KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Ketakutan Riana


__ADS_3

[PAMERAN PUSAT SENI RADIUM]


Flasback On


Saat ini Kim Ramoz bersama istri yaitu Riana Orlando dan putrinya Helena Orlando berada di meja nomor 18.


"Sayang. Aku kesana dulu ya!" pamit Ramoz.


"Baiklah, sayang." Riana menjawab disertai anggukan kepala.


"Ma. Aku juga mau kesana."


"Baik, sayang. Ingat! Jangan jauh-jauh."


"Baik, Ma."


Kini tinggallah Riana sendirian. Saat Riana ditinggal sendiri, tiba-tiba datang empat orang wanita mendekatinya.


"Riana," sapa salah satunya.


Riana yang mendengar seseorang yang menyebut namanya langsung menolehkan wajahnya untuk melihat orang itu.


"Iya. Siapa ya?" tanya Riana.


"Jadi benar kau Riana?" tanya wanita kedua.


"Iya. Saya Riana. Kalian siapa?"


Riana benar-benar tidak ingin dengan keempat wanita yang berdiri di hadapannya.


"Yak! Kau benar-benar melupakan kami, Riana?!" seru wanita ketiga.


"Sangat menyebalkan," sela wanita keempat.


Riana berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba Riana pun ingat akan keempat wanita tersebut.


"Kalian!"


Riana langsung berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Dan akhirnya mereka pun berpelukan.


"Akhirnya kau mengingat kami, Riana!" seru Jessy.


"Aku senang bisa bertemu denganmu, Riana," ucap Ellia.


"Bahagianya!" seru Chinthia dan Ayunda bersamaan.


Setelah puas berpelukan, mereka pun melepaskan pelukan tersebut lalu kemudian mereka duduk dan mengobrol tentang masa-masa sekolah dan kuliah.


Tak terasa mereka telah mengobrol selama 1 jam. Bahkan mereka saling bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing.


"Aku bangga dengan kalian. Disatu sisi kalian ibu rumah tangga. Tapi disisi lain kalian juga seorang wanita karir," puji Riana.


"Kami seperti itu karena kami hanya ingin membantu suami-suami kami, Riana!" seru Ayunda.


"Kami hanya ingin meringankan pekerjaan para suami kami," saut Jessy


"Gak selamanya kita akan hidup enak. Dan suatu saat kita pasti akan merasakan hidup susah. Jika nanti suami-suami kita tidak bekerja lagi atau tidak bisa bekerja lagi. Paling tidak kami memiliki tabungan untuk masa tua kami," kata Ellia.


"Makanya kami sebagai seorang istri harus pandai berhemat. Kami juga tidak akan membeli barang-barang yang tidak penting. Uang itu kami gunakan untuk keperluan yang benar-benar dibutuhkan. Salah satunya masa depan anak-anak kami," ujar Chinthia.


"Awalnya aku juga berniat seperti itu. Namun suamiku melarangnya. Suamiku tidak mengizinkanku bekerja. Tapi walau pun begitu, aku juga sama seperti kalian. Aku juga tidak pernah menghamburkan-hamburkan uang suamiku. Bahkan sebagian uang yang diberikan oleh suamiku aku tabung. Walau kadang-kadang aku juga suka belanja. Tapi hanya sekedarnya saja," pungkas Riana.


"Gak ada yang ngelarang kita para istri untuk menyenangkan diri. Apalagi para suami kita bekerja untuk kita dan anak-anak kita. Tapi ingat... jangan sampai lupa waktu dan kebablasan. Belanja boleh. Nabung jangan lupa," sela Jessy sembari tersenyum.


"Pastinya!" seru Riana, Ellia, Chinthia dan Ayunda bersamaan


Saat mereka tengah asyik mengobrol, tiba-tiba Ayunda melihat seorang gadis sedang memeluk tubuh seorang pemuda.


"Hei, lihatlah disana!" seru Ayunda sembari menunjuk ke arah seorang gadis.


Lalu Riana, Jessy, Ellia dan Chinthia melihat kearah tunjuk Ayunda. Mereka melihat seorang gadis sedang memeluk tubuh seorang pemuda.


"Helena," ucap Riana pelan. Namun ucapannya masih dapat didengar oleh keempat sahabat-sahabatnya

__ADS_1


^^^


GREP!


Tanpa ada rasa malu, Helena langsung memeluk tubuh Dareen erat. Mereka yang melihat hal itu terkejut.


"Darren. Aku merindukanmu. Kenapa kau tidak membalas pesan dariku? Bahkan kau juga tidak menjawab panggilan dariku," ucap dan tanya Darren.


"Cih! Menjijikkan," batin para sahabat-sahabat Darren.


"Helena. Lepaskan," ucap Darren.


Bukannya melepaskan. Justru Helena makin mengeratkan pelukannya.


"Aku bilang lepaskan!" teriak Darren. Namun Helena tidak mempedulikan teriak Darren.


Darren benar-benar muak dan juga risih saat Helena memeluk tubuhnya. Dan pada akhirnya hanya dengan kekerasan yang bisa melepaskan pelukan Helena.


Darren menarik tangan Helena yang memeluk kuat pinggangnya. Dibantu oleh Willy dan Jerry.


Setelah terlepas. Kemudian Darren mendorong kuat tubuh Helena sehingga tubuh Helena tersungkur di lantai.


"Jika kau ingin tubuhmu disentuh, Lebih baik kau cari laki-laki yang lain saja. Jangan denganku. Aku tidak berselera dengan tubuhmu itu. Kau terlalu murahan dan gampangan!" ucap Darren dengan kerasnya sehingga semua orang mendengarnya.


"Helena, sayang. Kau tidak apa-apa, nak?"


"Aku tidak apa-apa, Papa." Helena menjawab pertanyaan dari ayahnya.


"Kau..." tunjuk Ramoz. "Berani sekali kau menyakiti putriku!" bentak Ramoz.


"Jika kau tidak ingin putrimu disakiti, maka kau ajarkan putrimu itu dengan baik. Jangan diajarkan menjadi wanita murahan dan menggoda semua laki-laki yang kaya raya," sahut Darren lantang.


Helena terkejut saat mendengar penuturan dari Darren. Untuk menutup ketakutannya, Helena masih terus mendekati Darren.


Helena berdiri, lalu melangkah mendekati Darren.


"Darren. Kenapa kau bicara seperti itu padaku? Aku benar-benar mencintaimu. Hanya kau laki-laki satu-satunya yang aku kenal. Tidak ada laki-laki lain," sahut Helena yang tangannya ingin meraih tangan Darren, namun Darren sudah terlebih dahulu menghindar.


"Kau pikir aku percaya. Jangan harap. Aku sama sekali tidak mempercayaimu, Helena Orlando!" Darren menjawab perkataan Helena dengan penuh penekanan. Dan juga wajah yang dingin.


^^^


"Riana. Apa kau kenal dengan gadis itu?" tanya Ellia.


"Dia putriku," jawab Riana.


"Putrimu? Lalu siapa pemuda yang dipeluk oleh putrimu itu? Jika pemuda itu kekasih putrimu, tidak mungkin pemuda itu menyakiti kekasihnya sendiri," tutur Chinthia.


"Aku juga tidak tahu, Chinthia. Putriku tidak pernah membicarakan masalah kekasihnya atau pemuda yang dekat dengannya. Setiap aku bertanya, putriku selalu menjawab belum ada niatan untuk pacaran dan ingin fokus ke Study nya. Aku sebagai seorang ibu justru bahagia mendengar hal itu," ucap Riana.


"Maaf kalau aku lancang, Riana. Mungkin saja putrimu sudah menjalin hubungan dengan seorang pemuda di belakangmu dan suamimu. Hanya saja putrimu tidak mau mengakuinya. Makanya putrimu mengatakan tidak ingin pacaran dulu dan fokus sama Study nya," sela Ayunda.


Riana dan keempat sahabatnya terus melihat kearah Ramoz, Helena, Darren dan orang-orang yang ada di sekitar mereka.


"Sebenarnya mereka sedang membicarakan apa?" batin Riana.


"Coba lihat. Sepertinya beberapa orang disana menatap tak suka pada pria di hadapannya, terutama pemuda yang dipeluk oleh Helena!" seru Jessy.


^^^


"Dasar anak tidak tahu diri!" teriak Ramoz. Mereka yang mendengar menatap tajam kearah pria itu.


"Kelakuanmu tidak jauh beda dengan ibu kandungmu!" teriak Ramoz lagi.


Namun langkahnya terhenti disaat pria itu berteriak. Darren mengepalkan tangannya kuat saat mendengar ucapan dari pria itu.


"Cukup. Apa yang kau inginkan sebenarnya? Sedari tadi kami perhatikan, kau yang terlebih dahulu memulai keributan ini!" bentak Dzaky.


"Kami sudah berusaha sabar mendengar ocehan yang tak penting dari mulutmu itu!" bentak Adnan.


^^^


"Riana. Bukannya pria itu suamimu ya! Kenapa suamimu berbicara seperti itu kepada pemuda yang ada di hadapannya itu?" tanya Ayunda.

__ADS_1


"Sebenarnya ada masalah apa suamimu dengan pemuda itu, Riana?" tanya Chinthia.


"Aku tidak tahu, Chinthia. Suamiku tidak pernah cerita apapun masalahnya padaku," jawab Riana yang tatapan matanya masih fokus melihat kearah suami dan putrinya berada.


^^^


Darren membalikkan badannya dan menatap tajam kearah pria itu.


"Apa maksudmu, hah?!" teriak Darren.


"Darren. Lebih baik kita pulang saja, ya. Jangan didengar ucapan pria itu," ucap Andra.


Andra berusaha menyakini Darren agar tidak terpancing akan ucapan pria gila itu.


"Memangnya kau itu siapa? Kau tidak berhak mengatur hidupku," sahut Darren ketus tanpa mengalihkan pandangannya dari Ramoz.


Andra yang mendengar ucapan dari Darren merasakan sakit di dadanya.


"Apa maksud perkataanmu itu, hah?!" teriak Darren dengan menatap tajam Ramoz.


"Apa kau yakin ingin tahu, hum?" tanya Ramoz remeh.


"Katakan saja tidak perlu bertele-tele brengsek!" bentak Darren.


"Hahahaha. Apa kau tahu jika keluargamu selama ini telah membohongimu? Perempuan yang berdiri di samping Ayahmu itu." Ramoz berbicara sembari menunjuk kearah Agneta.


Darren melihat kearah tunjuk Ramoz. Arah tunjuk Ramoz ke arah Agneta. Setelah itu, Darren kembali melihat kearah Ramoz.


"Perempuan itu bukanlah ibu kandungmu," jawab Ramoz. 


Darren yang mendengarnya hanya diam saja. Tidak ada ekspresi sama sekali. Sementara anggota keluarganya sudah merasakan ketakutan dalam dirinya mereka masing-masing, terutama Erland, Agneta dan keenam kakaknya.


"Jadi kau hanya ingin mengatakan hal yang tidak penting seperti ini padaku? Cih! Menjijikkan," jawab Darren menatap remeh Ramoz.


"Kenapa? Seharusnya kau marah pada keluargamu," ucap Ramoz tak percaya.


"Bukan urusanmu!" bentak Darren.


"Hahaha. Kau memang laki-laki bodoh. Sudah dibohongi, tapi kau masih saja bersikap seperti ini pada mereka. Kalau aku berada diposisimu, aku akan membenci mereka." Ramoz masih terus memancing amarah Darren agar Darren makin membenci keluarganya.


"Sudah aku katakan itu bukan urusanmu," jawab Darren.


"Kau tahu kenapa ibu kandungmu meninggal? Ibumu itu seorang wanita panggilan. Dengan kata lain dia adalah seorang ******!" teriak Ramoz.


Mendengar penuturan dari Ramoz membuat Erland dan anggota keluarganya tak terima jika orang yang mereka sayangi dihina. Terutama Darren.


"Jangan beraninya anda menghina kakak perempuanku. Dia perempuan baik-baik dan terhormat!" teriak Agneta.


"Hahaha. Kau dengar itu, Darrendra Smith. Berarti aku tidak bohongkan mengatakan bahwa perempuan itu bukan ibu kandungmu," sahut Ramoz.


Darren berjalan mendekati Ramoz. "Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan? Kau masih aku beri kesempatan untuk berbicara. Setelah itu, aku bisa pastikan kau tidak akan bisa bicara lagi." Darren berbicara dengan penuh penekanan dan ancaman. Serta tatapan amarahnya.


"Kau mengancamku?" tanya Ramoz dengan menatap tajam Darren. "Aku tidak pernah takut pada bocah sepertimu. Ibu kandungmu itu seorang ******. Dia menggoda Ayahmu sehingga akhirnya mereka menikah. Setelah mereka menikah, ibumu masih saja seperti dulu yaitu menjual tubuhnya. Ibumu tidak pernah benar-benar mencintai Ayahmu. Maka dari itu, Ayahmu membunuh ibumu dan menikah dengan adik iparnya yaitu Agneta!" Ramoz berbicara dengan penuh penekanan.


Disaat Ramoz ingin mengatakan hal lainnya, Darren sudah terlebih dahulu bertindak.


JLEB!


"Aaakkkkhhhh." Ramoz berteriak kencang saat merasakan sesuatu menusuk perutnya.


Mendengar teriakan Ramoz membuat semua yang melihatnya menjadi terkejut, terutama anggota keluarganya.


Darren menekan kuat pisau itu sehingga pisau itu menusuk hingga dalam.


Setelah puas, Darren mencabut pisau itu. Kemudian melangkah mundur sembari masih memegang pisau tersebut dengan darah yang menetes di lantai.


Semua orang yang melihatnya membelalakkan matanya. Mereka tampak syok dan juga terkejut atas apa yang mereka lihat.


"Papa!" teriak Helena.


Helena berlari mendekati Ayahnya. Seketika tubuh Ramoz jatuh ke lantai.


BRUUKK!

__ADS_1


"Papa," lirih Helena.


"Ramoz!" teriak seorang wanita yang berlari menghampiri Ramoz dan Helena.


__ADS_2