
Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berada di kampus. Mereka melangkah dengan gagahnya menyusuri luasnya kampusnya itu.
Melihat Darren dan ketujuh sahabatnya yang berjalan begitu gagahnya membuat para mahasiswi berteriak histeris. Mereka semua menatap kagum akan ketampanan Darren dan ketujuh sahabatnya
Ketika Darren dan ketujuh sahabatnya tengah melangkah untuk menuju kelasnya, tiba-tiba langkah mereka terhenti karena ada para pengganggu berdiri di hadapan mereka.
"Selamat pagi pangeran tampan kami!" seru para ketujuh gadis yang ada di hadapannya.
Baik Darren maupun Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel hanya menatap ketujuh gadis itu dengan tatapan dingin.
"Mau ngapain sih para kunti ini kemari?" batin Dylan.
"Ini terimalah!" seru ketujuh gadis itu dengan memberikan bunga dan coklat kepada Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel.
Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel melihat apa yang diberikan oleh ketujuh gadis itu.
"Kamu pikir kita ini cewek yang harus dikasih coklat. Yang benar saja," sahut Darel ketus.
"Ini lagi. Ngapain kamu ngasih bunga padaku," ucap ketus Dylan.
"Norak kalian. Udah pergi sana," ucap Jerry sambil menyuruh pergi ketujuh gadis itu.
"Kok kamu gitu sih, Jer?" tanya Arianna dengan suara manjanya.
Ketujuh gadis itu adalah Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda. Mereka sampai detik ini masih terus mengejar ketujuh sahabatnya Darren.
Menurut mereka jika janur kuning belum melengkung, maka mereka akan terus mengejar ketujuh sahabatnya Darren. Tidak peduli orang yang mereka kejar cintanya sudah memiliki pasangan.
"Ayolah, Willy. Terima coklat ini. Aku belikan khusus untuk kamu. Apalagi hari ini adalah hari valentine day," ucap Kathy dengan tersenyum manis di hadapan Willy.
"Terima dong, pacarku! Aku belikan bunga ini hanya untuk kamu," ucap Janet.
"Iya, nih! Kasihan bunganya jika nggak diambil," ujar Wanda.
"Atau kalian malu ya karena dilihatin sama semua orang," sahut Janet tersenyum manis.
"Nggak usah dipikirin. Anggap aja mereka nggak ada," sahut Lori yang juga tersenyum manis menatap wajah tampan Dylan.
"Dan anggap aja dunia ini milik kita bersama. Sementara mereka semua nggak ada di dunia ini," ucap Kelly.
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel hanya menatap dengan wajah dingin dan datar.
Dan detik kemudian...
Sreekk!
Tiba-tiba bunga dan coklat yang ada di tangan Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda direbut dengan paksa oleh Tania, Elsa, Alice, Milly, Felisa, Vania dan Lenny secara bersamaan.
"Kalau mereka nggak mau. Kita aja yang menerimanya," sahut Elsa.
Elsa langsung membuka coklat yang seharusnya untuk Qenan. Setelah coklat itu terbuka, Elsa langsung memakannya.
"Enak juga coklatnya," ucap Elsa.
Qenan yang melihat kelakuan kekasihnya hanya tersenyum dan membiarkan apa yang dilakukan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Jelas enaklah. Ini coklat gratis. Yang namanya gratisan itu udah pasti enak," sela Alice.
Mendengar ucapan dari Elsa dan Alice membuat Brenda dan ketujuh sahabatnya Darren tertawa.
Elsa, Alice dan Vania memakan coklat yang diberikan oleh Kelly, Kathy dan Lori.
Sementara bunga yang dibawakan oleh Arianna, Pamela, Janet dan Wanda dibuang begitu saja oleh Tania, Milly, Felisa dan Lenny.
Setelah itu, mereka langsung menggelayut manja di pergelangan tangan kekasih masing-masing.
Melihat sikap manja Alice, Elsa, Vania, Felisa, Milly, Tania dan Lenny membuat Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda marah.
Ketika ketujuh sahabatnya Brenda sedang bermanja ria dengan para kekasihnya.
Ketika Arianna dan keenam teman-temannya tengah menatap marah sahabat-sahabatnya Brenda.
Tanpa mereka sadari, seseorang gadis berlari kearah mereka. Lebih tepatnya kearah Darren.
Grep!
Darren yang tiba-tiba saja dipeluk oleh seorang gadis seketika terkejut. Begitu juga dengan Brenda, ketujuh sahabatnya dan ketujuh sahabatnya Darren.
"Akhirnya aku ketemu kamu juga. Kamu kemana aja? Kenapa nggak pernah lagi datang ke rumah aku. Papi sama Mami rindu kamu loh," ucap gadis itu.
Mendengar penuturan dari gadis tersebut membuat Darren terkejut dan membelalakkan matanya.
"Yak! Lepaskan!" bentak Darren.
Mendengar bentakkan dari pemuda yang dipeluknya. Gadis itu pun langsung melepaskan pelukannya. Gadis itu menatap sedih wajah Darren. Begitu juga dengan Darren. Bedanya, Darren menatap gadis itu dengan tatapan amarahnya.
"Siapa kamu? Kenapa kamu begitu lancang memeluk orang yang nggak kamu kenal? Apa rasa malu kamu itu udah tidak ada? Kamu itu perempuan. Seharusnya sebagai perempuan bisa menjaga dirinya!" bentak Darren.
"Ka-kamu marah?" tanya gadis itu dengan suara lirihnya.
"Jelaslah aku marah. Aku nggak kenal sama kamu. Kita berdua belum pernah bertemu. Kita juga nggak ada hubungan apa-apa. Tapi kamu seenaknya memelukku seakan-akan kita ini ada hubungan," jawab Darren dengan kejamnya.
Mendengar penuturan dari pemuda itu membuat gadis tersebut terkejut. Gadis itu tidak menyangka jika pemuda yang ada di hadapannya ini akan berbicara seperti itu.
"Jadi kamu tidak ingat denganku? Kamu benar-benar lupa padaku?" tanya gadis itu.
Brenda menatap wajah Darren meminta penjelasan. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.
Melihat Brenda dan ketujuh sahabatnya menatap dirinya, Darren langsung menggelengkan kepalanya. Darren benar-benar tidak mengenal gadis tersebut.
Brenda dan ketujuh sahabatnya Darren menatap penuh selidik kearah gadis itu. Ketika Axel ingin mengatakan sesuatu kepada gadis itu, tiba-tiba mereka mendengar suara bunyi ponsel.
"Ini ponselku," ucap Darren sembari mengambil ponselnya di saku celananya.
Darren yang melihat nama tangan kanan di layar ponselnya langsung menjawabnya.
"Hallo."
"Hallo, Bos."
"Ada apa?"
__ADS_1
"Begini, Bos. Apa Bos masih ingat dengan salah satu rekan kerja Bos yang putrinya pernah Bos tolong beberapa bulan yang lalu?"
Mendengar pertanyaan dari tangan kanannya itu, Darren berusaha untuk mengingatnya.
Seketika Darren mengingat kejadian itu dimana dirinya pernah menolong seorang gadis yang dalam keadaan menangis sendirian di jalan tengah malam.
Seketika Darren tersenyum di sudut bibirnya.
"Aku ingat. Apa yang terjadi?"
"Begini, Bos. Setelah Bos menolong gadis itu. Besoknya gadis itu mencari tahu tentang Bos. Gadis itu membayar seseorang untuk mengorek informasi mengenai Bos. Hanya butuh waktu satu minggu, orang suruhannya itu berhasil menemukan keberadaan Bos dan juga pekerjaan Bos."
"Jadi dia tahu bahwa aku....."
"Tidak, Bos. Orang suruhannya itu mengatakan bahwa Bos adalah rekan kerja dari ayahnya. Gadis itu berpikir jika perusahaan Bos dibawah tekanan perusahaan milik ayahnya."
"Pasti dia meminta hal-hal aneh kepada ayahnya agar aku bertekuk lutut padanya. Benar begitu?"
"Benar sekali, Bos!"
"Apa kau punya foto gadis itu. Jika ada, tolong kirim sekarang. Hanya untuk memastikan saja. Disini ada perempuan gila yang tiba-tiba memelukku."
"Ada, Bos! Saya akan kirimkan foto gadis itu pada Bos."
"Baiklah."
Setelah itu, Darren langsung mematikan panggilannya.
Beberapa detik kemudian..
Ting!
Terdengar notifikasi masuk ke ponsel milik Darren.
Darren langsung membuka dan melihatnya.
Ketika Darren melihat foto gadis yang ada di ponselnya. Darren kembali tersenyum.
Setelah puas melihat foto gadis itu, Darren menghapus foto tersebut. Dirinya tidak berminat untuk menyimpan foto tersebut.
Darren menatap wajah gadis yang ada di hadapannya itu dengan tatapan dingin dan datar sembari tangannya memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.
"Sepertinya anda sudah terlalu jauh melangkah, Nona! Dan sepertinya anda telah salah mengartikan kebaikan saya beberapa bulan yang lalu terhadap anda."
"Saya tekankan sekali lagi kepada anda, Nona! Saat itu saya memang tulus menolong anda. Tidak lebih. Kebetulan saat itu saya baru pulang dari kantor dan melihat anda sendirian di jalanan."
"Melihat anda yang sendirian di jalanan apalagi dalam keadaan menangis. Hati saya tergerak untuk menolong anda."
"Apa yang akan terjadi jika orang lain yang melihat anda. Mungkin saja orang itu sudah melakukan hal buruk terhadap anda."
"Jadi saya ingatkan sekali lagi kepada anda. Jangan salah artikan kebaikan saya beberapa bulan yang lalu. Jangan bersikap sebagai perempuan murahan di depan saya. Jika ingin menjadi perempuan murahan. Lebih baik anda cari laki-laki lain saja. Jangan saya, karena saya tidak minat dengan tubuh anda." Darren berbicara dengan menatap jijik gadis yang berdiri di hadapannya.
Darren menarik pinggang ramping Brenda dan mendekapnya ke pelukannya. Setelah itu, Darren memberikan ciuman di pipi kekasihnya itu.
"Jangan coba-coba menjadi penghancur hubunganku dengan calon istriku. Jika kau memiliki niat tersebut maka aku balik akan menghancurkanmu."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Darren pergi sambil merangkul pinggang Brenda meninggalkan para gadis-gadis gila. Dan disusul oleh Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel dengan merangkul pinggang para kekasihnya masing-masing.