
[PLADYS HOSPITAL]
Darren berada di ruang UGD. Sementara ketujuh sahabatnya menunggu diluar dengan perasaan bercampur aduk.
"Aku masih kepikiran kejadian yang menimpa Darren. Kenapa mobil itu tiba-tiba meledak?" tanya Rehan.
"Iya! Aku juga, Han. Padahal aku, Jerry dan Axel serta beberapa karyawan hampir setiap hari mengecek mobil-mobil itu sebelum diuji coba," ujar Dylan.
"Selama kita bekerja. Selama Darren membuka Shoowroom ini. Ini adalah kejadian pertama yang kita alami " kata Axel.
"Pasti ada pengkhianat di Shoowroom!" seru Jerry tiba-tiba.
Qenan, Willy, Rehan, Axel, Dylan dan Darel melihat kearah Jerry yang duduk di kursi tunggu dengan menatap kosong ke depan.
Axel duduk di samping Jerry. "Kenapa kau bisa berpikiran seperti, Jerry?"
"Aku hanya menebak. Jika tidak ada pengkhianat di Shoowroom, tidak mungkin hal seperti ini terjadi. Yang boleh masuk ke ruangan itu hanya Darren, aku, kau dan Dylan. Ditambah 15 karyawan yang dipercayai untuk mengecek mobil-mobil itu setiap hari, lalu memberikan laporannya kepada kita bertiga." Jerry menjelaskan alasannya kenapa dirinya mengatakan bahwa di Showroom ada pengkhianat.
"Bahkan saat kita menerima laporan-laporan dari mereka, kita kembali mencocokkan laporan-laporan itu dengan hasil kita. Dan semuanya dalam kondisi baik," ucao Jerry lagi.
Axel dan Dylan terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang diucapkan oleh Jerry.
"Jika memang benar ada pengkhianat di Shoowroom. Lalu apa yang akan kita lakukan? Kita tidak akan membiarkan pengkhianat itu begitu sajakan?" ucap dan tanya Qenan.
"Yang jelas Darren tidak akan memberikan ampun untuk siapa saja yang sudah berani mengkhianatinya," sahut Jerry.
"Ya. Kau benar, Jer! Jangankan Darren. Aku juga tidak akan pernah memaafkan orang yang berani mengkhianatiku. Kalau perlu aku juga akan ikut memberikan hukuman pada pengkhianat itu karena sudah mengkhianati sahabat-sahabat baikku," sela Darel.
Saat mereka tengah membahas masalah pengkhianat, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil salah satu dari mereka.
"Willy," panggil Darka.
Willy dan yang lainnya melihat keasal suara. Dapat mereka lihat, anggota keluarga Darren semuanya datang ke rumah sakit.
"Paman, Bibi, kakak." ketujuh sahabat Darren menyapa anggota keluarga Darren.
"Bagaimana, Darren? Apa kata Dokter?" tanya Erland.
"Darren masih di dalam, Paman!" jawab Qenan.
Erland dan yang lainnya melihat ke arah pintu unit gawat darurat yang masih tertutup.
"Darre, sayang. Papa mohon bertahanlah. Jangan tinggalkan Papa," batin Erland.
__ADS_1
"Darren," lirih para kakak-kakaknya, termasuk ketiga kakak-kakak sepupunya.
"Kakak Darren," lirih Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Darren, sayang. Semoga kamu tidak kenapa-kenapa?" batin Carissa dan Evan.
CKLEK!
Terdengar suara pintu dibuka. Mereka yang mendengar pintu dibuka, langsung melihat kearah pintu tersebut. Mereka semua menghampiri Dokter itu.
"Bagaimana keadaan putra saya, Dokter?" tanya Erland.
"Anda tidak perlu khawatir, tuan. Putra anda baik-baik saja. Putra anda hanya mengalami luka lecet di bagian kepalanya, tapi tidak terlalu parah atau berbahaya. Dan kakinya yang sedikit terkilir. Kemungkinan putra anda sedikit susah untuk berjalan," kata Dokter itu.
"Apa perlu dirawat, Dokter?" tanya Darka.
"Tidak perlu. Pasien boleh dirawat di rumah saja," jawab Dokter itu.
"Terima kasih, Dokter." mereka berucap bersamaan.
"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu."
Dokter itu pun pergi meninggalkan anggota keluarga dan sahabat-sahabat Darren.
^^^
"Sayang," ucap Erland. Erland mencium kening putranya.
"Darren." Darka dan Gilang menangis saat melihat adiknya. Mereka berdua secara bergantian menciumi kening dan kedua pipi sang adik.
"Cepat bangun. Kakak ada disini," bisik Darka.
"Eeuugghhh."
Terdengar lenguhan dari bibir Darren. Mereka yang mendengarnya tersenyum bahagia.
Darren berlahan membuka kedua matanya. Saat matanya sudah terbuka sempurna, Darren melihat wajah Ayahnya berdiri di hadapannya. Darren dapat melihat wajah Ayahnya yang sedikit pucat dan juga mata yang sembab.
"Kenapa wajah Papa pucat? Apa Papa sakit?" batin Darren.
Erland yang melihat putranya yang sedang menatapnya memberanikan diri untuk mengelus rambut putranya itu. Lalu kemudian mencium keningnya.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih, kamu sudah dalam keadaan baik-baik saja dan tidak mengalami luka parah. Saat Papa berada di kantor, Papa memiliki perasaan yang tidak enak tentang kamu. Papa benar-benar mengkhawatirkan kamu," ucap Erland.
__ADS_1
Darren berusaha untuk bangun dari tidurnya. Saat melihat Darren yang ingin bangun, Darka yang saat ini berdiri di samping kiri adiknya membantunya untuk bangun. Erland juga ikut membantu putranya itu, karena Erland berdiri di samping kanan putranya.
Kini Darren sudah dalam posisi duduk. Kini matanya menatap wajah Ayahnya.
"Apa aku harus memaafkan kesalahan Papa? Bagaimana pun dia adalah Papaku? Aku bisa memaafkan kesalahan kak Darka dan kak Gilang. Seharusnya aku juga bisa memaafkan kesalahan Papa. Aku sudah kehilangan Mama. Apa aku harus kehilangan Papa juga? Lagian setelah kejadian itu, Papa udah banyak berubah. Dan saat ini aku sangat yakin jika Papa sedang tidak enak badan. Terlihat dari wajahnya," batin Darren.
"Mama. Apa yang harus aku lakukan? Aku menyayangi, Papa. Bagaimana pun kesalahan Papa dulu padaku dia tetap Papaku," batin Darren lagi.
Darren memejamkan kedua matanya, lalu Darren teringat akan kehadiran sang ibu di dalam mimpinya ketika tidak sadarkan diri dua hari yang lalu. Ibunya memberikan sebuah kata-kata sayang, kata-kata penyemangat dan kata-kata nasehat untuknya.
"Putra Mama yang tampan dan manis. Sampai kapan pun Mama akan selalu menyayangi kamu. Sekali pun Mama tidak ada disamping kamu memberikan perhatian dan kasih sayang untuk kamu. Tapi kamu sudah mendapatkan itu semua dari Mama Agneta, adik perempuan Mama. Mama sudah menitipkan kamu, menitipkan keenam kakak-kakak kamu dan menitipkan Papa pada Mama Agneta. Dan Mama bisa melihatnya dari atas sini jika Mama Agneta sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mama Agneta sudah menjadi ibu yang baik untuk kamu dan keenam kakak-kakak kamu serta sudah menjadi istri yang baik untuk Papa. Mama benar-benar bahagia melihatnya."
"Perasaan kecewa dan marah wajar dimiliki oleh semua orang, termasuk kamu sendiri. Dalam hidup pasti kita pernah dikecewakan dan dikhianati orang lain, apalagi kecewa dengan anggota keluarga sendiri. Meski pun begitu mereka mungkin tak sengaja atau tidak berniat sama sekali untuk menyakiti kamu. Tapi rasa perih dan terluka seakan sudah menusuk hati kamu. Kendati demikian sebesar apapun rasa kecewamu, rasa marah kamu tidak baik jika semua itu malah membuat kamu dendam dan membenci mereka. Kamu mungkin boleh marah, namun jangan pernah merasa dendam pada mereka, sayang. Pasalnya perasaan dendam malah akan lebih menyakiti diri kamu sendiri, akan membekas untuk selamanya, memutuskan tali persaudaraan, dan bisa jadi musuh selamanya. Mama tidak mau hal itu terjadi, sayang."
"Darren, sayang! Mama tahu apa yang telah dilakukan oleh Papa, Mama Agneta dan keenam kakak-kakak kamu. Mama juga sangat marah dan kecewa pada mereka. Mama menangis disini saat melihat mereka bersikap buruk pada kamu. Tapi setidaknya, lihatlahlah mereka sekarang, nak! Mereka semua sudah menyesali perbuatan mereka pada kamu. Apa kamu benar-benar membenci mereka? Apa kamu benar-benar tidak ingin punya hubungan lagi dengan mereka? Ingat, sayang! Darah yang mengalir dalam tubuh kamu adalah darah dari keluarga Smith. Kamu adalah putra dari Erland Faith Smith. Jangan sampai kamu menyesal nantinya. Kita tidak tahu siapa yang akan terlebih dahulu pergi dari dunia ini. Semuanya sudah diatur oleh Tuhan, sayang. Jadi Mama mohon pada kamu. Maafkan kesalahan mereka. Setidaknya berikan kesempatan untuk mereka agar bisa bersama kamu lagi..Demi Mama, sayang." Belva menangis.
Tiba-tiba setetes air mata jatuh membasahi wajah tampannya. Darren menangis saat mengingat kata-kata yang indah dari ibu kandungnya.
Melihat Darren yang tiba-tiba menangis, mereka semua menjadi khawatir.
Berlahan Erland mengusap lembut air mata putra bungsunya itu. Darren yang merasakan sentuhan itu langsung membuka kedua matanya. Dapat Darren lihat, Ayahnya menangis saat melihat dirinya menangis.
"Ada apa, sayang? Apa ada yang sakit? Katakan pada Papa," ucap dan tanya Erland.
Air mata Darren makin deras mengalir membasahi wajah tampannya itu. Darren tidak bisa membendung kesedihannya lagi saat ini.
"Pa-papa... Papa... papa," isak tangis Darren akhirnya pecah.
Erland yang melihat tangisan putranya itu menjadi tidak tega. Hatinya benar-benar sakit ketika mendengar isakan dari putranya itu.
GREP!
Erland menarik tubuh putra bungsunya itu ke dalam pelukannya dan memeluknya erat seakan-akan tidak ingin berpisah.
"Papa.. Papa.. Papa.. aku merindukanmu. Aku menyayangimu. Maafkan aku... maafkan aku," ucap Darren sembari terisak.
Erland menangis terharu saat mendengar untaian kerinduan dari putra bungsunya. Dirinya benar-benar bahagia saat ini, putra bungsunya telah kembali padanya. Putra bungsunya telah memaafkannya.
"Papa juga merindukan kamu, sayang. Sangat! Kamu tidak salah. Papa yang salah. Papa yang sudah menyakiti kamu. Papa sudah melukai hati kamu. Maafkan Papa.. maafkan Papa."
Darren melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang Ayah, kemudian memeluknya erat.
"Aku sudah memaafkan kesalahan Papa sebelum Papa meminta maaf padaku. Jangan tinggalkan aku. Jangan sakiti aku lagi."
__ADS_1
"Tidak akan sayang. Papa tidak akan pernah melakukan hal itu lagi untuk yang kedua kalinya. Kesalahan Papa yang pertama ini cukup Papa jadikan pembelajaran untuk Papa ke depannya. Papa tidak mau kehilanganmu. Papa tidak mau berpisah lagi denganmu. Papa tidak ingin melihatmu menangis dan kesakitan lagi."
Darka dan Gilang menangis melihat interaksi Ayahnya dan adik bungsunya. Mereka menangis bahagia karena adiknya sudah mau memaafkan kesalahan Ayahnya. Begitu juga dengan yang lainnya, terutama ketujuh sahabatnya. Mereka juga ikut bahagia melihat sahabat kelinci nakal mereka sudah berbaikan dengan Ayahnya.