
Kini Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel sudah berada di Unit Gawat Darurat dimana Elsa berada.
Mereka menatap Elsa yang saat ini masih tertidur dengan tangan tertancap infus dan dahi diperban.
Qenan berdiri di samping ranjang Elsa, lalu tangannya memegang tangan Elsa yang terbebas dari infus.
Berlahan Elsa membuka kedua matanya. Melihat Elsa yang membuka matanya membuat Qenan, Darren, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tersenyum.
Setelah Elsa membuka matanya sempurna. Elsa melihat Qenan dan ketujuh sahabatnya ada di hadapannya.
Dan seketika air mata Elsa jatuh dari sudut matanya
Melihat Elsa yang menangis, Qenan langsung menghapus air matanya itu.
Puk..
Darren menepuk pelan bahu Qenan. "Bicaralah baik-baik dengannya. Selesaikan masalah kalian," ucap Darren di telinga Qenan.
Setelah itu, Darren pergi keluar dan disusul oleh Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel.
Kini tinggal Qenan dan Elsa berdua di ruang UGD tersebut.
Elsa berusaha untuk bangun dari tidurnya. Qenan yang melihat itu langsung membantu Elsa untuk bangun.
Seketika Elsa terisak sembari menundukkan kepalanya. Dia tidak berani untuk menatap wajah Qenan.
Qenan yang mendengar isakan Elsa menjadi tidak tega. Dan seketika Qenan memeluk tubuh Elsa.
Mendapatkan pelukan dari Qenan membuat tangisan Elsa pecah.
"Maafkan aku, Qenan! Maafkan aku," ucap Elsa disela isakannya.
Mendengar permintaan maaf dari Elsa membuat Qenan bingung, namun Qenan tidak berniat untuk bertanya. Justru Qenan ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Elsa.
"Maafkan aku karena sudah mengabaikan chat dari kamu dan menolak panggilan dari kamu. Aku... Aku melakukan itu karena cemburu dan marah ketika melihat kamu pelukan sama Kelly."
Mendengar perkataan dari Elsa membuat Qenan terkejut. "Jadi Elsa melihatku dipeluk oleh Kelly?" batin Qenan.
"Aku berpikir saat itu kamu udah benaran suka sama Kelly sehingga kamu mau aja di peluk sama dia. Dan setelah itu, kamu pasti akan mutusin aku."
Elsa berbicara dan menjelaskan semuanya kepada Qenan. Dan jangan lupa isakannya masih terdengar jelas.
"Soal laki-laki yang bernama Rivo yang mengatakan bahwa dia adalah pacarku. Itu tidak benar. Kakak Rivo itu saudara sepupu aku. Dia baru datang dari Belanda. Dia datang kesini untuk liburan."
Elsa melepaskan pelukannya Qenan, lalu kepalanya mendongak keatas untuk melihat wajah Qenan.
"Maafkan aku," lirih Elsa.
Qenan menatap wajah basah Elsa. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata itu.
Setelah itu, Qenan mengecup kening Elsa penuh sayang
"Kamu tahukan siapa nama perempuan yang aku cintai?" tanya Qenan.
Elsa langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya. Dia tahu siapa perempuan itu. Perempuan itu adalah dia sendiri.
"Kamu tahukan di dunia ini hanya ada dua perempuan yang selalu ada di hatiku?" tanya Qenan.
Lagi-lagi Elsa menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
__ADS_1
"Sekarang katakan pada siapa perempuan yang aku cintai? Dan siapa dua perempuan yang akan selalu ada di hatiku?"
"Mama kamu dan aku," jawab Elsa dengan air matanya kembali mengalir membasahi pipinya.
"Kalau kamu sudah tahu jawabannya. Kenapa kamu masih saja tidak mempercayaiku? Kenapa kamu justru lebih mempercayai apa yang kamu lihat?"
"Bahkan kamu tidak menghubungiku dan menanyakan hal itu padaku. Justru kamu mengabaikan chat dan menolak panggilan dariku."
"Maafkan aku, Qenan! Aku benar-benar menyesal. Aku sampai melakukan itu mungkin aku terlalu cinta sama kamu. Dan aku tidak mau kehilangan kamu."
Mendengar perkataan maaf dari Elsa. Di tambah suara isakan dari Elsa membuat Qenan menjadi tidak tega.
"Lihat aku."
Mendengar perkataan Qenan. Elsa langsung menatap wajah Qenan.
"Apa kau benar-benar mencintaiku?"
"Aku bersungguh-sungguh mencintaimu, Qenan! Perasaanku ke kamu sama seperti perasaan Brenda ke Darren. Aku dari dulu mencintai kamu."
Mendengar pengakuan Elsa membuat Qenan terkejut. Begitu juga dengan Darren, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Rehan, dan Darel yang saat ini tengah menguping di luar pintu ruang Unit Gawat Darurat.
"Jika kamu benar-benar mencintaiku. Mulai dari sekarang, percayalah padaku. Aku tidak pernah melarangmu untuk cemburu. Cemburu itu adalah wajar. Tapi jangan sampai kecemburuan itu sampai merusak sebuah hubungan. Dalam hubungan itu harus didasari kepercayaan. Jika kepercayaan itu tidak ada. Lebih baik bubar."
"Aku janji, mulai detik dan seterusnya aku akan percaya padamu. Apapun yang terjadi. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya karena aku tidak mau kehilangan kamu."
Mendengar perkataan Elsa. Seketika Qenan tersenyum sembari tangannya mengusap lembut kepalanya.
"Apapun yang kamu rasakan. Dan apapun yang kamu lihat diluar sana. Sekali pun kamu melihatku dengan perempuan lain. Kamu harus langsung bertanya padaku. Jangan disimpan sendiri. Bisa?"
Mendengar perkataan dan pertanyaan dari Qenan. Elsa langsung menganggukkan kepalanya.
"Baik, aku janji."
Qenan tersenyum mendengar jawaban dari Elsa.
Elsa menatap wajah tampan Qenan. "Jadi kamu sudah nggak marah lagi sama aku?"
"Aku nggak marah. Hanya kecewa saja sama sikap kamu yang tiba-tiba berubah."
Grep..
Elsa memeluk tubuh Qenan. Dia memeluk tubuh Qenan dengan erat.
"Sekali lagi maafkan aku."
"Aku maafkan."
^^^
Di luar ruangan UGD ketujuh sahabatnya tersenyum bahagia melihat hubungan Qenan dan Elsa sudah membaik.
"Akhirnya," ucap Darren, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan, dan Darel bersamaan.
Terdengar bunyi ponsel milik Darren. Mendengar suara bunyi ponselnya, Darren langsung mengambilnya di saku celananya.
Darren melihat nama 'Brenda' di layar ponselnya. Dan Darren pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, sayang!"
__ADS_1
"Hallo, sayang. Bagaimana Elsa? Dia baik-baik sajakan?"
Darren yang mendengar suara panik Brenda menjadi tidak tega. Dia pun langsung memberitahu kondisi Elsa yang sebenarnya.
"Elsa baik-baik saja. Hanya luka lecet di dahinya. Dokter yang menangani Elsa bilang tidak ada yang serius."
Brenda tersenyum bahagia dan berucap syukur kepada Tuhan untuk sahabatnya Elsa.
"Apa itu benar, Ren?"
"Iya, Brenda. Elsa baik-baik saja."
"Aku senang mendengarnya."
"Oh iya. Jika kamu dan yang lainnya ingin melihat Elsa. Langsung ke rumahnya saja. Elsa tidak perlu dirawat."
"Baiklah, Ren! Kita akan ke rumah Elsa setelah mengikuti materi kuliah yang terakhir.
"Oh iya. Bawakan juga tas Elsa, tasku dan ketujuh sahabat-sahabatku. Kemungkinan kita nggak balik lagi ke kampus. Kita mau ke perusahaan Accenture, Galeri dan Showroom."
"Baik, Ren!"
"Ya, sudah. Aku akhiri panggilannya."
"Baik."
Setelah mengatakan itu, Darren pun mematikan panggilannya.
Darren, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel memasuki ruang UGD dimana Elsa dan Qenan berada.
"Bagaimana keadaan kamu, Elsa?" tanya Darren.
"Aku sudah nggak apa-apa, Ren!" jawab Elsa.
"Apa ada yang sakit?" tanya Axel.
"Cuma dikit. Tapi nggak apa-apa," jawab Elsa.
"Gue minta maaf atas apa yang dilakukan oleh saudara sepupu gue kemarin? Dan juga maafkan perkataannya yang sudah buat kalian marah," ucap Elsa.
Mendengar perkataan dari Elsa membuat Qenan bingung. Begitu juga dengan Willy, Jerry, Axel, Dylan.
Kemudian Qenan, Willy, Jerry, Axel dan Dylan langsung melihat kearah Darren, Rehan dan Darel. Mereka tidak tehau apa yang terjadi setelah mereka pergi.
Melihat tatapan mata dari Qenan, Willy, Axel, Jerry dan Dylan membuat Darren, Rehan dan Darel memutar otak mereka agar tidak menceritakan masalah kemarin kepada kelima sahabatnya itu.
"Rehan dan Darel. Aku mendapatkan pesan dari perusahaan Dirgantara dan perusahaan Lippo. Katanya mereka ingin membeli masing-masing lima lukisan."
Mendengar perkataan dari Darren. Di tambah lagi tatapan matanya mengisyaratkan sebuah kode membuat Rehan dan Darel langsung mengerti.
"Baik. Kami akan pergi sekarang.
Rehan dan Darel langsung pergi meninggalkan ruang UGD untuk menuju Galeri.
"Dan untuk kalian. Kalian tidak lupakan jika hari ini kita punya tugas-tugas masing-masing?"
"Dan untuk lo Mingtem. Sebelum lo ke perusahaan. Lo antar dulu Elsa pulang."
Setelah mengatakan itu, tanpa pamit dan tanpa izin. Darren langsung pergi begitu saja meninggalkan ruang UGD sehingga membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan dan Jerry mengumpat kesal akan kelakuannya.
__ADS_1