
Seorang pemuda terus menggeber motornya di jalanan yang tampak lengang.
Sesekali pemuda tersebut menoleh ke belakang dimana seorang pemuda lain juga terus menggeber motornya berusaha menyusul laju motor di depannya.
Seringai tercetak di balik helm full face berstiker tengkorak pemuda itu, kala melihat kerumunan orang yang telah menunggu ke datangan mereka.
Suara sorakan dan tepuk tangan bergema saat salah satu motor melewati garis finish. Diikuti oleh motor lain di belakangnya.
"Wah! Mantep banget temen gue ini!" ujar seorang pemuda dengan tato naga di lengannya.
Regan, nama pemuda tersebut.
"Selamat Lino. Lo menang lagi malam ini," ujar pemuda lain dengan sepuntung rokok di tangannya.
Pemuda yang dipanggil Lino tersebut membuka helm full face yang dia kenakan, lalu meletakkannya di atas tangki motor.
Terpampang jelas wajah tampannya itu menarik sudut bibirnya kala mendengar ucapan teman-temannya atas kemenangan ke sekian kalinya.
Pemuda tersebut menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya cool nya.
"Elzaro Adelino gitu loh," kata Lino dengan senyum manisnya.
Diego menghembuskan asap dari gulungan tembakau yang dia hisap ke udara.
"Sombongnya bukan main."
Lino terkekeh kecil mendengar ucapan Diego tersebut hingga pandangan mereka teralihkan pada lawan Lino yang berjalan mendekat ke arah mereka.
Lini turun dari motor sportnya dan berjalan mendekati lawannya tadi.
"Nih hadiah lo. Hari ini lo boleh menang tapi next time nggak bakal."
Lino menerima segepok uang tersebut dengan senang hati.
"Terima kasih. Kita lihat aja nanti."
Kedua orang tersebut bersalaman sebagai tanda perdamaian.
"Yuk, kita pesta! Gue yang traktir!" seru Lino sembari memamerkan uang hasil balapannya.
Kembali seruan memecahkan keheningan malam tersebut. Setelah itu, rombongan motor besar itu meninggalkan area balap liar.
***
Di sebuah hotel terlihat seorang gadis tengah berdiskusi dengan beberapa laki-laki yang tak lain adalah orang suruhannya.
Gadis itu adalah Valen, kekasihnya Gilang.
Valen meminta kepada orang suruhannya untuk melakukan apa yang sudah direncanakan sejak awal dengan rapi.
Valen juga mengingatkan kepada orang suruhannya itu untuk tidak melakukan kesalahan ketika melakukan pekerjaannya.
"Ingat! Jangan sampai gagal. Aku mau Gilang masuk ke dalam perangkap yang kita buat. Kalian mengerti!"
"Baik, nona. Kami mengerti!"
"Bagus. Sekarang kembalilah ke tempat kalian masing-masing. Dan lakukan pekerjaan kalian."
Setelah itu, orang suruhannya itu pun pergi ke tempat yang sudah dipersiapkan.
Tanpa disadari dan diketahui oleh Valen. Orang suruhannya itu melaporkan rencananya kepada seseorang dengan menghubungi seseorang sehingga membuat rencananya akan gagal total. Dengan kata lain, Valen akan masuk ke dalam perangkapnya sendiri.
"Hallo, Bos. Semua sudah siap. Tinggal Bos yang memulainya." orang itu menghubungi seseorang.
"Baiklah," jawab seseorang di seberang telepon.
Di sisi lain dimana Gilang yang saat ini berada di sebuah cafe yang ada di hotel tersebut. Gilang tengah menikmati minuman kesukaannya yaitu jus jeruk dengan wajah yang terlihat bahagia.
Bagaimana tidak bahagia. Sebentar lagi Gilang akan menyaksikan rencananya akan dilaksanakan di salah satu kamar hotel.
"Maaf, sayang. Lama ya!" seru Valen yang datang dengan terburu-buru.
Mendengar suara kekasihnya, Gilang langsung melihat kearah kekasihnya itu. Dan dapat dilihat olehnya bahwa kekasihnya tengah ngos-ngosan.
"Kamu kenapa?" tanya Gilang sambil menghapus keringat Valen.
"Aku mikirin kamu karena terlalu lama menunggu disini. Sementara aku sedang asyik mengobrol dengan sahabatku di telepon. Setelah aku selesai, aku baru sadar kalau kamu lagi nungguin aku disini. Ya, udah! Aku pun langsung buru-buru kesini." Valen berbicara bohong di depan Gilang agar dirinya tidak ketahuan.
Gilang tersenyum mendengar jawaban dari Valen.
"Ini minum dulu. Kamu pasti haus." Gilang menyuruh Valen untuk meminum jus yang sudah dipesan olehnya.
__ADS_1
Valen mengangguk dan langsung meminum jus tersebut.
Melihat Valen yang meminum jus itu. Seketika tersenyum di sudut bibirnya.
Beberapa menit kemudian...
"Aakkhhh!"
Tiba-tiba Valen merasakan pusing di kepalanya. Melihat itu, Gilang tersenyum kemenangan.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Aku juga nggak tahu, sayang. Tiba-tiba kepalaku pusing," jawab Valen dengan memegang kepalanya.
Namun detik kemudian..
Valen tak sadarkan diri dengan menjatuhkan kepalanya di atas meja.
Setelah memastikan bahwa Valen benar-benar sudah tak sadarkan diri. Gilang pun memanggil orang suruhannya dan meminta mereka untuk membawa Valen ke kamar hotel.
"Kalian bawa dia ke kamar hotel. Lakukan sekarang."
"Baik. bos!"
Mereka pun membawa tubuh Valen ke dalam kamar hotel dan langsung melakukan tugas mereka selanjutnya.
***
Darren, Brenda dan para sahabat-sahabatnya saat ini berada di ruang tinju.
Di ruangan itu juga ada Darka, kakak kesayangannya. Darka saat ini menatap khawatir adiknya.
"Ren," panggil Darka dengan tangannya mengusap lembut kepalanya.
"Aku takut kakak Darka," ucap pelan Darren.
Mendengar ucapan pelan dari Darren membuat Darka mengerti.
Sementara ketujuh sahabatnya yaitu Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel. Kekasihnya Brenda. Serta sahabatnya Brenda yaitu Alice, Elsa, Vania, Felisa, Milly, Lenny dan Tania menatap Darren dengan tatapan bingung.
Kemudian mereka semua menatap wajah Darka untuk meminta penjelasan akan perkataan Darren barusan.
Darka yang merasa ditatap langsung balik menatap wajah Brenda, ketujuh sahabatnya adiknya dan juga sahabatnya Brenda.
Ketika Darka ingin menjawab pertanyaan dari Axel, tiba-tiba Darren bersuara.
"Kakak Darka. Aku benar-benar mengkhawatirkan kakak Gilang! Aku takut jika terjadi sesuatu terhadap kakak Gilang," ucap Darren.
Darka langsung menarik tubuh adiknya itu ke dalam pelukannya dan memeluknya erat. Hati Darka benar-benar sakit jika sudah mendengar lirihan dan ketakutan dari adiknya itu.
"Percayalah. Semuanya akan baik-baik saja, oke! Kakak sangat yakin jika kakak kamu itu bisa menjalankan semua rencananya dengan baik."
Seketika Darren langsung melepaskan pelukannya. Setelah pelukannya terlepas, Darren menatap wajah kakaknya itu.
"Kakak Darka!"
Darka tersenyum menatap wajah tampan adiknya. Ditambah lagi melihat wajah terkejutnya itu.
"Kakak sudah tahu apa yang kamu dan Gilang rencanakan. Gilang yang berpura-pura suka dan menjalin hubungan dengan perempuan gila itu. Dan kamu juga ikut dalam rencananya Gilang." Darka berbicara sembari tangannya mengusap lembut kepalanya.
Mendengar ucapan dari Darka. Baik Brenda, Qenan, Willy, Axel, Dylan maupun Jerry, Rehan dan Darel akhirnya paham akan ketakutan Darren. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya Brenda.
"Kakak Darka tahunya sejak kapan?" tanya Darren.
"Kakak nggak ingat kapan. Yang jelas kakak tahu apa yang kalian rencanakan," jawab Darka.
Darka masih mengusap kepala Darren. Dirinya tahu bahwa adiknya itu masih kepikiran Gilang. Terlihat dari sorot matanya.
"Sekarang katakan pada kakak. Kenapa kamu ketakutan seperti ini?"
"Karena... Karena hari ini gadis gila itu ingin menjebak kakak Gilang di kamar hotel," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Darka langsung paham. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel. Serta Brenda dan ketujuh sahabatnya.
"Semoga Gilang berhasil terhindar dari jebakan perempuan gila itu. Kita berdoa saja," hibur Darka.
"Iya, Ren! Apa yang dikatakan kakak Darka, benar. Kita berdoa saja untuk kakak Gilang," sahut Qenan yang ikut menghibur Darren.
"Kakak Gilang itu pintar dan juga licik. Kelicikannya kakak Gilang itu hampir sama seperti kamu. Baik kamu maupun kakak Gilang paling jago dalam hal jebak menjebak," ucap Rehan.
"Hm!" seru mereka semua kompak.
__ADS_1
Ketika mereka semua tengah berusaha menghibur Darren, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.
Mendengar bunyi ponselnya. Darren langsung mengambil di saku celananya.
Darren melihat nama tangan kanannya di layar ponselnya. Tak mau menunggu lama. Darren langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo."
"Hallo, Bos."
"Buruan katakan!"
"Tuan Gilang berhasil membalikkan keadaan."
"Maksudnya?"
"Tuan Gilang berhasil membuat perempuan itu tidur dengan tiga laki-laki. Bahkan mereka melakukan hubungan layaknya suami istri. Setelah selesai melakukan itu, barulah tuan Gilang masuk dan tidur di atas tempat tidur seakan-akan bahwa tuan Gilang telah melakukan itu."
Mendengar apa yang disampaikan oleh tangan kanannya itu membuat Darren tersenyum.
Senyuman Darren kali ini benar-benar lebar. Tanpa ada beban dan kesedihan sama sekali.
Melihat senyuman mengembang di bibir Darren membuat Darka, Brenda dan para sahabat dari Darren dan juga Brenda meyakini bahwa tangan kanannya itu memberikan kabar gembira padanya.
"Apa itu benar?"
"Benar, Bos!"
"Baiklah."
Setelah selesai berbicara dengan tangan kanannya, Darren pun langsung mematikan panggilannya.
"Kabar baik atau kabar buruk?" tanya mereka kompak dengan menatap wajah Darren.
Mendengar pertanyaan kompak dari kakaknya, kekasihnya, ketujuh sahabatnya dan ketujuh sahabat dari kekasihnya membuat Darren terkejut.
"Kakak Gilang berhasil," jawab Darren dengan senyumannya yang makin mengembang.
Mendengar itu, mereka semua turut bahagia, terutama Darka.
Darka memang sangat yakin jika rencana Gilang akan berjalan sempurna tanpa cacat.
"Terima kasih, Tuhan!" ucap Darka di dalam hatinya.
Darka menatap wajah tampan adiknya itu. "Bagaimana? Udah tenang sekarang?" tanya Darka.
"Sudah," jawab Darren.
"Yakin?" tanya Brenda dengan menatap wajah tampan kekasihnya itu.
"Cium aku sekarang, biar keyakinanku bertambah menjadi 1000%," sahut Darren sembari menggoda Brenda.
"Ih. Apaan sih, Ren!" Brenda langsung membuang wajahnya kearah lain.
"Jadi nggak mau nih," ucap Darren dengan nada merajuknya.
Brenda tetap di posisinya. Dirinya benar-benar malu saat ini.
Melihat Brenda yang tetap di posisinya membuat Darren mendapatkan ide licik di otaknya.
"Ya, udah kalau kamu nggak mau. Aku minta dicium sama yang lainnya saja," sahut Darren lalu pura-pura beranjak dari duduknya.
Mendengar penuturan dari Darren membuat Brenda seketika membelalakkan matanya, lalu tangannya memegang tangan Darren.
Dan detik kemudian...
Cup!
Brenda memberikan satu kecupan di pipi Darren.
"Kok satu. Satunya lagi dong," ucap Darren sembari menunjuk pipi kirinya.
"Hah!" Brenda hanya bisa menghela nafasnya.
Sedangkan Darka dan yang lainnya hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala melihat kelakuan Darren.
Brenda kembali memberikan ciuman di pipi kirinya Darren.
Namun Darren dengan gesitnya langsung memutar kepalanya. Dan berakhir Brenda yang mencium tepat di bibirnya.
"Darren," kesal Brenda.
__ADS_1
"Hehehehe." Darren hanya memperlihatkan senyuman manisnya.