
Di kediaman milik Darren tampak ramai dimana anggota keluarga Smith, ketujuh sahabat-sahabat Darren, anggota keluarga dari ketujuh sahabat-sahabat Darren, anggota keluarga Radmilo, Brenda, ketujuh sahabat-sahabat Brenda dan anggota keluarga Mendez. Mereka saat ini tengah mengobrol membahas tentang kesibukan masing-masing.
"Ren," panggil Qenan.
Darren yang sedang bersedah gurau dengan Erica langsung melihat kearah Qenan.
"Iya, Qenan."
"Gue mau nanya sama lo, boleh?" ucap dan tanya Qenan.
"Lo mau nanya apa?"
Semuanya menatap kearah Darren dan juga Qenan. Mereka penasaran pertanyaan apa serta jawaban apa yang akan di pertanyakan dan dijawab oleh Darren dan Qenan.
"Ini masalah cincin yang pernah lo pakai saat itu. Setahu gue, lo nggak pernah pakai aksesoris apapun selain jam tangan. Dan juga tembakan yang tiba-tiba terdengar sehingga menewaskan dua anggota polisi?" tanya Qenan.
Qenan menatap kearah Darren. Begitu juga dengan semua orang yang ada di ruang tengah tersebut.
"Apa tembakan tiba-tiba itu ada hubungannya dengan cincin yang lo pakai itu?" tanya Axel.
Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya, ketujuh sahabat-sahabatnya dan semua yang ada di hadapannya. Darren melihat bahwa semuanya menatap dirinya dengan tatapan penuh penasaran.
"Iya. Cincin yang gue pakai saat itu ada hubungannya dengan tembakan tiba-tiba yang menewaskan dua anggota polisi," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Qenan, Axel serta yang lainnya terkejut. Mereka tidak menyangka jika Darren melakukan hal itu. Mereka semua makin penasaran bagaimana cara Darren melakukannya.
"Bagaimana cara kamu melakukan itu sayang?" tanya Erland.
"Mudah saja. Aku merancangnya menggunakan laptop terlebih dahulu. Aku menggambarkan sebuah punggung tangan dengan lima jari yang mana salah satu jari tersebut memakai cincin. Kemudian aku mengarahkan ke sebuah kamera kecil dimana di kamera itu sudah aku pasang sebuah senjata api berukuran kecil. Aku menggerakkan cincin yang ada di jari manis ke kiri, kamera tersebut juga akan ikut bergerak sesuai arah gerak cincin tersebut. Tembakan akan terjadi jika aku memutar dua kali cincin tersebut. Setelah dipastikan rancangan tersebut berhasil, aku pun langsung memasang kamera plus senjata api berukuran kecil itu di dinding ruang tengah."
Mendengar cerita sekaligus penjelasan dari Darren membuat anggota keluarganya serta semua yang ada di ruang tengah itu tersenyum bangga. Mereka tidak menyangka jika Darren kepikiran membuat penemuan seperti itu di kediaman Smith.
"Kapan kamu memasang alat itu, Ren?" tanya Andra.
"Serentak dengan aku memasang beberapa laser mematikan di Paviliun belakang rumah kediaman Smith," jawab Darren.
Lagi-lagi mereka semua tersenyum bangga ketika mendengar cerita sekaligus penjelasan tentang cincin dan tembakan misterius itu, terutama ketujuh sahabat-sahabatnya.
Ketika mereka sedang membicarakan tentang cincin dan tembakan misterius itu, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.
Mendengar suara ponselnya, Darren langsung mengambil ponselnya di saku celananya bersamaan dengan tangannya memindahkan posisi Erica yang ada di pangkuannya ke pangkuan Brenda.
Setelah itu, tatapan matanya menatap ke layar ponselnya. Disana tertera nama 'Thomas'.
Darren menatap lama ke layar ponselnya dengan menggumam nama Thomas sehingga membuat semuanya bisa mendengar gumamannya tersebut.
Setelah beberapa detik, akhirnya Darren pun menjawab panggilan dari Thomas tersebut. Dirinya penasaran terhadap Thomas yang tiba-tiba menghubunginya.
"Hallo Thomas."
"Hallo, Ren. Kamu dimana?"
"Aku di rumahku. Kenapa?"
"Aku ingin memberitahu kamu tentang Samuel. Kamu masih ingatkan sama Samuel?"
"Tentu aku ingat. Kenapa dengan Samuel?"
"Samuel saat ini mendapatkan masalah besar. Kedua adik perempuannya hilang ketika pulang dari sekolahnya."
"Apa?!"
Darren seketika berteriak bersamaan dirinya beranjak berdiri.
Mendengar teriakkan serta melihat Darren yang berdiri membuat semua menatapnya khawatir. Mereka semua juga ikut berdiri dengan tatapan matanya menatap kearah Darren.
"Kapan kejadiannya Thomas?"
"Dua hari yang lalu. Samuel sudah memerintahkan tangan kanannya untuk mencari keberadaan kedua adik perempuannya, namun belum membuahkan hasil sama sekali. Bukan itu saja, ibunya Samuel jatuh sakit akibat mendengar kedua anak perempuannya hilang."
"Thomas, aku butuh bantuanmu."
__ADS_1
"Apa kau ingin memintaku untuk membantu Samuel untuk mencari keberadaan kedua adik perempuannya?"
"Iya, Thomas. Apa kau mau membantu Samuel?"
"Tanpa kau meminta hal itu padaku. Aku sudah terlebih dulu memerintahkan anak buahku untuk mencari keberadaan kedua adik perempuannya Samuel."
Mendengar ucapan dari Thomas membuat Darren seketika tersenyum. Dirinya tidak menyangka jika Thomas sudah terlebih dulu bergerak untuk mencari keberadaan kedua adik perempuannya Samuel.
"Terima kasih, Thomas!"
"Tidak perlu berteriak kasih, Ren! Kamu adalah sahabatku. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan. Kapan pun kamu dan yang lainnya butuh bantuanku, aku siap membantunya."
"Aku tahu hal itu. Tapi aku tetap berterima kasih padamu."
"Baiklah. Aku terima ucapan terima kasih kamu itu. Ya, sudah! Kalau begitu aku tutup panggilannya."
"Ach, baiklah."
Setelah itu, Thomas pun langsung mematikan panggilannya setelah memberitahu tentang kedua adik perempuannya Samuel.
"Ren, ada apa?" tanya Rehan.
Darren menatap kearah Rehan dan beralih menatap semua sahabat-sahabatnya.
"Kedua adik perempuannya Samuel hilang," jawab Darren.
"Apa?!" Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Darel dan Rehan seketika terkejut mendengar jawaban dari Darren.
"Kapan kejadiannya?" tanya Darel.
"Dua hari yang lalu. Akibat hilangnya dua adik perempuannya. Ibunya Samuel jatuh sakit," ujar Darren.
Mendengar ucapan dari Darren membuat Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Darel dan Rehan merasakan kesedihan mendalam. Bagaimana pun Samuel sudah banyak membantu dengan memberikan setiap informasi yang tidak mereka ketahui.
"Terus bagaimana? Apa kita hanya diam saja ketika mendengar Samuel yang dalam masalah sekarang?" tanya Willy.
"Thomas sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan adik perempuannya Samuel," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Willy serta yang lainnya menghela nafas lega. Mereka semua berharap usaha anak buahnya Thomas membuahkan hasil.
Tiba-tiba Fito datang menemui Darren untuk memberikan laporannya.
Darren langsung melihat kearah Fito. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Jerry, Axel, Dylan, Darel dan Rehan serta yang lainnya.
"Iya, Fito. Ada apa?" tanya Darren.
"Itu diluar ada Steven, Bos!"
"Steven?"
"Iya, Bos!"
"Bawa dia kemari."
"Baik Bos."
Setelah itu, Fito langsung pergi untuk menemui Steven lalu membawa Steven untuk bertemu dengan Bos nya.
"Kenapa Steven menemuiku? Biasanya jika ada apa-apa Steven langsung menghubungiku," batin Darren.
Melihat Darren yang tiba-tiba terdiam membuat anggota keluarganya, ketujuh sahabat-sahabatnya, kekasihnya dan semua orang yang ada di ruang tengah tersebut menatap khawatir Darren.
"Bos," panggil Steven.
Baik Darren maupun semua orang langsung melihat kearah Steven yang saat ini menatap kearah Darren.
"Maaf jika saya datang menemui Bos disini."
"Tidak apa-apa. Kenapa? Apa adalah masalah dengan perusahaan Micro Sinopec?"
Steven tidak langsung menjawab pertanyaan dari Darren. Justru Steven langsung menyodorkan sebuah map kearah Darren.
__ADS_1
"Ini Bos."
Darren melihat map berwarna merah yang disodorkan oleh Steven kepadanya. Tangannya langsung mengambil map tersebut.
Berlahan Darren membuka map tersebut. Setelah map itu terbuka, Darren membaca secara teliti tulisan-tulisan yang tertera di kertas putih itu dari atas sampai bawah.
Detik kemudian...
"Apa-apaan ini?!" Darren tiba-tiba berteriak ketika selesai membaca semua isi dari berkas tersebut.
"Ren!" seru anggota keluarganya dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Steven!"
Darren menatap tajam kearah Steven sehingga membuat Steven ketakutan.
"Maafkan saya, Bos! Saya kecolongan. Ada dua karyawan yang ternyata mata-mata dari perusahaan musuh. Saya baru menyadari setelah salah satu security melaporkan bahwa ada kebobolan di ruang penyimpanan data dan ruang sistem keamanan."
Mendengar cerita sekaligus penjelasan dari Steven membuat Darren menggelengkan kepalanya secara brutal. Dia tidak menyangka jika ada orang yang berhasil merusak sistem keamanan perusahaannya.
"Tidak! Ini tidak mungkin!" teriak Darren.
Mendengar teriakkan dari Darren membuat semua menatap khawatir Darren. Mereka khawatir dan juga takut jika jantung Darren kambuh kembali.
"Aku akan menemukan kalian dengan mudah. Tidak akan ada satu pun yang bisa lolos setelah masuk ke dalam ruangan data dan ke dalam ruangan sistem keamanan. DNA kalian secara otomatis sudah tersimpan di dua ruangan itu. Tunggu pembalasan dariku." Darren berucap dengan penuh penekanan dan sorot matanya yang hampir berubah warna.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren bahkan melihat manik manik Darren yang hampir berubah warna menjadi warna mata Rendra membuat mereka semua takut.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Bos?" tanya Steven.
"Kau kembali ke perusahaan. Tutup pintu ruangan data dan ruangan sistem keamanan itu. Jangan sentuh apapun yang ada di dalam," ucap Darren.
"Baik, Bos."
"Sekarang pergilah!"
"Baik, Bos!"
Setelah itu, Steven pun pergi meninggalkan kediaman pribadi Darren untuk kembali ke perusahaan Micro Sinopec.
"Aarrgghhh!"
Darren seketika berteriak keras. Dirinya saat ini benar-benar marah atas ulah dari saingan bisnisnya yang sudah berani mengusik miliknya.
"Darren!" teriak khawatir semua orang yang ada di ruang tengah itu.
"Siapa pun kalian. Dikarenakan kalian sudah berani menyentuh dan mengusik milikku, maka aku akan mengincar nyawa kalian. Tidak akan ada kata pengampunan dariku," ucap Darren.
"Sayang, duduk dulu ya. Tenangkan pikiran dan emosi kamu. Papa tidak mau jantung kamu kambuh," ucap Erland lembut dengan tatapan khawatirnya.
Brenda yang kebetulan ada di sampingnya langsung menuntun Darren untuk duduk dengan menggenggam tangan Darren. Begitu juga dengan Erica. Dia juga tampak khawatir akan kondisi Darren setelah mendapatkan kabar dari Steven.
"Panggilkan Fito." Darren berucap dengan suara lirih.
Tanpa diminta dua kali oleh Darren. Darel langsung beranjak dari duduknya lalu kakinya melangkah menuju pintu keluar untuk memanggil Fito.
Beberapa detik kemudian, Darel kembali bersama Fito di sampingnya.
"Bos!"
Darren langsung melihat kearah Fito yang juga tengah menatap dirinya.
"Kau kerahkan beberapa anggota kamu. Lalu kau pergilah ke perusahaan Micro Sinopec untuk berjaga-jaga disana. Perketat keamanan, baik di dalam maupun di luar perusahaan. Ambil tindakan tegas jika kamu melihat kecurigaan dalam perusahaan."
"Baik, Bos!"
"Satu lagi. Bekerja samalah dengan Steven."
"Siap, Bos!"
"Pergilah!"
__ADS_1
"Baik."
Setelah itu, Fito langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menjalankan perintah dari Darren.