
Darren bersama anggota keluarganya kini tengah menikmati sarapan paginya bersama.
"Ren," panggil Davin disela mengunyah makanannya.
Darren langsung melihat kearah sang kakak tertuanya itu.
"Iya, kakak Davin."
"Ketujuh sahabat kamu dan kelima kakak-kakak mafia kamu sudah menceritakan semua kekita, salah satunya kalau kamu akan memeriksakan kesehatan kamu ke rumah sakit," ucap Davin.
Darren menghentikan kegiatan makannya. Tatapan matanya menatap semua anggota keluarga.
"Berarti kalian sudah tahu bahwa aku pernah mengalami kecelakaan?" tanya Darren.
"Iya, sayang!"
"Iya, Ren!"
"Iya, kakak Darren!"
Erland, Agneta, keenam kakaknya, kelima adiknya, Paman dan Bibinya serta ketiga saudara sepupunya menjawab pertanyaan dari Darren secara bersamaan.
"Maafkan Papa yang tidak ada di samping kamu ketika kejadian itu, Nak!"
Darren hanya diam ketika mendengar permintaan maaf dari ayahnya. Namun tatapan matanya menatap lekat manik hitam ayahnya itu. Terlihat kesedihan dan penyesalan disana.
"Sudahlah, Papa! Semuanya sudah terjadi. Kejadiannya juga sudah lewat. Papa tidak perlu mengingatnya lagi. Apalagi menyesalinya," ucap Darren.
Darren kembali menyantap sarapan paginya. Dia tidak ingin mengingat-ingat kejadian dimana dia pernah mengalami kecelakaan sehingga membuat kepalanya sakit.
Walau Darren belum yakin apa penyebab sakit kepala yang dideritanya. Tapi Darren berharap tidak terjadi hal yang buruk terhadap dirinya.
"Ren," panggil Gilang.
"Ada apa?" tanya Darren yang fokus pada makanannya.
"Kapan kamu mau ke rumah sakit? Kakak Gilang temani ya," ucap dan tanya Gilang.
Gilang berharap adiknya itu mau menerima tawarannya untuk menemaninya.
"Boleh," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Gilang tersenyum bahagia. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Kalau begitu pulang kuliah kita ke rumah sakit," sahut Gilang.
"Hm." Darren bergumam sembari menganggukkan kepalanya.
"Kakak Darka ikut antar juga ya," sela Darka.
"Iya," jawab Darren.
Darka tersenyum mendapatkan jawaban dari Darren. Hatinya benar-benar bahagia adiknya itu tidak menolak dirinya untuk ikut.
Disaat anggota keluarga Smith tengah menyantap sarapan paginya diselangi dengan obrolan kecil, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ponsel berbunyi. Ponsel itu adalah milik Darren.
Darren yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya itu di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah ada di tangannya. Darren melihat nama 'Brenda' di layar ponselnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darren pun langsung menjawab panggilan dari sang kekasihnya.
"Hallo, Ren!"
Deg!
Darren seketika terkejut ketika mendengar suara ketakutan Brenda. Dan di tambah lagi terdengar beberapa suara teriakan.
"Brenda, ada apa? Itu... Itu suara apa? Kamu ada dimana sekarang ini?"
"Ren, tolongin gue, sahabat-sahabat gue dan teman-teman kampus lainnya. Kita disini....."
"Aakkhh!"
Darren seketika berdiri dari duduknya. Dirinya saat ini benar-benar mengkhawatirkan Brenda dan yang lainnya.
Melihat Darren yang tiba-tiba berdiri dengan wajah panik membuat Erland dan yang lainnya menatap khawatir Darren.
"Brenda!" teriak Darren.
"Ren, gue takut!"
"Katakan, apa yang terjadi?"
"Bus yang kita tumpangi mengalami oleng. Dan bagian belakang bus sudah berada di tepi jurang."
"Apa?!"
Darren benar-benar terkejut ketika mendengar perkataan dari Brenda. Apalagi ketika mendengar isak tangis Brenda ketika mengatakan itu.
"Ren, gue takut!"
"Brenda, dengarin gue. Lo harus kuat. Lo nggak boleh takut. Setidaknya lo harus jadi penguat untuk yang lainnya. Lo harus bisa bersikap tenang, oke!"
"Jangan tutup teleponnya. Biarkan tetap menyala, mengerti!"
"Ba-baiklah."
"Kasih tahu yang lainnya untuk tetap tenang. Suruh mereka kosongkan bagian belakang bus dengan berlahan berjalan ke depan. Jangan melakukan pergerakan terlalu keras agar bus itu tidak bergerak."
"Baik, Ren!"
Darren meletakkan ponselnya di atas meja. Dan tak lupa Darren sudah mengalihkan mode panggilan menjadi loudspeaker.
"Kakak Darka, aku pinjam ponselnya!"
Darka menganggukkan kepalanya lalu mengambil ponselnya di saku celananya.
"Ren, ada apa?" tanya Andra.
"Bus yang membawa rombongan Brenda kembali ke kota Hamburg mengalami kecelakaan. Bus itu oleng dan bagian belakang bus sudah berada di tepi jurang," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua terkejut.
"Oh, tuhan!" seru mereka semua.
"Ini, Ren!"
Darren mengambil ponsel milik Darka. Darren menekan nomor ponsel Enzo. Setelah nomor tujuan lengkap tertera di layar ponselnya. Darren pun langsung menekan tombol hijau.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu lama, terdengar suara Enzo di seberang telepon.
"Hallo."
"Hallo, Kakak Enzo! Ini aku Darren."
"Ada apa, Ren?"
"Brenda, ketujuh sahabatnya dan beberapa teman-teman kampusnya dalam masalah. Bus yang mereka tumpangi mengalami oleng hingga berakhir bagian belakang bus sudah berada di pinggir jurang."
"Apa?!"
"Kakak Enzo, aku mohon. Tolong mereka," lirih Darren.
"Tenanglah, Ren! Sekarang posisi mereka dimana?"
"Hallo, Brenda!"
"Iya, Ren!"
"Posisi kamu sekarang ini dimana?"
"Dari sini satu setengah jam lagi sampai di kota Hamburg, Ren!"
"Satu setengah jam lagi," ucap Enzo.
Enzo berpikir sejenak ketika mendengar jawaban dari Brenda.
"Ren, apa di sekitar lokasi Brenda saat ini terdapat sebuah pohon rindang dan jembatan."
"Brenda, apa kamu dengar?"
"Iya, Ren. Ada sebuah jembatan. Tapi aku nggak lihat ada pepohonan."
"Baiklah, Ren! Kakak sudah mendapatkan lokasi Brenda. Kakak akan segera kesana."
Tutt!
Tutt!
"Brenda, apa kau masih mendengarkanku?"
"Iya, Ren!"
"Sekarang kau loudspeaker panggilannya biar aku bicara dengan yang lainnya."
"Baik, Ren!"
"Kalian semua. Ini aku Darren!"
"Darren!" teriak ketujuh sahabatnya Brenda dan yang lainnya.
"Kalian tenang, oke! Jangan panik. Jika kalian panik, maka akan terjadi pergerakan. Jika kalian banyak bergerak, maka bus itu akan bergerak dan kalian semua akan jatuh. Kalian tidak mau kan?"
"Tidak, Ren!" jawab mereka bersamaan.
"Maka dari itu, kalian harus tetap tenang. Jika kalian ingin melangkah ke depan. Melangkahkan secara berlahan-lahan. Hindari saling dorong agar tidak menimbulkan pergerakan. Jika kalian tidak berani, maka tetaplah di posisi kalian. Jangan membuat pergerakan."
"Baik, Ren!" jawab mereka bersamaan.
"Jika kalian mendengarkan perkataanku, maka semuanya akan baik-baik saja. Bersabarlah, bantuan akan segera datang."
"Baik, Ren!"
"Aku mengerti, Ren!"
"Bagus. Aku akan tutup teleponnya. Aku aku akan kesana bersama yang lainnya."
"Baik, Ren!"
Setelah mengatakan itu, Darren pun mematikan panggilan dari Brenda.
"Kakak ikut sama kamu, Ren!" seru Davin dan Andra bersamaan.
Ketika Darren ingin membalas perkataan kedua kakak laki-lakinya itu, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Darren.
TO : Enzo
Kamu tetap di rumah. Kamu nggak perlu menyusul ke lokasi. Sudah cukup kakak bersama Chico serta para anggota yang kesana menolong Brenda dan yang lainnya.
Mendapatkan pesan dari Enzo membuat Darren akhirnya mengurungkan niatnya untuk menyusul ke lokasi.
Darren beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan meja makan menuju ruang tengah.
Melihat kepergian Darren membuat mereka semua menjadi khawatir. Mereka semua pun memilih menyelesaikan sarapan paginya dengan buru-buru.
Setelah selesai, mereka semua menyusul Darren menuju ruang tengah.
***
Enzo, Chico bersama dua tangan kanannya dan beberapa anggota mafianya sudah berada di lokasi tempat dimana Brenda dan yang lainnya berada.
Ketika mereka tiba disana. Mereka melihat bagian belakang bus yang ditumpangi oleh Brenda bersama sahabatnya, beberapa mahasiswa dan mahasiswi, satu dosen pembimbing serta satu orang sopir berada di tepi jurang.
Bisa dipastikan jika orang-orang yang ada di dalam bus tersebut bergerak dan membuat keributan, maka bus itu bisa saja bergerak dan tergeser ke bawah.
"Buruan. Selamat orang-orang yang ada di dalam bus!" teriak Chico dan Enzo bersamaan.
Mendapatkan perintah dari ketua mereka. Beberapa anggota itu pun langsung melakukan pekerjaannya.
Empat orang anggota membawa sebuah tali yang berukuran besar. Besar tali itu sebesar pergelangan tangan mereka. Kemudian tali itu mereka kaitkan di depan bus tersebut.
Setelah tali itu terpasang dengan sangat kuat. Dan dipastikan tidak akan lepas. Beberapa anggota lainnya menghidupkan mobilnya lalu menariknya tali tersebut.
Disisi lain Enzo dan Chico memberikan kode kepada Brenda yang bertugas untuk memberikan ketenangan kepada teman-temannya. Brenda yang melihat kode dari Enzo dan Chico langsung paham.
Brenda berlahan membuka pintu bus itu dengan dibantu oleh satu orang mahasiswa.
Pintu bus itu terbuka dengan lebar sehingga memperlihatkan dunia luar.
Brenda melihat kearah ketujuh sahabatnya dan teman-teman kampusnya dan dosennya.
"Kalian satu persatu! Melangkahlah secara berlahan kemari," perintah Brenda.
Mendengar perintah Brenda. Baik Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania, Felisa maupun Teman-teman kampusnya dan juga satu dosennya melangkah satu persatu dan berlahan-lahan menuju kearah Brenda.
Brenda membantu ketujuh sahabatnya, teman-teman kampusnya beserta satu dosennya keluar dari dalam bus.
Beberapa menit kemudian...
__ADS_1
Semuanya telah keluar dengan selamat, walau masih terlihat jelas ketakutan di wajah masing-masing. Dan kini tersisa Brenda dan satu orang sopir. Posisi Brenda berdiri di depan pintu bus.
Brenda melihat kearah sang sopir. "Ayo, pak! Sekarang giliran bapak! seru Brenda.
Sang sopir berlahan berdiri dari duduknya. Dan berjalan menghampiri pintu keluar.
Brenda meraih tangan sang sopir itu untuk membantunya keluar. Namun diluar dugaan sopir itu jatuh ketika hendak meraih tangan Brenda sehingga mengakibatkan pergelangan kaki sang sopir terkilir.
"Brenda, kamu keluar!" teriak Chico.
"Tapi sopir itu....."
"Sekarang!" teriak Enzo.
Brenda dengan berat hati langsung keluar dari dalam bus dan meninggalkan sang sopir itu sendirian.
Setelah Brenda keluar, masuklah tiga anggota Chico ke dalam bus tersebut. Ketiganya langsung mengangkat tubuh sang sopir dan membawanya keluar.
Tepat setelah tiga anggota Chico berhasil membawa tubuh sang sopir itu keluar dari dalam bus. Seketika bus itu bergerak hendak jatuh ke bawah.
Merasakan pergerakan dari bus tersebut membuat para anggota yang bertugas menarik bus itu langsung menarik kuat tali yang sudah dikaitkan di depan bus itu.
Dengan sekali tarikan dengan menggunakan mobil besar membuat bus itu berhasil ditarik ke permukaan.
"Kalian periksa bus itu!" perintah Enzo.
"Baik!"
Beberapa anggotanya langsung masuk ke dalam bus dan memeriksa secara teliti. Begitu juga di bagian luar bus.
Mereka memeriksa keadaan bus itu luar dalam. Bahkan sampai keadaan mesinnya.
Beberapa menit kemudian...
"Lapor, King!"
"Bagaimana?" tanya Chico.
"Terpaksa bus itu harus ditinggalkan disini. Jika ingin tetap membawanya. Terpaksa dengan menggunakan tali lalu menarik dengan menggunakan mobil lain. Bagian belakang dan bagian samping bus itu mengalami kerusakan akibat benturan dengan pembatas jalan. Dengan lihainya sang sopir berhasil mengendalikan bus itu sehingga tidak jatuh ke jurang dan justru terjebak di pinggir jurang."
Mendengar laporan dari anggotanya membuat Enzo dan Chico langsung mengerti. Mereka juga melihat posisi bus itu ketika berada di tepi jurang.
"Baiklah. Lakukan tugas kalian untuk membawa bus itu kembali ke kota Hamburg. Terserah bagaimana cara kalian berkerja," ucap Chico.
"Baik, King!"
"Berhati-hatilah dalam kalian melakukan pekerjaan," nasehat Enzo.
"Baik, King!"
Enzo dan Chico melihat kearah Brenda, ketujuh sahabatnya, teman-teman kampusnya, Dosen dan satu sopir.
"Kalian baik-baik saja?"
"Kami baik-baik saja. Terima kasih!"
Enzo dan Chico tersenyum mendengar jawaban kompak mereka semua.
"Baiklah. Mari kita pergi dari sini," ucap Enzo.
"Kalian, naiklah ke mobil besar itu!" perintah Chico sambil menunjuk tiga mobil besar yang terparkir tak jauh dari pandangan mata mereka.
"Baik!"
Setelah itu, Brenda dan yang lainnya berjalan menuju mobil besar itu. Dan menaikinya.
***
Darren yang saat ini masih di rumah tampak tidak tenang. Sejak tadi dirinya mondar-mandir memikirkan kekasihnya dan juga orang-orang yang berada dalam satu bus dengan kekasihnya itu.
Sementara Erland, Agneta dan yang lainnya menatap khawatir Darren. Disatu sisi mereka mengkhawatirkan Brenda dan yang lainnya yang sedang terjebak di dalam bus. Disisi lain mereka mengkhawatirkan kesehatan Darren.
"Darren, sayang! Duduklah, Nak!" Erland berucap lembut dengan tatapan matanya menatap khawatir putranya.
"Bagaimana bisa aku duduk tenang, Papa! Aku tidak tahu bagaimana nasib Brenda dan yang lainnya. Kakak Enzo dan kakak Chico belum mengabariku sama sekali," ucap Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua menatap Darren sedih. Jujur, mereka juga sangat mengkhawatirkan Brenda dan juga yang lainnya. Tapi disini mereka lebih mengkhawatirkan Darren. Mereka takut rasa sakit itu akan menyerang Darren kembali.
Erland berdiri dari duduknya lalu menghampiri putranya itu. Dan kemudian, Erland memeluk tubuh putranya itu erat untuk sekedar memberikan ketenangan padanya.
"Aku takut, Papa! Aku takut. Aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Brenda. Aku mencintai Brenda. Aku tidak ingin kehilangan Brenda."
Darren menangis di pelukan ayahnya. Saat ini Darren benar-benar takut. Takut akan kehilangan cintanya. Takut akan kehilangan masa depannya. Darren tidak ingin ditinggalkan lagi.
Kalau di masa lalu cinta tidak memihak padanya sehingga perempuan yang dia cintai mengkhianati cinta tulus darinya. Perempuan itu pergi meninggalkan dia.
Dan untuk sekarang. Cinta memihak padanya. Perempuan yang selama ini dekat dengannya. Perempuan yang selama ini dianggap sahabat olehnya ternyata menyimpan perasaan untuknya.
Sekarang dia dan perempuan itu telah resmi pacaran dan telah resmi menjadi pasangan kekasih. Dia tidak ingin perempuan yang begitu dia cintai juga pergi meninggalkan dirinya.
Pergi bukan karena tidak mencintainya. Namun pergi karena suatu kemalangan.
Mendengar perkataan Darren membuat hati mereka semua terluka dan sesak.
Erland mengusap-usap lembut punggung putranya. Dia berusaha memberikan ketenangan kepada putranya itu.
"Percayalah! Semuanya akan baik-baik saja. Bukankah kamu mengatakan seperti itu ketika berbicara dengan Brenda di telepon, hum? Jadi, yakinlah jika semuanya akan baik-baik saja."
Ketika suasana hati Darren dan anggota keluarga Smith tidak tenang. Tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.
Darren langsung melepaskan pelukan ayahnya dan mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah ada di tangannya, Darren melihat nama 'Darel' di layar ponselnya.
Melihat nama salah satu sahabatnya itu di layar ponselnya. Darren langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Rel!"
"Hallo, Ren. Brenda dan yang lainnya selamat. Mereka sekarang berada di rumah sakit sedang dalam pemeriksaan."
"Bagaimana keadaan mereka?"
Darel yang mendengar nada khawatir dari sahabatnya itu menjadi paham. Sahabatnya itu memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap semua orang-orang yang dia kenal, walau orang-orang itu hanya sebatas teman biasa, teman kampus atau rekan kerja.
"Kamu tidak perlu khawatir, oke! Semua baik-baik saja. Ini semua juga berkat kamu. Kamu telah memberikan dorongan dan semangat untuk Brenda dan yang lainnya sehingga membuat mereka semua bersikap tenang ketika berada di dalam bus. Mereka diperiksa untuk mengecek kondisi mereka saja. Selebihnya mereka baik-baik saja. Tidak ada yang terluka."
Mendengar penjelasan panjang lebar dari Darel membuat Darren tersenyum bahagia.
Erland dan anggota keluarganya yang melihat senyuman Darren berpikir bahwa semua dalam keadaan baik-baik saja. Mereka akhirnya bisa bernafas lega.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan segera kesana."
Setelah mengatakan itu, Darren langsung mematikan panggilannya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu pujaan hatinya itu. Sudah dua minggu lebih dia tidak memeluk dan mencium wajah cantik kekasihnya itu.