KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menyudahi Sandiwara


__ADS_3

"Suster, mobil yang di belakang itu seperti mengikuti mobil kita deh!" seru Erica ketika dirinya melihat ke belakang.


Mendengar ucapan dari Erica, pengasuh yang dibayar oleh Darren untuk menjaga Erica langsung melihat ke belakang. Begitu juga dengan sang sopir.


Dan benar saja. Ada dua mobil yang mengikuti mobil yang mereka tumpangi.


Saat ini mobil yang ditumpangi oleh Erica, pengasuh dan sopir kini dalam perjalanan dari sekolah Erica untuk pulang ke kediaman keluarga Smith


"Tuan, bagaimana ini?" tanya pengasuh tersebut.


"Suster, Paman! Erica takut."


"Nona Erica jangan takut ya. Paman akan berusaha untuk menghindari kedua mobil itu."


Melihat ketakutan pada diri majikan kecilnya. Sang pengasuh langsung memeluk tubuh majikannya itu.


"Suster disini. Erica jangan takut ya."


"Apa kedua mobil itu suruhan dari Paman itu?" ucap Erica.


Mendengar pertanyaan dari Erica membuat pengasuh dan sopir tersebut bingung.


"Nona, nona muda. Pegangan ya. Saya akan membawa mobil ini dengan kecepatan penuh."


Sang sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh namun berusaha untuk tetap berhati-hati.


Sebaliknya, dua mobil yang masih mengikuti mobil mereka juga melakukan hal yang sama. Kedua mobil tersebut melaju sangat cepat mengejar mobil yang membawa Erica.


Ketika kedua mobil yang berada di belakang hendak menabrak mobil yang ditumpangi Erica, tiba-tiba saja datang dari arah depan dua buah mobil sedan lalu kedua mobil itu secara bersamaan menutup jalan dan salah satu berhasil menerobos masuk ke tengah-tengah.


Sementara sopir yang membawa Erica dan pengasuhnya seketika menghentikan mobilnya.


Setelah mobil berhenti, baik sang sopir maupun sang pengasuh langsung melihat ke belakang. Mereka melihat dua mobil sedan yang menerobos masuk ke tengah-tengah kini tengah menabrak kedua mobil yang mengejar mobilnya.


"Sepertinya kedua mobil sedan itu menyelamatkan kita ya, tuan?" tanya sang pengasuh.


"Seperti iya, nona!" Sang sopir itu menjawab.


Ketika keduanya tengah memikirkan si pemilik dua sedan itu, tiba-tiba ponsel milik sang sopir berbunyi.


Sang sopir langsung mengambil ponselnya lalu melihat nomor tak dikenal di layar ponselnya.


"Kenapa tidak diangkat, tuan?"


"Nomor tidak dikenal."


"Angkat saja, tuan. Siapa tahu penting. Dan siapa tahu juga salah satu dari pemilik mobil sedan itu."


Mendengar ucapan dari sang pengasuh, sang sopir tersebut pun langsung menjawab panggilan tersebut.


"Ha-hallo."


"Langsung pergi dari sana. Dan pulang ke kediaman tuan muda Darren. Sekarang!"


Setelah itu, si penelpon langsung mematikan panggilannya.


"Siapa tuan? Dan apa kata si penelpon itu?"


"Nona benar. Yang barusan menghubungi saya adalah pemilik dari dua sedan itu. Katanya kita harus segera pergi dari sini dan disuruh pulang ke kediaman tuan Darren."


"Ya, sudah. Tunggu apa lagi. Ayo kita pergi dari sini, tuan!"


"Baiklah."


Setelah itu, sang sopir kembali menghidupkan mesin mobilnya. Sopir itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan pergi meninggalkan lokasi itu.


Sementara kedua mobil sedan itu melaju kencang dan menabrak dua mobil yang ada di depan.


Brak!


Mendapatkan tabrakan mendadak dari dua mobil sedan di depan membuat dua mobil yang mengejar mobil yang ditumpangi oleh Erica, sang pengasuh dan sang sopir tak bisa berkutik sama sekali. Orang yang ada di dalam mobil itu tidak leluasa bergerak.


Dalam hitungan detik, kedua mobil sedan tersebut menembakkan sesuatu kearah dua mobil itu.


Setelah itu, kedua mobil sedan itu memundurkan laju mobilnya untuk menjauh dari kedua mobil tersebut.


Dan detik kemudian...


Duuaarrr!


Kedua mobil tersebut seketika meledak sehingga membuat orang-orang yang ada di dalam mobil tersebut tidak bisa menyelamatkan diri.


Pemilik dari dua mobil sedan itu langsung keluar dari dalam mobil hanya untuk mengecek musuh-musuhnya.


Mereka keluar dengan beberapa senjata di kedua tangannya.


"Cek semua yang ada di sekeliling kalian. Pasti mereka tidak selamat dalam ledakan itu."


"Baik, Bos!"


Lima menit memeriksa keadaan di sekitarnya. Semuanya pun berkumpul.


"Bagaimana?"


"Aman, Bos! Mereka semua tewas di dalam mobil."


"Ada sekitar 6 orang. Tiga orang di mobil depan dan 3 orang di mobil belakang."


"Bagus."


"Ayo, pergi!"

__ADS_1


Setelah itu, mereka pun kembali masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan lokasi itu.


***


Di markas Black Guerilla terlihat seorang laki-laki berlari menuju ruang sang ketua.


Awalnya laki-laki itu ingin melaporkan informasi yang dia dapatkan kepada Zaky.


Namun dia tidak menemukan keberadaan Zaky, sang tangan. Laki-laki itu juga mencari keempat tangan kanan dari sang ketua lain. Tapi tetap tidak menemukan keberadaan mereka.


Dan pada akhirnya, laki-laki itu langsung memutuskan untuk menemui sang ketua mafia.


Setelah berlari beberapa menit. Laki-laki itu akhirnya tiba di depan ruang pribadi milik sang ketua mafia.


Brak!


Laki-laki itu langsung mendobrak pintu itu cukup keras sehingga orang-orang yang ada di dalam terlanjak kaget.


Semua yang ada di dalam ruangan milik Noe langsung melihat kearah laki-laki itu dimana dapat mereka lihat bahwa laki-laki itu tengah terengah-engah dengan nafas yang tak beraturan.


"Ma-maafkan... Aahh... saya, King!"


"Aahhh... Aahhh...," nafas laki-laki itu terengah-engah.


Mereka yang melihat hal itu menjadi tidak tega. Awalnya Noe ingin memarahinya. Namun seketika dia mengurungkan niatnya karena melihat anggotanya itu yang saat ini dalam keadaan tak baik-baik saja.


"Tarik nafas pelan-pelan. Setelah itu, buang pelan-pelan," ucap Ziggy.


Laki-laki itu melakukan apa yang disuruh oleh ketua mafia The Crips.


"Bagaimana?" tanya Devian.


"Sudah, King! Terima kasih."


"Sekarang katakan. Ada apa?" tanya Noe.


"Begini, King! Mobil yang membawa nona Erica, pengasuhnya dan sang sopir dikejar dua mobil tak dikenal."


Mendengar informasi yang disampaikan oleh anggota keluarganya membuat Noe langsung berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan Ziggy, Devian, Enzo dan Chico. Bahkan para tangan kanannya.


Dan ternyata kelima tangan kanan yang sedari tadi dicari oleh laki-laki itu berada di ruangan Noe.


"Bagaimana keadaan mereka, terutama dengan Erica?" tanya Devian.


"Informasi yang saya dapatkan, ada dua mobil sedan berhasil menghalangi dua mobil yang mengejar mobil yang ditumpangi oleh nona Erica, pengasuhnya dan sang sopir.


"Sekarang sang sopir itu tengah menuju kediaman tuan Darren."


***


Darren dan kedua sahabatnya yaitu Qenan dan Willy berada di perusahaan Accenture. Darel dan Rehan berada di Galery. Serta Axel, Dylan dan Jerry berada di perusahaan lokomotif.


Semua pekerjaan yang mereka kerjakan harus diselesaikan paling lambat besok pukul 11 siang.


Darren, Qenan dan Willy harus mempersiapkan tiga produk baru untuk iklan besok. Axel, Jerry dan Dylan harus mempersiapkan sebuah launching motor sport keluaran terbaru dimana motor sport baru itu sudah banyak peminatnya. Bahkan sudah ada sekitar 50 orang yang minta dibuatkan segera.


Sementara untuk Rehan dan Darel juga tak kalah sibuknya. Keduanya tengah menyusun daftar pelanggan yang telah memesan lukisan.


Daftar pelanggan tersebut bukan hanya dari pelanggan lama, melainkan ada sekitar 50 pelanggan baru.


Semua pelanggan-pelanggan mereka itu sudah memesan banyak lukisan. Masing-masing dari pelanggan itu memesan sebanyak 10 lukisan. Jadi, akan ada sekitar 1000 pesanan lukisan dari 100 pelanggan tetap dan 50 pelanggan baru.


Benar-benar butuh kerja keras dan super ektra energi untuk Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel untuk menyiapkan semuanya. Mereka tidak ingin mengecewakan para rekan kerja dan pelanggan-pelanggan mereka.


Ketika Darren sedang fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Mendengar bunyi ponselnya, Darren menghentikan sejenak kegiatannya dan melihat ke samping dimana ponselnya berada.


Darren melihat nama 'Kakak Enzo' di layar ponselnya. Darren mengernyitkan dahinya. Setelah itu, Darren pun menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, kakak Enzo."


"Hallo, Ren! Pulanglah kamu, sekarang! Tinggalkan pekerjaan kamu itu dulu. Erica butuh kamu!"


"Ada apa, kakak Enzo? Apa terjadi sesuatu?"


"Iya. Ketika Erica, pengasuhnya dan sang sopir hendak pulang ke rumah setelah menjemput Eriklca dari sekolah. Ada dua mobil yang tak dikenal mengejar mobil mereka."


"Apa?!" Darren berteriak sambil bangkit dari duduknya.


"Terus, bagaimana keadaan Erica sekarang?"


"Maka dari itu kenapa kakak menyuruh kamu pulang. Kakak takutnya Erica syok dan tertekan. Di tambah lagi saat-saat Erica seperti itu hanya kamu yang bisa menenangkan dia."


"Baiklah, kakak Enzo. Aku akan segera pulang. Ke rumah Papa atau....."


"Rumah kamu."


"Ach, baiklah."


Setelah itu, baik Darren maupun Enzo sama-sama mematikan panggilannya.


Darren mengirim pesan kepada ketujuh sahabatnya dan memberitahu apa yang disampaikan oleh Enzo kepada ketujuh sahabatnya.


TO : Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry Rehan, Darel


KALIAN DATANG KE RUMAHKU, SEKARANG! ERICA BUTUH KALIAN. SESUATU TELAH MENIMPA ERICA KETIKA DALAM PERJALANAN PULANG.


Setelah mengirimkan pesan kepada ketujuh sahabatnya. Darren pun langsung pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dia saat ini benar-benar khawatir akan kondisi Erica. Dia takut trauma Erica muncul kembali.


***

__ADS_1


Di kediaman keluarga Smith terlihat Agneta, Davin, Andra, Nathan, Ivan, Melvin, Carissa, Evan, Daffa, Tristan, dan Davian duduk di sofa ruang tengah. Begitu juga dengan si Darren palsu.


Baik Agneta maupun anggota keluarga lainnya tengah memikirkan sesuatu. Perasaan mereka tidak tenang. Mereka semua meyakini jika telah terjadi sesuatu. Tapi mereka tidak tahu apa itu.


Ketika Agneta dan anggota keluarga lainnya tengah memikirkan sesuatu, tiba-tiba Erland datang dan langsung memberikan tamparan keras di wajah Darren palsu.


Plak!


Melihat apa yang dilakukan oleh Erland membuat semuanya terkejut. Begitu juga dengan si Darren palsu.


"Papa," ucap si Darren palsu dengan tatapan matanya menatap tak terima.


Plak!


Erland kembali memberikan tamparan keduanya. Saat ini Erland benar-benar marah. Dan hari ini, Erland akan membongkar semuanya.


"Kalian, masuklah!" teriak Erland dengan menatap kearah dimana orang-orang yang dia panggil melangkah masuk.


Baik Agneta, Davin, Andra, Nathan, Ivan, Melvin maupun Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian langsung melihat kearah tatapan mata Erland.


Dan beberapa detik kemudian, masuklah beberapa orang berpakaian hitam menghampiri mereka semua.


"Tuan Erland," sapa Marcel dan Ibra bersamaan.


"Bagaimana keadaan cucuku, pengasuhnya dan sang sopir?" tanya Erland.


Seketika Agneta, Davin, Andra dan anggota keluarga lainnya terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Erland.


Dan akhirnya, kegelisahan dan perasaan tak enak mereka sedari tadi terjawab sudah. Ternyata cucunya/ keponakannya dalam keadaan bahaya diluar sana.


"Tuan Erland tidak perlu khawatir. Nona Erica, pengasuhnya dan juga sang sopir selamat. Saat ini mereka sudah berada di kediaman tuan muda Darren. Aku, Ibra dan beberapa anggota kami tiba lebih awal." Marcel menjawab pertanyaan dari tuannya.


"Ach, syukurlah. Aku senang mendengarnya. Jika sampai terjadi sesuatu terhadap Erica. Pasti putraku akan bersedih. Bukan itu saja, putraku pasti akan kecewa padaku dan keluarganya karena gagal melindungi putri angkatnya." Erland berucap dengan raut wajah yang bahagia.


Sementara Agneta, Davin, Andra dan anggota keluarga lainnya menatap kearah Erland dengan tatapan bingung dan juga bahagia.


"Papa," panggil Davin dan Andra.


Erland langsung melihat kearah kedua putranya itu. Seketika Erland tersenyum menatap keduanya.


"Papa akan jelaskan semuanya nanti," sahut Erland.


Erland menatap tajam kearah si Darren palsu disertai senyuman menyeringainya.


"Aku sudah tahu siapa kau. Dan aku juga sudah tahu apa hubunganmu dengan laki-laki itu," ucap Erland.


Si Darren palsu itu seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari Erland.


"A-apa maksud......"


"Jangan panggil aku Papa. Kau bukan putraku. Kau seorang penipu yang mengaku sebagai putraku. Aku beritahu satu hal padamu. Aku Erland Faith Smith sama sekali tidak Amnesia. Aku dalam keadaan baik-baik saja."


Lagi-lagi si Darren palsu itu membelalakkan matanya ketika mendengar pengakuan dari Erland. Begitu juga dengan anggota keluarganya.


"Kau tahu alasanku sampai melakukan hal itu, hum?" tanya Erland dengan menatap semakin tajam.


"Hanya satu. Tujuanku adalah untuk memancing pria yang bernama Rolando Santa itu keluar dari persembunyiannya."


Mendengar ucapan dari Erland membuat si Darren palsu itu terkejut. Dia tidak ingin kakak laki-lakinya dalam bahaya. Sebisa mungkin dia akan melindungi kakak laki-lakinya itu.


"Hahahaha." Seketika si Darren palsu itu tertawa keras. "Kau tidak akan pernah bisa membuat seorang Roland Santa muncul begitu saja," tantang si Darren palsu itu.


Erland tersenyum di sudut bibirnya. "Oh iya! Benarkah begitu? Bagaimana pun seorang Roland Santa tidak akan bisa selamanya bersembunyi. Suatu saat dia juga akan keluar dari persembunyiannya."


"Tidak akan pernah!" bentak si Darren palsu itu.


"Aku bisa membuktikannya padamu."


"Dengan cara apa kau akan membuktikannya, hah!" bentak si Darren palsu di hadapan Erland.


Erland kembali tersenyum. Dan kali ini senyumannya itu terlihat senyuman meremehkan.


"Kau," jawab Erland.


Si Darren palsu itu menatap bingung Erland. Dia tidak mengerti saat ini.


"Kau yang akan membuat seorang Rolando Santa keluar dari persembunyiannya," ucap Erland.


"Aku? Hahahaha. Jangan ngelucu kau. Bagaimana bisa kau menjadikanku tumbal agar seorang Rolando Santa keluar dari persembunyiannya," ucap si Darren palsu.


"Tentu bisa, karena kau adalah....."


Erland tersenyum menatap wajah laki-laki yang mengaku putranya. Sementara si Darren palsu itu saat ini ketakutan jika jati dirinya sebagai adik laki-laki dari Rolando Santa terbongkar.


"Karena kau adalah adik laki-laki dari Rolando Santa." Erland berucap dengan lantangnya.


Deg!


Si Darren palsu itu seketika terkejut ketika mendengar penuturan dari Erland.


"Tidak... Ini tidak mungkin. Ba-bagaimana bisa laki-laki tua ini mengetahui bahwa aku adalah adik laki-laki dari Rolando Santa," batin si Darren palsu itu.


"Namamu adalah Rogert Ardeva Santa. Ketika bersama dengan keluargaku, kau menggunakan marga Smith untuk memuluskan rencanamu. Ketika berada diluar rumah, terutama di kampus. Kau menggunakan marga Artavea dimana marga itu berasal dari ibumu. Kau menggunakan marga Artavea untuk menutupi bahwa kau adalah keturunan keluarga Santa."


Si Darren palsu kembali terkejut ketika mendengar perkataan dari Erland. Dia tidak menyangka jika Erland sudah mengetahui semuanya.


Erland menatap dua tangan kanannya. "Kalian bawa dia ke markas milik kalian. Penjarakan dia di penjara yang pengap dan gelap."


"Baik, tuan!"


Setelah itu, Marcel dan Ibra memerintahkan beberapa orang-orangnya untuk membawa Rogert ke markas milik Ibra. Dan kebetulan markas milik Ibra tidak bisa dilacak keberadaannya. Apapun dan bagaimanapun caranya. Tidak ada satu pun yang bisa menemukan markas milik Ibra.

__ADS_1


__ADS_2