
Darren berada di perusahaan Accenture. Saat ini Darren berada di ruang kerjanya.
Darren duduk di kursi kebesarannya dengan layar laptopnya yang menyala. Darren saat ini tengah mengecek beberapa berkas dan laporan yang dikirimkan oleh sekretaris dan asistennya beberapa jam yang lalu ke email miliknya.
Ketika Darren sedang fokus dengan tatapan matanya ke layar laptopnya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
Tok!
Tok!
"Masuk!" teriak Darren dari dalam.
Cklek!
Pintu ruang kerjanya seketika dibuka oleh seseorang.
"Maaf, bos!"
Darren melihat kearah orang yang memasuki ruang kerjanya.
"Iya, Ada apa?"
"Bos, sudah ditunggu di ruang meeting."
"Bagaimana dengan Qenan dan Willy?"
"Bos Qenan dan bos Willy sudah berada disana, Bos!"
"Baiklah."
Setelah mengatakan itu, Darren pun mematikan laptopnya dan beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya untuk menuju ruang meeting.
***
Darka tengah dalam perjalanan pulang ke rumah setelah selesai mengikuti kegiatan ekstrakurikulernya.
Darka hanya sendirian. Sementara Gilang ada urusan dengan gadisnya di sebuah cafe.
Ketika Darka tengah fokus menyetir, tiba-tiba matanya tidak sengaja melihat ada seorang gadis cantik tengah diganggu oleh empat pria.
Melihat hal itu, Darka langsung menghentikan mobilnya.
"Lepaskan aku!" teriak gadis itu.
"Jangan berteriak, sayang! Kita tidak akan menyakiti kamu. Kita hanya ingin menyisip sedikit tubuhmu," ucap pria pertama.
"Menjauhlah dariku," ucap gadis itu sembari mendorong pria yang hendak menciumnya.
Mendapatkan perlakuan kasar dari korbannya membuat pria itu menatap marah kearah gadis itu.
Pria itu menatap kearah tiga rekannya. Dan meminta tiga rekannya itu untuk memegang tubuh gadis itu.
"Pegang dia," ucap pria itu.
Ketiga rekannya itu pun langsung memegang gadis itu. Gadis itu memberontak sambil berteriak.
Melihat gadis yang ada di hadapannya tidak berkutik dan tidak bisa bergerak. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Pria itu hendak mencium bibir gadis itu.
Ketika wajah pria itu hampir sedikit lagi menyentuh bibir gadis itu, tiba-tiba seseorang menendang kuat pinggangnya.
Duagh!
"Aakkhhh!"
Pria itu berteriak kesakitan ketika mendapatkan tendangan kuat di pinggangnya.
Melihat rekannya mendapatkan tendangan dari seorang pemuda yang tidak mereka kenal langsung menyerang balik pemuda itu sehingga ketiganya melepaskan pegangan kepada gadis itu.
Bugh! Bugh!
Duagh!
Ketiga pria yang menyerang pemuda tersebut tersungkur di tanah akibat mendapatkan pukulan dan tendangan kuat secara bertubi-tubi dari pemuda tersebut.
"Lebih baik kalian pergi dari sini. Atau aku akan hubungi polisi," ucap pemuda itu.
Mendengar ucapan sekaligus ancaman dari pemuda itu membuat keempat pria itu langsung pergi meninggalkan pemuda dan gadis tersebut.
Setelah memastikan keempat pria itu benar-benar pergi. Pemuda itu melihat kearah gadis yang diganggu oleh keempat pria tadi.
"Kamu tidak apa-apa?"
"A-aku baik-baik saja. Terima kasih."
"Sama-sama. Kalau aku boleh tahu. Kamu mau kemana?"
"Aku mau ke perusahaan ER. Hari ini adalah wawancara kerjaku."
__ADS_1
"Oh, kebetulan. Perusahaan ER itu milik ayahku. Kenalkan aku Lian Darka Smith. Jika tidak keberatan aku bisa mengantarmu," ucap Darka.
"Siapa nama kamu?"
"Namaku Kathleen Adelia Johnson."
"Nama yang bagus. Bagaimana tawaranku barusan?"
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak sama sekali."
"Baiklah."
"Mobilku ada disana. Ayo," ajak Darka.
Setelah itu, Darka dan Kathleen pun pergi dari tempat tersebut untuk menuju perusahaan EL.
***
Darren bersama kedua sahabatnya yaitu Qenan dan Willy berada di ruang kerja Darren.
Setelah selesai rapat beberapa menit yang lalu, Darren dan kedua sahabatnya itu pergi ke ruang kerja Darren.
Darren, Qenan dan Willy duduk di sofa yang ada di ruang kerja itu.
"Qenan," panggil Darren.
Qenan menatap wajah Darren. "Iya, Ren."
"Kemarin saat di kampus, kau ingin mengatakan sesuatu mengenai keluarga SANTA. Lebih tepatnya perusahaan SANTA. Apa ada masalah?"
Mendengar pertanyaan dari Darren. Seketika Qenan teringat bahwa saat di kampus kemarin dirinya ingin mengatakan tentang perusahaan SANTA atau Rolando Santa.
"Ach, iya. Aku lupa, Ren. Maaf," ucap Qenan.
Darren tersenyum. "Tak masalah. Ada apa?"
"Tunggu sebentar," sahut Qenan.
Qenan berdiri dari duduknya, lalu melangkah menuju meja kerja Darren.
Qenan menekan nomor asisten di mesin penjawab yang ada di meja kerja Darren.
"Hallo, Deon. Ke ruangan Bos Darren, sekarang! Sekalian bawakan map merah yang ada di laci meja kerja saya sebelah kiri bagian atas."
"Baik, Bos."
Tak butuh lama, terdengar ketukan pintu dari luar.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" Qenan berseru.
Cklek!
Pintu dibuka oleh seorang laki-laki. Dan kemudian laki-laki itu melangkah masuk ke dalam ruang kerja Darren.
"Ini map yang Bos minta," ucap laki-laki itu yang tak lain adalah asisten Qenan sembari memberikan map itu kepada Qenan.
"Terima kasih, Deon."
"Sama-sama, Bos!"
Setelah itu, Deon pun pergi meninggalkan ruang kerja Darren.
"Ini, Ren! Lihatlah sendiri," ucap Qenan dengan memberikan map itu kepada Darren.
Darren menerima map itu, lalu membukanya. Setelah map itu terbuka, Darren membaca secara teliti isi dari map itu.
"Jadi dia sudah mengirimkan berkas kerja sama dengan perusahaan Accenture?" tanya Darren dengan tatapan matanya masih fokus membaca ulang isi dari map itu.
"Iya, Ren. Dan untungnya aku dan Willy tidak langsung menerima kerja sama itu. Kami hanya menerima berkasnya saja. Baik aku maupun Willy belum memberikan jawaban apapun."
Mendengar jawaban dari Qenan membuat Darren sedikit merasakan kelegaan. Bagaimana tidak lega, kedua sahabatnya langsung bertindak sesuai naluri mereka. Jika kedua sahabatnya itu merasakan kejanggalan di hatinya, maka kedua sahabatnya itu tidak akan menerima kerja sama dengan perusahaan tersebut sekali pun ditawari bonus besar.
"Kalian berdua sudah melakukan hal yang benar. Besok kembalikan berkas ini kepada asisten dari perusahaan Santa. Katakan kepada asistennya itu jika perusahaan Accenture tidak menerima kerja sama ini."
"Baiklah," jawab Qenan dan Willy bersamaan.
Darren meletakkan map itu di atas meja dengan keadaan terbuka. Kemudian Darren mengambil pena yang ada di atas meja.
"Kalian lihatlah ini," ucap Darren sambil menekan dengan menggunakan pena di dua paragraf yang ada diantara tulisan-tulisan di kertas itu, lalu melingkarinya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Darren. Qenan dan Willy langsung melihat kearah yang telah dilingkari oleh Darren.
"Kalian baca paragrap dua dan paragraf empat. Bacalah berulang kali, lalu kalian ingat kata-kata itu di pikiran kalian. Jangan sampai kalian melupakan kedua paragraf itu," ucap Darren sembari menjelaskan maksud dari dua paragraf itu.
Qenan dan Willy pun membaca paragraf kedua dan paragraf keempat. Di paragraf kedua dan paragraf keempat itu tertulis bahwa kontrak kerja sama akan langsung otomatis jika berkas tersebut telah di tandatangani.
"Ren, ini..." perkataan Willy terpotong.
"Iya, Wil. Kontrak kerja sama itu akan otomatis berlaku jika kita menandatangani berkas. Terserah mau berkas apapun itu. Baik berkas kerja sama sungguhan, berkas laporan, berkas dari karyawan yang akan diberikan kepada atasannya. Dua paragraf yang kalian baca barusan akan dicantumkan di setiap berkas-berkas itu." Darren menjelaskan maksud dari dua paragraf itu.
"Jadi maksud kamu. Dua paragraf itu akan selalu tertera disetiap berkas, begitu?" tanya Willy.
"Iya," jawab Darren.
"Tapi ketika aku dan Qenan membaca isi dari kertas ini. Aku dan Qenan tidak menemukan dua paragraf itu," ucap Qenan.
"Pertama, kalian baca tidak teliti. Kedua, khusus untuk paragraf kedua dan paragraf keempat itu ditulis khusus. Hanya orang-orang khusus dan jeli yang bisa melihat secara jelas semua tulisan yang ada di dalam berkas itu. Tidak semua yang bisa langsung mengerti apalagi sadar akan isi dari berkas itu," jawab Darren.
Darren menatap wajah kedua sahabatnya itu. "Kalian pasti bingungkan kenapa aku bisa langsung mengetahui isi dari berkas ini?"
"Iya, Ren. Bagaimana caranya? Kenapa kamu bisa sejeli itu?" tanya Willy.
"Kalian tahu kebiasaanku, bukan?" Darren balik bertanya kepada kedua sahabatnya itu sembari tersenyum.
Mendengar pertanyaan dari Darren. Seketika Qenan dan Willy sadar akan kebiasaan Darren. Darren itu orangnya sangat teliti. Baik dalam mengerjakan proyek, membaca buku, mengerjakan tugas-tugas kampus atau tugas-tugas kantor, menulis, bermain game di ponsel, menulis di ponsel, mengecek berkas-berkas kantornya maupun tugas-tugas yang lainnya.
Setiap Darren melakukan semua itu, Darren selalu teliti, jeli dan tidak pernah melakukan kesalahan. Darren melakukan semua itu dengan sangat sempurna tanpa cacat.
"Iya, Ren! Kami tahu kebiasaan kamu itu!" seru Qenan dan Willy.
"Oh, iya! Jangan lupa, beritahu anggota keluarga kalian masalah ini. Setidaknya katakan kepada mereka untuk tidak langsung menandatangani berkas apapun selama mereka di kantor. Kalau perlu katakan kepada keluarga kalian untuk membawa pulang berkas-berkas itu. Dan jika ingin menandatangani berkas-berkas itu, kalian ada disana."
"Bagaimana dengan keluarga Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel?" tanya Qenan.
"Disini hanya kita bertiga yang mengetahui hal ini. Sedangkan Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel belum mengetahuinya. Mereka juga berhak tahu, Ren!" seru Willy.
"Kau tidak perlu khawatir, Wil. Kita akan beritahu mereka," jawab Darren.
"Baiklah," jawab Qenan dan Willy.
"Oh, iya! Aku ada sesuatu buat kalian!" seru Darren.
"Apa?" tanya Qenan dan Willy.
"Tolong ambilkan kotak besar di dalam lemari itu," pinta Darren sembari menunjuk kearah sebuah meja di belakang Qenan.
Willy dan Qenan langsung melihat kearah tunjuk Darren.
Qenan yang berada tak jauh dari posisi lemari itu langsung berdiri. Qenan pun mengambil apa yang diminta oleh Darren.
Setelah mendapatkan apa yang diambil oleh Qenan. Qenan langsung memberikan kotak itu kepada Darren.
"Ini, Ren!"
"Terima kasih, Qenan."
Qenan tersenyum sebagai jawaban dari ucapan terima kasih dari Darren.
Darren membuka kotak itu. Setelah kotak itu terbuka, Darren mengambil dua kotak kecil di dalamnya. Kotak itu sudah diberi nama.
Setelah mengeluarkan dua kotak kecil itu, Darren meletakkan dua kotak kecil itu di atas meja.
"Itu untuk kalian. Bukalah."
Qenan dan Willy langsung mengambil kotak itu. Dapat mereka lihat tertera nama mereka berdua di samping kotak tersebut.
Setelah itu, Qenan dan Willy langsung membuka kotak itu.
Ketika kotak itu terbuka, Qenan dan Willy terkejut. Setelah itu, keduanya menatap wajah Darren yang saat ini tengah tersenyum.
"Ren, ini?" tanya Qenan dan Willy.
"Iya. Kalian kan ingin membelikan kalung berlian untuk kekasih kalian. Namun ketika kalian ingin membayarnya, keburu kita pergi menemui para kekasih kita sehingga niat kalian ingin membayar kalung itu gagal."
"Ketika kita hendak meninggalkan toko perhiasan itu, aku meminta pelayan toko itu untuk membungkus kalung berlian yang udah kalian pesan itu dan meminta pelayan toko itu untuk mengantarkannya ke alamat rumahku. Aku memberikan kartu namaku kepada si pemilik toko itu."
Mendengar perkataan dari Darren membuat Qenan dan Willy menatapnya tak percaya dan juga bahagia.
"Ren," ucap Qenan dan Willy.
"Aku tahu kalian ingin membelikan perhiasan untuk kekasih kalian. Kalian semua kompak ingin membelikan kekasih kalian kalung berlian. Sama hal nya dengan kalian. Aku juga ingin membeli kalung untuk Brenda. Makanya aku sekalian membayar punya kalian. Anggap saja itu traktiranku yang tertunda kemarin." Darren berucap dengan senyuman manis di bibirnya.
Mendengar perkataan dari Darren membuat Qenan dan Willy menatap wajah Darren dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Mereka bahagia dan bersyukur memiliki sahabat seperti Darren.
"Terima kasih, Ren!" ucap Qenan dan Willy bersamaan.
"Dalam sebuah hubungan persahabatan dan juga persaudaraan tidak ada istilah kata terima kasih. Apa yang dilakukan oleh sahabat atau saudara untuk sahabatnya dan saudaranya itu adalah sebuah ketulusan," jawab Darren.
__ADS_1
Lagi-lagi Qenan dan Willy tersenyum bahagia dan tersenyum bangga akan perkataan Darren. Di dalam hati mereka membenarkan apa yang dikatakan Darren.
"Semoga kehidupanmu selalu diberkahi, Ren!" batin Qenan dan Willy.