KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Isak Tangis Para Sahabat


__ADS_3

Brenda saat ini berada di dalam kamarnya. Sejak bertemu dengan Darren sang kekasih dimana kekasihnya tidak mengingat dirinya hingga berakhir Brenda memutuskan untuk pulang. Dia tidak akan fokus mengikuti materi kuliah karena yang ada di pikirannya hanya Darren.


Liana beserta putra dan putrinya yang lain kini tengah berada di ruang tengah. Mereka semua memikirkan kondisi Brenda yang kembali bersedih.


"Mom. Kak Brenda sudah tiga jam di kamarnya. Dan sampai detik ini kak Brenda belum keluar kamar," ucap Raya yang khawatir akan kakak perempuannya itu.


Maura seketika berdiri dari duduknya. Dia tidak bisa menahan terlalu lama melihat adik perempuannya mengurung diri di dalam kamarnya.


"Aku akan ke kamar Brenda! Aku akan berusaha membujuknya lagi," sahut Maura.


Satu jam yang lalu, Liana dan anak-anaknya sudah berusaha menghibur dan membujuk Brenda agar Brenda mau cerita alasan dia pulang dalam keadaan menangis.


Namun pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan sama sekali tidak dijawab oleh Brenda. Dan hal itulah yang membuat Liana dan anak-anaknya yang lain menjadi Khawatir.


Ketika Maura hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri mereka.


"Permisi Nyonya Liana, tuan muda, nona muda!"


"Iya, Merry. Ada apa?"


"Itu, Nyonya. Ketujuh sahabat-sahabat nona Brenda ada di ruang tamu."


Mendengar perkataan dari sang pelayan membuat Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya tersenyum. Mereka semua berharap dengan kehadiran ketujuh sahabatnya, Brenda bisa sedikit terhibur. Dan mereka juga akan bertanya tentang Brenda yang tiba-tiba pulang cepat.


"Ya, sudah Merry. Suruh mereka langsung kesini."


"Baik, Nyonya!"


^^^


Kini ketujuh sahabatnya Brenda sudah duduk di sofa ruang tengah bersama dengan Liana dan anak-anaknya.


"Bolehkah Bibi bertanya sesuatu kepada kalian?" tanya Liana dengan menatap waja Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania, dan Felisa.


"Bibi mau nanya apa pada kita?" tanya Felisa.


"Ini masalah Brenda. Kenapa Brenda pulang dari kampus cepat sekali? Padahal Brenda itu pergi ke kampus belum ada dua jam," ucap dan tanya Liana.


Mendapatkan pertanyaan dari ibunya Brenda membuat Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania, dan Felisa saling memberikan tatapan. Mereka tahu maksud dari pertanyaan ibunya Brenda. Hanya saja Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania, dan Felisa bingung bagaimana menjelaskan kepada keluarga Brenda. Apalagi ini menyangkut masalah Darren.


Baik Elsa, Alice, Vania maupun Milly, Lenny, Tania, dan Felisa. Mereka meyakini bahwa keluarga Brenda akan sama terkejutnya seperti Brenda jika mereka tahu kondisi Darren.


Melihat Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa yang saling memberikan tatapan satu sama lain membuat Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya meyakini jika terjadi sesuatu di kampus.


"Ayolah Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa. Katakan kepada Bibi, ada apa?"


"Begini, Bibi Liana. Kami... Kami sudah bertemu dengan Darren di kampus ," sahut Tania.


Menderita jawaban dari Tania membuat Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya terkejut sekaligus bahagia.


"Benarkah?" tanya Barra.


"Benar, kakak Barra." Vania yang menjawabnya.


"Kalau kalian sudah bertemu dengan Darren termasuk Brenda. Kenapa Brenda menangis ketika pulang ke rumah? Seharusnya dia bahagia dong," ucap dan tanya Riana.


"Darren... Darren tidak mengingat kami semua, kak Riana! Bukan hanya Brenda dan kami saja yang dilupakan oleh Darren. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel serta kakak Gilang dan kakak Darka juga dilupakan oleh Darren." Alice menjawab pertanyaan dari Riana dengan wajah sedihnya.


Mendengar jawaban dari Alice membuat Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya sedih. Mereka tidak menyangka jika Darren mengalami hal buruk seperti itu.


"Bahkan kakak Darka sampai jatuh pingsan ketika mengetahui fakta bahwa adik laki-laki kesayangannya tidak mengingat dia," ucap Elsa.


"Oh, Tuhan! Kenapa kau berikan cobaan seberat ini untuk putriku dan orang-orang terdekatnya? Dan kenapa kau memberikan ujian yang tak henti-hentinya untuk Darren? Dia pemuda yang baik. Sudah semestinya dia mendapatkan kehidupan yang bahagia." Liana berbicara di dalam hatinya. Dia menangis memikirkan kondisi Darren saat ini.


***


"Nak Ziggy, nak Noe, nak Enzo, nak Devian, nak Chico! Sebenarnya ada apa? Kenapa kalian meminta kami semua untuk datang ke kediaman keluarga Smith?" tanya Dario.


"Iya, Nak Ziggy. Sebenarnya ada hal apa sehingga kita semua harus berkumpul disini?" Eric juga ikut bertanya kepada Ziggy.


Ketika Ziggy ingin mengatakan alasan dirinya dan keempat sahabatnya meminta para ayah dari ketujuh adik laki-lakinya dan keluarga Radmilo untuk datang ke kediaman keluarga Smith.

__ADS_1


Gilang yang sejak tadi mendengar obrolan orang-orang yang ada di hadapannya seketika bersuara.


"Kalian pasti ingin membahas masalah Darren, kan?!"


Mendengar perkataan dari Gilang. Baik Ziggy, Noe, Enzo, Devian, Chico maupun keluarga Smith serta yang lainnya langsung menatap kearah Gilang. Dan di sampingnya ada Darka.  Mereka semua dapat melihat wajah Gilang dan Darka yang tampak sedih dan terluka.


"Apa Gilang dan Darka sudah bertemu dengan Darren dan mengetahui kondisi adik laki-lakinya itu," batin Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico.


"Gilang," panggil Erland.


Gilang melihat kearah ayahnya dengan tatapan sendunya. Gilang juga dapat melihat dari tatapan matanya ayahnya itu menunjukkan kerinduan terhadap adik laki-lakinya.


Tes!


Seketika air mata Gilang jatuh membasahi wajahnya. Gilang menangis melihat wajah ayahnya dan mengingat kejadian di kampus kemarin.


Melihat Gilang yang tiba-tiba menangis membuat mereka semua menjadi khawatir, terutama Erland.


"Gilang, ada apa sayang? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?" tanya Erland yang kini hatinya menjadi tak tenang.


"Papa." Seketika Gilang terisak sembari menyebut nama ayahnya.


Mendengar isak tangis Gilang membuat Erland, Agneta, Carissa, Evan, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Daffa, Tristan, Davian dan kelima adik laki-lakinya juga ikut menangis.


Erland berdiri dari duduknya lalu berpindah duduk didekat kedua putranya. Erland duduk diantara Gilang dan Darka.


Erland menarik pelan tubuh Gilang dan membawanya ke dalam pelukannya. Erland memeluknya erat.


"Papa... Papa! Darren," ucap Gilang sembari terisak.


"Katakan pada Papa. Ada apa?"


"Aku dan Darka sudah bertemu dengan Darren di kampus. Tapi.... Tapi..."


Mendengar ucapan dari Gilang membuat Erland seketika merasakan perasaan tak enak. Jantungnya berdebar begitu kuat. Saat ini dia belum siap untuk mendengar kabar apapun tentang putra kesayangannya itu.


Jika kabar baik, Erland akan bahagia berkali lipat. Tapi jika itu adalah kabar buruk, maka Erland tidak akan bisa menerimanya.


"Tapi apa? Kenapa sayang?"


"Gil....,"


"Darren tidak mengingat kami. Darren melupakan kami."


Tiba-tiba Darka menjawab pertanyaan dari ayahnya. Air matanya tidak bisa dibendung lagi dan jatuh membasahi wajahnya.


"Darren yang sekarang bukan lagi Darren yang dulu." ucap Darka terisak.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darka. Serta isak tangisnya membuat Erland dan yang lainnya merasakan sesak di dada masing-masing.


Erland melihat kearah samping kirinya dimana putranya sudah dalam keadaan tak baik-baik saja.


Tanpa melepaskan pelukannya pada Gilang. Erland menarik tubuh Darka dengan tangan kirinya lalu membawanya ke pelukannya.


Mendapatkan pelukan dari ayahnya membuat tangisan Darka semakin pecah.


"Darren tidak mengingatku dan Gilang, Pa! Dan hal itu membuat hati kami sakit dan terluka."


"Dia menyebut dirinya sebagai Askara Eleon Mendez. Bukan Darren," sahut Gilang terisak.


Mendengar pengakuan dan cerita dari Gilang dan Darka membuat semua yang hadir di rumah keluarga Smith langsung mengetahui alasan Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico menyuruh mereka datang.


Sementara untuk Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Evan, Carissa, Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin akhirnya tahu alasan dibalik kepulangan Gilang dan Darka yang tiba-tiba. Ditambah lagi wajah keduanya yang tak baik-baik saja.


Agneta, Carissa, Evan, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menangis ketika mengetahui kondisi Darren.


"Alasan utama kami datang kesini. Selain untuk memberitahu kalian tentang Darren serta kondisinya. Kami juga ingin mengatakan sesuatu kepada kalian!" seru Chico.


Mendengar seruan dari Chico membuat mereka semua menatap kearah Chico.


"Pertama, kita datang kesini ingin memberitahu Paman Erland dan yang lainnya tentang Darren. Bagaimana pun Paman Erland dan kalian semuanya berhak tahu. Kedua, alasan kami memberitahu kalian semua tentang Darren dan kondisinya agar kalian semua tidak terkejut dan syok ketika bertemu dengan Darren nantinya."

__ADS_1


"Jika kami tidak segera memberitahu kondisi Darren kepada kalian semua. Disini yang paling terluka adalah Paman Erland. Aku dan keempat sahabatku sudah tahu bagaimana kondisi terakhir Paman Erland saat Darren dinyatakan hilang dalam kecelakaan mobil itu. Dan kami tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Paman Erland jika Paman Erland sampai mengetahui tentang Darren diluar sana."


Devian berbicara panjang lebar sembari tatapan matanya menatap kearah Erland.


Dario, Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric dan Hendy menatap kearah putra-putra bungsu mereka yang sejak tadi hanya diam dengan tatapan matanya yang mengisyaratkan kesedihan.


"Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel!"


Dario, Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric dan Hendy memanggil putra bungsu mereka masing-masing.


Mendengar panggilan dari para ayah mereka masing-masing. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung melihat kearah ayahnya dengan tatapan mata yang sendu.


"Iya, Pa!" Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menjawabnya secara bersamaan.


"Apa kalian juga sudah bertemu dengan Darren dan mengetahui kondisinya?" tanya Eric.


"Iya," jawab Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.


"Jadi itu alasan kalian pulang dari kampus dalam keadaan wajah yang sedih?" tanya Valeo.


"Iya," Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.


"Bukan hanya kami saja yang mengetahui kondisi Darren. Brenda dan ketujuh sahabatnya juga telah mengetahuinya," ucap Rehan.


Mendengar ucapan dari Rehan membuat anggota keluarga Smith terkejut. Mereka semua mengkhawatirkan Brenda.


"Bagaimana kondisi Brenda saat dia tahu bahwa Darren tidak mengingat dirinya?" tanya Evan.


"Hancur dan terluka," jawab Axel.


"Brenda begitu bahagia ketika melihat kedatangan Darren ke kampus. Brenda berlari dan langsung memeluk Darren. Namun beberapa detik kemudian, Darren melepaskan pelukan Brenda dengan sedikit kasar. Bahkan Darren berbicara ketus di hadapan Brenda," sahut Willy.


"Beberapa detik kemudian, kakak Gilang dan Kakak Darka datang. Niatnya, kakak Gilang dan Kakak Darka ingin memeluk Darren. Namun mereka mengurungkan niat tersebut karena Darren sudah terlebih dulu bersuara." Darel berucap dengan menatap kearah Gilang dan Darka.


"Apa yang dikatakan oleh Darren?" tanya Davin.


"Ada berapa banyak lagi orang yang menyebutku sebagai Darren. Aku bukan Darren. Aku adalah Askara Eleon Mendez. Kata-kata itulah yang dilontarkan oleh Darren di depan semua orang," ucap Jerry.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Jerry, Rehan, Darel, Axel dan Willy membuat mereka semua merasakan kesedihan mendalam.


Satu bulan lebih mereka mencari keberadaan Darren. Satu bulan lebih mereka merindukan Darren. Namun tiba-tiba mereka mendapatkan kabar tentang Darren yang tak mengenali mereka sama sekali.


"Jangan bilang kalau orang yang kalian tolong kemarin adalah Darren!" seru Angga kakak laki-laki tertuanya Willy.


Mendengar penuturan dari Angga membuat semuanya menatap kearah Angga.


"Angga, kamu!"


David menatap wajah putra sulungnya untuk meminta jawaban dari putranya itu.


"Iya, Pa! Aku mendapatkan laporan dari beberapa anggotaku. Mereka tengah tengah mengelilingi kota Hamburg untuk mencari keberadaan Darren. Namun di tengah jalan mereka melihat ada perkelahian. Orang yang berkelahi di jalanan itu adalah Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel."


Angga kembali menatap wajah adik laki-lakinya dan juga sahabat-sahabatnya.


"Willy, Qenan, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel!"


"Iya. Kami yang saat itu bertarung melawan sekitar 24 orang berpakaian hitam. Orang-orang itu hendak mencelakai Darren," jawab Willy.


"Awalnya kami tidak tahu bahwa pemuda itu adalah Darren, karena pada saat bertarung, Darren masih memakai helm nya," ucap Qenan.


"Sebelum aku dan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Rehan dan Darel mengetahuinya bahwa pemuda itu adalah Darren. Kami memperhatikan cara bertarungnya. Cara bertarungnya begitu mirip dengan Darren sehingga seketika membuat kami teringat dengan Darren. Dan setelah itu, kami menolong pemuda itu." Dylan bercerita tentang kejadian dia dan sahabat-sahabatnya menolong Darren.


"Singkat cerita, setelah selesai. Pemuda itu membuka helmnya. Mungkin menurutnya tidak sopan berbicara dengan orang yang sudah menolongnya dengan masih menggunakan helm. Ketika helmnya itu sudah terlepas dan memperlihatkan wajahnya. Kami semua terkejut. Dan ternyata benar. Orang yang bertarung sendirian itu adalah Darren." Rehan berucap lirih. Dan jangan lupakan air matanya yang sudah mengalir.


"Kami langsung berlari memeluknya. Kami begitu merindukannya. Namun diluar dugaan, Darren menolak kami. Darren tidak mengingat kami," ucap Darel dengan suara lirihnya.


Seketika Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menangis ketika mengingat momen pertemuan pertama mereka dengan Darren setelah berpindah satu bulan lebih.


Dario, Aldez, David, Dellano, Valeo Eric dan Hendy berdiri dari duduknya lalu melangkah menghampiri putra bungsu mereka.


Setelah tiba di didekat putra bungsunya. Dario, Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric dan Hendy langsung memeluk tubuh putra bungsunya itu erat.

__ADS_1


Dario, Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric dan Hendy sangat tahu bahwa putra bungsunya saat ini merasakan kesedihan mendalam akan sahabat terbaiknya yang tidak mengingat dirinya.


"Papa," isak Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan di pelukan ayahnya.


__ADS_2