
Semuanya sudah berada di rumah sakit. Mulai dari anggota keluarga Smith, anggota keluarga William, anggota keluarga Dominic, anggota keluarga Dustine, anggota keluarga Zordi, anggota keluarga Antonius, anggota keluarga Carlo, anggota keluarga Immanuel, kelima ketua mafia, anggota keluarga Radmilo, anggota keluarga Mendez, Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda, keluarga Madhavi, Bianca dan anggota keluarga dari ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda.
Bukan hanya anggota keluarga Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan orang-orang terdekat saja yang datang, melainkan anggota keluarga dari kelima ketua mafia juga datang ke rumah sakit.
Semuanya tampak bersedih melihat Darren yang saat ini berada di ruang operasi. Sementara Qenan dan Willy bergabung dengan yang lainnya. Keduanya juga mengalami luka-luka di bagian tubuhnya, namun kedua memberontak ketika beberapa perawat hendak memeriksa lukanya. Bahkan anggota keluarganya dan sahabat-sahabatnya sudah berulang kali membujuk Qenan dan Willy, namun hasilnya tetap sama.
"Aarrgghhh! Darren!"
Bugh..
Willy tiba-tiba berteriak memanggil nama Darren sembari menunjuk dinding dengan kerasnya. Willy meluapkan kemarahan, kekecewaan, kegagalannya dan kesedihan akan Darren.
"Willy!"
Angga langsung memeluk tubuh adiknya. Dia tahu bahwa saat ini adiknya benar-benar hancur akan kejadian yang dialaminya bersama ketiga sahabatnya.
"Tenangkanlah dirimu. Kakak tahu perasaan kamu, Wil!"
"Bagaimana aku bisa tenang, kak! Di dalam sana sahabatku sedang berjuang melawan maut. Sahabatku itu seperti itu karena menyelamatkanku dan Qenan."
"Iya, kakak tahu hal itu. Sahabat kamu itu adalah pemuda yang baik. Dia akan melakukan apapun untuk orang-orang yang dia sayangi."
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Darren, kak! Aku ingin dia baik-baik saja. Aku ingin mendengar kabar dari Bibi Celsea kalau Darren baik-baik saja. Aku tidak ingin mendengar kalau Darren dinyatakan koma."
"Kita semua mengharapkan hal itu untuk Darren. Semoga Tuhan mengabulkannya. Kamu kuat dan juga tenang. Jangan seperti ini."
Semuanya menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Willy. Mereka semua berharap apa yang menjadi keinginan Willy menjadi kenyataan.
Sementara Qenan sejak tadi hanya diam. Pikiran masih teringat akan kejadian beberapa menit yang lalu. Saat ini Qenan dalam rangkulan kakak sulungnya yaitu Aaron dan di sampingnya ada kakak keduanya yaitu Raka.
Tes..
Seketika air matanya mengalir membasahi pipinya ketika melihat bagaimana Darren/ Rendra yang menghadang peluru-peluru yang mengenai tubuhnya. Bagaimana Darren/Rendra yang sama sekali tidak merasakan sakit ketika peluru-peluru itu menembus kulit tubuhnya.
"Ren, lo harus hidup. Lo nggak boleh pergi kemana-mana. Masih banyak hal yang belum kita selesaikan. Masih banyak juga rencana-rencana kita yang belum terlaksanakan." Qenan berucap dengan air matanya mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
Mendengar ucapan dan melihat air mata Qenan membuat hati mereka sakit, terutama kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya.
Detik kemudian...
Qenan tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di bahu Aaron dan detik kemudian kesadaran mengambil alih tubuhnya.
"Qenan!" teriak Aaron.
"Qenan!"
Mereka semua panik melihat Qenan yang tak sadarkan diri di pelukan Aaron.
Ketika mereka semua panik melihat Qenan yang tak sadarkan diri, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan dari Angga.
"Tidak, Willy. Danar tolong kakak. Willy pingsan."
Danar berdiri dari duduknya lalu membantu kakaknya untuk menahan tubuh adiknya. Dan dibantu oleh Rama dan Rendi.
Melihat Qenan dan Willy yang pingsan membuat Sophia dan Emma menangis. Begitu juga dengan yang lainnya terutama Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel serta Elsa dan Alice.
"Papi, apa masih jauh ya rumahnya Bibi Agneta?" tanya Nandito putra bungsunya Brian.
Brian seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari putra bungsunya itu.
"Kenapa? Sudah tidak sabar ya bertemu dengan Bibi Agneta, Paman Erland dan kedua belas sepupu kamu, hum?"
"Iya, Pa! Aku kangen sama lima sepupuku dan juga sama kakak Darren."
"Lah. Terus sama kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky, kakak Adnan, kakak Gilang dan kakak Darka, bagaimana?" tanya Risya.
"Mereka galak. Beda dengan kakak Darren. Ditambah lagi aku masih marah sama mereka yang sudah galak-galak sama kakak Darren saat itu sehingga membuat kakak Darren pergi meninggalkan rumah," jawab Nandito.
Brian dan keluarganya mengetahui tentang hubungan Erland, Agneta dan putra-putranya terhadap Darren tidak baik dulunya. Mereka tahu karena Agneta bercerita kepada adik laki-lakinya itu.
Mendengar cerita dari kakak perempuannya membuat Brian seketika marah dan juga kecewa. Bahkan Brian sempat putus kontak dengan kakak perempuannya itu karena sikap buruk kakaknya terhadap Darren.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam. Akhirnya Brian dan keluarganya sampai di depan kediaman keluarga Smith.
"Kita sudah sampai!" seru Brian.
Brian kemudian turun dari mobilnya. Dan dapat Brian lihat seorang laki-laki datang menghampirinya untuk membukakan pintu pagar. Laki-laki itu adalah Jonathan.
"Tuan mencari siapa?" tanya Jonathan ramah.
"Saya Brian Garcia, adik laki-lakinya Agneta Laurinda Garcia yang sekarang berubah menjadi Agneta Laurinda Smith!"
"Oh, jadi tuan adalah tuan Brian yang tinggal di Amerika itu?"
"Iya."
"Sayang sekali. Tuan Erland, nyonya Agneta serta putra-putranya sedang tidak ada di rumah."
"Memangnya mereka kemana?" tanya Brian.
"Mereka... Mereka..."
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Tuan muda Darren masuk rumah sakit. Jadi semuanya berada di rumah sakit, tuan!"
"Apa?!"
Brian seketika terkejut ketika mendengar Jonathan mengatakan bahwa keponakan kelincinya masuk rumah sakit
"Rumah sakit mana? Bisa antarkan saya dan keluarga saya ke rumah sakit. Saya baru datang dari Amerika. Dan baru dua hari disini."
"Saya tidak bisa mengantarkan tuan ke rumah sakit, tapi saya akan meminta anggota saya untuk mengantarkan tuan ke rumah sakit."
"Ach, baiklah. Terima kasih."
Setelah itu, Jonathan menemui salah anggotanya lalu meminta anggotanya itu untuk mengantarkan Brian dan keluarganya ke rumah sakit.
__ADS_1