
Rangga, Barra, Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan menatap tajam kearah Charlie dan Soraya. Begitu juga dengan Charlie dan Soraya. Keduanya juga tak kalah memberikan tatapan tajamnya.
"Sekarang kami yang akan mengambil alih permainan ini, tuan Charlie!" seru Rangga.
"Kau sudah kehilangan senjata sekarang. Ditambah lagi ketiga putrimu ada ditangan kami. Melawan sedikit saja, maka nyawa ketiga putrimu akan menjadi korbannya," ucap Barra.
Mendengar ucapan dari Rangga dan Barra membuat Charlie seketika tertawa keras.
"Hahahaha. Apa kalian pikir karena kami hanya berdua? Kalian bisa mengalahkan kami, hah!" ucap dan tanya Charlie.
"Ingat Rangga, Barra! Rumah ini sudah menjadi milik suamiku. Kalian sudah tidak memiliki hak apapun atas rumah. Ini!" bentak Soraya.
"Begitukah?" kini Darren yang berbicara.
"Apa nyonya yakin jika rumah ini sudah resmi menjadi milik suami nyonya? Bagaimana kalau belum, hum?" tanya Darren dengan menatap remeh Soraya.
"Apa kau mau melihat buktinya, hah?" tanya Soraya dengan menantang Darren.
"Boleh. Mana buktinya dan tunjukan padaku," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren. Soraya langsung mengambil map yang terletak di atas meja.
Setelah itu, Soraya melempar map itu di hadapan Darren dengan wajah sombong dan juga arogan.
Darren menangkap dengan gesit map itu. Setelah itu, Darren melihat dan membaca isi dari map itu. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Dan detik kemudian...
"Hahahaha."
Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan tertawa.
Melihat Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tertawa membuat Charlie dan Soraya menatap penuh amarah.
Beda dengan Rangga, Barra dan Liana. Apalagi Liana. Mereka tahu arti dari tawa Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan itu.
"Apa kalian berniat untuk membohongi kami dengan berkas salinan ini, hum?" tanya Jerry.
"Kita-kita ini bukan anak kecil lagi, tuan! Kita ini sudah dewasa. Bahkan kita ini lebih pintar dari anda dan juga istri jelek anda ini," ucap Dylan.
Mendengar ucapan dari Dylan membuat Rangga, Barra dan Liana tersenyum dan juga geleng-geleng kepala.
Sementara Charlie dan Soraya mengepal kuat kedua tangannya ketika mendengar ucapan dari Dylan.
__ADS_1
"Apa maksudmu, hah? Itu berkas asli. Kalian lihat saja tanda tangan itu. Itu asli tanda tangannya Liana!" bentak Charlie.
"Semua orang juga tahu kali kalau ini asli. Apalagi tanda tangannya. Yang kami maksud disini adalah ini adalah berkas salinan. Bukan berkas yang aslinya. Jadi dengan kata lain rumah ini belum sepenuhnya menjadi milik anda dan juga istri anda," ucap Darren dengan tersenyum menyeringai.
Tanpa berperikemanusiaan, Darren langsung merobek-robek berkas itu sehingga membuat Charlie dan Soraya marah.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan, hah?!" teriak Charlie.
Darren tidak mempedulikan teriakan dari Charlie. Justru Darren mengulurkan tangannya kearah Qenan.
Qenan yang mengerti langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Setelah mendapatkan apa yang diambilnya. Qenan pun memberikan kepada Darren.
"Anda lihat ini, tuan Charlie! Inilah berkas yang aslinya. Berkas kerja sama palsu yang anda berikan kepada Bibi Liana. Berkas yang anda tulis dengan tinta yang bisa hilang. Setelah tulisannya hilang. Anda merubah isinya." Darren berbicara sambil memperlihatkan isi berkas tersebut di hadapan Charlie dan Soraya.
Charlie dan Soraya seketika membelalakkan matanya ketika melihat berkas yang asli itu ada pada Darren. Mereka saat ini benar-benar marah.
"Bagaimana tuan Charlie, nyonya Soraya? Apa kalian masih berani mengklaim rumah ini adalah milik kalian?" tanya Darren.
Charlie dan Soraya menatap murka Darren. Dan tiba-tiba saja, Charlie hendak menyerang Darren. Namun dengan gerakan cepat, Axel langsung memberikan tendangan kuat tepat di perut Charlie.
Duagh!
Mendapatkan tendangan kuat dari Axel membuat tubuh Charlie tersungkur di lantai dengan perut terlebih dahulu menghantam lantai.
"Lihatlah ini, tuan Charlie!" seru Darren dengan memegang kertas putih ke udara dengan kedua tangannya.
Srek!
Srek!
Srek!
Darren merobek-robek kertas putih itu dan melemparnya ke udara sehingga kertas itu berserakan di lantai.
"Kau sudah tidak memiliki bukti apa-apa lagi," ucap Darren.
"Dan...." Darren menghentikan ucapannya.
"Kalah," sahut Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan bersamaan.
Darren melihat kearah Liana, ibu dari kekasihnya. "Bibi Liana. Apakah Bibi Liana tidak ingin ikut dalam permainan kami? Apakah Bibi tidak ingin bermain-main barang sejenak dengan mantan sahabat Bibi ini, hum?!" tanya Darren dengan tersenyum manis menatap Liana.
"Nggak seru jika Bibi Liana hanya duduk-duduk saja dan menyaksikan permainan kita," sela Willy.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Darren dan Willy. Liana langsung berdiri dari duduknya. Kakinya melangkah mendekati Soraya, mantan sahabatnya itu.
Kini Liana sudah berdiri di hadapan Soraya. Liana menatap marah kearah Soraya.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu ingin membalas rasa sakitmu padaku, Soraya. Setahuku selama aku menjadi sahabatmu. Aku tidak pernah melakukan kesalahan padamu. Justru sebaliknya. Aku sering membantu kesusahanmu. Bahkan aku meminta kepada kedua orang tuaku untuk membantu perusahaan ayahmu yang saat itu diambang kebangkrutan."
Liana berbicara sambil menatap wajah Soraya dengan mata berkaca-kaca. Di hati kecilnya sebenarnya Liana tidak ingin bermusuhan dengan Soraya. Liana ingin tetap bersahabat dengan Soraya.
Namun niat baiknya disalah gunakan oleh Soraya. Hanya karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Hanya karena cintanya tidak diterima oleh Antonio, suaminya membuat Soraya membalaskan semuanya padanya.
Soraya berdiri, lalu menatap penuh dendam wajah Liana. Soraya benar dendam dengan mantan sahabatnya ini.
"Kau perempuan rendahan. Kau juga perempuan murahan. Kau merebut Antonio dariku. Sahabat macam apa kau, hah!"
"Kau bersenang diatas penderitaanku. Kau bermesra-mesraan dengan Antonio, laki-laki yang aku cintai!"
Soraya berbicara sambil berteriak di hadapan Liana sambil menunjuk-nunjuk wajah Liana.
Mendengar hinaan, bentakkan, teriakan dan juga tuduhan yang diberikan oleh Soraya membuat Liana hanya menatap dengan senyuman. Lebih tepatnya senyuman menyeringai.
"Apa aku tidak salah, hum? Kau menyebutku perempuan murahan dan juga perempuan rendahan. Bahkan kau menuduhku telah merebut Antonio darimu." Liana berbicara dengan penuh penekanan dan matanya yang menatap jijik Soraya.
"Sekarang aku ingatkan kembali padamu, nona Soraya yang terhormat! Dulu saat kita masih bersahabat, kita berdua berdua pernah berjanji. Jika salah satu diantara kita jatuh cinta dan sudah memiliki kekasih. Maka kita akan langsung jujur. Tidak ada rahasia apapun. Dan akulah orang pertama yang memberitahumu jika aku sudah jatuh cinta kepada seorang pria. Bahkan saat itu aku mengatakan padamu bahwa aku dan kekasihku itu sudah pacaran selama satu bulan lebih memasuki bulan kedua. Dan aku juga mengatakan padamu bahwa aku akan memperkenalkan kekasihku itu padamu dua hari lagi."
Mendengar penuturan dari Liana. Soraya hanya diam tanpa memberikan reaksi apapun. Justru matanya masih menatap wajah Liana.
"Dua hari kemudian dimana aku berjanji akan memperkenalkan kekasihku padamu. Namun terhalang ketika kau tiba-tiba datang memelukku dan berkata bahwa kau sedang jatuh cinta kepada seorang pria yang menolongmu. Kau menceritakan semuanya padaku. Mendengar ceritamu. Aku ikut bahagia. Dan pada akhirnya, kita berdua sama-sama sudah memiliki kekasih."
"Namun ternyata siapa sangka. Pria yang kita cintai adalah pria yang sama. Dan disini akulah yang terlebih dahulu bertemu dan berkenalan dengan Antonio. Dan menjalin hubungan asmara dengannya selama dua bulan. Setelah itu, barulah Antonio bertemu denganmu dengan cara Antonio menolongmu ketika kau diganggu oleh empat orang preman. Dari situlah, kau tertarik padanya."
Liana menatap wajah Soraya. Kini tatapannya teduh. Tidak seperti tadi yang begitu marah kepada Soraya.
"Sekarang aku bertanya padamu, Soraya! Siapa yang merebut siapa? Disini jelas kaulah yang merebut milikku. Kau jatuh cinta kepada kekasih sahabatmu sendiri. Tanpa kau bertanya terlebih dahulu, kau langsung menghujatku dan mengatakan aku perempuan rendahan dan perempuan murahan."
"Jadi aku katakan sekali lagi, nona Soraya! Aku tidak pernah merebut milikmu. Kaulah yang berusaha merebut milikku. Bahkan sekarang kau berani datang kesini ingin merebut rumahku dan perusahaanku dengan alasan ingin membalaskan rasa sakitmu kepadaku dan juga penolakan dari Antonio."
"Aku benar-benar kasihan padamu, Soraya!"
Liana menatap wajah kedua putranya yaitu Rangga dan Barra. "Mama serahkan semua kepada kalian. Ini adalah tugas kalian sebagai anak laki-laki dari Antonio Wilson. Lakukan tugas kalian. Balaskan kematian ayah kalian. Jika kalian tidak tega untuk membunuh pria brengsek itu. Kalian serahkan saja pria brengsek itu ke kantor polisi. Biarkan hukum yang memberikan hukuman mati untuk pria brengsek itu. Begitu juga dengan perempuan itu."
Mendengar ucapan dari ibunya. Rangga dan Barra mengangguk mengerti.
"Serahkan pada kami. Kami akan mengurus pria brengsek itu," ucap Rangga dan Barra bersamaan.
__ADS_1