KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kekesalan Para Sahabat


__ADS_3

[Di Halaman Kampus]


Nyaman!! Mungkin itu adalah satu-satunya kata yang dapat menggambarkan suasana hati Brenda saat ini.


Brenda saat ini tengah memandang raut wajah tampan Darren yang kini sedang bersama dengan ketujuh sahabat-sahabatnya. Brenda tersenyum ketika memandangi wajah tampan kekasihnya itu.


"Aku masih tidak percaya jika aku dan Darren sudah resmi menjadi kekasih," ucap Brenda pelan.


Brenda masih terus memandangi wajah tampan Darren tanpa ada niat sama sekali untuk menghampiri kekasihnya itu. Padahal beberapa jam yang lalu dirinya udah kebelet buru ingin segera mengakhiri materi kuliah agar bisa menemui pujaan hatinya.


Namun ketika sudah berada di luar. Brenda tak langsung menghampiri kekasihnya itu. Justru Brenda memandangi kekasihnya itu terlebih dahulu.


Bagi Brenda, dirinya begitu sulit untuk melukiskan perasaannya ini dengan kata-kata. Brenda benar-benar bahagia. Bahkan anggota keluarganya juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Brenda.


"Betapa indanya ciptaanmu itu Tuhan," ucap Brenda dengan tersenyum manis.


^^^


Di tempat lain yang tak jauh dari Brenda berdiri saat ini. Salah satu ketujuh sahabat-sahabatnya Darren yaitu Dylan melihat sosok Brenda yang tengah berdiri tak jauh darinya dan ketujuh sahabat-sahabatnya nongkrong sekarang.


Dylan menatap Brenda dengan matanya yang kadang melebar dan kadang memicing.


"Ngapain tuh curut jelek berdiri disitu kayak orang bego. Senyam senyum lagi," ucap Dylan.


Mendengar perkataan dari Dylan. Darren maupun sahabat-sahabatnya yang lain melihat kearah dimana tatapan mata Dylan saat ini.


"Brenda!" seru Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Rehan dan Darel secara bersamaan.


"Ngapain sikunti itu disitu?" tanya Qenan.


"Apa si nenek lampir itu udah gila," ucap Willy.


"Ren, lo nggak salah macari tuh sikunti?" tanya Rehan.


Sedangkan Darren hanya tersenyum ketika melihat kearah Brenda yang saat ini juga tengah menatap dirinya.


"Dia cewek gua. Namanya Brenda Wilson. Bukan sicurut jelek, sikunti dan bukan juga sinenek lampir," ucap Darren dengan tatapan matanya masih melihat kearah Brenda.


Mendengar ucapan dari Darren. Willy, Qenan, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan langsung mengalihkan perhatiannya melihat kearah Darren.


Baik Willy, Qenan dan Rehan maupun Darel, Axel, Jerry dan Dylan. Mereka saling melirik satu sama lainnya. Setelah itu, mereka kembali menatap kearah Darren.


"Dasar Bucin!" seru Willy, Qenan, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.


"Makanya cari pacar," jawab Darren membalas perkataan ketujuh sahabat-sahabatnya itu.


Darren berniat ingin memanggil Brenda. Ketika mulutnya ingin memanggil Brenda, tiba-tiba terdengar beberapa orang memanggil nama kekasihnya itu dengan cukup keras sehingga semua penghuni kampus mendengarnya.


"Brenda Wilson!"


^^^


Brenda yang sedari memandang wajah Darren dengan senyuman manisnya seketika terkejut ketika mendengar beberapa orang memanggil dirinya.


Seketika Brenda membalikkan badannya untuk melihat orang-orang yang memanggilnya itu.


Ketika Brenda membalikkan badannya. Brenda melihat tujuh gadis cantik berdiri di hadapannya dengan menatap dirinya. Dan jangan lupakan wajah super duper menyeramkan dari ketujuh gadis cantik itu.


Brenda sempat menatap bingung ketujuh gadis cantik yang ada di hadapannya ini. Bukan Brenda melupakan ketujuh gadis cantik itu. Tapi Brenda benar-benar lupa.


"Eh, itu bukannya Alice ya!" seru Jerry ketika melihat sosok gadis cantik yang dikenalnya.


Mendengar perkataan Jerry. Darren, Willy, Qenan, Rehan, Darel, Axel dan Dylan secara seksama melihat dan memperhatikan wajah dari ketujuh gadis yang berdiri di hadapan Brenda.


"Mereka itu sahabat-sahabatnya Brenda!" seru Willy dan Qenan ketika telah mengingat wajah ketujuh gadis cantik yang ada di hadapan Brenda.


Baik Darren, Rehan dan Darel maupun Axel, Jerry dan Dylan tersenyum.

__ADS_1


"Sepertinya Brenda melupakan ketujuh sahabat-sahabatnya itu," sahut Axel.


"Ya! Kau benar, Xel!" sela Darren.


"Coba lihat. Wajah Brenda benar-benar lucu. Brenda berusaha untuk mengingat ketujuh gadis yang berdiri di hadapannya saat ini," ujar Darel.


"Hahahahaha."


Darren, Willy, Qenan, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan tertawa melihat wajah Brenda yang terlihat tengah berpikir.


"Eh, tunggu dulu!" seru Rehan.


"Ada apa, Han?" tanya Darren, Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan dan Darel bersamaan.


"Mereka itu kuliah disini juga? Kalau iya, kenapa selama kita kuliah disini. Kita nggak pernah lihat mereka," ucap Rehan.


Darren, Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel saling lirih, lalu kembali melihat kearah Brenda dan ketujuh gadis itu.


"Benar juga apa yang dikatakan Rehan. Selama kita kuliah disini. Kita nggak pernah melihat mereka. Jangankan kita. Brenda saja juga nggak tahu. Buktinya ketika hari pertama Brenda kuliah disini. Brenda sendirian kan? Brenda nggak bersama-sama ketujuh sahabatnya!" seru Jerry.


Mendengar perkataan dari Jerry. Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Rehan dan Darel mengangguk setuju akan perkataan Jerry.


"Kemungkinan besar mereka mahasiswi baru disini," ucap Darren yang matanya fokus menatap Brenda dan ketujuh sahabatnya Brenda.


"Bukankah setelah lulus SMA. Brenda kuliah di Australia. Kita nggak tahu apa yang terjadi setelah itu antara mereka," ucap Darren lagi.


Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel membenarkan apa yang dikatakan Darren.


"Mungkin saja setelah kepergian Brenda ke luar negeri untuk kuliah disana membuat ketujuh sahabatnya Brenda memutuskan untuk memisahkan diri dan kuliah di Kampus yang berbeda," sahut Dylan.


"Sama seperti hubungan persahabatan kita. Brenda dan ketujuh sahabatnya juga sudah lama menjalin hubungan persahabatan. Dari kecil mereka tinggal dan sekolah di tempat dan di lokasi yang sama. Ketika mendengar salah satu dari mereka kuliah ke luar negeri membuat yang lain juga memutuskan untuk kuliah di tempat lain," ucap Axel.


"Aku yakin jika ketujuh sahabatnya Brenda tidak kuliah di kota ini. Pasti mereka kuliah di luar," ucap Willy.


"Sudah pasti. Jika mereka kuliah di kota ini. Maka mereka akan teringat masa-masa mereka komplit dulu," ujar Qenan.


"Jangan-jangan apa, Rel?" tanya Rehan.


"Apa mereka semua kembali karena melihat status Brenda di Instagram?" tanya Darel dengan menatap satu persatu wajah sahabatnya.


Darren, Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel saling lirik. Dan detik kemudian...


"Bisa jadi!" seru mereka kompak.


Baik Darren maupun Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Rehan dan Darel masih terus menatap kearah Brenda dan ketujuh sahabatnya Brenda.


^^^


Ketujuh gadis yang ada di hadapan Brenda masih terus menatap kearah Brenda. Mareka menatap Brenda dengan tatapan super-super kesal.


Sementara para mahasiswa dan mahasiswi yang ada disana melihat kearah ketujuh gadis yang saat ini tengah menatap kearah Brenda.


Para mahasiswa dan mahasiswi berpikir bahwa ketujuh gadis itu ada hubungan dengan Brenda. Bahkan para mahasiswa dan mahasiswi berbicara berbisik-bisik dan menyebut bahwa ketujuh gadis itu adalah sahabat-sahabatnya Brenda. Hanya saja Brenda sedikit melupakan ketujuh sahabatnya itu.


"Brenda Wilson, sialan!" teriak kompak ketujuh gadis itu dengan kencangnya.


"Kau jangan pura-pura kayak orang bego, Brenda!" teriak gadis pertama dengan menatap horor Brenda.


"Lo nggak sakitkan? Lo nggak amnesia kan?!" teriak gadis yang kedua.


Brenda terus menatap satu persatu ketujuh gadis yang ada di hadapannya ini. Brenda menatap ketujuhnya dengan intens.


Dan detik kemudian...


Brenda membelalakkan kedua matanya setelah mengingat dengan ketujuh gadis yang ada di hadapannya ini.


"Alice Almero, Elsa Caldwell, Lenny Frankie, Milly Grissham, Vania Hamilton, Tania Vincenzo, Felisa Xavier." Brenda menyebut satu persatu nama ketujuh gadis yang ada di hadapannya lengkap dengan marga masing-masing.

__ADS_1


Mendengar Brenda menyebut nama mereka lengkap dengan marganya membuat ketujuh gadis itu tersenyum. Di dalam hati mereka berkata 'Akhirnya ingat juga'.


Setelah itu, mereka langsung menghambur ke dalam pelukan Brenda. Mereka benar-benar merindukan Brenda. Begitu juga dengan Brenda.


Sementara disisi lain, Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tersenyum melihat pertemuan Brenda dengan ketujuh sahabat-sahabatnya itu.


^^^


Di kelas, Gilang dan Darka saat ini sedang mengerjakan beberapa tugas. Tugas yang mereka kerjakan ada hubungannya dengan STUDY TOUR dan TOURING mereka dua minggu lagi di sebuah desa terpencil yang berbatasan dengan kota. Jarak perjalanan kesana memakan waktu sekitar tiga jam.


Kegiatan STUDY TOUR dan TOURING yang mereka lakukan adalah bertujuan untuk membantu masyarakat desa yang ada disana. Mereka akan berada disana selama dua bulan.


Baik Gilang maupun Darka tengah memeriksa tugas-tugas mereka sebelum memperlihatkan tugas-tugas itu kepada ketua mereka. Siapa lagi kalau bukan adik kesayangan mereka yaitu Darrendra Smith.


Ketika Gilang dan Darka tengah fokus dan sibuk dengan tugas masing-masing, tiba-tiba ada beberapa orang yang masuk ke kelas Gilang dan Darka dan mengganggu kedua.


Orang-orang yang masuk ke kelas Gilang dan Darka berjumlah 15 orang. Mereka adalah mahasiswa yang suka mencari masalah di kampus.


^^^


Brenda, Darren dan sahabat-sahabatnya kini telah duduk bersama. Brenda duduk di samping Darren dengan Darren memeluk posesif pinggang Brenda.


Sementara ketujuh sahabat-sahabatnya, baik ketujuh sahabat-sahabatnya Darren maupun ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda menatap Darren dan Brenda dengan tatapan kesal.


Bagaimana tidak kesal? Baik Brenda maupun Darren dengan sengaja menunjukkan kemesraannya di hadapan mereka semua. Apalagi Brenda. Brenda sangat bersemangat menunjukkan kemesraannya dengan Darren di hadapan sahabat-sahabatnya, terutama sahabat-sahabatnya Darren. Bahkan Brenda bisa melihat bagaimana kesalnya ketujuh sahabat-sahabatnya Darren terhadap dirinya.


"Yak! Darren, Brenda. Bisa tidak kalian berdua tidak menunjukkan kemesraan kalian disini!" seru Willy.


"Kalau mau mesra-mesra jangan disini. Cari tempat lain sana," sahut Qenan.


"Dan lu curut jelek. Jangan sok kecantikan lu. Mentang-mentang lu udah resmi jadi pacarnya Darren. Jadi songong lu sekarang!" seru Dylan menatap kesal Brenda.


Sementara Brenda hanya menunjukkan cengiran khasnya di hadapan Dylan dan juga sahabat Darren yang lain.


"Iri bilang Bos. Wleeee!" sahut Brenda sambil menjulurkan lidahnya.


Sedangkan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda tertawa ketika melihat wajah kesal Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Dylan dan Jerry.


"Hahahahahaha." Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa.


Mendengar tawa keras dari Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa membuat Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Dylan dan Jerry menatap horor ketujuhnya.


"Nggak induknya... Nggak anak bebeknya. Sama saja. Sama-sama curut, sama-sama jelek dan juga saman-sama tengil!" ucap Dylan.


"Hm!" Qenan, Jerry, Willy, Darel, Rehan dan Axel menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Dylan.


"Mereka satu spesies dengan sikunti," sahut Qenan.


"Tu lihat saja wajahnya. Terlihat bahagia melihat kita yang para jomblo ini," pungkas Darel.


Dan pada akhirnya, Brenda dan Darren menghentikan kegiatan mereka yang memperlihatkan kemesraannya di hadapan Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Dylan dan Jerry. Keduanya tersenyum ketika melihat wajah kesal Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Dylan dan Jerry.


Darren menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat-sahabatnya itu. Dan setelah itu, Darren mengalihkan perhatiannya menatap ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda.


Darren kembali menatap wajah ketujuh sahabat-sahabatnya. "Disini bukan kalian saja yang jomblo. Aku yakin jika Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa juga masih jomblo. Bagaimana kalau kalian menjalin hubungan?"


Mendengar perkataan dari Darren membuat Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Dylan dan Jerry terkejut. Begitu juga dengan Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa.


Baik Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Dylan dan Jerry maupun Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa saling memberikan tatapan masing-masing.


Dan detik kemudian...


"Ogah!"


Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Dylan dan Jerry. Serta Alice, Elsa, Lenny, Milly, Vania, Tania, Felisa berucap secara bersamaan dengan membuang wajahnya kearah lain.


Sementara Darren dan Brenda seketika membulatkan kedua matanya melihat sahabat-sahabatnya dengan kompak menjawab dan membuang wajahnya kearah lain.

__ADS_1


Dan seketika, keduanya tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatnya itu.


__ADS_2