
Drrrtt..
Drrrtt..
Tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi menandakan panggilan masuk.
Mendengar suara bunyi ponselnya, Darren langsung mengambil ponselnya itu di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah ada di tangannya, tatapan matanya melihat nama Rehan di layar ponselnya itu.
Tanpa membuang-buang waktu lama, Darren pun langsung menjawab panggilan dari sahabatnya itu.
"Hallo, Han!"
"Lo dimana?"
"Gue di rumah. Kenapa?"
"Apa di rumah lo kedatangan tiga tamu wanita?"
"Iya. Itu pun pelayan yang memberitahuku. Ini aku sedang menemui mereka di luar karena pelayanku tidak berani menyuruh mereka masuk."
"Apa lo ingin tahu siapa mereka?"
"Mereka siapa? Memangnya lo tahu?"
"Iya."
"Siapa?"
"Mereka itu adalah orang tua dari anak-anaknya yang sudah memarahi, membentak dan memaki Erica."
Deg..
Darren seketika membulatkan matanya ketika mendengar jawaban dari Rehan.
"Lo tahu dari mana kalau mereka datang kesini?"
"Sebelum datang ke rumah lo, mereka terlebih dahulu datang ke rumah gue. Kemungkinan besar mereka juga datang ke rumah Darel, ke rumah Axel, ke rumah Dylan, ke rumah Jerry, ke rumah Qenan dan ke rumah Willy."
"Bahas apa aja lo sama tiga nenek lampir itu?"
"Tidak banyak. Intinya, ketiga wanita itu meminta maaf atas perlakuan buruknya terhadap Erica."
"Jawaban lo?"
"Gue jawab kalau semua keputusan ada di tangan lo."
"Baiklah."
"Apa keputusan lo?"
"Gue akan main-main sama mereka terlebih dahulu. Gue nggak akan langsung memaafkan kesalahan mereka. Kesalahan mereka sangat besar. Jadi mereka harus merasakan pembullyan terlebih dahulu."
"Eemmm... Gue setuju sama lo. Setidaknya pembullyan sedikit dari kita bisa membuat mereka sadar dan tidak mengulangi kesalahan yang sama kepada orang lain."
"Ya, sudah kalau begitu. Aku tutup teleponnya biar aku bisa bertemu dengan mereka."
"Ach, baiklah!"
Setelah itu, baik Darren maupun Rehan sama-sama mematikan panggilannya.
^^^
Diluar rumah keluarga Smith terlihat tiga wanita yang sedang berbicara. Lebih tepatnya, ketiga terlihat kesal dan dongkol saat ini.
"Sialan! Memang dia itu siapa? Kita datang saja tidak disuruh masuk!"
"Keterlaluan sekali dia. Mentang-mentang kita telah berbuat salah, seenaknya saja dia melakukan hal ini kepada kita."
"Kalau bukan hukuman dan ancaman dari suamiku. Aku tidak sudi meminta maaf kepada para ayah dari anak sialan itu. Memangnya mereka pikir, mereka itu siapa!"
"Iya, benar! Saya juga seperti itu. Jika bukan karena ancaman dari suami saya. Saya juga tidak sudi meminta maaf sama para ayah dari anak tidak tahu diri itu."
"Apalagi saya. Jika suami saya tidak marah dan tidak menghukum saya seperti ini, maka saya tidak akan mendatangi satu persatu rumah para ayah dari anak sialan itu."
Ketiga wanita tersebut berucap dengan nada kesal dan juga marah. Bahkan mereka kembali menghina korbannya tanpa menyadari bahwa ucapan-ucapan mereka didengar oleh salah satu ayah dari anak yang mereka hina.
"Oh, begitukah?!"
Deg..
__ADS_1
Seketika tiga wanita itu terkejut ketika mendengar suara dan ucapan dari seseorang. Berlahan ketiga wanita itu membalikkan badannya untuk melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat seperti pemuda tampan berdiri di hadapannya dengan tatapan matanya yang tajam.
"Kalian ini tidak pantas disebut manusia. Kalian itu lebih cocok disebut iblis."
Deg..
Ketiga wanita itu terkejut ketika mendengar ucapan pemuda yang berdiri di hadapannya.
"Saya Darrendra Smith, ayah dari anak yang kalian hina itu. Dan saya putuskan untuk tidak memberikan maaf kepada kalian karena kalian kembali menghina anak saya."
Ketiga wanita itu kembali terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren. Mereka tidak menyangka efek dari ucapan mereka beberapa menit yang lalu berdampak buruk untuknya.
"Tu-tuan, maafkan kami!" seru ketiga wanita itu bersamaan.
"Kalian tahukan dimana arah pintu gerbang?" Darren bertanya dengan memberikan tatapan tajamnya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Tu-tuan......"
"Pergi!" bentak Darren.
"Tu-tuan!"
Bruukkk..
Bruukkk.. Bruukkk..
Ketiga wanita itu langsung menjatuhkan diri di hadapan Darren. Ketiganya memohon kepada Darren untuk memberikan maaf dan kesempatan untuknya.
"Paman Jonathan!" panggil Darren.
Tak butuh lama, orang yang dipanggil pun datang menghadap.
"Ya, Tuan muda!"
"Seret ketiga manusia busuk ini dan lempar mereka ke jalanan!"
"Baik, Tuan muda!"
Setelah itu, Jonathan memanggil enam anggotanya dan memerintahkan anggotanya untuk menyeret ketiga wanita itu keluar meninggalkan kediaman keluarga Smith.
Sementara Darren beserta anggota keluarganya langsung masuk ke dalam rumah.
***
Samuel hari sampai dua hari kedepannya tidak ada pekerjaan sehingga membuat dirinya bisa menghabiskan waktu bersama ibu dan kedua adiknya.
"Samuel," panggil ibunya.
"Iya, Ma"
"Bisa antarkan Mama menemui Darren? Mama ingin berterima kasih atas bantuannya saat di Cafe beberapa hari yang lalu. Ditambah lagi ketika adik-adikmu hilang. Darren sudah baik sama kita."
Mendengar ucapan dari ibunya membuat Samuel tersadar. Dirinya sama sekali belum mengucapkan terima kasih kepada Darren atas pertolongan Darren untuk kedua adiknya dan ibunya.
"Baiklah. Nanti sekitar pukul 4 sore kita kesana," jawab Samuel.
"Tapi sebelum itu kamu harus kasih tahu Darren dulu biar dia ada di rumah. Takutnya ketika kita kesana malah Darren nya tidak ada."
"Baik, Ma!"
Samuel mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah mendapatkan ponselnya, Samuel pun langsung mencari nomor Darren di kontaknya kemudian meredialnya.
Beberapa detik kemudian..
"...."
"Hallo, Ren! Kamu dimana?"
"...."
"Kebetulan kamu di rumah. Aku, Mama dan kedua adik-adikku ingin ke rumah kamu."
"...."
"Benarkah?"
"...."
"Baiklah. Aku, Mama dan kedua adikku akan kesana sekitar pukul 4 sore. Tidak apa-apa kan?"
"...."
__ADS_1
Setelah berbicara dengan Darren di telepon, Samuel pun mematikan panggilannya.
"Bagaimana, Sayang?"
"Darren nya ada di rumah. Kebetulan Darren memang tidak ada jadwal apapun diluar rumah."
"Ach, syukurlah!"
***
Di sebuah Apartemen terlihat beberapa orang sedang membicarakan sesuatu. Mereka adalah Bianca, Zora dan kedua orang tuanya.
Yah! Kedua orang tuanya datang menemui Bianca di Apartemen milik Bianca bersama dengan Zora.
Kedatangan ketiganya sudah mendapatkan izin dari Bianca. Lebih tepatnya, Zora sudah membahas masalah tersebut dengan Bianca sehingga membuat Bianca memberikan kesempatan untuk kedua orang tuanya meminta maaf padanya.
"Buruan. Aku nggak punya waktu banyak." Bianca berucap dengan ketus dan tatapan tajamnya menatap kedua orang tuanya.
Mendengar ucapan ketus serta tatapan tajam dari putrinya membuat hati Anthony dan Emily sakit. Namun mereka sadar bahwa yang membuat putrinya seperti itu adalah dirinya.
Sementara Zora, dia hanya bisa diam bersamaan helaan nafas yang keluar dari mulutnya ketika mendengar ucapan ketus dan tatapan tajam adiknya yang ditujukan untuk kedua orang tuanya.
Zora tidak menyalahkan adiknya. Justru Zora sangat paham akan perubahan sikap adiknya itu terhadap kedua orang tuanya.
"Sayang, Mama minta maaf sama kamu. Tolong berikan kesempatan untuk Mama agar menjadi ibu yang baik untuk kamu. Mama akan menggantikan semua kesedihan kamu dulu dengan kebahagiaan. Mama mohon, Sayang." Emily berucap dengan berlinang air mata.
"Bianca, tolonglah sayang. Jangan hukum Papa seperti ini. Papa akui kalau selama ini Papa telah menelantarkan kamu, menyia-nyiakan kamu, memarahi dan membentak kamu, mengabaikannya kamu, membanding-bandingkan kamu dengan kakak kamu dan membenci kamu selama ini. Tapi setidaknya, Papa sudah menyadari kesalahan Papa sama kamu. Maafkan Papa, Nak! Papa mohon." Anthony juga menangis ketika mengatakan hal itu di hadapan putrinya.
Mendengar ucapan demi ucapan dari kedua orang tuanya bahkan melihat keduanya menangis membuat hati Bianca sakit.
Sejujurnya di hati kecilnya Bianca, dia tidak benar-benar membenci kedua orang tuanya. Dia hanya kecewa akan sikap buruk kedua orang tuanya padanya. Sejak kecil dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang, perhatian dan pelukan dari kedua orang tuanya. Hanya perlakuan kasar yang dia terima dari kedua orang tuanya itu.
Puk..
Zora seketika menepuk pelan bahu adiknya sehingga membuat adiknya itu langsung melihat kearahnya.
"Mau ya maafin Papa dan Mama. Apa kamu tidak kasihan melihat Papa dan Mama menangis memohon meminta maaf sama kamu. Setidaknya, Papa dan Mama sudah menyesal atas sikap buruknya padamu selama ini." Zora berucap bersamaan tangannya yang mengusap lembut pipi putih Bianca.
"Demi kakak."
"Tapi kalau....."
"Jika Papa dan Mama kembali menyakiti kamu, maka kakak sendiri yang akan melawan mereka. Kakak tidak akan membiarkan Papa dan Mama menyakiti kamu untuk yang kedua kalinya. Bahkan kakak akan membenci mereka seumur hidup kakak. Pegang kata-kata kakak."
Tes..
Seketika air mata Bianca jatuh membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan sekaligus janji kakaknya untuk dirinya.
"Bagaimana, hum?" tanya Zora sembari menghapus air mata adiknya itu.
Bianca seketika menatap wajah kedua orang tuanya yang mana kedua orang tuanya juga menatap dirinya penuh harap.
"Aku maafkan kesalahan kalian. Dan aku memberikan kesempatan kedua untuk kalian."
Seketika terukir senyuman manis di bibir Anthony dan Emily bersamaan dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya ketika mendengar ucapan dari Bianca.
"Sayang," lirih Anthony dan Emily bersamaan.
"Aku memaafkan kalian. Kembalilah padaku."
Detik itu juga, Anthony dan Emily langsung berdiri dari duduknya. Keduanya langsung mendekat kearah Bianca yang sudah menangis.
Grep..
Anthony dan Emily langsung memeluk tubuh putrinya dengan erat. Dan detik kemudian, terdengar isak tangis ketiganya.
"Hiks... Maafkan Mama/Papa!" Anthony dan Emily berucap bersamaan.
"Papa... Hiks... Mama. Aku menyayangi kalian... Hiks."
Zora yang menyaksikan hubungi adiknya dan kedua orang tuanya sudah membaik ikut merasakan kebahagiaan. Dia menangis penuh haru. Dia berhasil mendamaikan kedua orang tuanya dengan adik kesayangannya.
Beberapa detik kemudian, Bianca melepaskan pelukannya lalu melihat kearah kakaknya yang menangis menatap dirinya dan kedua orang tuanya.
"Aku menyayangi kakak."
Grep..
Bianca langsung memeluk tubuh kakaknya dan dibalas langsung oleh sang kakak.
"Kakak juga menyayangi kamu. Terima kasih kamu sudah mau memaafkan kesalahan Papa dan Mama. Kakak bangga sama kamu."
__ADS_1
"Sama-sama, kak! Aku juga bangga sama kakak. Kakak adalah kakak yang terbaik yang aku miliki di dunia ini." Bianca berucap sambil mengeratkan pelukannya.