


Darren, Brenda dan para sahabatnya melangkah menuju ruang tengah.


Ketika mereka telah sampai di ruang tengah, anggota keluarga Smith yang memang sudah berada di rumah terkejut ketika melihat Darren datang bersama kekasih dan sahabat-sahabatnya.


Yang membuat mereka lebih terkejut lagi adalah mereka yang melihat Darren yang menggendong seorang gadis kecil yang sedang tertidur.


"Darren. Anak siapa itu, sayang?" tanya Erland.


"Papa, nanyanya nanti saja ya. Aku harus membawa Anin ke kamar. Kasihan dia," jawab Darren.


"Baiklah, sayang!"


"Ibu Dira," panggil Darren.


Tak butuh lama orang yang dipanggil pun datang.


"Iya, tuan Darren. Ada apa?"


"Siapkan kamar untuk gadis kecil ini di sebelah ruang kerjaku," pinta Darren.


"Baik, tuan muda."


Ibu Dira pun langsung pergi menuju lantai dua untuk menyiapkan kamar yang diminta oleh Darren.


Tak butuh lama, ibu Dira pun kembali ke bawah.


"Tuan muda Darren. Kamarnya sudah siap!"


"Baiklah. Terima kasih Bu Dira."


"Sama-sama, tuan."


Setelah itu, ibu Dira pun pamit ke dapur.


"Papa, Mama, Paman, Bibi, kakak. Aku bawa Anin ke kamar dulu ya. Dan untuk kalian, aku tinggal sebentar."


"Baiklah, sayang!"

__ADS_1


"Baik, Ren!"


Setelah itu, Darren pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju lantai dua.


__ADS_2