KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Sindiran Willy


__ADS_3

Daniel dibuat terkejut dengan cerita Bianca. Dia tidak menyangka jika kedua orang tua Bianca begitu kejam terhadap putri kandungnya sendiri.


Bukan hanya kedua orang tuanya saja yang sering bersikap buruk padanya. Laki-laki yang begitu dicintainya juga melakukan hal yang sama seperti kedua orang tuanya.


Kekasihnya tersebut dengan tega mengkhianatinya selingkuh dan tidur bersama sahabatnya sendiri.


Daniel berlahan menyentuh punggung tangan kanan Bianca, kemudian menggenggamnya dengan kedua telapak tangannya.


"Bianca."


Bianca langsung menatap wajah tampan Daniel yang saat ini menatapnya.


"Sudah 6 bulan kita saling mengenal. Sejak pertemuan pertama itu, aku langsung menyukaimu. Dan rasa suka itu bertambah besar. Bukan hanya rasa suka saja. Melainkan cinta yang besar dan tulus untukmu."


Daniel menatap wajah cantik Bianca. "Aku mencintaimu, Bianca! Maukah kamu menjadi kekasihku dan juga menjadi pendamping hidupku?"


Mendengar pernyataan cinta dari Daniel membuat hati Bianca menghangat. Dia benar-benar bahagia ketika mendengar kata-kata indah itu.


Bianca dapat melihat ketulusan di tatapan mata Daniel ketika mengatakan kata-kata indah itu.


"Bagaimana?"


"Aku... Aku..."


"Kamu tidak perlu takut jika aku akan menyakitimu seperti laki-laki brengsek itu. Aku bukan dia yang tega menyakiti kekasih sendiri demi perempuan lain. Aku terlahir dari sepasang suami istri yang memiliki hati bersih, tulus dan baik."


"Dalam keluarga besarku, baik keluarga dari pihak ayahku maupun dari pihak ibuku memiliki moto. Moto keluarga kami adalah setia dan kepercayaan."


Daniel mengusap lembut wajah Bianca. "Jika kau resmi menjadi kekasihku. Otomatis kau sudah menjadi bagian keluarga Carlo. Begitu juga dengan keluarga besar ibuku."


"Satu lagi jika kau resmi menjadi kekasihku. Apapun masalahmu, itu sudah menjadi masalahku juga. Aku akan menjagamu dan melindungimu. Dan aku tidak akan membiarkan orang-orang diluar sana menghinamu dan memakimu. Apalagi sampai menyakitimu. Sekali pun yang menyakitimu itu adalah mantan kedua orang tuamu, mantan kekasihmu dan mantan sahabatmu. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, walau secuil."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Daniel. Seketika air mata Bianca jatuh membasahi wajahnya. Dia benar-benar terharu akan sikap dan janji Daniel padanya.


"Apa kau bersedia menjadi kekasihku dan pendamping hidupku?" tanya Daniel mengulang pertanyaannya kembali.


"Aku bersedia menjadi kekasihmu dan menjadi pendamping hidupmu. Aku akan menjadi pasanganmu sampai tua," jawab Bianca tulus.


Mendengar jawaban dari Bianca. Terukir senyuman manis di bibir Daniel.


"Selama aku bernafas. Aku akan selalu ada untukmu. Di hatiku hanya ada dua perempuan. Yang pertama ibuku dan yang kedua adalah kau."


"Aku percaya."


***


Willy dan Alice saat ini berada di perjalanan menuju mall.


Siang ini keduanya tengah menghabiskan waktu kebersamaannya dikarenakan sudah empat hari Willy beserta ketujuh sahabat-sahabatnya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Darren, Qenan dan Willy sibuk di perusahaan Accenture, Darel dan Rehan sibuk di galeri. Sedangkan Axel, Jerry dan Dylan sibuk dengan motor-motor dan mobil-mobil mewah rakitannya.

__ADS_1


Dan ditambah lagi Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah mempersiapkan acara ulang tahun perusahaan Accenture di hotel beberapa minggu lagi diadakan.


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam. Willy dan Alice sampai di depan mall.


Willy memarkirkan mobilnya. Setelah mobil terparkir, Willy dan Alice pun turun dari mobilnya.


Willy dan Alice berjalan bergandengan memasuki mall. Beberapa pengunjung mall menatap kearah Willy dan Alice. Mereka menatap Willy dan Alice dengan tatapan kagum, iri dan juga jijik.


Sementara Willy dan Alice hanya bersikap cuek dan acuh akan tatapan para pengunjung. Mereka tetap dengan kebahagiaannya dengan menatap barang-barang yang berjejer di dalam mall itu.


Tanpa Willy dan Alice ketahui. Ada sepasang mata yang sedari menatap tak suka kearahnya. Lebih tepatnya tatapan amarah yang ditujukan kepada Alice.


Willy membawa Alice ke sebuah toko perhiasan. Willy berniat ingin membelikan kekasihnya kalung berlian.


Kini Willy dan Alice berhenti di depan sebuah toko perhiasan. Willy pun mulai melihat kalung berlian yang akan dibelinya untuk sang kekasih.


Ketika Willy hendak melangkah melangkah mendekati toko perhiasan itu, tiba-tiba Alice bersuara.


"Willy."


"Ada apa, hum?"


"Aku mau ke toilet dulu. Udah nggak tahan."


"Aku antar ya?"


"Nggak usah. Aku bisa sendiri."


"Yakin, Wil."


"Ya, sudah! Jangan lama-lama. Aku tunggu disini. Di toko perhiasan ini. Jika sudah selesai. Kamu langsung kesini."


"Baiklah."


Setelah itu, Alice pun pergi meninggalkan Willy untuk menuju toilet.


Melihat kepergian Alice, seseorang yang sedari memperhatikan Willy dan Alice tersenyum menyeringai.


Orang itu mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi orang-orang yang sudah menyebar di dalam mall itu.


"Hallo."


"Lakukan sekarang. Wanita itu saat ini menuju toilet."


Setelah mengatakan itu, orang itu langsung mematikan panggilannya.


^^^


Alice yang saat ini berada di dalam toilet sedang bercermin. Setelah selesai dengan urusannya buang air kecil, Alice membasuh wajahnya sembari bercermin.


Setelah selesai dengan urusannya di toilet, Alice pun keluar meninggalkan toilet.

__ADS_1


Ketika Alice keluar dari dalam toilet, sepuluh pria telah berdiri di hadapannya.


Alice yang melihat itu seketika ketakutan.


Alice berusaha untuk membuang jauh-jauh rasa takutnya. Dia berusaha untuk tetap tenang, walau kenyataannya saat ini dia sangat ketakutan.


"Hai, cantik! Temanin kita-kita yuk!"


Salah satu pria itu mencolek dagu Alice. Alice dengan cepat menepis tangan pria itu.


"Singkirkan tangan kotor lo itu!" bentak Alice.


"Wah! Ternyata gadis ini berani juga!" seru pria yang kedua.


Kesepuluh pria-pria itu saling memberikan tatapan. Setelah itu, kesepuluh pria-pria itu kembali menatap wajah Alice.


"Ayo ikut kami!" seru pria ketiga.


Pria itu langsung menarik tangan Alice dengan kasar oleh dua orang pria. Ketika Alice ingin memberontak, pria kelima mengarahkan pisau lipatnya kearah leher samping Alice.


"Jika kau melawan, maka pisau ini akan mengukir leher mulusmu ini," ucap pria keenam yang berdiri di samping Alice.


Seketika tubuh Alice bergetar hebat ketika merasakan pisau tersebut menyentuh lehernya.


Melihat sikap patuh dan takut Alice. Kesepuluh pria-pria itu tersenyum puas. Dan setelah itu, kesepuluh pria-pria itu membawa Alice pergi meninggalkan toilet dengan Alice berjalan di depan. Sementara mereka di belakang.


"Papi, Mami, kakak, Willy. Tolong aku," batin Alice menangis.


^^^


Willy saat ini masih melihat-melihat beberapa kalung berlian yang akan dibelinya untuk Alice.


Ketika Willy tengah fokus melihat-lihat perhiasan kalung berlian, tiba-tiba Willy dikejutkan dengan suara seorang gadis.


"Hai, Wil!"


Willy yang mengenal suara itu langsung melihat ke asal suara tersebut. Seketika raut wajahnya tak mengenakkan.


"Sial! Kenapa dia disini?" batin Willy menatap gadis yang berdiri di hadapannya.


Willy kembali menatap perhiasan-perhiasan itu. Dan tak mempedulikan kehadiran gadis itu.


Gadis itu tersenyum ketika melihat sikap acuh Willy. Kemudian gadis itu berjalan mendekati Willy lalu duduk di sampingnya.


"Selamat datang nona. Apa nona kekasih dari tuan ini?" tanya pelayan toko itu.


"Iya. saya kekasih dari orang yang duduk di samping saya ini," jawab gadis itu dengan santainya.


Willy yang mendengar jawaban dari gadis yang duduk di sampingnya berusaha untuk sabar. Dia masih terus melihat kalung berlian untuk Alice.


"Berikanlah jawaban yang jujur nona Kathy! Jangan memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataannya," sindir Willy yang matanya masih fokus pada perhiasan-perhiasan yang ada di dalam etalase.

__ADS_1


Mendengar ucapan dan sindiran dari Willy. Kathy hanya tersenyum. Dia tidak peduli dengan perkataan Willy. Yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar dia bisa bersama dengan Willy dalam waktu lama.


__ADS_2