KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kakak Davin Ingin Meracuniku?


__ADS_3

Di sebuah perkampungan yang sejuk, indah dan damai terdapat sebuah rumah yang besar dan mewah. Di rumah itu tinggal beberapa orang saja. Mereka adalah sepasang suami-isteri dan lima anak-anaknya, dua laki-laki dan tiga perempuan.


Di sebuah kamar terlihat seorang wanita cantik. Dia sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya. Saat ini wanita itu tengah menatap sebuah foto yang dipegang. Foto seorang gadis kecil yang cantik. Tangan sesekali mengusap-usap wajah gadis kecil itu di foto itu.


"Anin, suster kangen. Anin kangen nggak sama suster? Bagaimana keadaan Anin sekarang? Apa Anin hidup dengan baik bersama Paman itu, hum?"


Wanita itu adalah suster yang menjaga Anin atau yang sekarang sudah berubah menjadi Erica dari lahir. Wanita itu begitu merindukan majikan kecilnya.


Cklek..


Seseorang membuka pintu kamarnya. Kemudian orang itu langsung melangkahkan kakinya menghampiri si pemilik kamar yang sedang duduk di sofa dengan sebuah bingkai foto di tangannya.


Orang itu menatap kearah bingkai foto tersebut. Seketika terukir senyuman manis di bibir orang itu.


"Kalau kamu merindukan majikan kecil kamu itu. Kenapa kamu tidak kembali ke Hamburg?"


Mendengar pertanyaan dari seseorang yang dikenal dari suaranya membuat wanita itu langsung melihat kearah samping.


"Kak Sesry."


Orang itu adalah kakak perempuan dari wanita yang bekerja sebagai suster Anin/Erica.


"Kakak tahu perasaan kamu. Sangat tahu. Seperti yang barusan kakak bilang. Jika kamu begitu merindukan Anin, kembali kesana. Jadilah suster Anin lagi."


"Tapi..."


"Kembalilah, Selly! Kakak juga sangat yakin jika Anin juga merindukan kamu. Kamu tidak perlu takut jika orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya Anin akan menyakiti Anin jika kamu kembali. Siapa tahu orang itu sudah mati. Siapa tahu juga laki-laki yang menjaga Anin sekarang sudah berhasil membalaskan kematian kedua orang tuanya Anin. Kita kan tidak ada yang tahu apa yang terjadi diluar sana."


Mendengar ucapan demi ucapan dari kakak perempuannya membuat Selly menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.


"Baiklah."


***


Semuanya sudah berkumpul di rumah sakit. Tak terkecuali anggota keluarga Smith. Kini semuanya tengah menunggu di depan ruang UGD dimana Darren saat ini sedang diperiksa oleh Celsea.


Bahkan mereka semua sudah mengetahui kondisi terakhir Darren dari Axel, Jerry dan Dylan. Bahkan tambahan dari Chico dan Noe.


Semuanya terkejut ketika mendengar cerita dari Axel, Jerry, Dylan, Chico dan Noe mengenai Darren. Mereka semua tidak menyangka jika sosok Rendra dengan kejam membunuh kelima pemuda yang mencari masalah dengan Darren.


Cklek..


Terdengar pintu ruang UGD dibuka. Semua orang yang menunggu di depan ruang UGD langsung melihat kearah ruang UGD tersebut.


Erland dan Agneta menghampiri Celsea. Begitu juga dengan Celsea yang menghampiri semuanya.


"Bagaimana kondisi putraku, Celsea?"


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya baik-baik saja," jawab Celsea.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Celsea membuat Erland. dan Agneta seketika menghela nafas lega. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Oma," panggil Erica kepada Celsea.


"Iya, sayang."


"Benaran kan kalau Papa baik-baik saja?"


"Iya, sayang. Papanya Erica baik-baik saja. Kan Papanya Erica laki-laki yang kuat," ucap Celsea sembari tangannya mengusap lembut kepala Erica.


"Darren boleh pulang. Tidak perlu dirawat. Nanti jika Darren sadar. Berikan ini padanya. Pastikan Darren meminumnya. Ini Vitamin untuk Darren. Minum langsung tiga pil."


"Baik, Bi!" Davin mengambil botol dari tangan Celsea.


"Kalau yang ini untuk jantungnya. Jika Darren merasakan sesak atau sakit. Langsung berikan dua kapsul. Jika sakitnya hanya sakit biasa. Tidak perlu minum."


Davin kembali mengambil botol kedua dari tangan Celsea. Ada dua botol berukuran berbeda dan juga warna yang berbeda pula.


"Axel, kamu ambil air minum untuk Darren di ruang kerja Mama."


"Baik, Ma!"


Setelah itu, Axel langsung pergi meninggalkan semua orang untuk menuju ruang kerja ibunya.


^^^


Kini semuanya sudah berada di ruang UGD. Tatapan semua mata tertuju kepada Daren yang masih memejamkan kedua matanya.


Erland mengusap-usap lembut kepala putranya sehingga memperlihatkan kening putih putranya itu. Kemudian Erland mencium kening putranya itu dengan penuh sayang.


"Sayangnya Papa," ucap Erland dengan suara lirih.


"Ren," lirih para kakak-kakaknya. Begitu juga dengan keenam sahabat-sahabatnya.


Berlahan Darren membuka kedua matanya sehingga membuat semua yang ada di dalam ruang UGD tersenyum bahagia.


"Darren!"


"Ren!"


Cklek..


Pintu ruang UGD dibuka oleh Axel. Kemudian Axel masuk ke dalam dengan segelas air di tangannya.


"Sayang," panggil Erland.


"Pa-papa," balas Darren dengan suara seraknya.


"Apa ada yang sakit, hum?"

__ADS_1


"Hanya pusing sedikit."


"Ayo, sekarang kamu duduk dulu!" Davin langsung membantu adiknya untuk duduk. Dibantu oleh Erland.


Kini Darren sudah dalam posisi duduk di atas tempat tidur.


Davin membuka botol yang berukuran kecil. Setelah terbuka, Davin mengeluarkan satu pil dalam botol tersebut.


"Ini minumlah."


Axel langsung memberik minum kepada Davin. Lalu dari Davin langsung memberikan kepada Darren.


"Ini apa? Kakak Davin ingin meracuniku dengan obat ini?" tanya Darren dengan menatap obat di tangan Davin.


Mendengar pertanyaan dari Darren, ditambah lagi tatapan tak suka Darren ketika melihat obat yang ada di tangan Davin hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Mereka semua tahu bahwa Darren sudah sangat bosan berurusan dengan namanya obat-obatan.


"Itu hanya vitamin sayang," ucap Agneta lembut.


"Pasti Bibi Celsea yang memaksa kakak Davin. Iya kan?"


"Jika pun Mama memaksa kakak Davin. Itu juga buat kesehatan lo, kelinci busuk!" seru Axel dengan nada kesalnya.


Darren langsung melihat kearah Axel dengan tatapan tajamnya. "Siapa lo? Nyambar aja tuh mulut," balas Darren.


Axel seketika mendengus ketika mendengar ucapan dari Darren.


"Sudah, Sudah! Sekarang minum obatnya," sahut Davin.


Dan pada akhirnya Darren pun meminum obat tersebut. Dirinya tidak ingin dimakan hidup-hidup oleh orang-orang yang berdiri di hadapannya dengan menatap horor padanya.


Darren menatap kearah ketujuh sahabat-sahabatnya. Tatapan matanya menunjukkan kesedihan dan juga kerinduan.


"Ada apa, Ren?" tanya Rehan dan Darel bersamaan.


"Aku.. Aku seperti melihat sosok Hansel tangan kanan kita diclub itu," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat Darel dan Rehan menatap iba Darren. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Nanti setelah lo berada di rumah. Akan ada kejutan untuk lo. Apa yang ada di pikiran lo dan apa yang lo lihat di club itu. Nanti terjawab semuanya," sahut Willy.


"Apa lo udah siap pulang?" tanya Dylan.


"Tanpa lo bertanya. Gue udah siap dari tadi. Bahkan gue berharap kali ini bibi Celsea nggak nahan gue disini," jawab Darren.


Mereka semua tersenyum mendengar ucapan dari Darren. Begitu juga dengan Axel.


"Bibi Celsea mengatakan kepada kita semua bahwa kamu tidak perlu dirawat. Kamu boleh pulang. Maka dari itu kenapa kakak ngasih kamu obat. Obat itu untuk menambah stamina kamu dan juga buat kamu tidak kecapean," ucap Davin menjelaskan apa yang dikatakan oleh Celsea.


"Aku mengerti."

__ADS_1


"Ya, sudah. Sekarang kita pulang!" seru Erland.


__ADS_2