
Di kediaman keluarga Smith tampak ramai dimana ketujuh sahabatnya Darren beserta anggota keluarganya, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya, Bianca, Kayana, Elzaro, Kathleen beserta anggota keluarga Radmilo dan kelima kakak mafia Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Semuanya berkumpul di ruang tengah khusus tamu. Disana juga ada wanita yang menjaga dan merawat Erica dari lahir. Wanita itu adalah susternya Erica.
Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya sudah menceritakan kepada semuanya tentang wanita yang datang bersamanya.
"Nama saya Vazza Pavati. Saya susternya Anin dari Anin lahir," ucap Vazza dengan tersenyum sembari menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya.
Mendengar perkenalan diri Vazza membuat semua orang yang ada di ruang tengah tersebut tersenyum. Mereka semua menerima kehadiran Vazza.
"Tapi maaf sebelumnya. Nama Anin sudah berubah sekarang. Namanya bukan lagi Anin Mondella, melainkan Erica Audrey Smith. Dan status adalah putri angkat saya dan juga putri angkat untuk ketujuh sahabat-sahabat saya. Jadi dengan kata lain, Erica memiliki delapan ayah." Darren berucap dengan penuh penekanan serta penjelasan tentang perubahan nama dan status Erica.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren serta melihat wajah datar serta dingin Darren membuat Vazza hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Sejujurnya di dalam hatinya Vazza merasakan kebahagiaan luar biasa dimana majikan kecil disayangi, dijaga dan dijadikan anak oleh rekan kerja dari mendiang majikannya. Bahkan ketujuh sahabatnya ikut serta mengadopsi majikan kecilnya itu.
"Saya turut bahagia untuk nona kecil, tuan! Saya bahagia nona kecil memiliki delapan ayah yang baik seperti tuan dan ketujuh sahabatnya tuan," ucap Darren.
"Terus dimana nona Erica nya, tuan? Sejak tadi saya tidak melihat keberadaan nona Erica," ucap dan tanya Vazza.
"Erica saat ini sedang bersama Mama saya. Kemungkinan sebentar lagi akan kembali. Dan saya sudah minta Mama saya untuk kesini," jawab Darel langsung.
"Baiklah, tuan!" Vazza menjawab sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Erland yang sejak tadi hanya diam dengan tatapan matanya menatap kearah Vazza pengasuh Erica. Erland menatap kearah Vazza karena Erland merasa pernah melihat Vazza sebelumnya. Saat ini Erland berusaha mengingat hal tersebut.
Adnan yang menyadari keterdiaman ayahnya dan ditambah lagi tatapan mata ayahnya berpusat kepada Vazza pengasuhnya Erica.
"Kenapa Papa menatap nona Vazza seperti itu? Apa Papa mengetahui sesuatu? Dan apa Papa mencurigai nona Vazza?" Adnan bertanya pada dirinya sendiri sembari menatap wajah ayahnya dan Vazza secara bergantian.
"Papa!" panggil Adnan.
Mendengar panggilan Adnan kepada Erland membuat semua orang yang ada di ruang tengah langsung melihat kearah Erland. Dan dapat mereka lihat bahwa Erland sedang melamun dengan tatapan matanya menatap kearah Vazza.
"Kenapa Papa menatap Vazza seperti itu?"
"Apa Papa mencurigai nona Vazza?"
Davin, Andra, Dzaky, Gilang, Darka dan Darren bertanya pada dirinya di dalam hatinya.
"Papa," panggil Darren dengan suara sedikit keras.
Akibat dari panggilan Darren yang keras membuat Erland tersadar dan langsung melihat kearah Darren. Sedangkan yang lainnya hanya bisa menghela nafas panjangnya ketika mendengar suara keras Darren yang memanggil ayahnya.
"Ada apa?" tanya Erland.
"Aku yang seharusnya nanya sama Papa. Apa yang sedang Papa lamunkan?" tanya Darren.
"Pertanyaan anda tidak sinkron, tuan Darren! Seharusnya anda bertanya seperti ini, Apa yang sedang Papa pikirkan? Nah, itu baru menarik. Tidak seperti pertanyaan anda barusan," pungkas Dylan.
Darren seketika mendelik ketika mendengar perkataan dari Dylan. Kemudian Darren mengalihkan pandangannya melihat kearah Dylan yang saat ini tampak acuh tak acuh dengan bermain ponsel.
"Lo hobi banget nyari ribut sama gue ya, Lan! Kalau lo udah bosan hidup. Sini biar gue matiin lo."
Semuanya tersenyum dan geleng-geleng kepalanya ketika mendengar ucapan serta pertanyaan dari Daren. Ditambah lagi ketika melihat wajah kesal Darren menatap kearah Dylan.
Sementara Dylan membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Darren yang ingin mematikan nyawanya.
Darren kembali menatap kearah ayahnya. "Papa kenapa? Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, sayang!" Erland menjawab pertanyaan dari putra ketujuhnya.
__ADS_1
"Kalau tidak ada apa-apa. Kenapa Papa diam saja. Bahkan Papa sejak tadi menatap kearah nona Vazza," sahut Adnan.
Adnan menatap ayahnya. Begitu juga dengan yang lainnya. Semuanya menatap penuh penasaran kearah Erland.
"Papa menatap kearah nona Vazza karena wajahnya mengingatkan Papa dengan seseorang. Wajah familiar sekali," jawab Erland.
Mendengar jawaban dari Erland membuat mereka semua menatap Erland dan Vazza bergantian. Sementara Vazza menatap bingung kearah Erland dan yang lainnya.
Erland masih menatap kearah Vazza. Dirinya terus mengingat akan wajah Vazza.
Detik kemudian..
"Papa ingat sekarang! Nona Vazza, apa saya boleh bertanya kepada anda?"
"Si-silahkan tuan."
"Begini. Apakah nona Vazza pernah mengirimkan surat lamaran kerja dengan lowongan pekerjaan sebagai General Manager?"
Mendengar pertanyaan dari ayahnya Darren membuat Vazza menatap kearah ayahnya Darren. Vazza berusaha untuk mengingat-ingat tentang perusahaan yang ingin dia datangi.
"Apakah tuan pemilik dari perusahaan ER itu?" tanya Vazza.
"Iya. Saya pemilik perusahaan ER tersebut. Sekarang perusahaan tersebut sudah berubah nama menjadi perusahaan ER'Land, nama saya."
"Papa!" panggil Darren.
"Iya, sayang!"
"Jelaskan."
"Dulu perusahaan Papa membutuhkan seorang General Manager. Papa dan asisten Papa berencana untuk mencari calon General Manager yang baru dengan menyebarkan brosur penerimaan calon General Manager."
Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Erland membuat semuanya menatap kearah Vazza. Mereka ingin mendengar langsung dari mulut Vazza.
"Apa anda bisa menjelaskannya nona Vazza?" tanya Davin.
"Hah!" Vazza seketika menghela nafas pasrahnya. "Saya sudah datang saat itu tuan. Lebih tepatnya saya sudah berada di kota Hamburg. Rencananya besok saya akan ke perusahaan ER untuk melakukan wawancara itu. Tapi....."
"Tapi kenapa nona?" tanya Andra.
"Saya tidak jadi mendatangi perusahaan ER karena saya sedang menolong seorang wanita yang sedang hamil tua. Wanita itu dalam bahaya. Ada dua wanita yang mengejarnya. Saya tidak apa yang terjadi dengan mereka sehingga mereka nekat ingin menyakiti wanita yang sedang hamil tua itu. Jika saya terlambat sedikit, maka bayi yang ada dalam kandungan wanita itu tidak selamat."
"Wanita yang hamil tua itu adalah nyonya Miranda Dilbara yang tak lain adalah ibunya nona Erica."
Deg..
Semuanya terkejut ketika mendengar penuturan dari Vazza mengenai wanita yang hamil tua itu.
"Nyonya Miranda meminta saya bahkan memohon kepada saya untuk bekerja padanya. Dia juga meminta untuk menjadi suster untuk calon anaknya kelak. Mendengar permintaan serta wajah memohon nyonya Miranda saat itu. Saya pun mengabulkan keinginannya itu dan melupakan niat saya untuk bekerja di pers ER. Selama saya bekerja di kediaman Mondella, saya diperlakukan layaknya adik perempuan sendiri. Nyonya Miranda begitu menyayangi saya. Sifat nyonya Miranda sama seperti sifat kakak perempuan saya di Kampung."
Mendengar cerita dari Vazza membuat mereka semua tersenyum bahagia dan bangga melihat pengorbanan Vazza yang rela meninggalkan wawancaranya di perusahaan besar demi menolong seorang wanita hamil dan berakhir menjadi suster untuk anaknya.
"Sekarang apa rencana nona?" tanya Valeo.
"Saya belum tahu tuan. Yang jelas rencana saya sekarang ini adalah ingin bertemu dengan majikan kecil saya. Saya benar-benar merindukannya. Saya selalu memikirkan nona," jawab Vazza jujur. Dirinya memang merindukan majikan kecilnya itu.
Ketika mereka semua tengah mengobrol sembari membahas kehidupan Vazza, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seorang anak kecil sembari berlari kecil menuju ruang tengah.
"Papa! Oma! Opa! Paman! Erica pulang bersama Oma Bella!"
__ADS_1
Mendengar teriakkan tersebut membuat semuanya tersenyum. Apalagi ketika melihat wajah ceria dan wajah bahagia gadis kecil itu.
Vazza seketika berdiri dari duduknya ketika tatapan matanya bertemu dengan gadis kecilnya. Seketika air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Nona Anin."
Erica yang mendengar namanya yang dipanggil dan ditambah lagi suara yang sangat dia kenali langsung melihat keasal suara tersebut.
Deg..
Erica seketika terkejut ketika melihat orang yang dia rindukan berdiri di hadapannya. Apalagi orang itu menangis ketika menatap dirinya.
"Suster!"
"Nona, suster rindu nona. Nona tidak mau meluk sus?" ucap dan tanya Vazza sembari merentangkan kedua tangannya.
"Suster Vazza!"
Erica langsung berlari menghampiri Vazza lalu berhamburan ke dalam pelukan susternya itu.
"Nona... Hiks."
"Suster... Hiks... Anin kangen sama suster. Suster kemana aja? Kenapa tidak pernah menghubungi Anin?"
"Suster juga kangen nona Anin. Maafkan Sus ya karena jarang menghubungi nona. Sus selama ini berada di kampung."
Melihat pertemuan antara Erica dan Vazza membuat semuanya ikuti menangis. Mereka menangis karena mereka bahagia.
Vazza melepaskan pelukannya lalu menatap wajah cantik majikan kecilnya itu. Kemudian Vazza memberikan ciuman di kening dan dikedua pipinya.
"Nona baik-baik saja kan? Orang itu terlalu berhasil menemukan nona kan?"
"Sus tidak pernah khawatir. Anin baik-baik saja. Anin berada dengan keluarga yang begitu menyayangi Anin. Mereka semua menyayangi dan melindungi Anin."
"Ach, syukurlah kalau begitu. Suster senang mendengarnya."
"Sus."
"Iya, sayang."
"Sekarang nama Anin bukan Anin lagi. Tapi sudah menjadi Erica Audrey Smith."
Vazza tersenyum ketika mendengar ucapan dari Erica sembari tangannya mengusap lembut kepalanya.
"Sus sudah tahu akan hal itu sayang. Keluarga baru nona sudah menceritakan semuanya sama Sus."
"Berarti Sus juga sudah tahu kalau Erica punya delapan Papa yang tampan dan delapan calon Mama yang cantik?" tanya Erica dengan wajah polos dan menggemaskan.
"Kan tadi Sus sudah katakan kalau Sus sudah tahu semuanya," jawab Vazza sembari tersenyum.
Grep..
Erica kembali memeluk tubuh Vazza. Dirinya benar-benar merindukan Suster nya itu.
"Erica rindu Suster. Jangan pergi lagi. Tetaplah di kota ini."
"Suster akan pikirkan."
"Jangan terlalu lama berpikirnya."
__ADS_1
Mereka semuanya tersenyum ketika mendengar ucapan serta permintaan dari Erica.