KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Album Foto


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Di kediaman Wilson saat ini tampak ramai dimana semua anggota kecuali Brenda sudah berada di rumahnya.


Mereka semua saat ini tengah berkumpul di ruang tengah sembari bercerita tentang kesehariannya di luar rumah.


Ketika mereka semua tengah mengobrol dan bercerita, datang seorang pelayan.


"Maaf nyonya, tuan muda, nona muda."


"Ada apa, Betty?" tanya Liana.


"Di depan ada tamu, nyonya!"


"Tamu? Siapa?" tanya Maura.


"Saya tidak tahu nona Maura. Tapi katanya mau bertemu dengan nyonya. Dan ditambah lagi orang itu pertama kalinya datang kesini. Bahkan orang itu datangnya juga tidak ada sopan santunnya sama sekali."


Mendengar penjelasan dari pelayannya membuat Liana dan anak-anaknya penasaran akan tamu tersebut.


"Ya, sudah! Mari kita lihat, siapa tamu itu?" sahut Rangga.


Setelah itu, Liana dan anak-anaknya berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ruang tamu.


^^^


Kini Liana dan anak-anaknya sudah duduk manis di sofa ruang tamu bersama dengan kedua tamunya.


Baik Liana maupun anak-anaknya menatap tak suka dengan cara kedua tamunya itu.


Seperti yang dikatakan oleh pelayannya bahwa tamunya itu tidak ada sopan santunnya sama sekali.


"Sebelumnya saya minta maaf. Sebenarnya kalian berdua ini siapa ya? Ada keperluan apa datang ke rumah saya ini?" tanya Liana lembut.


"Apa begini cara kalian menyambut tamu?" tanya seorang wanita paruh baya.


"Kalian sama sekali tidak memberikan tamu kalian minuman," sela pria yang di sampingnya.


Mendengar pertanyaan dan perkataan dari dua orang di hadapannya membuat Liana dan anak-anaknya saling memberikan tatapan.


Setelah itu, Liana dan anak-anaknya kembali menatap kedua tamunya itu.


"Mohon maaf sebesar-besarnya. Persediaan kopi, teh, gula dan lain sebagainya sedang habis. Kami belum belanja bulanan. Jadi harap dimaklumi," ucap ketus Maura.


"Dan lagian kalian tamu tak diundang. Jadi jangan mengharapkan untuk disediakan cemilan atau minuman," ucap Riana.


Mendengar perkataan dari dua gadis yang ada di hadapannya membuat sepasang suami istri itu marah.


"Kalian...." perkataan wanita itu terpotong karena Rangga sudah terlebih dahulu berbicara.


"Tujuan kedatangan kalian kesini untuk apa? Jika tidak ada keperluan, silahkan tinggalkan rumah ini. Jika ada yang ingin dibicarakan. Langsung saja dan jangan bertele-tele. Kalian berdua membuang waktu santai kami." Rangga berbicara dengan menatap tak suka kedua orang yang ada di hadapannya saat ini.


Mendengar perkataan ketus dari pemuda di hadapannya membuat sepasang suami istri ini marah. Keduanya tak terima diperlakukan tak baik ketika bertamu.


"Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Saya adalah Isabella Noberto dan ini suami saya Ferdian Noberto. Kami adalah orang tua dari Connie Noberto." Isabella memperkenalkan dirinya dan suaminya.


"Terus masalahnya dimana?" tanya Barra.

__ADS_1


"Kami datang kesini hanya ingin memperingati salah satu putri anda, nyonya Liana!" seru Ferdian.


Ferdian sudah mendapatkan informasi mengenai Brenda dan keluarga Brenda. Hanya saja, satu informasi tentang siapa keluarga Wilson yang tidak didapati oleh orang suruhan Ferdian, maka dari itulah Ferdian dan keluarga tidak tahu siapa itu keluarga Wilson.


Baik Ferdian maupun Isabella istrinya berpikir bahwa keluarga dari Brenda adalah keluarga biasa. Bahkan mereka juga berpikir kekayaan keluarga Brenda berada dibawah mereka.


Mendengar perkataan dari pria yang ada di hadapannya membuat Rangga dan Barra menatap paham.


"Apa maksud anda, tuan?" tanya Liana.


"Maksud saya adalah tolong katakan kepada putri anda yang bernama Brenda Wilson untuk menjauhi kekasih dari putri saya. Putri anda itu sudah berani mengganggu dan menggoda kekasih dari putri saya."


"Bukan itu saja, putri anda itu juga sudah berani menyakiti putri saya ketika berada di mini market," ucap Isabella dengan wajah sombongnya.


Mendengar perkataan dari sepasang suami istri yang ada di hadapannya. Liana dan anak-anaknya berusaha untuk sabar dan tidak terpancing akan setiap perkataan dari keduanya.


"Kalau saya boleh tahu. Siapa nama kekasih dari putri anda itu?" tanya Liana yang ingin tahu nama kekasih dari putri tamunya itu.


"Nama kekasih dari putri kami itu adalah Darrendra Smith!" seru Ferdian dan Isabella.


Mendengar nama lengkap Darren yang disebut oleh tamunya itu membuat Liana dan anak-anaknya terkejut. Bahkan mereka sempat berpikir, apakah telinga mereka salah dengar atau bagaimana?


"Hahahahaha."


Seketika Raya tertawa keras ketika mendengar nama calon kakak iparnya disebut oleh kedua suami istri di hadapannya itu.


"Mana mungkin kakak Darren punya kekasih lain selain kak Brenda. Secara cantikan kak Brenda lagi kemana-mana," ucap Raya.


Mendengar perkataan dari Raya membuat Liana dan anak-anak tersenyum. Namun tidak dengan kedua orang tuanya Connie. Mereka menatap tajam Raya.


Riana menatap wajah kedua orang tuanya Connie dengan tatapan jijiknya.


"Kenapa? Kau meragukan kami? Kau tidak mempercayai kami, hah?!" bentak Isabella dengan menatap marah kearah Riana.


"Bersikaplah dengan sopan di rumah orang, nyonya!" ucap Rangga dengan wajah marahnya.


Mendengar perkataan dan suara dari salah satu pemuda di hadapannya membuat Ferdian dan Isabella sedikit tersentak.


"Sekarang jawab pertanyaanku. Apa kalian yakin jika orang yang bernama Darrendra Smith itu adalah kekasih putri kalian? Apa benar pemuda itu dan putri kalian sepasang kekasih?" tanya Rangga.


"Iya. Pemuda itu adalah kekasih putri kami. Mereka sudah pacaran sejak lama. Keduanya berpisah karena putri kami harus kuliah diluar negeri," jawab Isabella.


"Begitukah?" tanya Barra.


"Iya," jawab Isabella lagi.


"Jadi maksud anda putri anda kembali ke Jerman untuk bertemu dengan kekasihnya. Namun ternyata kekasihnya sudah ada yang baru. Begitu?" ucap dan tanya Barra.


"Iya, seperti itulah!" Isabella menjawab dengan mantap dan yakin.


Rangga menatap wajah Barra, Maura, Riana dan Raya. Begitu juga dengan keempat saudara-saudaranya. Mereka juga menatap Rangga.


Setelah itu, lima Wilson bersaudara kembali menatap wajah Ferdian dan Isabella bergantian.


"Kalian pikir kami disini percaya dengan perkataan kalian itu, hum?" tanya Riana.

__ADS_1


"Jika kalian ingin membual. Cari orang lain saja. Jangan kepada kami dan juga jangan bawa-bawa nama calon adik ipar kami," ucap Maura.


Mendengar perkataan dari dua gadis di depannya membuat Ferdian dan Isabella marah sehingga membuat Ferdian memukul meja dengan keras.


Brak!


"Apa maksud kalian, hah? Jadi kalian pikir kalau kami ini berbohong, hah?!" bentak Ferdian.


"Karena itulah yang barusan kalian lakukan. Kalian berbohong dengan mengatakan bahwa Darren adalah kekasih putri kalian. Kalian juga mengatakan bahwa Darren dan putri kalian sudah lama berpacaran!" bentak Barra sembari menunjuk kearah wajah Ferdian.


"Kalian juga dengan seenaknya mengatakan bahwa adik perempuanku telah menggoda kekasih dari putri kalian. Justru putri kalian itulah yang sudah menggoda kekasih dari adik perempuanku!" bentak Rangga.


Liana melihat kearah putri bungsunya yaitu Raya Wilson. "Raya, sayang."


"Iya, Mama."


"Tolong kamu ambilkan album foto kak Brenda ketika masih sekolah dulu," pinta Liana.


"Baik, Mama."


Setelah itu, Raya pun pergi meninggalkan ruang tamu untuk menuju ruang tengah mengambil album foto tersebut.


Tak butuh waktu lama, Raya datang dengan membawa beberapa album foto lawas kakak perempuannya ketika zaman sekolah dulu. Dan ada juga foto ketika Brenda, Darren dan para sahabat-sahabatnya menghabiskan waktu bersam-sama.


"Sekarang lihat album foto ini," ucap Riana.


Ferdian dan Isabella menatap kearah empat album foto di atas meja.


Setelah itu, keduanya kembali menatap Liana dan anak-anaknya.


"Untuk apa kalian menyuruhku dan istriku melihat album foto tak berguna ini?" tanya Ferdian ketus.


"Tidak usah bertanya. Lihat saja dan kalian berdua akan tahu jawabannya," sahut Barra.


Mendengar perkataan dari salah satu pemuda di hadapannya. Ferdian dan Isabella pun membuka satu persatu album foto itu.


Ketika mereka melihat foto-foto yang ada di album itu, keduanya tampak syok. Di dalam foto-foto itu terlihat foto Brenda dan Darren tengah tertawa bersama sahabat-sahabat-sahabatnya.


Dan foto terakhir yang dilihat oleh Ferdian dan Isabella adalah foto dimana Darren yang mencium bibir Brenda.


Setelah melihat semua foto-foto itu, Ferdian dan Isabella menutup kembali album foto itu.


"Bagaimana? Sudah lihat?" tanya Maura.


"Sekarang aku beritahu kepada anda, tuan dan nyonya! Adik perempuanku sudah terlebih dahulu kenal dengan Darrendra Smith. Dari mereka teman satu SMP sampai sekarang mereka kuliah. Adik perempuanku sudah sejak dulu mencintainya," ucap Rangga.


"Jadi sekarang sudah jelas bukan? Bahwa adik perempuanku Brenda Wilson bukan perebut kekasih putri kalian. Justru putri kalian yang berusaha untuk merebut kekasih adik perempuanku," sahut Barra.


"Oh iya, satu lagi! Darren sudah menceritakan awal mula pertemuannya dengan putri kalian. Saat itu Darren menolong putri kalian yang tengah menangis sendirian di jalanan dalam keadaan mabuk. Dan waktu juga sudah menunjukkan tengah malam. Itulah pertemuan Darren dengan putri kalian." Rangga berbicara dengan menatap jijik Ferdian dan Isabella.


"Jadi aku peringatkan kepada kalian. Jangan mengganggu adik perempuanku apalagi berniat untuk menghancurkan hubungan asmaranya dengan Darren," ucap dan ancam Rangga.


"Jika kalian masih terus mengusik dan mengganggu adik perempuan kami, maka jangan salahkan kami jika terjadi sesuatu terhadap putri kalian." Barra tak kalah memberikan ancaman kepada Ferdian dan Isabella.


"Sekarang, pergilah dari sini. Urusan kalian dengan kami sudah selesai," sahut Liana.

__ADS_1


Ferdian dan Isabella menatap marah kearah Liana dan anak-anaknya. Keduanya tak terima diperlakukan seperti ini.


"Ayo, sayang kita pergi!" Isabella menarik lengan suaminya untuk segera pergi meninggalkan kediaman Wilson.


__ADS_2