KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Merencanakan Hukuman Untuk Wakil Rektor


__ADS_3

Setelah menceritakan apa yang dibicarakan keluarga Radmilo kemarin kepada kelima sahabatnya membuat Elzaro menatap wajah kelima sahabatnya itu.


Elzaro dapat melihat keterkejutan dan ketidakpercayaan dari wajah dan tatapan matanya kelima sahabatnya itu.


"Ini benaran Lino?" tanya Glen.


"Apa aku terlihat seperti sedang berbohong atau bercanda?" tanya Elzaro balik dengan menatap wajah Glen.


Elzaro kembali mengingat cerita dari keluarganya mengenai Belinda, adik perempuan dari Robert. Dia benar-benar tidak menyangka jika Marga Garcia dan Marga Smith, dua Marga keluarga dari Belinda itu memiliki kemiripan dengan dua Marga keluarga Darren, pemuda yang baru tiga bulan menjadi sahabatnya dan juga menjadi sahabat untuk kelima sahabatnya.


Bagi Elzaro mendengar berita itu membuat Elzaro merasakan kebahagiaan di dalam hidupnya. Elzaro benar-benar bahagia memiliki banyak saudara jika benar keluarga Darren adalah keluarga dari kakeknya.


Pertama, Elzaro dipertemukan kembali dengan kedua orang tua kandungnya, kedua saudaranya dan keluarga besar Radmilo.


Kedua, Elzaro kembali dipertemukan dengan saudari kembarnya yaitu Kathleen Adelia Radmilo.


Dan sekarang yang ketiga, Elzaro mendengar kabar bahagia dari kakeknya yang mengatakan bahwa Belinda yang tak lain adalah adik perempuan kakeknya menantu dari keluarga Garcia. Serta putri sulung dari Belinda yaitu Belva Carlise Garcia menikah dengan putra pertama dari keluarga Smith.


Elzaro berharap di dalam hatinya jika keluarga Smith yang dimaksud oleh kakeknya adalah benar keluarga dari Belva Carlise Garcia, putri sulung Belinda, adik perempuan kakeknya.


Elzaro juga berharap dua keluarga yang sempat berpisah bisa berkumpul kembali.


"Apa kau akan diam saja Lino?!" tanya Glen yang sedari tadi melamun.


Elzaro langsung menatap wajah Glen sahabatnya itu. "Maksud kamu apa?" tanya Elzaro balik.


"Mencari tahu kebenaran tentang keluarga Darren. Apa benar keluarga Smith yang dimaksud oleh kakek Robert itu adalah keluarga dari Bibi Belva, ibu kandungnya Darren." Glen menjelaskan tentang pertanyaannya barusan kepada Elzaro.


"Aku setuju apa yang dikatakan oleh Glen, Lino! Ada baiknya kau menyelidikinya. Setidaknya kau membantu kakekmu untuk bertemu kembali dengan keponakannya dan juga cucu-cucunya. Bagaimana pun anak dan cucu dari Nenek Belinda adalah keponakan dan cucu kakek Robert juga." Doddy berucap sembari menatap wajah Elzaro.


"Kami juga setuju apa yang dikatakan oleh Glen dan Doddy!" seru Derry, Melky dan Allan bersamaan.


"Sekali pun Kakek Robert sudah tahu mengenai Nenek Belinda, Paman Darwin dan Bibi Belva yang telah meninggal. Setidaknya masih tersisa Bibi Agneta dan Paman Brian selaku putra-putri dari Nenek Belinda dan saudara-saudari dari Bibi Belva!" ucap Allan.


"Dan jangan lupakan anak-anaknya dari Bibi Belva, Bibi Agneta dan Paman Brian. Mereka semua juga cucu-cucunya kakek Robert," ucap Derry menambahkan.

__ADS_1


Mendengar ucapan demi ucapan dari kelima sahabatnya membuat Elzaro diam seketika.


Dan detik kemudian, Elzaro menatap satu persatu wajah kelima sahabatnya itu.


"Bantu aku untuk menyelidiki kebenaran ini. Aku berharap keluarga Darren adalah keluarga yang dicari oleh kakek selama ini!" seru Elzaro.


"Pasti. Kami akan membantumu untuk menyelidiki kebenaran tentang keluarga Smith dan keluarga Garcia!" seru Melky. Dan diangguki oleh Glen, Allan, Derry dan Diego.


***


Darren saat ini bersama dengan ketujuh sahabatnya di ruangan tengah kediaman keluarga Smith.


Bukan hanya Darren dan ketujuh sahabatnya saja yang ada disana. Gilang dan Darka juga ada disana


Sementara Erland, Agneta, Davin, Dzaky, Adnan berada di tempat kerja mereka masing-masing. Untuk Adrian dan keempat adiknya berada di sekolah.


"Jadi benaran para orang tua dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang dibully melakukan demo di kampus kemarin?" tanya Darka kepada ketujuh sahabatnya Darren.


Gilang dan Darka mengetahui adanya demo di kampus dari Darren.


Mendengar cerita dari Darren membuat Gilang dan Darka terkejut. Mereka tidak menyangka jika akan ada aksi demo para orang tua untuk anak-anaknya yang dibully.


Selama Darka dan Gilang kuliah. Dan selama Darren yang diberikan kepercayaan oleh Rektor yang tak lain pemilik kampus. Selama itulah, tidak ada kejadian seperti kemarin dimana kampus yang di demo oleh para orang tua dari mahasiswa dan mahasiswi yang dibully.


Gilang dan Darka sangat tahu bagaimana keras, kejam dan tegasnya Darren dalam menindaklanjuti bagi mahasiswa dan mahasiswi yang suka membully.


Bukan hanya Darren, ketujuh sahabatnya juga sama seperti Darren. Maka dari itulah yang namanya demo tidak pernah terjadi selama ini.


"Apa yang akan kamu lakukan, Ren?" tanya Gilang menatap wajah adik laki-lakinya itu.


"Aku tidak akan melakukan apapun. Yang berbuat salahkan wakil rektor gila itu. Maka biarkan saja dia yang menyelesaikannya," jawab Darren dengan entengnya.


"Terus bagaimana nasib para mahasiswa dan mahasiswi yang tidak bersalah jika terjadi sesuatu terhadap kampus akibat demo itu, Ren?" tanya Darka khawatir.


Mendengar pertanyaan dan kekhawatiran dari Darka membuat Darren dan ketujuh sahabatnya mengerti dan juga paham.

__ADS_1


"Kakak Darka tenang saja. Tidak akan terjadi apapun terhadap kampus. Begitu juga dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang tak bersalah. Aku dan yang lainnya sudah bicarakan masalah ini secara baik-baik dengan para orang tua yang melakukan demo itu." Axel berbicara sembari menjelaskan pokok permasalahannya.


"Kami mengatakan kepada para orang tua yang berdemo itu untuk tidak membawa kampus dan juga tidak membawa para mahasiswa dan mahasiswi yang tidak bersalah dalam masalah ini. Hukum saja orang-orang yang bersalah tanpa melibatkan yang lainnya," ucap Rehan.


"Apa tanggapan dan reaksi dari orang tua yang berdemo itu?" tanya Gilang.


"Mereka setuju dengan ucapan dan permintaan kami. Mereka bahkan membenarkan apa yang kami katakan kepada mereka," jawab Darel.


Mendengar perkataan demi perkataan dari ketujuh sahabatnya Darren membuat Gilang dan Darka seketika bisa bernafas lega. Keduanya benar-benar bersyukur saat ini.


"Oh iya! Aku punya rencana bagus untuk memberikan hukuman untuk wakil rektor itu," sahut Darren dengan menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya.


Mendengar perkataan Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dyan, Jerry, Rehan dan Darel seketika tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum menyeringai.


"Apa kamu memiliki ide, Ren?" tanya Qenan.


"Cukup kita memberikan kejutan syok terapi," sahut Darren.


"Apa itu?" tanya Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


"Kita buat wakil rektor itu mengemis bantuan kepada kita. Dan dengan begitu kita bisa memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mengeluarkan ke 64 mahasiswa dan mahasiswi itu dari kampus. Bagaimana?"


Qenan, Willy, Axel, Dyan, Jerry, Rehan dan Darel saling memberikan tatapan. Setelah itu, mereka kembali menatap wajah Darren.


"Jadi dengan begitu, wakil rektor itu sendiri yang akan mengeluarkan ke 64 mahasiswa dan mahasiswi itu dari kampus tanpa campur tangan kita atau paksaan dari kita, apa begitu?" ucap dan tanya Willy.


"Iya. Kamu benar sekali Wil!" Darren menjawabnya.


"Wakil rektor itu tidak akan mengorbankan dua ratus lebih mahasiswa dan mahasiswi demi mempertahankan 64 mahasiswa dan mahasiswi itu kan?" tanya Darren.


"Dan aku juga yakin jika wakil rektor itu tidak akan membiarkan kampus itu hancur demi melindungi 64 mahasiswa dan mahasiswi itu."


"Bagaimana pun kampus itu adalah kehidupannya dan mata pencariannya. Posisinya sedang dipertaruhkan saat ini. Jika terjadi sesuatu terhadap kampus maka habislah dia," ucap Darren deng tersenyum manis.


Mendengar perkataan dari Darren membuat Gilang, Darka, Qenan, Willy, Axel, Dyan, Jerry, Rehan dan Darel menganggukkan kepalanya tanda setuju. Bahkan mereka membenarkan apa yang barusan Darren katakan.

__ADS_1


__ADS_2